tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.
Di arena balap liar, anggota geng Lion Black tengah berkumpul. Mereka tampak tidak sabar menunggu kedatangan anggota Kitty Boy, yaitu Elvian dan kawan-kawannya yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
"Ke mana mereka? Belum datang juga," ucap Melvin, salah satu anggota inti Lion Black, sambil melirik jam tangannya.
"Mungkin mereka takut sama kita. Makanya sengaja gak datang," sahut Juan meremehkan.
"Terus gimana, Bro? Mereka fix gak datang, nih?" tanya Marvin.
Melvin mendengus kesal. "Ke markas!"
Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan arena balap malam itu dan berkonvoi pergi menuju markas mereka.
Sementara itu, di sebuah belahan dunia yang sangat jauh.
Suasana mencekam menyelimuti sebuah hutan lebat yang menjadi tempat persembunyian para mafia. Aksi tembak-menembak yang brutal tidak dapat dihindarkan.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Bugh! Bugh!
Krek! Krek!
"Arghhhh!"
"Arghhhhh!"
Pekikan menyedihkan bersahutan sebelum akhirnya senyap. Banyak mayat dari kubu lawan kini tergeletak berserakan di atas tanah hutan yang basah.
"Bos, target kabur," lapor salah satu anak buah dengan napas terengah-engah di depan sang ketua mafia.
Pria paruh baya yang memancarkan aura dingin itu menyipitkan mata. "Cari dan habisi mereka beserta seluruh keturunannya!" perintahnya kejam.
"Baik, Bos!" Pria itu langsung membungkuk hormat dan bergegas pergi memimpin pasukan untuk memburu musuh yang melarikan diri.
Sang ketua kemudian menoleh ke anak buahnya yang lain. "Kalian, bakar mayat-mayat ini setelah itu kita kembali."
"Baik, Bos!"
Mereka segera menumpuk mayat para musuh. Agar kobaran api tidak menyebar ke pohon dan rumput liar di dalam hutan, mereka memindahkan tumpukan itu ke sebuah lapangan terbuka yang luas dan gersang. Korek dinyalakan, dan api langsung melalap tumpukan tersebut.
Setelah kobaran api sedikit mengecil dan dirasa aman, mereka segera bersiap meninggalkan tempat itu. Hari mulai gelap, dan awan hitam di langit menandakan hujan lebat akan segera turun.
Bos, Nyonya Besar tadi menghubungi saya. Beliau mengabarkan kalau Tuan Muda sedang demam tinggi," ucap Tomi, sang tangan kanan, sambil menyerahkan ponsel.
Mendengar kabar tentang putranya, rahang sang ketua mafia mengeras. "Pulang ke Indonesia," ucap Sam dingin namun tegas.
"Baik, Bos," sahut sang sopir yang langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
Kembali ke Indonesia.
"Elo yakin setuju jadi pacarnya si Max itu?" tanya Revangga meyakinkan sahabatnya.
"Ya. Ini satu-satunya cara biar Abang gue bisa balas dendam sama sepupu dan mantan pacarnya yang laknat itu," jawab Elvian dengan tatapan lurus ke depan.
Brian menepuk pundak Elvian pelan, mencoba memberikan kekuatan. "Kalau itu sudah jadi keputusan elo, gue cuma bisa dukung elo, El."
Sementara itu, keempat pemuda yang lain—Langit, Marlo, Lee, dan Resta—hanya bisa menyimak dalam diam. Mereka benar-benar kebingungan karena sama sekali tidak tahu latar belakang masalah yang sedang dibicarakan oleh ketiga sahabatnya itu.
Karena sudah telanjur penasaran, Marlo akhirnya memberanikan diri untuk memotong. "Kalian itu dari tadi ngomongin apa, sih? Bingung gue," tanya Marlo sambil menggaruk pelipisnya.
Melihat wajah bingung teman-temannya, Elvian pun akhirnya menceritakan seluruh situasinya dari awal.
"Tunggu, tunggu ... maksud elo Maxime? Anaknya ketua mafia Tuan Anton?!" seru Langit spontan, matanya membelalak kaget.
"Iya," angguk Elvian lemas.
"Wih! Hebat elo, Bro! Bisa gaet anak mafia, keren parah!" puji Langit kagum, mengira itu sebuah pencapaian.
"Hebat apaan?! Asal elo tahu ya, dia itu maksa gue jadi pacarnya!" ketus Elvian kesal.
"Lah, kok bisa gitu?" sahut Marlo ikut kepo.
Elvian mengembuskan napas panjang, lalu menceritakan detail pertemuan pertamanya dengan Maxime hingga bagaimana pria dominan itu terus menekannya agar mau menjadi kekasih.
"Tapi elo beneran mau jadi pacar dia sekarang?" tanya Langit lagi.
"Iya, terpaksa. Demi Abang gue bisa balas dendam ke sepupu sama mantan pacarnya," sahut Elvian pasrah.
Resta menyipitkan mata, menatap Elvian sangsi. "Terpaksa apaan. Gue lihat muka elo kayak biasa aja tuh, gak ada wajah-wajah keterpaksaan."
"Bener tuh. Elo tahu gak, banyak cewek-cewek dan uke-uke manis yang antre mau sama keturunan Tuan Anton, tapi elo malah jual mahal," timpal Marlo menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia itu ngeselin tahu! Suka maksa!" gerutu Elvian membela diri, wajahnya memerah tipis.
Resta melirik jam di dinding. "Sudah siang nih, kita mau balik ke bengkel dulu ya."
"Yoi, hati-hati," ucap Elvian.
Marlo, Lee, Langit, dan Resta pun akhirnya pamit untuk kembali mengurus bengkel milik mereka.
Tinggallah Elvian, Revangga, dan Brian di apartemen.
"Kita ke kafe yuk? Sumpek gue di apartemen melulu," usul Revangga sambil meregangkan otot-ototnya.
"Hmm, ayok," setuju Elvian.
Mereka bertiga segera beranjak dan menaiki motor masing-masing. Revangga kini sudah bangga mengendarai motor barunya, yang ia beli dari hasil menang balapan dan tabungan pribadi di ATM.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di kafe milik Tian. Namun, pemandangan di depan mata langsung membuat darah mereka mendidih. Ada beberapa preman bertubuh kekar yang sepertinya sedang mengacau dan merusak fasilitas kafe.
"Woi, bangsat! Ngapain kalian, hah?!" teriak Brian murka. Tanpa aba-aba, ia langsung berlari dan mendorong kasar salah satu preman hingga terhuyung.
"Jangan ikut campur urusan kami kalau tidak ingin habis di tangan kami!" ancam preman itu dengan suara menggelegar.
"Kalian merusak kafe Kakak gue, goblok! Wajar kami ikut campur!" bentak Elvian, urat-urat di lehernya mulai bermunculan karena menahan amarah.
"Kalau kafe ini mau aman, kalian harus bayar uang keamanan ke kami!" tantang sang kepala preman.
"Lah, siapa lo? Pemilik kafe bukan, sok-sokan mau minta uang!" sahut Revangga sinis.
"Banyak omong nih bocah! Hajar mereka!"
Perkelahian sengit pun tidak dapat dihindarkan. Brian langsung maju melawan dua preman sekaligus, sementara Elvian dan Revangga masing-masing mengunci satu preman.
BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH!
Kretek!
"Arghhhh!" Salah satu preman menjerit histeris saat Brian dengan dingin mematahkan pergelangan tangannya.
"Ssshh ... kurang ajar! Saya habisi kalian semua!" teriak preman itu menahan sakit sekaligus murka.
Tian yang sedari tadi bersembunyi ketakutan di balik meja bar, tidak bisa tinggal diam melihat adik-adiknya dikeroyok. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat sebuah kursi kayu di dekatnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah preman yang hendak memukul Elvian dari belakang.
Dugh!
Bruk!
"Arghhhhh! Kepalaku!" Teriak preman itu ambruk setelah kepalanya terhantam kursi.
Satu demi satu preman itu akhirnya berhasil dikalahkan. Mereka semua terkapar tak berdaya di lantai kafe yang berantakan.
"Ha ... ha ... ha ... capek banget, Cok!" ucap Brian sambil bertumpu pada kedua lututnya, napasnya memburu.
"Ha ... ha ... ha ... iya. Sudah lama gak hajar orang, jadi mudah capek," sahut Elvian ikut menyeka keringat di dahinya.
Revangga berjalan pelan, lalu mencengkeram kerah baju salah satu preman yang masih setengah sadar.
"Katakan, siapa yang menyuruh elo mengacak-acak kafe Kakak gue?!" desak Revangga dengan tatapan membunuh.
"Sa ... saya disuruh oleh Elvia ..." bisik preman itu terbata-bata karena ketakutan.
"Elvia? Elvia siapa?!" tanya Revangga menyipitkan mata.
"Saya tidak tahu! Dia ... dia wanita yang hanya menyuruh kami untuk mengacak-acak kafe milik Kakak kamu," aku preman itu jujur.
Revangga mengempaskan tubuh preman itu ke lantai. "Sekarang, bawa teman-teman elo ini pergi dari sini, atau gue seret kalian semua ke kantor polisi!"
"Baik! Baik, kami pergi!" Pria itu langsung memapah teman-temannya dan lari terbirit-birit keluar dari kafe.
Revangga menghela napas berat lalu duduk di salah satu kursi yang masih utuh. "Mereka disuruh oleh seseorang."
"Siapa?" tanya Elvian mendekat.
"Preman itu menyebut nama Elvia," ucap Revangga tenang namun tajam.
Seketika, Brian menoleh dan menatap tajam ke arah Elvian. "Elo nyuruh orang buat hancurkan kafe Kak Tian, hah?!" bentak Brian, emosinya langsung tersulut karena mengira Elvian yang berada di balik semua ini.
"Bukan gue, tolol! Elvia itu saudari kembar gue!" sentak Elvian tidak terima dituduh.
Brian langsung mengerjapkan mata, ekspresi marahnya berubah menjadi cengengesan. "Hehehe ... sorry, gue kira elo. Soalnya namanya mirip banget," ucap Brian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lagian untuk apa coba gue nyuruh orang buat mengacak-acak kafe Kak Tian? Gue gak akan melakukan hal sejahat itu. Kak Tian sudah gue anggap kayak Kakak gue sendiri, jadi gak mungkin gue merusak tempat ini," bela Elvian dengan tulus.
Revangga mengetukkan jarinya ke meja. "Kenapa kembaran elo itu sampai menyuruh preman untuk mengacak-acak kafe Kak Tian?"
"Kalau soal itu gue belum tahu. Nanti gue hubungi Abang gue buat cari tahu kenapa tuh cewek gila tiba-tiba merusak kafe Kak Tian," jawab Elvian bersungguh-sungguh.
Elvian kemudian berbalik menatap Tian dengan raut penuh rasa khawatir dan bersalah. "Kak Tian gak apa-apa, kan?"
Tian tersenyum lembut, mencoba menenangkan atmosfer. "Kakak baik-baik saja, El."
"Untuk sementara, kafenya ditutup dulu aja ya, Kak. Terus semua fasilitas yang rusak hari ini, biar aku yang ganti," ucap Elvian merasa bertanggung jawab.
"Tidak usah, El. Tidak apa-apa," tolak Tian halus.
"Jangan ditolak, Kak. Ini juga salah aku. Gara-gara kembaran aku, kafe Kakak jadi mengalami kerusakan begini," ucap Elvian dengan kepala tertunduk dalam.
Tian mendekati Elvian lalu menepuk pundaknya lembut. "Ini bukan salah kamu, El, tapi salah kembaran kamu itu. Kamu gak perlu ganti. Kakak masih punya simpanan uang kok buat beli barang-barang yang rusak."
Elvian mengangkat kepalanya dan tersenyum haru. "Makasih, Kak. Kak Tian memang orang yang sangat baik."
Tian hanya mengangguk pelan sambil membalas senyuman tulus itu.