Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Satu minggu berlalu sejak malam mencekam yang hampir merenggut nyawa Sienna Sinclair.

Suara sirine mobil ambulans tidak terdengar di area pemukiman elit ini. Di balik gerbang besi tempa setinggi empat meter yang menjulang di kawasan perbukitan terpencil, sebuah mansion tua bergaya kolonial berdiri megah namun terisolasi dari peradaban.

Udara dingin perbukitan dan kabut tipis yang menyelimuti rimbunan pohon pinus membuat tempat itu terasa bagaikan istana impian yang terbuang atau mungkin, sebuah sangkar emas baru yang jauh lebih tak tertembus daripada penthouse lantai 45.

Nicolas Vance sengaja memindahkan Sienna secara rahasia dari rumah sakit pada tengah malam, menggunakan helikopter medis pribadi. Tidak ada catatan rujukan resmi, tidak ada berkas kepolisian, dan tidak ada akses media. Di mata publik dan keluarga Ophelia, Sienna Sinclair masih terbaring koma di ruang ICU under pengawasan ketat.

Di dalam salah satu kamar utama mansion perbukitan tersebut, hening menguasai udara.

Sienna perlahan membuka kelopak matanya yang terasa amat berat. Sinar matahari pagi yang menembus tirai tipis membuat matanya perih. Tenggorokannya terasa kering bagaikan padang pasir, dan dada bagian dalamnya masih menyisakan rasa panas yang tumpul setiap kali ia menarik napas.

"Nona Sienna... Anda sudah sadar?"

Sebuah suara lembut yang sangat familier terdengar dari samping tempat tidur.

Sienna memutar kepalanya secara perlahan. Pandangannya yang samar-samar mulai fokus, menangkap sosok Maya yang duduk di kursi kayu dengan mata sembab dan seragam perawat yang rapi.

"Sus... ter... Maya...?" cicit Sienna, suaranya parau dan hampir tak terdengar.

Air mata Maya seketika menetes. Perawat itu bergegas meraih segelas air hangat dan sendok kecil, menuntun Sienna untuk meminumnya perlahan. "Ya, Nona... Ini saya. Syukurlah... Tuhan masih melindungi Anda..."

Sienna meminum beberapa sendok air hangat, merasakan tenggorokannya sedikit lega. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Kamar ini berukuran sangat luas, berlantai kayu jati gelap dengan perapian batu di sudut ruangan dan furnitur klasik yang mewah. Namun, jendela-jendela besar di kamar itu dipasangi teralis besi bergaya arsitektur Eropa yang kokoh.

"Kita... ada di mana, Suster?" bisik Sienna dengan napas pendek. "Apakah ini... rumah sakit?"

Maya menggeleng pelan seraya menyapu air matanya. "Bukan, Nona. Kita berada di mansion peristirahatan milik Tuan Nicolas di area perbukitan. Tuan Nicolas memindahkan Anda tiga hari lalu setelah kondisi paru-paru Anda dinyatakan stabil oleh tim dokter spesialis pribadi beliau."

Sienna menegang kaku. Nama itu seketika memanggil kembali ingatan mencekam tentang neraka kebakaran di penthouse. Kobaran api yang membumbung, bau bensin yang menyengat, dan ketakutan akan kematian yang hampir menjemputnya.

"Pengawal... orang-orang Claudia..." bisik Sienna panik, dadanya mulai naik turun secara tak teratur. "Mereka mencoba membakar saya, Suster. Mereka-"

"Tenang, Nona, tenang," pangkas Maya cepat, memegang kedua bahu Sienna yang gemetar.

"Di sini aman. Mansion ini dijaga oleh puluhan pengawal pribadi Tuan Nicolas yang dipimpin langsung oleh Pak Matteo. Tidak ada seorang pun dari luar yang diperbolehkan mendekati tempat ini."

Sienna menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berpacu liar. Tatapannya tertuju pada kedua telapak tangannya yang kini terbalut perban putih tebal.

"Sofia..." bisik Sienna mendadak teringat akan sahabatnya.

"Suster Maya, bagaimana dengan Sofia? Apakah dia selamat? Apakah dia ditangkap oleh orang-orang Claudia?"

Maya menundukkan kepalanya, menyiratkan keraguan yang mendalam. "Saya tidak tahu pasti, Nona. Setelah malam kejadian itu, Tuan Nicolas memerintahkan Pak Matteo untuk melacak keberadaan Sofia. Namun, sampai hari ini... Sofia menghilang tanpa jejak. Rumah dan tempat kerja serabutannya sudah kosong."

Sienna memejamkan matanya rapat-rapat, meremas seprai tempat tidur dengan jemarinya yang terbalut kain kassa. Keputusasaan kembali merayapi jiwanya.

Bukti resep arsenik itu berada di tangan Sofia. Jika Sofia tertangkap atau dilenyapkan oleh Claudia, maka seluruh perjuangan mereka untuk membersihkan nama ayahnya akan musnah seketika.

Klek.

Pintu kamar yang berat terdorong terbuka.

Langkah kaki tegap yang berat dan berirama lambat memecah keheningan kamar. Maya seketika berdiri tegak, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tinggalkan kami, Maya," perintah sebuah suara bass yang rendah dan memancarkan aura dingin yang dominan.

"Baik, Tuan Nicolas." Maya membungkuk hormat lalu bergegas melangkah keluar kamar, mengunci pintu kayu itu rapat dari luar.

Atmosfer di dalam kamar seketika berubah mencekam.

Sienna tidak memutar kepalanya, tetapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu. Langkah Nicolas mendekati sisi tempat tidur, sebelum akhirnya berhenti tepat di samping Sienna. Bayangan tubuhnya yang tinggi dan tegap menutupi sebagian pendar sinar matahari yang menerpa wajah Sienna.

Nico mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku dan celana kain gelap. Wajah tegapnya tampak kaku, dan sepasang mata kelabunya menatap lurus pada raut pucat Sienna dengan kedalaman emosi yang sulit diartikan.

Nico melangkah pelan, lalu mendudukkan fisiknya di kursi kayu yang baru saja ditinggalkan Maya. Pria itu menyilangkan kakinya, menatap Sienna dalam diam selama beberapa menit.

"Kau membuktikan bahwa kau memiliki sembilan nyawa, Anna," ujar Nico memecah keheningan, suaranya datar namun sarat akan penekanan.

"Dokter bilang asap di paru-parumu cukup untuk membunuh orang dewasa dalam waktu lima menit. Tapi kau bertahan."

Sienna memutar kepalanya perlahan, membalas tatapan mata kelabu Nico dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya. "Mengapa Anda menyelamatkan saya, Tuan Vance? Mengapa Anda tidak membiarkan saya terbakar bersama penthouse Anda?"

Nico menyipitkan matanya. "Karena kematianmu yang terlalu cepat hanya akan membuat pertunjukkan ini membosankan."

Sienna terkekeh tipis, sebuah tawa samar yang terasa sangat pahit di bibirnya yang pucat. "Pertunjukkan? Apakah Anda masih menganggap ini sebuah permainan? Seseorang mencoba membunuh saya di penthouse Anda, Tuan Vance. Mereka menyiramkan bensin di luar pintu kamar. Apakah Anda masih dibutakan oleh dendam hingga tidak bisa melihat siapa musuh Anda yang sebenarnya?"

Pernyataan menohok itu membuat garis rahang Nico menegang. Dahulu, Nico akan langsung mencengkeram dagu gadis ini dan membungkam bibirnya dengan ancaman mematikan.

Namun hari ini, Nico tetap duduk kaku di kursinya, menatap Sienna dengan raut dingin yang tersembunyi di balik ketenangan yang diperhitungkan.

Nico merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik bening berisi sampel serpihan kayu yang telah hangus terbakar. Ia meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur Sienna.

"Penyelidikan resmi kepolisian menyatakan bahwa kebakaran itu disebabkan oleh korsleting listrik," tutur Nico dengan intonasi rendah. "Tetapi sampel kayu dari pintu kamarmu mengandung residu bahan bakar minyak tingkat tinggi."

Sienna tertegun. Matanya membelalak menatap kantong plastik tersebut, lalu beralih menatap wajah tegap Nico. "Anda... Anda tahu itu disengaja?"

"Aku tahu seseorang ingin kau mati sebelum kau sempat mengatakan hal-hal gila kepadaku," jawab Nico kaku. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga Sienna bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu.

"Sekarang, katakan padaku secara detail, Anna. Kata-kata terakhirmu di balkon malam itu... dari mana kau mendapatkan tuduhan bahwa ibuku diracuni arsenik?"

Sienna menahan napasnya. Jantungnya berdebar kencang. Ini adalah momen yang ditunggunya, momen di mana Nico akhirnya bersedia mendengarkan.

Namun, peringatan dalam hatinya menyala terang. Jika ia membeberkan segalanya sekarang tanpa adanya bukti fisik yang dipegang Sofia, Nico yang logis dan keras kepala mungkin tidak akan sepenuhnya percaya.

Lebih bahaya lagi, jika Nico bertindak impulsif, Claudia akan menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar dan akan bertindak lebih kejam.

"Saya tidak asal menuduh, Tuan Vance," tegas Sienna dengan suara baritonnya yang lemah namun lugas.

"Ayah saya menyimpan kertas resep medis rahasia atas nama Nyonya Christina Vance di rumah lama kami. Kertas itu berisi resep racun arsenik yang diberikan secara bertahap selama tiga bulan sebelum malam penembakan itu terjadi."

Nico menatap mata cokelat Sienna tanpa berkedip, mencari kebohongan atau keraguan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan murni.

"Mana kertas resep itu?" tuntut Nico dingin.

Sienna menelan ludahnya yang pahit. "Kertas itu... ada pada Sofia. Saya memintanya membawa kertas itu untuk diteliti di laboratorium forensik."

Nico terkekeh sinis, menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi. "Sofia? Teman sesama mantan tahananmu yang kini menghilang tanpa jejak?"

"Dia tidak melarikan diri!" seru Sienna defensif, mencoba duduk namun rasa nyeri di dadanya memaksanya meringis.

"Sofia bersembunyi karena orang-orang yang membakar penthouse Anda juga berburu nyawanya. Karena mereka tahu kami memegang bukti itu."

"Cukup, Sienna," potong Nico dengan suara berat yang mutlak.

"Kau melemparkan tuduhan pembunuhan pada wanita yang telah membesarkanku selama belasan tahun, berdasarkan selembar kertas yang saat ini tidak bisa kau tunjukkan wujudnya."

"Tuan Vance, saya mohon percaya pada saya sekali ini saja-"

"Aku tidak percaya pada asumsi tanpa bukti fisik," tegas Nico seraya berdiri dari kursinya. Pria itu merapikan lengan kemeja hitamnya, menatap Sienna dari atas dengan pandangan dominan.

"Namun... aku juga tidak bodoh untuk mengabaikan kemungkinan bahwa ada dalang lain di balik semua ini."

Sienna mendongak, terperanjat mendengar pengakuan implisit dari pria itu.

"Mansion ini akan menjadi rumah barumu sampai kondisi tubuhmu pulih sepenuhnya," ujar Nico dingin.

"Kau tidak diizinkan keluar dari area perbukitan ini, dan kau tidak diizinkan berkomunikasi dengan siapa pun di luar pengawasanku. Aku sendiri yang akan mencari Sofia dan menemukan kertas resep yang kau maksud."

Nico melangkah menuju pintu kamar, namun sebelum memutar gagang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping.

"Jika kertas resep itu memang ada dan terbukti asli, Sienna... aku akan memastikan orang yang bertanggung jawab membayar harganya dengan darah," tutur Nico dengan pendar mata kelabu yang memancarkan ancaman mematikan.

"Tetapi jika ini semua hanya taktik licikmu untuk mengadu domba keluargaku... aku sendiri yang akan mengantarmu ke neraka."

Pintu kamar terkunci kembali dari luar, meninggalkan Sienna seorang diri dalam keheningan mansion perbukitan yang terisolasi.

Sienna menyandarkan kepalanya pada bantal empuk, memejamkan mata seraya menghembuskan napas panjang.

Sangkar ini memang baru, dan cengkeraman Nicolas Vance masih sangat mengikatnya. Namun untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Sienna melihat celah keraguan di dalam sepasang mata kelabu pria itu.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!