Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — NAMA BARU
Lembah Tersembunyi terselimuti keheningan pekat, tiga hari berselang sejak Shen Yue menelan Pil Penekan demi meredam amukan di dalam tubuhnya. Urat-urat hitam yang sempat mencengkeram leher wanita itu perlahan memudar, menyisakan kulit pucat pasi yang kian kehilangan kehangatan. Di sudut ruangan es yang beralaskan bebatuan dingin, Lu Chen meracik sup rumput hangat menggunakan tungku darurat untuk memulihkan kondisi ibunya.
Di hadapan pemuda itu, sebuah panel samar melayang di udara, memancarkan cahaya biru redup yang menampilkan status terkininya:
DARAH IBLIS: 60% - TIDAK STABIL RACUN LANGIT: TERTEKAN LOKASI: DILINDUNGI FORMASI ES
"Minum," bisik Lu Chen lirih, menyodorkan mangkuk tanah liat berisi sup hangat itu ke hadapan ibunya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Shen Yue menerima mangkuk tersebut, meneguknya perlahan sebelum mendongak menatap putranya. "Makasih, nak."
Suasana kembali senyap, menyisakan deru angin gunung yang menderu keras di balik dinding es pelindung. Hati Lu Chen bergemuruh, membawa beban pertanyaan yang telah lama menjejalkan sesak di dadanya.
"Bu..." panggil Lu Chen dengan suara nyaris tak terdengar. "Namaku... bukan Lu Chen kan?"
Shen Yue tertegun sejenak, mangkuk di tangannya hampir terlepas. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Desa Qingfu bilang aku anak kutukan. Langit bilang aku noda. Raja Iblis bilang aku alat." Lu Chen mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku mau nama... yang benar-benar Ibu kasih."
Sorot mata Shen Yue mendadak berkaca-kaca. Dengan tangan yang lemah, ia merengkuh kepala putranya, membelai lembut helai rambut hitam Lu Chen yang berantakan.
"Chen... artinya 'fajar'," bisik Shen Yue dengan suara bergetar penuh haru. "Lu Chen. Fajar yang terlahir dari gelap." Ia tersenyum getir namun tulus. "Itu nama yang kuberi. Bukan kutukan. Itu harapan terbesar Ibu."
Lu Chen terdiam membisu, meresapi setiap makna di balik suku kata namanya. Perlahan, ia mengangguk mantap. "Baik. Kalau begitu, aku tetap Lu Chen."
KRAK
Suara retakan tajam memecah keheningan. Formasi es pelindung mendadak bergetar hebat, menandakan ada kekuatan luar yang mencoba menerobos masuk secara paksa.
Shen Yue seketika bangkit berdiri, meski tubuhnya masih limbung. "Ditemukan."
Dari balik kabut es yang menipis, sesosok figur melangkah masuk. "Guru... ini aku, Xue Ling."
Xue Ling berdiri dengan napas tersengat, bahu kanannya masih terbalut perban tebal akibat luka pertempuran sebelumnya. Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah gulungan tua berwarna keemasan.
"Aku dikejar para algojo Langit," kata Xue Ling lugas, merapikan jubahnya yang robek. "Jadi aku memutuskan menyusul ke sini."
Melihat kehadiran orang asing, Lu Chen langsung memasang kuda-kuda bertarung. Desiran darah iblis yang mencapai enam puluh persen di dalam pembuluh darahnya mendadak mendidih, merespons kehadiran ancaman di dekatnya.
"Tenang, Lu Chen," cegah Shen Yue, menepuk bahu putranya. "Dia bukan musuh. Dia membantu kita."
Xue Ling membentangkan gulungan tua yang dibawanya ke hadapan mereka berdua. "Ini Peta Jurang Neraka. Satu-satunya jalur tersembunyi yang tidak bisa dilacak oleh para Dewa Langit maupun bala tentara Iblis."
Panel informasi bercahaya terang muncul dari gulungan tersebut:
TITIK 1: JURANG NERAKA - DASAR DUNIA TITIK 2: RERUNTUHAN KUIL TIGA ALAM CATATAN: TEMPAT LATIHAN DARAH CAMPURAN
"Jurang Neraka?" tanya Lu Chen, mengerutkan kening. "Tempat para iblis terkutuk?"
"Tempat pembuangan bagi semua makhluk yang dibuang oleh Langit," koreksi Xue Ling tajam. "Termasuk kita bertiga."
Shen Yue menoleh, menatap lekat ke dalam mata putranya. "Kau siap? Di tempat itu, kau harus belajar menundukkan darah iblismu sendiri. Jika gagal... kau akan dikendalikan dan dimakan olehnya."
Lu Chen mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Aku siap. Demi Ibu."
LATIHAN PERTAMA: KENDALI 60%
Dasar Jurang Neraka menyuguhkan pemandangan yang mencekam. Bentangan langit di atas sana berwarna merah darah, memancarkan aura kegelapan yang pekat.
Udara di tempat ini begitu berat dan menekan dada. Setiap kali Lu Chen menarik napas, darah iblis di dalam tubuhnya berteriak liar, mendesak untuk merobek kulit dan mengambil alih kesadarannya.
"Berdiri," perintah Shen Yue mutlak. "Tutup matamu. Rasakan aliran di dalam nadimu."
Lu Chen menurut. Ia menjatuhkan diri bersila di atas tanah berpasir hitam yang panas.
Di dalam kesadaran batinnya, tiga suara asing beradu sengit memperebutkan kendali:
SUARA 1 (DARAH MANUSIA): "Lari dari sini. Kau terlalu lemah untuk bertahan!"
SUARA 2 (DARAH DEWA 1%): "Tahan posisimu. Kau memiliki hukum alam di atas mereka."
SUARA 3 (DARAH IBLIS 60%): "HANCURKAN SEMUA DI HADAPANMU!!!"
Lu Chen mendadak meraung keras. Sepasang tanduk kecil berwarna hitam legam mulai mendesak keluar dari sisi kepalanya, memancarkan aura kehancuran yang mengerikan.
"Lu Chen!" teriak Shen Yue dengan suara penuh wibawa. "Ingat namamu! Kau adalah fajar!"
BOOM!
Ledakan energi keemasan bercampur hitam meledak dari tubuh Lu Chen. Ia membuka matanya lebar-lebar. Mata sebelah kirinya menyala merah darah, sementara mata sebelah kanannya tetap hitam normal layaknya manusia biasa.
Tanpa ragu, ia melayangkan tinju ke arah tanah di hadapannya.
DUAR!
Sebuah retakan raksasa sepanjang sepuluh meter langsung membelah permukaan jurang akibat hantaman tersebut.
Xue Ling membelalakkan mata, terkejut bukan kepalang. "Luar biasa... Dia bisa menahan kekuatan enam puluh persen itu tanpa kehilangan kesadaran sepenuhnya?"
Shen Yue tersenyum bangga, air matanya nyaris tumpah. "Itu anakku."
Tanpa diduga, tanah di sekitar mereka kembali bergetar hebat. Dari dalam kabut tebal, sesosok makhluk raksasa berwujud kera bertanduk empat menerjang ke arah mereka.
MONSTER: RAKSASA JURANG - TAHAP IBLIS RENDAH
"Ujian sesungguhnya," seru Shen Yue. "Kalahkan dia. Tanpa menggunakan niat membunuh."
Lu Chen melesat maju. Kali ini, serangannya jauh lebih terarah dan terkontrol. Ia memadukan kekuatan fisik manusia dengan manipulasi es milik ibunya.
DUAR! DUAR!
Hanya dalam waktu lima menit, monster raksasa itu ambruk tak berdaya dan jatuh pingsan ke tanah.
Lu Chen terhempas berlutut, napasnya memburu dan keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya. Namun, ia berhasil mempertahankan kesadarannya. "Aku... berhasil."
Malam tiba di dalam tenda es darurat yang didirikan Xue Ling.
Wanita itu melempar sebuah benda kecil ke pangkuan Lu Chen. Sebuah liontin berbentuk segitiga yang memancarkan tiga pancaran warna sekaligus: Emas, Merah, dan Hitam.
"Ini Segel Tiga Alam," jelas Xue Ling singkat. "Guru yang merancangnya saat kau lahir. Benda ini berfungsi menyembunyikan fluktuasi aura dari ketiga darah yang ada di tubuhmu."
Lu Chen segera mengenakan liontin tersebut di lehernya. Seketika itu juga, aura mengerikan yang menguar dari tubuhnya meredup drastis, turun dari level enam puluh persen menjadi sepuluh persen yang stabil.
"Terima kasih," ucap Lu Chen tulus kepada Xue Ling.
Xue Ling membuang muka, merona tipis. "Jangan salah paham. Aku melakukan ini semata-mata karena aku masih memiliki hutang budi pada Guru."
Shen Yue yang duduk di dekat perapian es tiba-tiba terbatuk kecil. "Kalian berdua ini... kenapa tidak pernah akur sejak pertama bertemu?"
Keduanya terdiam serempak, lalu memalingkan wajah bersamaan sambil mendengus, "Hmph!"
Melihat pemandangan itu, Shen Yue tertawa kecil—sebuah tawa tulus yang sudah sangat lama tidak terdengar dari bibirnya.
Namun, kehangatan itu mendadak terhenti saat Segel Tiga Alam di leher Lu Chen terasa membara dan panas menyengat.
PERINGATAN: RAJA IBLIS MO TIAN MERASAKANMU JARAK: 1000 KM DAN MENDEKAT
Di tempat yang sangat jauh, Raja Mo Tian membuka matanya lebar-lebar di singgasana kegelapannya. "Wahai anakku... kau sudah mulai belajar menyembunyikan diri rupanya..."
Dari arah berlawanan, Dewa Eksekusi di istana langit turut membuka mata, memancarkan amarah murka. "Anak haram itu bersembunyi di Jurang Neraka. Kerahkan pasukan, serbu sekarang juga!"
Lu Chen bangkit berdiri dengan cepat, menggenggam erat tangan ibunya yang mulai menegang.
"Bu. Kita harus bertempur lagi ya?" tanya Lu Chen tenang.
Shen Yue berdiri, menarik keluar Pedang Hukum dari sarungnya yang bersinar terang. "Iya. Tapi kali ini... kita yang akan menyerang lebih dulu."
Xue Ling mencabut tiga bilah pedang pendek dari pinggangnya, memasang kuda-kuda kokoh. "Aku akan membuka jalan di barisan terdepan."