Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapalan Mantra

Bau dupa yang sangat kuat.

Aku terbangun dari tidurku, tidak bukan tidur tapi pingsan.

jariku di perban.

Aku masih pusing, energiku terlalu banyak terkuras dan banyak mengeluarkan darah.

Tanganku satunya masih di genggam erat.

Aku tidur di kamar Raja.

Raja Yuko!

Aku terkejut walaupun berbeda kasur, mungkin semalam aku tidak sadarkan diri.

Raja Yuko masih tertidur.

Aku mau melepas genggamannya tidak bisa.

Dia masih mengenggam erat.

Aku membuka lagi selimutnya memandangi luka di perutnya yang bersih tanpa terlihat pernah terluka. Perban dan kain penyumbat darah sudah dibersihkan.

"Mau sampai kapan dilihat? " Raja Yuko terbangun melihatku.

Kututup kembali dengan selimut.

Kutarik genggaman tanganku tapi Raja Yuko menolak melepaskannya.

aku menatapnya.

"Lukamu sudah sembuh, jangan jadi anak manja" kataku menarik paksa tanganku.

"Sakit" kataku.

Akhirnya Raja Yuko melepaskan tanganku.

"Kita pastikan lukamu sembuh, jangan banyak bergerak dulu" kataku.

Aku membuka luka perban di jariku.

Jariku masih terluka.

Lukanya berupa goresan, tidak seperti biasanya luka di tubuhku yang langsung hilang.

Apakah kekuatanku sudah berkurang?

**

Tubuhku terasa lemas, Putri Rena membantuku memilihkan pakaian yang kupakai.

Aku kembali ke Istana Selatan.

Berendam di air hangat.

Mengingat-ingat yang terjadi kemarin.

Dayang mengetuk bilik mandiku,

"Nona... Baginda Raja sudah menunggu di kediaman anda" kata Dayang.

Aku mendengus, tidak bisa menikmati mandi yang lama.

Padahal kakiku sangat pegal berjalan dari Istana Timur.

**

Dengan kondisi sehat Raja Yuko menikmati teh melatinya di hadapanku.

"Aku mau pulang sekarang" kataku.

"Besok aku akan berkerja lagi" kataku lagi.

Bisa bahaya kalau aku di pecat gara-gara mangkir.

Diberi jadwal tiga kali dalam seminggu saja aku sudah bersyukur.

"Setelah makan siang boleh kembali" katanya pelan.

"Sepulang berkerja harus datang memeriksa aku lagi" kata Raja Yuko menatapku.

Kau akan baik-baik saja, masih kuat berjalan dari Istana Selatan kataku.

Justru aku yang mau mati lemas, pikirku.

"Apa mantra yang kau sebut untukku malam tadi" kata Raja Yuko.

"Aku sudah mengira semua orang pasti bertanya apa yang kurapalkan.

Rapalan itu tak tersebut dengan kata-kata. Dia muncul begitu saja di pikiran ku, lidahku terasa bergetar sendiri membaca dalam hati tapi sampai sekarangpun aku tidak bisa membunyikannya atau menghapalnya" kataku.

"Bagaimana itu bisa terjadi? " katanya.

"Buku Tua itu, aku baca semalaman, dan paginya bahasa kuno itu terekam di otakku.

Sayangnya buku itu sudah kau bakar" kataku pada Raja Yuko.

"Buku itu belum terbakar"

Aku tercekat mendengarnya.

Tenggorokanku terasa kering.

"Swanzi yang mengambilnya, dia menyerahkan untuk ayahku Yuko VII" Kata Pangeran Yuko, wajahnya berubah serius.

"Aku dan Swanzi berteman sejak kecil, sejak aku menjadi putra mahkota aku hanya di kelilingi lingkungan kerajaan yang keras, hanya Swanzi yang bisa berteman dekat denganku saat itu" matanya menerawang mengingat.

Tanda-tandanya ini curhatan cinta pertama celetukku dalam hati.

Aku mengangguk saja menunggu kisah selanjutnya.

" Tabib Zhi adalah Ayah Swanzi yang selalu sibuk dengan pengobatan, dia juga mengobati banyak orang termasuk Ayahku" katanya lagi.

"Lalu kupikir dia bertemu dengan kakekmu. Dan Mereka berdua bertukar sesuatu yang belum aku ketahui sampai kini" katanya.

Aku serius mendengarkan.

"Jadi buku itu milik siapa? " kataku

"Milik leluhur kami" katanya.

"Kemarin yang jadi pertanyaanku kenapa Swanzi datang menyerangmu, itu bukan halusinasi" kataku

"Dia dipengaruhi roh jahat" Raja Yuko menunduk.

"Satu ketika aku hendak naik tahta dan Ayahku meninggal akibat wabah di medan perang melawan kekuatan gaib.

Kekuatan gaib itu menyerang kerajaan.

Swanzi juga sakit saat itu.

Mendengar seluruh kerajaan porak poranda.

Swanzi keluar berlari.

Kekuatan jahat itu berkumpul dan merasukinya.

Setiap Raja memiliki kekuatan pengendali dan pelindung"

kata Raja Yuko.

Kataku dalam hati sekarang kamu tidak bisa mengendalikan Swanzi apalagi aku.

"Aku hanya ingin Swanzi sembuh, dia wanita yang baik" kata Raja Yuko.

"Tapi kau lihat kemarin dia melindungi ayahmu? " kataku.

"Dia juga memaksaku mengobati dia dengan teratai" kataku.

" Selidiki dia? Aku tau kau sangat percaya padanya tapi selidiki dia" kataku meminta.

**

Sebenarnya aku tidak tau Dunia Zink ini musuh terbesarnya siapa, Raja Yuko VII atau Swanzi inang dari semua roh jahat.

Jika semuanya selesai apakah aku bisa hidup normal atau menjadi tabib penjaga seperti Tabib Zhi.

Aku hanya ingin secepatnya hidup normal di duniaku, menikah dan punya anak mungkin itu cukup daripada aku harus lelah pergi kemana-mana.

Cita-cita seorang wanita normal.

**

"Nona, Baginda Raja meminta hamba menyampaikan hasil penyelidikan tentang Tabib Swanzi mungkin berguna.

Sejak dia tinggal di istana, pelayan dan tabib Swanzi sering sekali meracik di kediamannya"

kata seorang prajurit.

"Meracik apa?"

"Saya pernah melihat racikannya bunga teratai emas namun tidak pernah berhasil"

"Maksudmu?"

"Pelayan dilukai lalu di oleskan teratai emas" ,

"Lukanya tidak sembuh" kata prajurit.

**

Aku berjalan menuju Hunian Dayang bersama Putri Rena.

Menemui Kepala Pimpinan Dayang Istana Zink,

“Ada apa yang bisa hamba bantu?” kata Kepala Pimpinan Dayang.

“Mayanza sedang mencari seorang, bisakah kau membatunya mencari orang yang dimaksud” kata Putri Rena.

Kepala Pimpinan Dayang memandangku.

“Aku membutuhkan bantuanmu mencari Dayang yang melayani Swanzi” kataku.

Kepala Pimpinan Dayang berpikir sejenak,

“Nona, akan kubawa kau ke suatu tempat” katanya.

Aku dan Putri Rena mengikuti, kami menuju sebuah kamar hunian Dayang, gadis itu terkejut ketika kami ada di depan pintu kamarnya.

Aku masuk sendirian.

“Kau pasti sudah tau maksudku” kataku.

Tiba-tiba dia menangis tersungkur.

“Ampuni hamba Nona…

Hamba tidak bisa, hamba sakit” katanya.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Gadis itu membuka bahunya yang penuh goresan luka, tangannya juga.

“Apakah kamu adalah dayang terakhir yang menemaninya” kataku

Gadis itu mengangguk.

“Dimana dayang yang lain” tanyaku.

Menggeleng, “Aku tidak tau” katanya menangis.

“Sudahlah…

Akan kuobati lukamu” kataku.

Kuambil salep racikan dari kantongku, ku rapalkan mantra kuoles lukanya.

“Luka ini akan membaik” kataku.

Dayang itu bersujud.

Aku memegang bahunya, “Tidak perlu sampai begini” kataku.

“Aku hanya datang ingin bertanya, apa saja yang dilakukan Swanzi di kediamannya” tanyaku.

“Selama ini Tabib Swanzi melakukan pengobatan, dan malam hari dia minta aku menemani pengobatan menggunakan bunga teratai” kata Dayang.

“Berapa banyak teratai yang diambil?” tanyaku

“Banyak…aku tidak tau” kata Dayang.

“Apakah masih bersisa?” tanyaku lagi.

“Sepertinya masih” katanya.

“Bisa bantu aku mencarinya” kataku.

Dayang mengangguk,

Aku dan Dayang menuju kediaman Swanzi yang dijaga Pengawal.

Kami meminta ijin masuk Kediaman itu.

Mencari di setiap laci ruangan, beberapa racikan obat masih tersimpan,

Aku memandang di bawah buffet, kendi tanah liat bunga terataiku yang kukenal terakhir sepuluh bunga di dalamnya belum terpakai.

Aku menarik keluar bersama Dayang.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Raja Yuko datang dengan pakaian jubah berwarna merah.

Aku tersenyum, “mengambil ini” Kataku.

Saatku buka isinya hanya kendi kosong berisi air, aku terkejut.

Teratainya habis.

“Habis?” kataku pada Dayang.

“Tidak..” katanya.

Dayang menggeleng, “Beberapa hari lalu masih banyak”.

“Keluar dari Ruangan ini !” kata Raja Yuko.

Dayang keluar menunduk.

“Keluar!” bentaknya.

Aku terheran-heran, kupikir yang disuruh keluar adalah Dayang.

Aku berdiri masih memegang kendi tanah liat berisi air.

“Letakan” kata Raja Yuko padaku.

Aku sangat kecewa, baru saja tadi malam aku menyembuhkan orang ini seenaknya saja mengusirku.

Aku serahkan padanya kendi itu, dia menyambut dengan kedua tangannya aku keluar.

**

Aku masuk kamar kediamanku di Istana Selatan.

Mondar mandir menahan amarah.

Pintu kamar dibuka.

Aku berhenti berjalan.

“Pulanglah, ini sudah siang” Kata Raja Yuko.

Aku diusir? Tanyaku dalam hati.

“Baik aku akan pulang, tenang saja” aku mendorongnya sekuat tenaga keluar dari kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Pengawal dan Dayang keheranan.

Aku merapalkan mantra membuka gerbang dan kembali ke rumah kediaman kakek.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!