Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Ryan duduk di teras rumah kayu, matanya sesekali mengikuti dua anak kecil yang sedang berlarian di taman, tertawa riang.
Tiba-tiba…
Suara langkah tergesa memecah keheningan.
Dari arah lorong kayu, seorang wanita paruh baya muncul.
Rambut hitamnya yang panjang disanggul rapi, tubuh anggun itu diselimuti pakaian sutra mewah berwarna biru muda dengan hiasan benang perak berkilau.
Meski usia telah menambah garis-garis halus di wajahnya, kecantikannya tetap tak pudar.
Wanita itu terhenti mendadak. Matanya langsung membelalak, lalu basah oleh air mata. Tubuhnya bergetar menahan haru.
“Ryan…” bisiknya pelan, suaranya serak tertahan emosi. “Apa itu benar… kau, anakku?”
Ryan mengerutkan kening. ‘Siapa wanita ini? Apa Jangan-jangan dia ibu dari bocah ini?’
Zenith, berjalan cepat menghampiri.
Dengan tangan gemetar, ia mengusap wajah Ryan, seakan tak percaya.
“Ya ampun, Ryan, Kau sudah besar. Aku… aku menunggumu selama enam belas tahun… maafkan ibu, nak...”
Zenith langsung merengkuhnya dalam pelukan erat.
Bahunya terguncang, air matanya jatuh membasahi pakaian Ryan.
Ryan sendiri hanya membeku. “Apa kau benar ibuku?” tanyanya lirih, masih ragu.
“Benar, nak… Aku ibumu.” Zenith tersenyum di antara tangisnya, suaranya penuh kehangatan yang telah lama hilang.
Momen haru itu terpotong ketika beberapa orang tua dengan jubah putih panjang menghampiri mereka.
“Ho… Jadi benar, ini putra dari Zenith yang menghilang enam belas tahun lalu. Kau terlihat cukup terlatih meski jauh dari Clan,” ucap Tetua Nandai, matanya menyipit menilai Ryan.
“Cih,” sahut tetua Besar Alex dengan wajah dingin. “Tapi aku yakin, kemampuan bertarungnya jauh di bawah rata-rata anak seusianya. Jangan berharap terlalu tinggi. dia pasti lemah"
Ryan hanya menatap mereka dingin dan entah mengapa mereka tidak nyaman dengan tatapan Ryan.
“Zenith,” ucap Asdar, kakak dari Zenith. “Sebaiknya kau bawa anak itu ke hadapan Ketua. Biarlah beliau yang menilai kelayakannya. Itu sudah menjadi tradisi Clan.”
Zenith mengangguk lalu memegang tangan Ryan dengan lembut. “Nak, ayo… Mari kita temui Ketua Clan. Kakekmu pasti senang bertemu dengan cucunya.” Senyumnya ramah, meski matanya masih basah menahan emosi.
Ryan mengangguk ringan. ‘Untuk sementara, aku akan mengikuti mereka. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri… apa yang membuat Clan Kabut Dingin ini bisa menjadi salah satu dari tujuh Clan besar. Aku harus mengetahui rahasia mereka.’
Mereka masuk ke rumah besar yang jauh berbeda dari luar.
Meski bergaya kuno, setiap sudut memancarkan kekayaan dan kekuatan.
Pilar-pilar besar dari kayu hitam diukir rumit, lantai batu dipoles berkilau, dan ukiran naga kabut menghiasi dinding utama.
Di ujung ruangan, duduk seorang pria tua berambut putih panjang, tubuhnya masih tegap, sorot matanya tajam.
Dialah Ketua Cyrus Alvaro, pemimpin Clan Kabut Dingin, dan salah satu Tujuh Pedang Langit dari aliansi Pedang Tujuh Langit.
“Hormat pada Ketua Clan!” seru semua orang serentak sambil menekukkan satu lutut.
Ryan mengikuti dengan tenang, sebagai assassin, dia sudah terbiasa menyusup dan mengikuti kebiasaan target nya.
Ketua Cyrus menatapnya lama. “Zenith… Jadi ini anakmu dengan Kyros? Anak yang kau biarkan pergi selama enam belas tahun lalu?”
Zenith menunduk hormat. “Benar, Ayah. Dialah Ryan, putraku dengan Kyros. Lihatlah, wajahnya persis Kyros saat masih muda.” Ada nada bangga dalam suaranya.
Namun tidak semua wajah di ruangan itu ramah.
Dari sisi kanan, seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan mendengus dingin.
Dialah Erik Alvaro, anak dari Asdar Alvaro.
Sejak kecil, Erik digadang-gadang sebagai pewaris masa depan Clan.
‘Bajingan sialan… Kenapa dia tiba-tiba muncul?! Seharusnya dia mati saja di luar sana! Jika Ketua meliriknya, posisiku sebagai pewaris bisa terancam!’ pikir Erik dengan penuh kebencian.
Ketua Cyrus kemudian berbicara. “Ryan, Kau memiliki darah Kyros di tubuh mu. Dia pria terkuat di generasi ini. sangat di sayangkan karena kau selama ini harus hidup di luar tanpa bimbingan Clan, potensi besarmu pasti banyak terbuang. Sayang sekali, peristiwa masa lalu membuatmu harus hidup terbuang.”
Ryan menatap Cyrus dengan tenang, “Anda salah, Ketua. Justru karena aku hidup di luar, bisa bertahan dan kembali ke sini, itu membuktikan aku mampu melewati segala bahaya seorang diri.”
Hening. Semua orang menatap Ryan dengan terkejut.
Seorang anak yang baru saja kembali, berani menanggapi ucapan Ketua dengan tenang.
Ketua Cyrus justru tersenyum samar. “Hoho… Menarik. Kau tampaknya punya banyak keberanian, Nak. Tapi aku ingin tahu, apakah keberanianmu didukung kemampuan, atau hanya omong kosong.”
“Apakah anda penasaran, Ketua?” Ryan menatap lurus tanpa gentar.
Cyrus mengangguk. “Sugih! Kemarilah. Ukur kekuatan bocah ini. aku ingin melihat kemampuan nya"
Seorang pria tegap dengan jubah perang maju ke depan.
Dialah Jenderal Sugih, pendekar tangguh kebanggaan Clan.
Ia menunduk hormat. “Laksanakan, Ketua!”
Namun Ryan hanya tersenyum tipis. “Maaf Ketua. Aku tidak tertarik.”
“Apa?!” Semua tetua serempak bersuara.
“Kenapa? Apa kau takut?” tanya Ketua Cyrus, matanya menyipit.
“Tidak. Hanya saja…” Ryan berdiri tegak, matanya menyapu seluruh ruangan. “…di ruangan ini, semua orang terasa lemah. Satu-satunya orang kuat di sini hanyalah Anda.”
Sekejap, wajah para tetua memerah karena marah.
“Bajingan sialan! Kau berani menganggap kami lemah?!”
“Kurang ajar! Meski kau cucu Ketua, tidak sopan merendahkan senior!”
“Anak ini harus diberi pelajaran!” teriak Tetua Nandai geram.
Zenith segera menggenggam tangan Ryan, wajahnya cemas. “Ryan, kau tidak boleh bicara begitu!”
Namun Ryan hanya menatap tenang. ‘Jika aku ingin mengetahui rahasia Clan ini, aku harus menonjol. Aku harus membuat Ketua benar-benar tertarik padaku. Biarlah semua orang membenciku, itu tidak masalah.’
Ryan tahu, kata-katanya tadi adalah provokasi pada semua orang.
Dan dia berhasil.
kini semua mata di ruangan memandangnya dengan kebencian yang membara.
-----------
“Hahaha!” Ketua Cyrus tiba-tiba tertawa keras, suaranya bergema memenuhi ruangan besar.
Tatapan tajamnya meneliti Ryan dari ujung kepala hingga kaki. “Nak… kau benar-benar berani. Sangat menarik. Aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu.”
Namun perlahan, tawanya mereda, berganti dengan wajah serius yang penuh wibawa.
Aura tekanannya membuat banyak tetua dan murid Khusus yang hadir menunduk tanpa sadar.
“Kau mengingatkanku pada Kyros ketika dia masih muda,” ucap Cyrus lirih. “Sekarang aku percaya bahwa darah nya ada di dalam tubuh mu. Kau memang mirip dengan ayahmu… baik dalam wajah maupun keberanian.”
Ryan tetap tenang, hanya menatap lurus.
“Dan karena kau mengatakan bahwa hanya aku satu-satunya orang di ruangan ini yang layak mengukir kekuatanmu… maka aku akan melakukannya.”
Ucapan itu sontak membuat seluruh tetua bereaksi.
“Ketua! Itu terlalu berlebihan!”
“Benar! Bocah ini bahkan belum tentu bisa mengalahkan murid-murid terbaik kita!”
“Dia hidup di luar, tanpa bimbingan. Aku yakin kemampuan bertarungnya lemah!”
Suara keberatan menggema, namun Cyrus mengangkat tangannya dengan tegas. Seketika semua suara bungkam.
“Cukup. Aku sudah memutuskan. Aku sendiri yang akan menguji kekuatan bocah sombong ini.” Nada Cyrus dingin dan mutlak. Tidak ada yang berani membantah.
Sorot matanya lalu kembali ke Ryan. “Namun ingat, jika ternyata kekuatanmu hanyalah omong kosong… aku akan mengusirmu. Clan Kabut Dingin tidak akan pernah mengakui seseorang yang hanya pandai berkata-kata.”
Wajah para tetua dan murid yang hadir berubah menjadi senyum sinis. Mereka jelas menantikan kegagalan Ryan.
Hanya Zenith yang wajahnya pucat penuh kekhawatiran.
“aku tidak masalah. Ayo kita lakukan..." Jawaban Ryan tenang, tanpa keraguan sedikit pun.
“Cih… bocah bodoh.”
“Dia berani sekali menantang Ketua Cyrus.”
“Pasti dia akan kalah hanya dalam satu tebasan.”
“Anak muda memang selalu ceroboh, merasa dirinya hebat.”
Bisikan sinis terdengar di sekeliling. Namun Ryan tetap tidak terpengaruh.
Tak lama, semua orang bergerak menuju arena latihan besar Clan Kabut Dingin.