Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wang Hao
Xuan Han menatap wanita itu sebentar. Bukankah ia menyebutnya sampah sebelumnya? Tapi jika dipikir lebih dalam, mungkin dalam kultivasi yang mereka banggakan ia adalah sampah. Namun, bagi penduduk biasa sepertinya, mampu memanjat tebing, selamat dari terkaman para buaya, dan berhasil membunuh monster pohon level tiga merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Jika saja ia hidup di lingkungan desa, betapa menyenangkannya bisa berbagi cerita seperti ini pada anak-anak.
Ia bisa menikmati ekspresi memuji mereka yang berebut ingin menjadi sepertinya. Pada saat itulah, ia berhasil menciptakan kebahagiaan baginya dan ambisi untuk anak-anak. Anak-anak pasti lebih efektif dididik dengan bercerita, bukan ceramah yang membosankan.
Walaupun begitu, Li Yin tampak bukan orang jahat dan ia segera mendekatinya, mengulurkan tangannya.
Li Yin menatap tangan Xuan Han lalu mengulurkan tangannya. Kedua jarinya menyentuh pembuluh darah. Ia memejamkan matanya. Ekspresinya lalu dipenuhi kerutan. Ia beberapa kali menoleh, sebelum akhirnya terkejut, membuka matanya, menatap Xuan Han.
“Kakak, apa yang terjadi? Benar 'kan Xuan Han ini sampah?”
Li Yin tampaknya memiliki detak jantung yang lebih cepat. Ia segera menggeleng lalu akhirnya berjalan menjauh. Xiao Meimei segera mengejarnya. Sementara Xuan Han melihat tangan kanannya, lalu menatap dua gadis itu.
“Apa yang dia lakukan?”
Ia penasaran. Tidak lama, ia segera berlari mendekatinya. Ia langsung bertanya apa yang terjadi.
Li Yin akhirnya berhenti, berbalik. “Xuan Han... Sepertinya kamu punya banyak rahasia.”
“Kakak Li, apa yang kamu lihat? Ceritakan pada kami.”
Xuan Han mengangguk setuju.
“Aku.... Aku tidak tahu.” Ia menatap Xiao Meimei. “Meimei, ketika guru memeriksa jantungmu, apa yang beliau katakan?”
“Guru bilang detak jantungku berirama dengan baik dan bagus dengan teknik Zither pedang. Katanya juga aku bisa berkultivasi dengan baik. Di masa depan, dengan usaha yang cukup, aku bisa menjadi dewa. Kakak, mengapa bertanya seperti itu?”
Li Yin menghela napas dan perlahan-lahan membuka mulutnya. Xuan Han penasaran, tapi sebelum ia dapat mendengar jawaban, telinganya menangkap suara langkah kaki. Tidak lama, seorang pemuda berpakaian kuning datang dari dalam hutan.
Li Yin dan Xiao Meimei menatapnya. Xuan Han gembira, ternyata ada manusia lain lagi. Melihat pakaiannya, sepertinya pemuda itu bukan orang sembarangan dan juga berasal dari tempat yang sama dengan Li Yin dan Xiao Meimei.
“Wang Hao...” ujar Xiao Meimei, mengerutkan keningnya, dipenuhi kebencian.
Melihat reaksinya, Xuan Han merasa ada yang salah.
Pemuda itu tersenyum pada Xiao Meimei, kemudian sedikit membungkuk pada Li Yin. “Kakak Li, lama tidak berjumpa.” Ia juga melihat Xuan Han. “Sepertinya kalian mendapatkan orang hutan juga.”
Xiao Meimei mengertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. “Wang Hao bajingan! Apa yang kau inginkan?”
“Aku? Hei, Xiao Meimei, seharusnya kalian senang bisa bertemu denganku. Kita bisa keluar dari hutan ini bersama-sama.”
“Keluar bersama? Huh, kami tidak akan menerimamu!”
Xiao Meimei ingin melesat ke depan, tapi segera Li Yin mengulurkan tangannya.
“Kakak Li, apa yang kamu lakukan?”
Li Yin tidak menjawab, ia memperhatikan Wang Hao. “Lama tidak berjumpa. Sepertinya kamu menjalani hidupmu dengan baik.”
Alis Wang Hao sedikit naik. Ia tersenyum dan tertawa. “Nona Li, Anda pasti ingin bergurau, tapi memang benar aku menjalani hidupku jauh lebih baik. Nona Xie, sepertinya kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.”
Ketika ia berhenti berbicara, seorang wanita muncul dan berjalan pelan di sampingnya. Ia terlihat tenang dengan gaun merah mudanya. Rambutnya panjang dengan tusuk rambut bunga peony merah. Tatapannya tenang. Ada pedang indah di tangannya yang berkilauan ketika diterpa sinar matahari.
Ketika melihat ini, Xiao Meimei sedikit terkejut. “Seorang murid dari Istana Langit. Wang Hao bajingan! Kau benar-benar keterlaluan!”
Li Yin menarik pedangnya dengan ekspresi dingin. Sementara Xuan Han menatapnya, detak jantungnya berdebar lebih cepat. “Murid Istana Langit....”
Ia ingat mayat itu dan entah mengapa ia akrab dengan sosok di depannya. Lalu ada sesuatu yang berusaha diingatnya, namun kepalanya terasa sakit. Xiao Meimei yang melihatnya merasa khawatir. Xuan Han menggeleng, bilang ia baik-baik saja.
“Baiklah,” kata Wang Hao. Melambaikan tangannya dan sebuah pedang muncul. Namun sebelum dapat mengeluarkannya, sebuah cahaya melesat. Ia segera menghindar, tersenyum menatap Li Yin. “Nona Li, kamu sangat bersemangat.”
Li Yin segera melesat dan mengayunkan pedangnya. Wang Hao secepat kilat menarik pedangnya, melempar sarungnya, dan menghadang serangan Li Yin dengan pedangnya. Suara pedang beradu terdengar nyaring. Itu sangat mengganggu pendengaran Xuan Han.
Baik Wang Hao maupun Li Yin, keduanya mengeluarkan tenaga yang kuat, bahkan hingga membuat kedua pedang melengkung. Keduanya memiliki ekspresi serius. Li Yin terlihat sangat dingin.
Tidak lama, Wang Hao tersenyum menyeringai. Ketika itu, ekspresi dingin Li Yin digantikan oleh sedikit keterkejutan. Otot-otot Wang Hao semakin mengeras dan ia tertawa sebelum akhirnya mendorong pedangnya hingga membuat pedang Li Yin patah menjadi dua, mengirim gadis itu mundur ke belakang.
Sayang sekali, Wang Hao segera mengayunkan pedangnya ke depan, membawa hembusan angin yang membuat potongan pedang Li Yin melesat seperti peluru ke arah pemiliknya. Kedua mata Li Yin sedikit membesar.
Ia menekan kedua kakinya untuk menahan diri agar tidak melesat terlalu jauh dan terjatuh, namun masih saja kedua kakinya terseret sebelum akhirnya berhenti. Ia segera melempar pedang di tangannya, sehingga dua potongan pedang itu beradu, menimbulkan suara besi.
Xiao Meimei yang melihatnya menggeram. “Wang Hao bajingan! Aku akan membunuhmu!”
Gadis itu segera berlari mendekat, akan tetapi Nona Xie mengedipkan kedua matanya, melompat anggun menghalangi Xiao Meimei. “Gadis kecil, lawanmu adalah aku.”
Nona Xie segera melesat, mengulurkan tangannya yang ramping.
Melihatnya, Xiao Meimei mendengus, melambaikan tangannya, Zither melesat lalu terbuka. Di dalamnya ada empat cahaya yang segera menjadi pedang. Itu melesat ke arah Nona Xie.
Sudut bibir Nona Xie sedikit bergerak. Ia memutar tubuhnya di udara seperti menari-nari. Dua selendang merah muda keluar dari lengan hanfu-nya, bergelombang lalu melesat ke arah pedang-pedang itu. Sementara tubuhnya terus melesat ke arah Xiao Meimei.
“Gadis kecil, ayo bermain dengan kakak...”
Nona Xie tertawa renyah. Xiao Meimei mengertakkan giginya. “Jalang tidak tahu diri!” ia menggeram, segera meraih zither-nya dan melesat ke arah Nona Xie.
Ia membanting kaki depannya, meraung, dan mengayunkan zither itu ke depan, bertemu dengan telapak tangan lembut Nona Xie.
Angin berembus kencang dan suara benturan bergema.
Sementara Li Yin menatap Wang Hao yang terlihat arogan. Ia melambaikan tangannya dan satu pedang lain muncul. Menatap serius, ia segera melesat. Mereka saling adu kekuatan pedang masing-masing dan gerakan mereka sangat cepat.
Jauh di pinggir ada Xuan Han yang kepalanya terasa sakit setelah melihat Nona Xie bertarung. Ia seperti akrab dengan gaya bertarungnya, tapi tidak berhasil mengingat apa pun.