Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Berkelas Bintang Lima dan Hujan Peluru

Restoran L'Amour adalah definisi kemewahan yang membuat dompet orang biasa menjerit hanya dengan melihat buku menunya. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram, alunan musik biola klasik mengalun lembut, dan para pelayan berpakaian tuxedo berjalan membawa piring-piring porselen dengan presisi militer.

Gala duduk tegak di meja nomor sembilan, mengenakan jas pinjaman dari teman sekantornya yang agak kebesaran di bagian bahu. Di depannya, Siska duduk dengan postur sempurna. Wanita itu mengenakan gaun sutra merah marun yang sangat elegan, rambutnya disanggul rapi, dan make-up-nya flawless. Namun, ekspresi wajahnya masih tetap sedatar triplek.

"Sis, ingat kesepakatan kita. Tersenyum. Setidaknya buat sudut bibirmu naik sedikit," desis Gala melalui gigi yang terkatup.

Siska menatap Gala. Sudut bibirnya naik secara mekanis, menciptakan senyum yang lebih mirip seringai psikopat daripada senyum orang jatuh cinta. "Apakah ini cukup, Sayang? Biaya senyum palsu durasi lama adalah seratus ribu per sepuluh menit."

"Turunkan bibirmu. Jangan tersenyum lagi. Menakutkan," keluh Gala pasrah.

Tepat pada saat itu, bencana berjalan memasuki restoran. Dari pintu utama, Senja melangkah masuk dengan anggun mengenakan gaun hitam backless yang menonjolkan otot punggungnya yang terlatih. Ia digandeng mesra oleh Rian yang mengenakan setelan jas putih mencolok, lengkap dengan mawar merah di saku dadanya. Di belakang mereka, empat pria berbadan besar berwajah garang mengekor layaknya bayangan—bodyguard Rian.

Mata Senja langsung memindai ruangan dan mengunci targetnya: Gala. Jantung Senja berdesir melihat wanita cantik bergaun merah di depan Gala. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba membakar dadanya, namun ia menelannya mentah-mentah. Dengan sengaja, Senja mengarahkan maitre d' (kepala pelayan) untuk memberikan mereka meja yang persis bersebelahan dengan meja Gala. Jarak antar meja tidak lebih dari satu setengah meter.

Pertarungan aura pun dimulai.

"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Gala," sapa Senja dengan nada riang yang dibuat-buat saat ia duduk. "Ah, ini pasti... teman barumu?"

Gala memberikan senyum pongah terbaiknya. "Senja. Lama tak jumpa. Kenalkan, ini Siska. Kekasihku. Dia pewaris tunggal perusahaan tekstil." Gala berbohong tanpa berkedip. "Dan kau? Membawa rombongan sirkus ke restoran bintang lima?" Gala melirik tajam ke arah empat bodyguard yang berdiri kaku di belakang kursi Rian.

Rian, yang tidak terima kekasih bidadarinya disindir, langsung membusungkan dada. "Saya Rian. Pengusaha muda. Dan untuk bidadariku Senja, keamanan adalah prioritas utama. Karena kecantikannya sangat berbahaya." Rian mengecup punggung tangan Senja dengan dramatis.

Senja menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutnya. Ia melirik Gala, berharap melihat reaksi cemburu.

Gala memang panas. Panas sekali. Ia menendang kaki Siska di bawah meja, memberi isyarat. "Sis, lakukan sesuatu. Paket bermanja, sekarang!" bisiknya panik.

Siska yang sedang membaca buku menu menoleh perlahan. Ia mengangkat garpu peraknya, menancapkannya ke sepotong besar Wagyu Beef A5 yang baru saja dihidangkan, dan mengarahkannya ke mulut Gala.

"Buka mulutmu, Sayangku. Biar kusuapi daging mahal ini," ucap Siska datar dengan volume yang cukup keras agar terdengar oleh Senja. Tanpa menunggu Gala siap, Siska menjejalkan potongan daging besar itu ke mulut Gala. Gala tersedak, matanya melotot, namun ia terpaksa mengunyahnya sambil tersenyum menyedihkan.

Senja tertawa mengejek. "Wow, pacarmu sangat... agresif, Gal. Hati-hati kau tersedak ego dan daging sekaligus."

Dari bawah meja, Senja yang kesal diam-diam menjulurkan kakinya yang mengenakan stiletto dan menendang keras tulang kering Gala. BUK! Gala meringis menahan sakit. Tidak mau kalah, Gala meraih sejumput kacang polong dari piringnya, dan dengan gerakan secepat kilat (hasil latihan melempar batu saat meliput demonstrasi), ia menjentikkan kacang itu tepat ke jidat Senja. Tuk!

"Aw!" Senja mengelus jidatnya. Ia memelototi Gala, mengambil pisau rotinya, dan bersiap melemparkan bongkahan mentega. Meja makan elegan itu telah berubah menjadi medan perang parit anak TK.

Namun, sebelum mentega itu melayang, suasana romantis restoran dihancurkan secara harfiah.

Suara decit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari luar. Detik berikutnya, kaca jendela besar di bagian depan restoran pecah berantakan dihantam tongkat bisbol baja. Tiga belas pria bertopeng, membawa parang, rantai besi, dan tongkat, merangsek masuk bagaikan kawanan serigala lapar. Para tamu restoran menjerit histeris dan berlarian mencari pintu keluar.

"Rian! Anak Naga Hitam! Bos kami mengirim salam maut untukmu!" teriak pemimpin penyerang itu, mengacungkan parangnya ke arah meja Rian.

Melihat belasan preman bersenjata, insting "pengusaha muda nan tangguh" Rian langsung bereaksi. Pria itu menjerit melengking dengan nada oktaf tinggi, melompat dari kursinya, dan bersembunyi meringkuk di bawah kolong meja sambil menutupi kepalanya dengan taplak meja. Keempat bodyguard Rian langsung maju, namun dalam hitungan detik mereka kewalahan menghadapi jumlah musuh yang tiga kali lipat lebih banyak.

Senja, yang darahnya selalu mendidih melihat kekerasan yang tidak adil, langsung berdiri dari kursinya. Gaun malam yang mengganggu pergerakannya ia robek sedikit di bagian paha agar ia bisa leluasa menendang.

"Brengsek, aku belum selesai makan!" rutuk Senja. Ia menyambar nampan baja berlapis perak dari tangan pelayan yang ketakutan, memutarnya di tangan, dan menghantamkannya dengan sekuat tenaga ke wajah preman pertama yang mendekat. CLANG! Suara hantaman itu bergema nyaring, membuat si preman pingsan seketika.

Melihat Senja maju ke garis depan pertarungan, dinding gengsi Gala runtuh detik itu juga. Persetan dengan perjanjian satu bulan, persetan dengan ego. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh Senja di depan matanya.

Gala meraih botol wine kosong dari mejanya, memecahkan ujungnya ke sudut meja, dan melompat menerjang preman yang mencoba menyerang Senja dari belakang. Crash! Gala menusukkan ujung botol tumpul itu ke bahu si preman, lalu melayangkan pukulan uppercut telak ke rahangnya.

"Gue bilang juga apa, kan! Kalau kita berdua bareng, pasti selalu ada yang rusak!" teriak Gala sambil berdiri memunggungi Senja, saling melindungi area buta masing-masing.

"Berisik, Gal! Fokus aja sama yang di depanmu!" balas Senja, menunduk menghindari sabetan rantai, lalu melakukan tendangan sapuan yang menjatuhkan dua orang sekaligus.

Namun musuh terlalu banyak. Gala mulai terdesak. "Siska! Back up! Turun tangan sekarang!" teriak Gala.

Siska yang sejak tadi masih duduk tenang menghabiskan wagyu beef-nya, perlahan meletakkan garpu dan pisau, lalu mengelap sudut bibirnya dengan serbet kain. Ia mengambil mesin EDC kecil dari tasnya.

"Paket ekstraksi dari situasi mematikan. Tiga ratus ribu per kepala musuh, dibayar di muka atau ditambahkan ke tabulasi akhir," ucap Siska dengan suara yang menembus kebisingan pertarungan.

"Iya! Tambah ke tabulasi! Hajar mereka semua!" seru Gala putus asa.

Siska berdiri. Dalam sekejap mata, aura monotonnya berubah menjadi aura pembunuh berdarah dingin. Ia tidak menggunakan senjata tajam. Ia hanya mengambil dua sumpit perak dari meja. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa, Siska melesat ke tengah kerumunan. Ia menusukkan sumpit itu ke titik-titik saraf di leher dan ketiak musuh. Setiap tusukan dibarengi dengan gumaman, "Tiga ratus... enam ratus... sembilan ratus ribu..."

Kombinasi antara bantingan judo maut Senja, gaya bertarung jalanan nekat milik Gala, dan akurasi pembunuh bayaran Siska membuat belasan preman itu kocar-kacir. Dalam waktu kurang dari empat menit, sisa preman yang masih sadar lari terbirit-birit keluar dari restoran yang kini hancur lebur bak kapal pecah.

Di bawah meja, Rian masih menangis sesenggukan. Gala, yang jasnya sudah robek dan napasnya memburu, menatap Senja yang juga terengah-engah dengan rambut berantakan. Tiba-tiba, tawa Senja meledak. Tawa yang tulus, keras, dan lepas. Gala pun ikut tertawa, menyadari betapa konyolnya mereka berdandan mewah hanya untuk berakhir baku hantam di restoran bintang lima.

"Total tagihan sementara: empat juta dua ratus ribu rupiah. Mohon dipersiapkan dananya," potong Siska tanpa ampun, menyodorkan mesin EDC ke depan wajah Gala yang tertawa. Tawa Gala terhenti seketika, berganti dengan kepucatan yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!