"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
“Amira, menjaga sopan santun kamu!” bentak Ratna, matanya membalas tajam. Ia lalu menoleh cepat ke arah calon menantunya. “Raka, kamu tolong maafkan Amira, ya.”
“Sudahlah, Mah, tidak masalah,” sahut Raka tenang, mengibaskan tangan seolah tak ambil pusing. “Aku justru bersyukur. Risma jauh lebih segalanya dari Amira. Putus dengan Amira adalah hal terbaik yang pernah terjadi, dan mendapatkan Risma adalah keberuntunganku.”
Amira hanya memutar bola matanya malas. Sementara Risma yang duduk di sebelah Raka tersenyum dada menepuk-nepuk bangga, menikmati setiap kalimat pujian itu.
“Sudah malam, aku mau tidur,” ucap Amira dingin, berdiri hendak meninggalkan ruang tamu.
“Amira, tunggu!” cegah Raka cepat. Ia lalu menatap ibunya dan Angga. “Tante, Om, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku sampaikan.”
“Amira, duduk dulu!” perintah Ratna tak membantah.
Amira menarik napas panjang. Walau perutnya sudah mual melihat panggung sandiwara ini, ia akhirnya duduk kembali.
“Begini, Tante,” Raka membuka suara, meluruskan posisi duduknya agar terlihat lebih meyakinkan. “Aku baru saja berhasil menjalin kerja sama dengan Garudayaksa Logistics.”
“Garudayaksa? Perusahaan logistik terbesar se-Asia Tenggara itu?!” potong Angga antusias, matanya seketika membesar.
“Iya, Om,” jawab Raka bangga. “Mereka sedang melakukan ekspansi bisnis besar-besaran, dan mereka mengajak perusahaanku untuk bermitra.”
“Kamu diajak bermitra dengan Garudayaksa?” Angga kian takjub.
“Kamu punya kenalan di Garudayaksa, Raka?” tanya Ratna, matanya berbinar-binar.
“Ada, Om, Tante,” jawab Raka penuh percaya diri. “Mereka sedang menggarap proyek pengangkutan hasil tambang skala besar di Indonesia dan Asia Tenggara. Kalau kita jadi mitra bisnis mereka, keuntungannya luar biasa. Garudayaksa saat ini memegang monopoli logistik tambang, dan bisa menjadi bagian dari mereka adalah keberuntungan langka.”
“Oke,” sela Ratna sabar menahan napas. “Selanjutnya, apa yang kamu tawarkan, Nak?”
Raka tersenyum tipis. “Ah, Tante ini memang pebisnis handal, langsung ke inti masalah.”
Ratna tersipu malu mendapat pujian itu. Namun bagi Amira, hal itu justru memantik alarm bahaya. Raka yang biasanya arogan dan tinggi hati, tiba-tiba bersikap merendah dan manis seperti ini sungguh mencurigakan. Meski begitu, Amira tak menampik fakta tentang Garudayaksa. Nama besar itu memang jaminan mutu; bermitra dengan mereka adalah impian semua pengusaha logistik.
“Begini, Om, Tante... Kita harus membeli armada truk raksasa. Biaya pengadaannya sekitar lima miliar rupiah. Dan Tante tahu berapa keuntungan bersih yang akan didapatkan setiap bulannya?”
“Berapa?” tanya Ratna tak sabar.
“Satu setengah miliar rupiah, Tante.”
“Sebanyak itu?!” Ratna terperanjat.
“Iya, sebulan satu setengah miliar!” potong Angga mantap, ikut menyakinkan.
Ratna sampai ternganga mendengarnya.
“Impossible...” gumam Amira pelan dari tempat duduknya.
“Apanya yang tidak mungkin, Amira?!” sahut Raka cepat. “Kamu cari tahu sendiri bagaimana raksasanya peran Garudayaksa di industri ini! Hanya Perdana Holding yang sanggup menyaingi mereka, tapi untuk urusan logistik tambang, Garudayaksa adalah rajanya!”
“Iya, mungkin terlihat 'tidak mungkin' bagi orang yang wawasan bisnisnya terbatas,” sindir Angga tajam pada Amira. “Kalau Garudayaksa, menurutku sangat masuk akal. Mereka bisa saja mengeluarkan modal sendiri, tapi karena sebagian saham mereka milik pemerintah, mereka wajib berbagi kuota proyek kepada perusahaan swasta lokal.”
“Nah, benar sekali itu, Om!” puji Raka mengangguk-angguk.
Ratna mendadak teringat sesuatu. Ia menoleh tajam ke arah anak kandungnya. “Amira, uang lima miliar dari pinjaman itu... sudah kamu pakai belum?”
“Belum,” jawab Amira jujur. “Tapi sudah aku alokasikan seluruhnya. Tidak bisa diganggu gugat.”
“Untuk apa?”
“Pembukaan gudang baru di Karawang dan Cikarang.”
“Kalau dialokasikan ke situ, lama sekali balik modalnya!” sergah Ratna. “Mending kamu alokasikan ke proyek Raka ini. Dalam waktu beberapa bulan, uang modalmu sudah kembali tuntas!”
“Benar, Tante,” timpal Raka memanasi. “Punya uang balik modal lima miliar dalam hitungan bulan itu sangat mengagumkan. Pembukaan gudang itu prosesnya lama dan birokrasi rumit. Bagus untuk jangka panjang, tapi jelek untuk putaran uang jangka pendek. Masalahnya, aku cuma diberi kesempatan sampai enam hari ke depan oleh Garudayaksa. Kalau lewat, peluang emas ini bakal hangus!”
“Ini beneran, Raka?” tanya Ratna memastikan.
“Tante boleh tidak percaya padaku, tapi masa Tante meragukan nama besar Garudayaksa?” Raka menarik napas dalam-dalam, mengeluar jurus pamungkasnya. “Malah kalau Tante bisa menggalang dana dari kolega Tante—katakanlah sampai seratus miliar—Tante bakal dapat fee komisi satu miliar rupiah setiap bulannya! Cuma menyampaikan informasi, Tante dapat satu miliar per bulan!”
“Serius kamu, Raka?!” mata Ratna makin hijau.
“Serius, Tante!” tegas Raka. “Informasi ini sangat mahal. Kalau bukan karena aku mencintai Risma, aku tidak akan membagikan peluang ini ke siapapun. Tapi ya terserah Tante... Kalau percaya, kita jalan. Kalau tidak, aku alihkan ke orang lain. Cuma jangan menyesal kalau nanti orang lain yang Tante rekomendasikan justru jauh lebih kaya dari Tante.”
Ratna menatap Amira dengan nada tak membantah, “Amira! Alokasikan dana lima miliar itu untuk investasi di Garudayaksa!”
“Ini perlu dikaji dulu, Mah,” sela Amira mencoba rasional.
“Apanya yang mau dikaji?! Kamu lupa dulu pernah mengajukan proposal ke Garudayaksa dan ditolak mentah-mentah? Sekarang ada jalan pintas lewat Raka, kamu malah menyia-nyiakannya!”
Amira terdiam. Hatinya ragu pada Raka, namun nama Garudayaksa terlalu menggoda untuk diabaikan begitu saja.
“Aku lebih suka mengambil jalan aman, Mah,” cicit Amira perlahan. “Membangun gudang adalah hal yang aku kuasai. Pahit-pahitnya jika bisnis lesu, kita masih punya aset berupa tanah dan bangunan. Kalau proyek ini, aku benar-benar tidak menguasai medannya.”
“Tapi aku menguasainya, Amira!” potong Raka percaya diri. “Aku yang akan mengawasi proyek ini secara ketat! Lagipula aku ini calon suami Risma. Uang lima miliar itu bukan jumlah yang besar bagi ayahku. Kalau sampai rugi—hal yang tidak mungkin terjadi—aku tinggal minta ganti rugi pada ayahku!”
“Sepertinya penawaran ini sangat menarik dan aman,” gumam Angga ikut mendukung.
“Kenapa kamu masih banyak pikir, Amira?!” bentak Ratna habis kesabaran. “Cepat telepon tim keuanganmu, perintahkan supaya dana lima miliar itu segera ditransfer ke rekening Raka!”
Amira membisu. Penjelasan Raka memang runtut dan masuk akal, apalagi Raka berani menjaminkan harta ayahnya jika terjadi kerugian. Merasa tak punya pilihan di bawah tekanan ibunya, Amira perlahan merengkuh ponselnya, berniat menghubungi Rini di bagian keuangan.
Raka di seberang meja sudah melengkungkan senyum kemenangan. Risma mendongak bangga; sebentar lagi ia akan menikah dengan Raka, dan Amira akan selamanya berada di bawah bayang-bayangnya.
Namun tepat ketika jari Amira hendak menyentuh layar...
“Jangan investasi, Amira.”
Suara berat dan tenang itu menggelegar di ambang pintu, mengejutkan seluruh orang di ruangan.
Luki melangkah masuk. Ia masih mengenakan jaket hijau khas tukang ojek online yang agak kusam, membawa sebuah kantong plastik hitam di tangan kirinya.
“Jangan pernah investasi pada dia... kalian cuma akan merugi,” ucap Luki santai sambil terus berjalan mendekat.
Wajah Raka seketika merah padam. “Kurang ajar! Dasar ojol sialan!” maki Raka menunjuk muka Luki.