[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
"Tahun ke-995. Siklus ke-40. Sang Dewi kembali dipertemukan dengan faksi The Triumvirate. Energi purba berhasil terserap sebanyak dua belas persen. Status ingatan jangka pendek Sang Dewi mengenai identitas kuno mereka: Terhapus total."
Anak laki-laki misterius itu lantas menutup buku tebalnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun di udara. Sepasang matanya yang datar tanpa emosi fana menatap lurus ke arah punggung Elisa yang perlahan menghilang di balik pintu rumah Cedric.
Dalam satu kedipan mata berikutnya, tubuh mungil anak itu mendadak menguap, bermutasi menjadi kabut cahaya perak tipis yang melenyap ditelan atmosfer malam, meninggalkan keheningan total tanpa menyisakan satu pun jejak eksistensi keberadaan.
Begitu langkah kaki mereka melangkah masuk ke dalam interior rumah yang hangat, Cedric langsung mempersilakan Elisa untuk mendudukkan tubuh manusianya di atas sofa ruang tamu yang nyaman. Pria berambut pirang keemasan itu kemudian bergerak cepat menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman hangat.
"Rumah semegah dan seluas ini, tetapi Tuan Cedric selalu tinggal sendirian tanpa pelayan," gumam Elisa pelan dengan suara lirih, setelah sosok punggung tegap Cedric menghilang di balik sekat pintu dapur.
Entah mengapa, Elisa selalu merasakan kedamaian dan rasa aman yang mutlak setiap kali ia berkunjung ke tempat ini. Ia masih bisa mengingat dengan sangat jelas betapa empuknya permukaan sofa beludru yang sedang ia duduki saat ini, meskipun jika ia memeras memorinya kembali, seingatnya ini baru kali kedua ia menginjakkan kaki di dalam rumah pribadi bosnya tersebut.
Elisa menyandarkan punggungnya yang letih, lalu menunduk menatap kondisi gaun lengan panjang hitamnya yang sudah tampak berantakan dan ternoda bercak lumpur. Topi bulat kesayangannya entah jatuh di mana—mungkin terbang terlepas saat tubuh manusianya berada di dalam dekapan gendongan paksa pemuda misterius di hutan tadi.
Mengingat kembali bagaimana kecepatan lari luar biasa dari pemuda asing itu seketika membuat bulu kuduk di tengkuk Elisa meremang ngeri. Rasanya benar-benar sangat tidak masuk akal dan mustahil untuk bisa dilakukan oleh ukuran fisik ras manusia normal.
Elisa memejamkan sepasang matanya erat-erat, mencoba mengusir sisa trauma psikologis yang masih membekas kuat di dalam benaknya.
Aku benar-benar berharap agar garis takdirku tidak akan pernah mempertemukanku kembali dengan monster-monster gila itu di kota ini, batin Elisa merapalkan doa penuh harap.
Tak butuh waktu lama, Cedric kembali melangkah masuk ke ruang tamu sembari membawa sebuah nampan berisi secangkir teh herbal hangat yang mengepulkan uap dan sepiring kue stroberi kesukaan Elisa.
"Habiskanlah makanan ini, El. Aku tahu kau belum sempat mengisi perutmu sama sekali sejak pagi hari," ucap Cedric lembut seraya memposisikan dirinya duduk di samping Elisa dan menyodorkan cangkir teh yang menguar keharuman aroma kayu cendana yang menenangkan pikiran.
Elisa menerima cangkir tersebut menggunakan kedua telapak tangannya yang masih menyisakan sedikit getaran dingin.
"Terima kasih banyak, Tuan Cedric. Dan... mohon maaf karena aku selalu saja merepotkan kehidupan pribadimu."
"Hal itu sama sekali bukan masalah besar bagiku, Elisa. Justru saat ini... aku merasakan sedikit kekecewaan di dalam hatiku,"
Cedric menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap Elisa dengan sepasang mata hijau zamrud yang sulit diartikan makna emosinya.
"Kenapa kau tidak pernah mau terbuka atau bercerita kepadaku jika panti asuhanmu sedang berada dalam masalah penggusuran yang besar? Seharusnya sejak awal aku bisa mengulurkan bantuan lebih cepat untukmu. Aku sudah berulang kali menawarkan agar Ibu Iris dan belasan adik-adik kecilmu dipindahkan untuk tinggal di properti milikku sejak lama, tetapi kau selalu saja menolak niat baikku."
Elisa menyesap cairan teh herbal hangat itu sedikit demi sedikit, merasakan kehangatan instan menjalar turun melewati tenggorokannya sebelum meletakkan kembali cangkir porselen itu ke atas meja.
"Bukan bermaksud menolak kebaikan Anda, Tuan. Hanya saja... aku benar-benar tidak ingin ego manusiaku menjadi beban finansial atau merepotkan kehidupan Anda yang tenang."
Cedric menghela napas panjang yang sarat akan rasa pasrah, kedua bahu tegapnya merosot lesu menatap sang gadis. "Kau benar-benar seorang gadis fana yang teramat keras kepala, Elisa. Kau harus sadar bahwa fisik manusiamu memiliki batasan kapasitas, El. Tidak seharusnya kau memaksakan diri menanggung semua beban berat kedewasaan ini sendirian di usiamu saat ini. Tapi, setidaknya untuk saat ini aku bisa sedikit merasa lega karena Ibu Iris dan belasan anak-anak lainnya sudah berhasil dipindahkan dengan aman ke panti asuhan mewah milik yayasan Tuan Alan Pendragon. Mereka tidak akan pernah lagi merasakan kesusahan, kedinginan, atau kelaparan di tempat baru itu."
Sepasang mata cokelat gelap Elisa seketika membulat sempurna karena terkejut mendengar penuturan bosnya. "Benarkah hal itu, Tuan? Kenapa... kenapa Anda bisa terlihat begitu yakin dengan keamanan mereka? Apakah Anda mengenal dekat siapa sosok Tuan Alan Pendragon itu? Bukankah... bukankah dia merupakan kerabat dekat dari segerombolan pemuda gila yang menghadangku tadi? Apakah kepindahan mereka tidak akan memicu masalah baru bagi keselamatan mereka?"
"Tentu saja tidak akan ada masalah apa pun, Elisa. Aku mengenal karakteristik Tuan Alan Pendragon dengan sangat baik sejak lama. Beliau adalah sesosok pria dermawan yang teramat bijaksana, berwibawa, dan sangat dihormati di kalangan petinggi kota. Percayalah padaku, sifat dan tabiat beliau sama sekali tidak bisa disamakan dengan kelakuan liar ketiga pemuda tadi," jawab Cedric memberikan untaian kalimat meyakinkan.
"Jadi... Anda sudah mengetahui rahasia mereka sejak lama? Bahwa... bahwa ketiga pemuda gila tadi adalah bangsa Vampir?"
Elisa berbisik lirih, nada suaranya bergetar hebat melafalkan nama ras monster tersebut. "Aku... aku masih merasa kesulitan untuk memercayai dengan akal sehatku bahwa makhluk mistis penghisap darah seperti mereka benar-benar eksis secara nyata di dunia modern ini."
"Hm, ya. Aku mengetahui jati diri mereka," Cedric menganggukkan kepala kecilnya perlahan.
Ia kemudian mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Elisa, merendahkan volume suaranya menjadi sebuah nada peringatan yang teramat serius dan dingin.
"Tetapi ada satu hal yang ingin kupesankan padamu, El. Jangan pernah sekali-kali menceritakan perihal eksistensi monster malam ini kepada siapa pun di kota, termasuk kepada Ibu Iris. Bangsa mereka—maksudku, ras Vampir berdarah murni adalah jenis makhluk yang teramat sensitif. Mereka menduduki kasta predator tertinggi di kalangan kaum Immortal. Sebisa mungkin, kau harus langsung memutar arah dan lari sejauh mungkin jika sepasang matamu kembali tidak sengaja berpapasan dengan wujud mereka di kota nanti."
Cedric mendadak menghentikan kalimatnya, ada sedikit riak gugup yang melintas di wajah tampannya. Pria pirang itu nyaris saja keceplosan menyebut frasa "bangsa kami" yang merujuk pada identitas dirinya sendiri yang juga merupakan bagian dari populasi kaum Immortal di dunia fana.
Beruntung bagi Cedric, saat ini Elisa tampak masih terlalu syok dan larut dalam ketakutan psikologis untuk bisa menyadari kesalahan fatal slip lidah dari mulut bosnya itu.
Elisa menganggukkan kepalanya dengan patuh, wajah manusianya tampak semakin memucat mendengar peringatan tersebut.
"Aku mengerti, Tuan Cedric. Aku berjanji akan mematuhi peringatan Anda. Tapi... ada satu hal lagi yang membuatku bingung. Kenapa ketiga pemuda berbahaya tadi mendadak terlihat segan, bahkan memancarkan aura ketakutan saat sepasang mata mereka melihat kedatangan Anda di jalanan hutan tadi?" tanya Elisa penasaran.
"Dan Mengenai eksistensi mereka, Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Aku tidak akan pernah berpikir dua kali lagi jika melihat mereka. Aku bersumpah akan langsung berlari sejauh mungkin dari jangkauan mereka. Aku... benar-benar tidak ingin melihat wajah-wajah menyeramkan mereka lagi seumur hidupku."
"Emm... kalau itu... mungkin karena ayahku," jawab Cedric berusaha tenang, meski detak jantungnya mulai tak beraturan. "Ya, kau tahu sendiri, Ayah adalah Wali Kota Luminara. Mereka pasti tidak mau berurusan dengan masalah hukum atau politik jika macam-macam denganku. Apalagi ayah mereka adalah kolega lama ayahku."