Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 31
Napas Senja tercekat seketika. Sentuhan jemari Angkasa terasa bagai sengatan listrik yang merambat hingga ke seluruh tubuhnya.
"Pak Angkasa... ini..."
"Saya mencintaimu, Senja," bisik Angkasa tepat di depan wajahnya, mengutarakan kalimat itu tanpa keraguan sedikit pun.
"Bukan karena dendam pada Lyra, bukan karena dorongan orang tua saya, dan bukan pula untuk menjadikanmu benteng dalam perang bisnis ini. Saya mencintaimu sejak melihat ketegaranmu berdiri di atas puing-puing kehancuranmu sendiri."
Dada Senja bergemuruh hebat. Rasanya bagaikan disambar petir di siang bolong. Baginya, Angkasa adalah sosok CEO yang dingin, rasional, dan selalu bertindak berdasarkan perhitungan matang. Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa di balik semua uluran tangan dan perlindungan pria itu, tumbuh perasaan sedalam ini.
"Tapi... tapi Bapak tidak pernah mengatakan apa-apa..." cicit Senja polos, suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.
"Saya kira... Bapak cuma merasa kasihan atau memanfaatkan situasi..."
Angkasa terkekeh pelan, sebuah tawa renyah nan hangat yang jarang sekali terdengar dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala perlahan, menatap kebingungan polos di wajah Senja dengan binar gemas yang tak tertutupi.
"Kamu ini memang terlalu polos atau sengaja pura-pura tidak tahu, Senja?" gumam Angkasa lembut, kini kedua tangannya menangkup lembut wajah Senja.
"Pria mana yang sudi menyita waktunya, mengurus berkas perceraianmu, memfasilitasi kebutuhanmu, hingga menggenggam tanganmu di depan matador keluarga Wijaya jika tidak ada rasa cinta di dalamnya?"
Senja membisu, wajahnya merona merah padam hingga ke tengkuk. Seluruh kebingungan dan spekulasinya mendadak runtuh begitu saja.
"Pernikahan yang saya tawarkan bukanlah kesepakatan hampa seperti masa lalumu," lanjut Angkasa lurus menatap matanya.
"Saya ingin memberikanmu rumah, perlindungan, dan cinta yang layak kamu dapatkan. Tapi jika kamu masih butuh waktu untuk mempercayai hati saya... saya akan menunggu."
Angkasa mengecup dahi Senja lembut dan lama, meninggalkan rasa hangat yang menjalar dalam ke dada Senja, menegaskan bahwa kali ini ia tidak sedang berhadapan dengan sebuah pengkhianatan.
Kecupan lembut di dahi itu bertahan selama beberapa detik yang terasa begitu lama, membekukan seluruh argumen dan benteng pertahanan yang sempat dibangun Senja. Ketika Angkasa perlahan menarik wajahnya, mata mereka kembali mengunci satu sama lain.
Jantung Senja bertalu-talu di balik dadanya. Rona merah di pipinya kian memuncak, namun di balik rasa gugup itu, akal sehat dan ketakutannya kembali mencoba mengambil alih.
"Pak Angkasa..." panggil Senja dengan suara yang masih agak bergetar, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gejolak di dadanya.
"Tolong... jangan seperti ini."
Angkasa tidak menjauh. Pria itu justru menurunkan kedua tangannya dari wajah Senja, lalu menangkup kedua tangan Senja yang dingin dan gemetar di dalam genggaman hangatnya.
"Panggil saya Angkasa jika kita sedang berdua, Senja," bisik Angkasa rendah, penuh penekanan lembut.
"Saya tidak sedang menjadi atasanmu di ruangan ini."
Senja menarik tangannya perlahan dari cengkeraman Angkasa, melangkah mundur satu tapak hingga benar-benar menyandar pada tepi meja kayu jati tersebut. Ia menunduk sejenak, memandangi jemarinya sendiri sebelum kembali mendongak menatap pria perkasa di hadapannya.
"Bagaimana bisa Anda begitu yakin dengan perasaan Anda?" tanya Senja, nadanya penuh keseriusan yang intens.
"Kita baru saling mengenal dalam hitungan bulan, Angkasa. Anda melihat saya di titik terendah, hancur, dikhianati, dan tidak punya apa-apa. Bagaimana kalau rasa yang Anda sebut cinta ini sebenarnya cuma simpati? Rasa iba seorang pria berkuasa yang ingin menyelamatkan wanita yang sedang tertindas?"
Angkasa terkekeh sinis, bukan pada Senja, melainkan pada tuduhan yang baru saja terlontar. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, memiringkan kepalanya sedikit dengan tatapan yang amat tajam.
"Kamu mengira saya ini pahlawan kesiangan yang bertindak pakai rasa iba, Senja?" tanya Angkasa balik, suaranya tenang namun sarat dominasi.
"Dengarkan saya baik-baik. Di dunia bisnis yang saya jalani, rasa iba adalah kelemahan mematikan. Saya tidak pernah mengulurkan tangan pada seseorang hanya karena kasihan. Kalau saya cuma kasihan padamu, saya cukup memberimu pesangon besar atau melemparmu ke anak perusahaan lain. Selesai."
"Lalu kenapa?" desak Senja, matanya membelalak menuntut jawaban.
"Kenapa harus melangkah sejauh ini? Kenapa harus membawa saya ke hadapan Oma Dahlia dan merencanakan pernikahan gila ini?!"
Angkasa melangkah maju satu tapak, memangkas jarak yang baru saja diciptakan Senja. Ia menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka kembali sejajar.
"Karena kamu tidak pernah mengutuk takdirmu saat duniamu hancur," jawab Angkasa lantang, setiap kata keluar dari bibirnya dengan kepastian mutlak.
"Saat Adam membuangmu dan Lyra menginjak-injakmu, kamu tidak menangis memohon belas kasihan. Kamu berdiri, kamu melawan dengan otakmu, kamu menjaga harga dirimu tanpa sedikit pun merendahkan diri. Keberanian dan keteguhanmu itu yang membuat saya tidak bisa memalingkan mata dari kamu, Senja!"
Senja tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang sanggup keluar. Kata-kata Angkasa menghantam tepat di dadanya, membakar sisa-sisa rasa rendah diri yang selama ini membayangi statusnya sebagai mantan istri Adam.
"Saya melihat wanita yang utuh, tangguh, dan sangat berkelas di dalam dirimu," lanjut Angkasa, suaranya melunak, memancarkan kehangatan yang amat dalam.
"Bukan wanita malang yang butuh dikasihani. Jadi stop merendahkan nilai dirimu sendiri di depan saya."
Senja menelan ludah yang terasa kering. Matanya berkaca-kaca, bukan lagi karena trauma, melainkan karena rasa haru yang tak membendung. Namun, logikanya yang terlatih menghadapi krisis kembali memunculkan keraguan baru.
"Tapi bagaimana dengan keluarga Anda?" bisik Senja pelan, menyuarakan kekhawatiran utamanya.
"Pak Tanuwijaya dan Ibu Fransiska... mereka sangat membenci saya. Hari ini mereka terang-terangan membela Lyra di depan seluruh karyawan. Saya tidak mau membuat hubungan anda dan kedua orang tua anda menjadi renggang karena keputusan anda ini..."
"Kamu tak usah khawatirkan apapun... Aku sudah memperhitungkan segalanya, Senja..."
Senja menatap lurus ke dalam manik mata hitam Angkasa yang dalam. Di sana, ia tidak menemukan keraguan, kebohongan, ataupun kepalsuan seperti yang selalu ia dapatkan dari Adam dulu. Yang ada hanya perlindungan mutlak dari seorang pria yang tahu persis apa yang ia inginkan.
"Bagaimana jika... bagaimana jika saya masih butuh waktu untuk membuka hati?" tanya Senja pelan, menguji kesabaran pria di hadapannya.
Angkasa mengulas senyum tampan yang begitu memesona, menatap Senja dengan binar mata penuh kemenangan.
"Saya punya seumur hidup untuk menunggu jawabanmu, Senja," bisik Angkasa penuh kepastian.
"Tapi malam ini, biarkan saya memastikan satu hal... kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Dan pernikahan kita akan tetap terjadi. Kita bisa belajar saling mencintai dan menerima setelah menikah... bukankah itu jauh lebih baik?"