Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Teror Pintu Depan

Gue menepuk-nepuk bahu Kian dengan panik. "Kian! Lepas gak! Ini udah jam delapan pagi, nanti kalau Pak Jaja penjaga villa mendadak datang gimana?!"

Gumam pelan terdengar dari leher gue sebelum Kian perlahan mendongak. Matanya yang masih setengah terpejam menatap gue, lalu senyum tipis yang kelewat manis terukir di bibirnya. Tanpa aba-aba, dia memajukan wajah dan mencium pipi kanan gue singkat.

CUP.

Gue membeku seketika. Muka gue langsung terasa matang sempurna dalam hitungan detik.

"Good morning, sayang," bisik Kian santai, lalu akhirnya melepas pelukannya dan terlentang sambil menguap lebar tanpa dosa.

"KIAN! LU NYARI MATI YA?!" seru gue sambil melempar bantal tepat ke mukanya.

"Aduh! Ra, ini masih pagi lho udah marah-marah aja," protes Kian sambil tertawa, menahan bantal pakai tangannya. "Kan udah resmi dapet 'lampu hijau' semalam, masa cium pipi doang gak boleh?"

"Siapa yang kasih lampu hijau?!" semprot gue, buru-buru melompat turun dari kasur dan merapikan sweater gue yang agak berantakan. "Gue bilang kan mikir-mikir dulu!"

Kian ikut duduk di tepi kasur, mengacak rambutnya yang acak-acakan. "Mikir-mikir tapi semalam meluk gue balik pas tidur. Pengakuan tubuh lu lebih jujur daripada mulut gengsi lu itu, Ra."

Gue memilih kabur ke kamar mandi daripada meladeni omongan cowok itu yang seratus persen benar dan bikin makin salah tingkah.

Satu jam kemudian, kami sudah berada di dapur villa yang mungil tapi lengkap. Udara Puncak masih dingin menusuk, jadi Kian inisiatif membuatkan dua cangkir teh manis hangat dan memasak mi instan kuah rasa ayam bawang campur telur, makanan paling mewah di dunia kalau dimakan di daerah pegunungan.

Gue duduk di kursi bar dapur, memperhatikan Kian yang sibuk mengaduk mi di atas kompor. Punggungnya yang lebar dibalut kaus hitam polos kelihatan begitu tegap dan memikat.

Aneh banget. Padahal selama belasan tahun bersahabat, gue udah ribuan kali melihat Kian masak mi instan di rumah gue. Tapi pagi ini, cara dia menyajikan makanan rasanya beda banget. Ada desiran hangat yang meletup-letup di dalam dada gue.

"Nih," Kian menaruh mangkok mi hangat dan cangkir teh di depan gue. "Makan dulu biar otak lu gak makin korsleting."

"Makasih," gumam gue pelan, menyambar sendok.

Kian duduk di sebelah gue, menopang dagu pakai tangan kirinya sambil memperhatikan gue makan. Bukannya menyentuh mangkok minya sendiri, dia malah cuma menatap gue dengan pendar mata yang amat sangat hangat.

Gue yang ditatap terus-menerus jadi canggung sendiri. "Lu ngapain ngeliatin gue gitu? Makan tuh mi lu, nanti lembek."

"Lucu aja," sahut Kian enteng. "Gue baru sadar, ternyata ngeliat lu bangun tidur dengan muka bantal dan rambut diikat asal-asalan gini jauh lebih menyenangkan daripada ngeliat cewek-cewek berdandan rapi."

Gue hampir tersedak kuah ayam bawang. "Gak usah mulai deh, Ki. Gombalan lu udah karatan."

"Gue gak gombal, Elora," potong Kian pelan tapi penuh penekanan. Dia mengulurkan tangan, menyapu sedikit sisa kuah di ujung bibir gue memakai jarinya, lalu... memakan sisa kuah di jarinya sendiri tanpa ragu.

BLASH!

Muka gue panas luar biasa!

"Kian! Jorok banget sih!" teriak gue heboh buat menutupi detak jantung gue yang udah lepas kendali.

Kian cuma tertawa puas, tawa renyah yang bikin suasana dapur terasa makin hangat dan penuh pendar-pendar asmara yang berbahaya buat kesehatan mental gue.

Tapi, momen manis dan penuh dosis gula berlebih itu mendadak hancur berkeping-keping.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu depan villa digedor dengan sangat kencang. Gue dan Kian saling tatap, kaget setengah mati.

"Siapa pagi-pagi begini gedor pintu kayak mau nagih utang?" gumam Kian heran sambil berdiri dari kursinya.

Gue mengekor di belakang Kian dengan perasaan gak enak. Kami melangkah ke ruang tamu dan Kian membuka pintu depan lebar-lebar.

Begitu pintu terbuka, sosok yang berdiri di luar membuat rahang gue dan Kian kompak jatuh ke bawah.

Di sana, berdiri Bima sahabat kami berdua dengan muka panik, napas terengah-engah, dan keringat dingin bercucuran di dahinya.

"Ki! Ra! Gawat!" seru Bima setengah berbisik tapi nadanya histeris banget.

"Gawat kenapa, Bim?" tanya Kian bingung.

"Bokap-nyokap kalian nyeret gue buat nganter mereka ke sini!"

"Ah, itu sih bukan hal gawat," sahut Kian santai sambil mengibaskan tangan.

"Dengerin dulu, Oon!" seru Bima gemas, matanya hampir melotot keluar. "Om Heru sama orang tua lu, Elora, ternyata baru tahu kelakuan Tante Maya yang sengaja ngunciin semua kamar dan cuma nyisain satu buat kalian. Mereka tuh panik takut kalian ngapa-ngapain, makanya sekarang lagi otw ke sini buat ngegerebek. Kalau sampai kalian ketahuan tidur bareng, kalian mau dikawinin tanpa hormat sekarang juga!"

"APA?!" pekik gue dan Kian berbarengan.

"Tapi kan kita gak ngapa-ngapain!" protes gue heboh.

"Lu pikir bokap-nyokap lu bakal percaya gitu aja kalau nemu kalian cuma berduaan?!" tembak Bima panik.

Belum sempat gue atau Kian mencerna kabar burung bencana itu, suara lengkingan Tante Maya sudah terdengar menggelegar dari arah pagar depan.

"KIAN! ELORA! MAMA DATANG BAWA NASI UDUK!"

Gue menoleh ke arah Kian dengan mata membelalak sempurna, sementara Kian langsung memegang kepalanya sendiri, tampak frustrasi berat.

Pasalnya, di dalam kamar utama... selimut kami masih berantakan bekas tidur berdua, dua cangkir bekas teh hangat tergeletak di meja samping kasur, dan ada sebagian pakaian kami yang tercecer di lantai. Dan semua itu... teramat sangat mencurigakan.

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!