Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Ditentukan
Jarum jam dinding menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit. Suasana di koridor dosen mulai lenggang karena mayoritas pengajar sudah menyelesaikan jam mengajar mereka dan sebagian sudah pulang.
Nadhira berdiri di depan pintu ruang dosen, tangan kanannya terangkat ragu, hendak mengetuk pintu di depannya. Setiap kali akan mengetuk pintu, tangannya terhenti di udara selama beberapa detik.
Namun ada hal penting yang harus dilakukannya fi dalam sana, Nadhira menarik napas panjang, membetulkan letak tali ransel di bahunya, lalu mengetuk pintu dua kali.
Tok! tok!
"Masuk," suara berat dari dalam ruangan terdengar membalas.
Nadhira memutar gagang pintu dan melangkah masuk perlahan. Ruang kerja Reyhan terasa dingin oleh pendingin udara yang berembus perlahan. Bau kertas, buku-buku desain impor berukuran tebal, dan aroma khas minyak wanginya menyebar di ruangan sama persis seperti yang tercium di area rumah mereka.
Reyhan sedang duduk di balik meja kerjanya. Kemeja putihnya yang digulung rapi hingga pertengahan lengan bawah memamerkan jam tangan kulit hitam berdesain minimalis. Pria itu tampak sibuk menandatangani seberkas dokumen akademis, tidak langsung mendongak saat pintu terbuka.
Nadhira berjalan mendekat, menutup pintu di belakangnya lalu menghentikan langkah tepat di depan meja kerja sang suami.
"Selamat sore, Pak Reyhan. Saya mau menyerahkan draf tugas kelompok Konstruksi Huruf untuk kelas Bapak dan Pak Bagas," ujar Nadhira dengan intonasi formal yang diatur sehati-hati mungkin, menjaga jarak profesionalitas mereka di lingkungan kampus.
Reyhan meletakkan pulpennya di atas tatakan kayu. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk, lalu perlahan mendongak menatap Nadhira. Tatapan matanya lurus, kaku, dan tanpa ekspresi berlebihan, gaya khas seorang dosen killer yang tak tersentuh.
"Tugas kelompok kamu?" tanya Reyhan datar.
"Iya, Pak. Ini punya kelompok tiga," sahut Nadhira sambil merogoh map plastik tebal berwarna biru bening dari dalam ranselnya. Ia meletakkan tumpukan lembaran kertas kalkir berukuran A3 itu di atas meja Reyhan, tepat di sebelah tumpukan buku-buku tebal.
"Semua draf eksplorasi anatomi huruf dari saya, Kania, dan Dimas sudah digabung di dalam."
Mendengar nama terakhir yang diucapkan Nadhira, alis tebal Reyhan menukik tipis. Pria itu meraih map plastik tersebut, membukanya, lalu menarik lembaran-lembaran kertas kalkir yang berisi garis-garis panduan tipografi yang rumit.
"Duduk, Nadhira," perintah Reyhan singkat tanpa menatap wajah istrinya. Ia memajukan kursi kerjanya dan mulai membuka lembar demi lembar karya mahasiswa tersebut.
Nadhira berkedip pelan, melirik ke arah kursi kayu berbusa di depan meja Reyhan. Biasanya, mahasiswa yang mengumpulkan tugas kelompok cukup menyerahkannya di meja lalu diperbolehkan keluar. Namun karena Reyhan yang memerintah, Nadhira hanya bisa mengangguk dan mendaratkan tubuhnya di kursi itu.
"Ada yang salah ya Pak, sama drafnya?" tanya Nadhira hati-hati saat melihat raut wajah Reyhan yang begitu serius mengamati kertas-kertas kalkir di hadapannya.
Reyhan tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang panjang dan bersih membalik lembar kerja milik Kania, merapikannya ke samping, lalu mengambil lembar kerja yang memuat nama Nadhira.
Pria itu meraih sebuah pensil mekanik dari dalam tempat pensilnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Reyhan mulai menggerakkan pensilnya di atas lembar kalkir milik Nadhira. Gerakan tangannya begitu presisi, membuat garis-garis tipis di sekitar sudut kurva huruf serif yang digambar oleh Nadhira.
Nadhira memajukan tubuhnya sedikit, penasaran dengan apa yang sedang dicoret-coret oleh suaminya.
"Secara keseluruhan, eksplorasi kamu sudah menunjukkan peningkatan dibanding minggu lalu," buka Reyhan dengan suara beratnya yang tenang. "Kemiringan italic kamu sudah lebih konsisten, dan perhitungan kerning antar huruf tidak lagi bertabrakan."
Nadhira yang mendengar pujian terselubung itu seketika memamerkan senyum tipis. "Tuh kan, gue emang berbakat," batinnya percaya diri.
Namun, kepuasan Nadhira tak bertahan lama saat Reyhan melanjutkan coretannya.
"Tapi di bagian stem dan terminal huruf 'g' dan 's', kamu masih terlalu tergesa-gesa," lanjut Reyhan, menunjuk dengan ujung pensil mekaniknya ke arah sudut kalkir.
"Di bagian ini, garis panduan kamu melenceng nol koma dua milimeter. Kalau draf ini masuk ke tahap pembuatan font digital, proporsinya akan tampak cacat saat dicetak dalam ukuran besar."
"Nol koma dua mili?!" seru Nadhira reflek, matanya membelalak tak percaya. "Pak, nol koma dua mili itu kan tipis banget! Nggak bakalan kelihatan kalau cuma dilihat pakai mata telanjang!"
Reyhan menghentikan koreksinya. Ia mengangkat kepala, menatap Nadhira dari balik lensa kacamatanya dengan pandangan tajam yang dingin.
"Di dunia desain profesional, nol koma dua milimeter adalah batas antara karya yang presisi dengan karya yang asal-asalan," tegas Reyhan tanpa kompromi.
"Saya tidak mengajar kamu untuk menjadi desainer yang 'asal tidak kelihatan cacat'. Saya mengajar kamu untuk memiliki standar."
Nadhira memonyongkan bibirnya pelan, menundukkan kepala. "Dasar Pak Dosen Perfeksionis! Luar kampus atau dalam kampus sama aja kaku banget kayak penggaris besi!" gerutunya dalam hati.
Reyhan kembali membalik lembar kerja itu. Namun alih-alih memberikan nilai buruk atau mencoret-coret kasar seperti yang biasa ia lakukan pada tugas mahasiswa lain, Reyhan menarik sebuah gulungan stiker sticky notes berwarna kuning dari laci mejanya.
Dengan tulisan tangannya yang sangat rapi, Reyhan menuliskan beberapa baris catatan teknis di atas stiker tersebut. Pria itu menyobek stiker kuning itu dan menempelkannya tepat di sudut lembar kerja Nadhira.
Tidak hanya satu, Reyhan menempelkan tiga stiker catatan khusus di lembaran Nadhira. Di dalamnya tertera panduan langkah demi langkah tentang cara memperbaiki kurva huruf menggunakan rumus grid buatan Reyhan sendiri, sebuah rumus efisien yang bahkan tidak ada di dalam buku teks perkuliahan mereka.
"Perbaiki bagian ini nanti malam di rumah," kata Reyhan pelan, nada suaranya sedikit melunak dibanding saat menegur tadi.
"Gunakan rumus panduan yang saya tulis di stiker itu. Kalau kamu mengikutinya dengan benar, pengerjaannya akan jauh lebih cepat dan tidak akan menguras waktu tidur kamu."
Nadhira menatap tiga stiker kuning di atas lembar kalkirnya. Di balik ketegasan dan kritikan pedasnya soal skala nol koma dua milimeter, pria kaku ini rupanya diam-diam menyiapkan jalan pintas dan panduan paling detail khusus untuk dirinya agar ia tidak perlu begadang di rumah.
Rasa hangat mendadak merayap di dada Nadhira. Rasa jengkelnya menguap seketika, berganti dengan senyuman manis yang tak mampu ia sembunyikan lagi.
"Makasih ya, Pak Reyhan..." cicit Nadhira halus, menatap wajah suaminya. "Catatannya rapi banget. Nanti di rumah saya pelajari lagi."
Reyhan berdehem kaku, buru-buru memalingkan pandangannya kembali ke arah tumpukan map untuk menutupi rasa canggung akibat senyuman Nadhira. Pria itu meraih lembar kerja terakhir dari dalam map, lembar kerja milik Dimas.
Seketika, raut wajah Reyhan kembali datar.
Pria itu mengamati draf karya Dimas selama beberapa detik, lalu melirik ke arah Nadhira yang masih duduk manis di depannya.
"Untuk lembar kerja Dimas," ujar Reyhan, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi sangat formal dan dingin. "Ada beberapa kesalahan mendasar di bagian x-height dan proporsi garis basisnya."
"Oh, iya Pak," sahut Nadhira polos. "Tadi Pak Bagas juga sempat blilang gitu pas di kelas. Nanti saya sampaikan ke Dimas biar dia revisi."
"Tidak perlu kamu yang menyampaikan," potong Reyhan cepat dan lugas.
Nadhira mengerutkan keningnya bingung. "Lho? Kenapa, Pak? Saya kan ketua kelompoknya. Mumpung habis ini saya mau ketemu Dimas sama Kania di kantin bawah buat ngembaliin tugas ini."
Reyhan meletakkan pensil di meja. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Nadhira lurus-lurus.
"Saya sudah menuliskan catatan revisinya di lembar Dimas," kata Reyhan datar. "Kamu cukup serahkan lembar kerja ini pada Kania. Biar Kania yang menjelaskan pada Dimas."
"Tapi Pak, Kania kan ada kelas pilihan lain habis ini," protes Nadhira tak paham jalan pikiran suaminya. "Lagian apa bedanya sih kalau saya yang ngomong langsung ke Dimas? Cuma ngasih tahu revisi garis doang."
"Bedanya?" pangkas Reyhan dengan pandangan membeku, "saya tidak suka melihat kamu menghabiskan waktu berduaan atau berdiskusi terlalu dekat dengan Dimas di lingkungan kampus."
Deg!
Nadhira membeku di tempat duduknya. Matanya membelalak kaget mendengar pernyataan polos namun sarat akan sifat protektif yang meluncur dari bibir suaminya.
"P-Pak Reyhan..." cicit Nadhira, wajahnya mendadak terasa panas. "Ini kan di kampus... dan ini cuma masalah tugas kelompok..."
"Di mana pun tempatnya, Nadhira," tegur Reyhan, suaranya sangat berat namun diatur agar tidak terdengar sampai ke luar ruangan. "Kejadian di lorong kelas tempo hari sudah cukup. Saya tidak mau melihat kamu tertawa-tawa atau berdiri terlalu dekat dengan laki-laki lain lagi, apalagi menggunakan alasan diskusi tugas."
Nadhira menatap Reyhan dengan tatapan tak percaya. Pria kaku ini benar-benar membawa rasa cemburunya yang tersembunyi dari rumah hingga ke dalam ruang dosen.
"Bapak tuh... posesif banget sih!" goda Nadhira pelan sambil memajukan tubuhnya ke atas meja, menyunggingkan senyum jahil untuk memancing reaksi suaminya.
"Padahal tadi pagi di kelas mukanya kaku banget kayak patung batu. Ternyata di dalam ruangan ini langsung keluar sifat aslinya."
Reyhan membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan sangat kaku, mencoba mempertahankan gengsinya yang setinggi langit.
"Saya tidak posesif," elak Reyhan dingin, matanya mengarah ke sudut lain ruangan.
"Saya hanya menegaskan batas yang harus kamu patuhi sebagai wanita yang sudah bersuami. Itu adalah bagian dari kesepakatan kita untuk menjaga integritas nama baik masing-masing."
"Alasan integritas terus yang dipakai," cibir Nadhira tertawa kecil di balik telapak tangannya. "Ngaku aja kenapa sih, Pak? Bilang 'Saya cemburu, Nadhira' gitu apa susahnya coba?"
"Nadhira," panggil Reyhan dengan nada mengancam yang pelan.
"Iya, iya! Ampun, Pak Dosen!" seru Nadhira cepat-cepat mengangkat kedua tangannya menyerah, meski matanya masih berkilat penuh kemenangan. "Paham, Paham. Nanti lembarannya saya kasih ke Kania. Saya nggak bakalan ngobrol berdua sama Dimas lagi. Aman, kan?"
Reyhan menghembuskan napas pelan dan merapikan kembali tumpukan kertas kalkir tersebut dan memasukkannya ke dalam map plastik milik Nadhira. Pria itu menyodorkan map tersebut ke hadapan istrinya.
"Ambil map kamu," kata Reyhan kaku. "Jam perkuliahan sudah selesai. Kamu mau pulang sekarang atau masih ada urusan?"
Nadhira meraih map plastiknya, memeluknya di dada. "Saya mau nungguin Kania sebentar di perpustakaan, Pak. Nanti pulangnya bareng Bapak kan?"
"Mobil saya terparkir di tempat biasa," sahut Reyhan datar, kembali meraih pulpennya seolah-olah hendak melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Tunggu saya di perpustakaan. Pukul lima tepat kita pulang."
"Siap, Pak Suami!" jawab Nadhira riang.
Nadhira berdiri dari kursinya, membetulkan letak ransel di bahunya. Namun sebelum berbalik menuju pintu, Nadhira menyempatkan diri melongokkan kepalanya ke arah meja Reyhan sekali lagi.
"Makasih ya buat stiker rumus rahasianya, Pak Reyhan," bisik Nadhira sembari melemparkan senyum. "Bapak ternyata dosen yang cukup perhatian juga."
Tanpa menunggu tanggapan dari Reyhan yang membeku di kursinya, Nadhira berbalik dan melangkah keluar dari ruang dosen dengan langkah-langkah kecil yang ringan dan bahagia.
Klek.
Pintu ruangan kerja itu kembali tertutup rapat.
Reyhan berdiri membeku di balik meja kerjanya. Pria itu perlahan meletakkan pulpen di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Tangannya terulur mengusap bagian bawah wajahnya yang terasa hangat.
Mata di balik kacamata itu menatap ke arah pintu kayu yang baru saja ditutup oleh Nadhira. Sebuah helaan napas pasrah keluar dari bibirnya, disusul oleh senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya, senyuman langka yang lagi-lagi berhasil dipancing keluar oleh gadis ceroboh yang kini berstatus sebagai istrinya tersebut.
...Bersambung... ...