Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Takterduga

Sore itu, aku dan Nada berangkat ke mal. Kami menuju tempat yang menjual sabun dan berbagai kebutuhan pribadi. Setelah itu, kami mampir ke toko aksesori. Sepertinya Nada memang punya ketertarikan khusus pada benda-benda kecil seperti itu. Ia terlihat begitu menikmati waktu di sana, berpindah dari satu rak ke rak lainnya.

Setelah cukup lama, aku mengajaknya ke toko buku. Itu adalah tempat yang wajib bagiku setiap kali pergi ke mal.

“Ayo, Nad. Keburu Maghrib, nih...” desakku agar ia segera beranjak dari toko aksesori.

“Baiklah,” jawab Nada santai.

Namun, bukannya segera pergi, ia justru masih asyik melihat-lihat.

“Kalau begitu, aku duluan, ya,” kataku sambil meninggalkannya.

“Eh, tunggu!” seru Nada.

Ia segera berlari mengejarku. Aku tidak menoleh sama sekali. Kalau aku menunggunya, entah berapa lama lagi kami akan sampai ke toko buku.

Sesampainya di sana, aku langsung menuju bagian buku-buku tarbiyah. Mataku kemudian tertuju pada sebuah buku berwarna hijau dengan judul Ketika Rasul Mendidik, karya Muhammad El Ali.

Aku langsung mendekat dan mengambil buku itu.

Namun, baru beberapa detik memegangnya, terdengar suara yang sangat kukenal.

“Ustadzah Aisyah.”

Aku menoleh.

Ternyata dia.

“Assalamu’alaikum, Ustadz,” sapaku.

“Wa’alaikumussalam,” jawabnya.

“Ustadzah suka baca buku?” tanyanya. Mungkin sekadar basa-basi.

“Iya, Ustadz,” jawabku singkat.

Di sampingku, Nada mulai menarik-narik ujung jilbabku. Berkali-kali ia memberi kode agar aku memperkenalkannya. Aku pura-pura tidak menghiraukannya.

“Ustadz sendiri baru cari buku apa?” tanyaku.

“Eh... entah. Baru lihat-lihat,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Matanya kemudian tertuju pada buku yang ada di tanganku.

“Tapi buku itu sepertinya bagus.”

Aku mengangguk.

“Ustadz belum baca?”

“Belum. Aku sudah pernah baca yang judulnya Ketika Rasul Mengajar. Tapi penulisnya berbeda,” jelasnya.

Aku kembali mengangguk.

“Ustadzah sama teman?” tanyanya kemudian.

“Iya. Ini Nada, teman di tempat mengajar sebelumnya,” jelasku.

Seolah sudah tidak tahan menunggu, Nada langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Nada,” katanya memperkenalkan diri.

“Alam,” jawabnya memperkenalkan diri.

Aku menahan senyum melihat cara Nada memperkenalkan diri.

“Ustadz sendirian?” tanyaku lagi.

“Tidak, sama kakak. Tapi kakak baru belanja.”

“Oh,” jawabku singkat.

Aku kembali menatap buku di tanganku. Entah kenapa, pertemuan yang awalnya hanya ingin menghabiskan sore bersama Nada justru membawaku bertemu dengannya di tempat yang sama sekali tidak kuduga.

“Alam!”

Terdengar suara seorang wanita yang usianya tampak lebih tua darinya. Mungkin itu kakaknya.

Ustadz Alam menoleh ke arah sumber suara.

“Kak, perkenalkan, ini Aisyah, teman di tempat mengajar daurah kemarin. Dan ini temannya, Nada,” kata Ustadz Alam memperkenalkan kami.

“Alma, kakaknya Alam,” katanya sambil menjabat tanganku.

“Wah... kebetulan sekali bertemu dengan kalian di sini. Rumah kalian daerah sini?” tanya Kak Alma ramah.

“Rumahnya Nada, Kak, yang dekat sini,” jawabku.

“Oh, kalau kami memang tinggal di daerah sini. Tapi dia jarang pulang,” kata Kak Alma sambil melirik Ustadz Alam.

Ustadz Alam hanya tersenyum kecil.

Kami berbincang sebentar. Setelah itu, kami memutuskan untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah sebelum makan bersama.

“Kebetulan aku baru berhalangan,” kata Kak Alma.

“Kalian shalat dulu. Aku yang pesan makanannya. Oh iya, mau pesan apa?” tanyanya.

“Terserah Kakak saja,” jawabku.

Nada mengangguk setuju.

“Aisyah suka apa?” tanya Kak Alma kemudian.

“Eh... aku suka nasi goreng,” jawabku sedikit kikuk.

Sebenarnya aku tidak enak hati kalau mereka harus memesan makanan hanya karena mengikuti seleraku.

“Kebetulan Alam suka cap cay. Kan satu outlet,” usul Kak Alma.

Kami pun mengangguk setuju.

“Ya sudah, nanti aku kirim lokasinya,” kata Kak Alma.

“Baik, Kak,” jawabku.

Setelah itu, kami berpamitan sebentar untuk menuju tempat wudhu dan melaksanakan shalat Maghrib. Aku berjalan bersama Nada, sementara Ustadz Alam menuju tempat wudhu laki-laki.

Entah kenapa, pertemuan sederhana di toko buku itu perlahan berubah menjadi makan bersama yang sama sekali tidak pernah kurencanakan.

Dan aku sendiri masih belum tahu, apakah ini hanya kebetulan biasa atau ada sesuatu yang sedang Allah atur di baliknya.

Jantungku berdetak tak beraturan tatkala Ustadz Alam mengimami shalat.

Aku berusaha menghayati setiap lantunan ayat yang dibacanya, tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang terus berdesir di dalam dada. Entah karena suasana, lantunan ayatnya, atau karena menyadari siapa yang berdiri di hadapanku sebagai imam.

Kami shalat di musala mal, dan malam itu Ustadz Alam yang menjadi imam.

Aku berusaha menenangkan hati.

Fokus shalat, Aisyah.

Namun, semakin aku berusaha mengabaikan debar itu, justru semakin terasa.

Setelah shalat selesai, kami beranjak menuju tempat makan. Dari kejauhan, Kak Alma sudah melambaikan tangannya kepada kami.

Kami pun segera mendekat.

“Duduk sini,” kata Kak Alma.

Baru saja kami duduk, ternyata makanan sudah tersaji. Kami pun langsung mulai makan sambil sesekali berbincang.

Kak Alma ternyata seorang guru SD. Obrolan kami pun mengalir dengan sendirinya karena aku juga pernah mengajar anak-anak SD, meskipun hanya di kelas sore.

Kami bercerita tentang anak-anak, tingkah mereka, dan berbagai pengalaman selama mengajar. Ada saja hal yang membuat kami tertawa kecil.

Sementara itu, Ustadz Alam lebih banyak diam. Sesekali ia ikut menyimak pembicaraan kami, tetapi tidak banyak memberikan komentar.

Aku sesekali meliriknya, lalu buru-buru kembali menatap makanan di hadapanku.

Aneh.

Padahal sebelumnya aku biasa saja berbicara dengannya.

Tapi setelah shalat tadi, rasanya ada sesuatu yang berubah.

Atau mungkin sebenarnya bukan dia yang berubah.

Mungkin hatiku yang mulai menyadari sesuatu yang selama ini berusaha kuabaikan.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!