Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: LUKA DI BALIK KEKERASAN DAN NASIHAT YANG MENYEMBUHKAN

Beberapa minggu telah berlalu sejak Bram dan genknya berubah menjadi lebih baik. Mereka tidak lagi memalak siswa-siswa lain, dan bahkan mulai membantu teman-teman yang kesulitan. Namun Rangga memperhatikan sesuatu yang mengganjal—meskipun Bram selalu tersenyum di depan orang lain, ada saat-saat di mana ia terlihat murung dan sedih, terutama saat jam pulang sekolah tiba. Rangga sering melihat Bram duduk sendirian di pojok lapangan sekolah, menunduk dalam-dalam, atau terkadang terlihat diam memandangi langit dengan mata kosong.

Suatu sore, saat Rangga sedang berjalan pulang dari perpustakaan, ia melihat Bram duduk di bawah pohon besar di sudut lapangan yang sepi. Pemuda besar itu duduk dengan lutut ditekuk ke dada, kepalanya tertunduk, dan bahunya bergetar. Rangga mendekati dengan langkah pelan, tidak ingin mengejutkannya.

"Bram? Kau baik-baik saja?" tanya Rangga dengan suara lembut.

Bram terkejut, buru-buru mengusap matanya yang basah. "Rangga? Aku... aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."

Rangga duduk di sampingnya, tidak memaksa. "Aku tahu kau tidak baik-baik saja, Bram. Aku bisa melihatnya. Kau menangis. Ada apa? Kau bisa cerita padaku."

Bram terdiam lama, matanya masih merah dan sembab. Ia menatap tanah di depannya, jari-jarinya memainkan rumput liar. "Rangga... aku tidak tahu harus mulai dari mana."

"Dari awal saja," kata Rangga dengan lembut. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi."

Bram mengambil napas dalam-dalam, lalu akhirnya berbicara dengan suara bergetar. "Rangga, aku menjadi preman karena aku tidak tahu cara lain untuk melampiaskan amarahku. Aku marah pada dunia, pada ayahku, pada diriku sendiri. Aku tidak punya tempat untuk melarikan diri dari semua itu."

"Ayahmu? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Rangga dengan hati-hati.

Bram menunduk, air mata mengalir deras di pipinya. "Ayahku... dia sering memukuliku. Setiap kali aku mendapat nilai jelek, setiap kali aku pulang terlambat, setiap kali aku melakukan kesalahan kecil, dia memukuliku dengan ikat pinggangnya. Kadang dengan tangannya. Kadang dengan benda apa pun yang dia pegang. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, Rangga. Tapi yang paling sakit adalah... dia tidak pernah memelukku. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia bangga padaku. Aku hanya mendengar teriakan dan makian setiap hari."

Rangga mendengarkan dengan hati yang hancur. Ia merasakan sakit yang sama—kehilangan orang tua, kehilangan kasih sayang, dan merasa sendirian di dunia. "Bram, aku turut sedih mendengarnya. Tidak ada anak yang pantas diperlakukan seperti itu."

"Aku pikir dengan menjadi preman, aku bisa merasa kuat," lanjut Bram, suaranya semakin pecah. "Aku pikir jika aku bisa membuat orang lain takut, aku tidak akan merasa lemah seperti saat ayahku memukuliku. Aku pikir dengan menyakiti orang lain, aku bisa melupakan rasa sakitku sendiri. Tapi ternyata tidak, Rangga. Setiap kali aku memukul orang lain, aku hanya merasa semakin hampa. Semakin kosong. Semakin seperti monster."

Bram menangis tersedu-sedu, tangis seorang anak kecil yang kehilangan arah. "Aku benci diriku sendiri, Rangga. Aku benci menjadi seperti ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana harus berubah. Aku sudah terlalu dalam."

Rangga memeluk Bram erat, merasakan getaran tubuh pemuda besar itu yang menangis seperti anak kecil. "Kau bukan monster, Bram. Kau hanya anak yang terluka. Dan luka itu bisa sembuh. Aku tahu karena aku juga pernah terluka. Aku juga pernah merasa sendirian dan marah pada dunia. Tapi aku belajar bahwa ada cara lain untuk menghadapi rasa sakit—bukan dengan menyakiti orang lain, tetapi dengan kebaikan dan kasih sayang."

Bram mengangkat kepalanya, menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca. "Tapi bagaimana? Aku tidak tahu bagaimana melakukannya."

"Aku akan membantumu," kata Rangga dengan keyakinan. "Kita akan melewati ini bersama. Tapi pertama-tama, kau harus berjanji untuk berusaha. Untuk mencoba menjadi lebih baik setiap hari, meskipun itu sulit."

"Rangga... kenapa kau mau membantuku setelah semua yang kulakukan padamu? Aku memukulimu, aku melukaimu," kata Bram dengan suara bingung dan penuh penyesalan.

Rangga tersenyum. "Karena aku percaya bahwa setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua. Dan karena aku tahu rasa sakit yang kau rasakan. Aku tidak ingin kau terus menderita sendirian."

Bram menangis lagi, tetapi kali ini tangisnya adalah tangis lega. "Terima kasih, Rangga. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu."

Mereka duduk di bawah pohon itu sampai senja tiba. Rangga mendengarkan semua cerita Bram tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang meninggal saat ia masih kecil, tentang ayahnya yang semakin keras setelah itu, dan tentang bagaimana ia kehilangan arah dalam hidupnya. Rangga mendengarkan dengan sabar, tidak pernah menghakimi.

"Bram, kau tahu? Aku dulu juga merasa sendirian," kata Rangga setelah Bram selesai bercerita. "Aku kehilangan orang tuaku saat aku masih kecil. Aku bahkan dibuang di hutan dan hampir mati. Tapi Nenek Saroh menemukanku dan merawatku dengan kasih sayang. Dia mengajariku bahwa meskipun dunia ini kejam, kita masih bisa memilih untuk menjadi baik. Kita masih bisa memilih untuk tidak membiarkan rasa sakit mengubah kita menjadi orang jahat."

Bram mengangguk, meresapi setiap kata. "Kau benar, Rangga. Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Aku ingin menjadi seperti kau—baik, kuat, dan tidak pernah menyerah."

"Kau bisa," kata Rangga. "Kita semua bisa. Yang penting adalah kita terus berusaha."

Keesokan harinya, Rangga membawa Bram menemui Pak Heru, guru bijaksana yang selalu memberi nasihat penuh makna. Mereka bertemu di ruang guru setelah jam pelajaran selesai. Pak Heru menyambut mereka dengan ramah.

"Rangga, Bram, ada apa? Kalian berdua datang bersama? Ini menarik," kata Pak Heru sambil tersenyum.

Rangga menjelaskan semua yang terjadi—tentang Bram, tentang ayahnya yang keras, tentang perasaannya, dan tentang keinginan Bram untuk berubah. Pak Heru mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menyela sekali pun.

Setelah Rangga selesai bercerita, Pak Heru menatap Bram dengan mata yang teduh. "Bram, aku mengerti apa yang kau rasakan. Rasa sakit yang kau alami dari orang yang seharusnya mencintaimu adalah luka yang paling dalam. Tapi ingatlah, luka itu tidak mendefinisikan siapa dirimu. Kau bisa memilih untuk menjadi lebih baik dari apa yang telah dilakukan padamu."

"Tapi Pak, aku tidak tahu bagaimana," kata Bram dengan suara putus asa.

Pak Heru tersenyum. "Kau sudah mengambil langkah pertama—kau mengakui bahwa kau ingin berubah. Itu adalah langkah terpenting. Sekarang, kau harus belajar untuk memaafkan. Bukan untuk ayahmu, tetapi untuk dirimu sendiri. Maafkan dirimu karena telah melakukan kesalahan. Dan mulailah membangun masa depan yang baru."

Bram menunduk, merenungkan kata-kata Pak Heru. "Tapi bagaimana cara memaafkan diri sendiri, Pak? Aku sudah melakukan banyak hal buruk."

"Dengan berbuat baik," kata Pak Heru. "Setiap hari, lakukan satu kebaikan. Bantu seseorang. Tersenyumlah pada orang yang kau temui. Perlahan, kau akan melihat bahwa kau bisa menjadi orang yang lebih baik. Dan suatu hari, kau akan bisa memaafkan dirimu sendiri."

Bram mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih, Pak. Saya akan mencoba."

Setelah pertemuan itu, Bram dan Rangga berjalan keluar dari ruang guru. Langit sore berwarna jingga keemasan, dan angin berhembus sejuk.

"Rangga, aku tidak tahu harus berkata apa," kata Bram. "Kau dan Pak Heru telah memberiku harapan baru."

"Kau pantas mendapatkannya, Bram," kata Rangga. "Kau pantas bahagia."

Bram tersenyum, senyum yang tulus dan penuh harapan. "Aku akan berusaha, Rangga. Aku janji."

Malam itu, Rangga duduk di teras asramanya, memandangi langit berbintang. Ia merenungkan semua yang terjadi hari itu—cerita Bram yang menyayat hati, air mata yang mengalir, dan harapan baru yang mulai tumbuh. Ia merasa bersyukur bisa membantu Bram menemukan jalannya kembali. Ia juga belajar bahwa di balik setiap kekerasan, sering kali ada luka yang dalam. Dan terkadang, yang dibutuhkan seseorang hanyalah seseorang yang mau mendengarkan dan mengulurkan tangan.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!