Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Semua Orang Tolak
Matahari baru saja terbenam di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, menyisakan semburat jingga yang perlahan berubah menjadi ungu kelabu. Di ruang rapat produksi film, suasana terasa jauh lebih gelap dari langit di luar. Di meja panjang yang terbuat dari kayu jati tua itu, terbentang peta daerah Yogyakarta. Raka menunjuk kawasan pegunungan di kaki Gunung Api Purba.
"Kita cari lokasi syuting di Yogyakarta," ucap Raka dengan suara tenang namun tegas. "Daerah itu memang dikenal kaya tempat-tempat yang masih kental dengan nuansa mistis dan adat istiadat kuno. Banyak hutan, perbukitan, dan bangunan tua yang masih terjaga keasliannya. Semua itu sangat cocok untuk film kita. Kita tidak butuh rumah buatan yang dibangun khusus untuk terlihat angker. Kita butuh tempat yang memang punya jiwa, tempat yang menyimpan kisah nyata di balik setiap dindingnya."
Bu Sari, manajer produksi, mengerutkan kening. "Yogyakarta itu luas sekali, Raka. Di mana tepatnya? Kita harus tahu lokasinya sebelum memutuskan pergi ke sana. Kita butuh akses jalan, listrik, tempat tinggal untuk kru, dan banyak hal lain. Kita tidak bisa sekadar pergi tanpa tujuan yang jelas."
"Aku belum tahu pasti lokasinya," jawab Raka jujur. "Itulah sebabnya aku berencana pergi ke sana dulu sendirian. Aku akan berkeliling, mencari tempat yang paling pas. Yogyakarta memiliki banyak sekali tempat yang belum terjamah oleh keramaian kota, tempat yang masih menyimpan kisah-kisah lama yang belum terungkap. Dan di situlah letak kelebihannya. Penonton bisa merasakan perbedaan itu."
Budi, penata artistik, ikut berbicara. "Benar, Yogyakarta memang terkenal dengan tempat-tempat seperti itu. Tapi kita harus sangat berhati-hati. Jangan sampai kita tanpa sengaja masuk ke tempat yang memang dilarang oleh adat setempat. Itu bisa berbahaya, baik bagi kita maupun bagi warga yang tinggal di sekitar sana."
Raka mengangguk. "Aku sangat mengerti kekhawatiran kalian. Dan aku berjanji, aku tidak akan sembarangan memilih tempat. Sebelum kita semua ke sana, aku akan pergi dulu, berbicara dengan warga setempat, meminta izin, dan memastikan bahwa tempat itu boleh kita gunakan. Tapi tolong, biarkan aku pergi mencari tempat itu."
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan sementara. Raka akan berangkat ke Yogyakarta sendirian untuk mencari lokasi syuting yang cocok. Laras, penulis naskah yang sejak tadi diam di sudut ruangan, menatap peta itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Setiap kali mendengar nama Yogyakarta, hatinya merasa gelisah. Seakan ada sesuatu yang sedang memanggilnya dari kejauhan, sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit sepenuhnya, Raka sudah berangkat. Perjalanan memakan waktu berjam-jam, namun Raka tidak merasa lelah. Justru semakin dekat ia ke Yogyakarta, semakin kuat perasaan di hatinya bahwa ia sedang menuju ke tempat yang tepat.
Sesampainya di Yogyakarta, Raka langsung berkeliling. Ia mengunjungi hutan-hutan kecil, perbukitan, bangunan tua yang sudah ditinggalkan penghuninya, dan rumah-rumah tradisional yang berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu. Namun tidak ada satu pun tempat yang membuat hatinya merasa tenang. Semuanya terasa biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Hingga suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Raka mengambil jalan alternatif yang lebih sepi menuju kawasan perbukitan di sisi timur Gunung Api Purba. Jalan itu berupa jalan setapak beraspal sempit yang menanjak perlahan, dikelilingi pepohonan rimbun dan ladang batu kapur yang tampak cantik di bawah sinar matahari sore. Tidak ada kendaraan lain yang lewat, tidak ada suara bising, hanya suara angin yang berhembus pelan di antara dedaunan.
Saat ia sedang melaju perlahan, matanya menangkap sesuatu di atas bukit di sebelah kanan jalannya. Di sana, berdiri sebuah rumah berlantai dua yang kokoh, berbeda jauh dari rumah-rumah lain yang tersebar di sekitar kawasan itu. Rumah itu dibangun dengan bahan yang berkualitas, sehingga meskipun sudah lama tidak dihuni, dindingnya masih tampak kuat dan tidak runtuh. Namun jelas sekali rumah itu sudah lama ditinggalkan. Pagar kayu di depannya sudah mulai lapuk, rumput liar tumbuh tinggi di halaman, dan cat dindingnya sudah memudar serta mengelupas di beberapa bagian. Jendela-jendelanya besar dan terbuat dari kaca bening, namun sebagian sudah berdebu tebal, memantulkan cahaya matahari dengan cara yang samar dan suram. Atapnya terbuat dari genteng tanah liat yang warnanya sudah memudar, dan beberapa bagian terlihat sedikit retak. Rumah itu tampak kosong, tidak ada asap dari cerobong, tidak ada suara apa pun. Ia hanya berdiri di sana, sunyi dan terabaikan, seakan sedang menunggu seseorang yang lama sekali tak kunjung datang.
Raka segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia turun dan berdiri terpaku, menatap rumah itu dari kejauhan. Hatinya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena perasaan tak terjelaskan bahwa inilah tempat yang selama ini ia cari. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan menanjak perlahan menuju rumah itu.
Belum sempat ia melangkah terlalu jauh, terdengar suara langkah kaki dari arah samping. Seorang lelaki tua berjalan mendekatinya dengan langkah yang mantap namun perlahan. Rambutnya memutih seluruhnya, kulitnya keriput karena usia dan paparan sinar matahari selama puluhan tahun, namun matanya masih tajam dan jernih, menatap lurus ke arah Raka dengan tatapan yang dalam dan penuh makna. Ia berhenti beberapa langkah di depan Raka, lalu menoleh sejenak ke arah rumah itu sebelum kembali menatap Raka.
"Kau melihat rumah itu, Nak?" tanya lelaki tua itu pelan, suaranya rendah namun terdengar jelas di keheningan sore itu.
"Iya, Kakek," jawab Raka dengan sopan. "Rumah itu milik siapa? Dan mengapa terasa begitu sepi? Sepertinya sudah lama tidak dihuni."
Lelaki tua itu menghela napas panjang, lalu berbicara dengan suara yang lebih pelan, seakan berhati-hati agar kata-katanya tidak didengar oleh tempat itu sendiri.
"Itu rumah kedelapan. Dan sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengan tempat itu. Ada hal-hal yang tidak perlu diketahui semua orang, dan ada tempat yang lebih baik dibiarkan seperti apa adanya."
Kata-kata itu langsung membuat rasa penasaran Raka tumbuh semakin kuat. Rumah kedelapan? Mengapa disebut demikian? Dan mengapa lelaki tua itu berbicara seakan rumah itu bukan sekadar bangunan biasa? Namun sebelum Raka sempat bertanya lebih lanjut, lelaki tua itu sudah berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya, meninggalkan Raka yang masih berdiri terpaku di tempatnya, dengan satu pertanyaan besar yang kini mulai tumbuh dan berkembang di dalam hatinya.