Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 2 — Pertemuan Keluarga
Clara masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya tidak lepas dari pria yang baru saja diperkenalkan oleh papinya.
Fedro Alexsander.
Nama itu terdengar asing di telinganya, tetapi entah mengapa kehadiran pria tersebut membuat suasana ruang makan terasa jauh lebih serius.
Fedro berdiri dengan tenang. Jas hitam yang dikenakannya terlihat rapi. Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya sulit ditebak.
Clara mengerutkan kening.
“Kenapa dia datang ke sini?”
Papi Clara menarik napas panjang.
“Duduklah dulu. Ada banyak hal yang harus kami bicarakan.”
“Aku sudah duduk sejak tadi.”
Clara kembali duduk dengan malas.
Fedro mengambil kursi di seberangnya.
Keduanya saling menatap.
Tidak ada yang berbicara.
Mami Clara akhirnya membuka percakapan.
“Clara, keluarga kita dan keluarga Alexsander sudah lama memiliki hubungan baik.”
Clara mengangguk kecil.
“Lalu?”
“Beberapa tahun terakhir, kedua keluarga sering bekerja sama dalam berbagai urusan bisnis.”
Clara masih belum mengerti.
“Jadi?”
Papi Clara menatap putrinya.
“Pertemuan hari ini bukan sekadar pertemuan bisnis.”
Clara langsung merasa tidak nyaman.
“Kalau begitu apa?”
Papi terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata,
“Keluarga Alexsander ingin menjodohkanmu dengan Fedro.”
Clara membeku.
“Apa?”
Suara Clara terdengar cukup keras.
Maminya mencoba menenangkan.
“Clara, dengarkan dulu penjelasannya.”
“Dijodohkan?”
Clara menunjuk dirinya sendiri.
“Dengan dia?”
Fedro tetap tenang.
Clara menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.
“Aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini.”
“Aku juga baru mengenalmu secara langsung hari ini,” jawab Fedro tenang.
Jawaban itu justru membuat Clara semakin kesal.
“Kalau begitu kita sama-sama tidak saling mengenal. Kenapa harus menikah?”
Papi Clara menghela napas.
“Tidak ada yang mengatakan kalian harus menikah sekarang.”
Clara sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya membuatnya kembali terdiam.
“Kalian akan menjalani proses pertunangan terlebih dahulu.”
“Papi!”
Clara berdiri.
“Aku tidak mau.”
“Clara.”
“Aku tidak mau dijodohkan dengan siapa pun.”
Wajah Clara mulai memerah.
“Aku punya hidup sendiri. Aku punya impian sendiri. Aku tidak pernah meminta kalian memilihkan pasangan untukku.”
Mami Clara bangkit dan menghampirinya.
“Sayang, kami tahu kamu tidak suka dipaksa.”
“Kalau tahu, kenapa tetap dilakukan?”
“Karena ada alasan yang sangat penting.”
Clara terdiam.
Papi kemudian menjelaskan bahwa keluarga mereka sedang menghadapi masalah besar dalam salah satu perusahaan.
Ada beberapa pihak yang mencoba mengambil alih saham perusahaan keluarga.
Kerja sama dengan keluarga Alexsander merupakan salah satu cara untuk memperkuat posisi mereka.
Namun Clara menggeleng.
“Jadi aku harus menikah demi perusahaan?”
“Tidak sesederhana itu,” jawab Papi.
“Bagiku sederhana.”
Clara menatap Fedro.
“Kalau keluargamu ingin bekerja sama dengan keluargaku, silakan. Tapi jangan libatkan pernikahan.”
Fedro akhirnya berbicara.
“Aku setuju.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Clara terlihat terkejut.
“Kamu setuju?”
Fedro mengangguk.
“Aku juga tidak suka pernikahan yang dipaksakan.”
Clara sedikit terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal tersebut.
Fedro melanjutkan,
“Aku datang ke sini karena diminta keluargaku. Sama seperti kamu.”
Papi Clara menatap Fedro.
“Fedro…”
“Ayah sudah menjelaskan semuanya kepadaku.”
Fedro bersandar di kursinya.
“Aku tidak akan memaksanya.”
Clara menatapnya beberapa saat.
Setidaknya pria ini tidak seperti yang ia bayangkan.
Namun tiba-tiba suara mobil terdengar dari luar rumah.
Mami Clara menoleh ke arah jendela.
“Sepertinya keluarga Alexsander sudah datang.”
Clara mengerutkan kening.
“Keluarganya?”
Papi mengangguk.
“Ya.”
Beberapa saat kemudian, pintu ruang tamu terbuka.
Seorang pria paruh baya memasuki rumah bersama seorang wanita elegan.
Di belakang mereka terdapat dua orang lainnya.
Mereka adalah keluarga Fedro.
Ayah Fedro berjalan mendekati Papi Clara dan menjabat tangannya.
“Sudah lama kita tidak bertemu.”
“Benar,” jawab Papi Clara.
Keduanya kemudian duduk.
Clara berdiri di samping maminya dengan wajah sedikit tegang.
Ayah Fedro tersenyum kepadanya.
“Jadi ini Clara.”
Clara mengangguk sopan.
“Selamat datang.”
Wanita di sampingnya tersenyum hangat.
“Kamu jauh lebih cantik dari yang diceritakan Fedro.”
Clara langsung menatap Fedro.
“Dia membicarakanku?”
Fedro terlihat sedikit canggung.
“Hanya sekilas.”
Clara mendengus.
Pertemuan keluarga yang awalnya terasa tegang perlahan menjadi lebih santai.
Namun Clara tetap tidak bisa melupakan tujuan utama pertemuan tersebut.
Pernikahan.
Tidak lama kemudian, pembicaraan mengenai pertunangan kembali dimulai.
Ayah Fedro berkata,
“Kami tidak ingin memaksa Clara.”
Papi Clara mengangguk.
“Begitu juga kami.”
“Kalau begitu, biarkan mereka saling mengenal.”
Clara mengangkat alis.
“Berapa lama?”
Ayah Fedro tersenyum.
“Tiga bulan.”
“Tiga bulan?”
Clara hampir tersedak.
Fedro menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak punya waktu untuk menjalani hubungan pura-pura.”
Fedro mengangkat alis.
“Siapa bilang harus pura-pura?”
Clara terdiam.
Pria itu benar-benar tenang.
Menyebalkan.
Namun anehnya, ketenangan Fedro justru membuat Clara semakin penasaran.
---
Sore harinya, setelah pertemuan keluarga selesai, Clara segera pergi ke kamarnya.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Inara.
Panggilan baru tersambung beberapa detik.
“Kenapa?” tanya Inara.
“Aku punya masalah.”
“Masalah apa?”
Clara menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Aku dijodohkan.”
Hening.
Kemudian terdengar suara Icha dari kejauhan.
“APA?”
Clara menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Icha, jangan teriak.”
“Kamu dijodohkan?”
“Iya.”
“Dengan siapa?”
“Fedro Alexsander.”
Inara langsung terdiam.
“Fedro Alexsander?”
“Kamu kenal?”
“Tentu saja.”
Clara duduk.
“Siapa dia?”
Inara menarik napas.
“Dia pewaris keluarga Alexsander. Salah satu keluarga bisnis terbesar di kota.”
Clara mengernyit.
“Terus?”
“Clara, kamu benar-benar tidak tahu siapa dia?”
“Tidak.”
Icha ikut berbicara.
“Dia terkenal dingin dan susah didekati.”
Clara tertawa kecil.
“Cocok.”
“Cocok apanya?”
“Dia dingin. Aku keras kepala.”
Inara tertawa.
“Kalau kalian benar-benar menikah, aku tidak bisa membayangkan rumah kalian.”
“Jangan bercanda.”
Clara menghela napas.
“Aku serius. Aku tidak mau kehilangan kebebasanku.”
Icha menjawab,
“Kami tahu.”
Clara tersenyum kecil.
“Kalian satu-satunya yang mengerti aku.”
“Kapan kalian bertemu lagi?” tanya Inara.
“Besok.”
“Besok?”
“Iya. Keluarga kami ingin kami makan malam bersama.”
Icha langsung tertawa.
“Wah, calon pasangan romantis.”
“Jangan mulai.”
Clara memutuskan sambungan telepon.
Namun senyum kecil muncul di wajahnya.
Meskipun tidak menyukai perjodohan itu, setidaknya ia memiliki dua sahabat yang selalu mendukungnya.
---
Malam semakin larut.
Clara berdiri di balkon kamarnya.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Pikirannya kembali kepada Fedro.
Pria itu tampan.
Tenang.
Tidak banyak bicara.
Dan berbeda dari bayangannya tentang pria kaya yang biasanya sombong.
Namun Clara tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang menyembunyikan sesuatu.
Terlebih lagi, sejak semalam ia merasa ada seseorang yang mengikutinya setelah balapan.
Clara memandang jalanan dari balkon.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam terlihat berhenti tidak jauh dari rumahnya.
Clara menyipitkan mata.
Mobil itu tampak familiar.
“Jangan-jangan…”
Ia mengambil ponselnya dan memperbesar kamera.
Namun sebelum ia bisa melihat dengan jelas, mobil tersebut bergerak pergi.
Clara semakin curiga.
---
Di tempat lain, Fedro duduk di dalam mobil.
Pandangannya tertuju pada layar ponsel.
Ada beberapa foto Clara.
Foto saat balapan.
Foto ketika Clara bersama Inara dan Icha.
Dan beberapa foto lainnya.
Seorang pria yang duduk di kursi depan bertanya,
“Pak, apakah semuanya sudah siap?”
Fedro mengangguk.
“Sudah.”
“Bagaimana dengan Clara?”
Fedro diam sejenak.
“Dia belum tahu apa-apa.”
Pria itu mengangguk.
“Apakah Anda yakin ingin melanjutkan?”
Fedro menatap foto Clara.
“Aku harus.”
“Apa alasannya?”
Fedro menyimpan ponselnya.
“Karena pernikahan ini bukan hanya tentang bisnis.”
Pria itu terdiam.
Fedro kemudian menatap keluar jendela.
Ada sesuatu tentang Clara yang membuatnya merasa tidak tenang.
Gadis itu jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.
Dan Fedro tahu satu hal.
Clara Evellyn menyimpan rahasia.
---
Keesokan harinya, Clara pergi menemui Inara dan Icha di sebuah kafe.
Begitu Clara datang, Icha langsung berdiri.
“Clara!”
“Apa?”
Icha menunjuk pakaian Clara.
“Kamu mau bertemu calon suami atau mau balapan?”
Clara menatap pakaiannya.
Ia mengenakan celana jeans, kaus putih, dan jaket hitam.
“Memangnya kenapa?”
Inara tertawa.
“Tidak ada.”
Mereka bertiga duduk.
Clara menceritakan pertemuan keluarga kemarin.
“Jadi kamu harus bertemu dengannya selama tiga bulan?” tanya Inara.
“Begitulah.”
Icha menopang dagunya.
“Bagaimana kalau ternyata kamu jatuh cinta?”
Clara langsung tertawa.
“Mustahil.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.”
Inara tersenyum.
“Jangan terlalu yakin.”
Clara hendak menjawab, tetapi suara motor berhenti di depan kafe.
Seorang pria masuk.
Clara tidak memperhatikannya pada awalnya.
Namun ketika pria itu berjalan mendekat, Inara menyenggol lengannya.
“Clara.”
“Hm?”
“Lihat belakangmu.”
Clara menoleh.
Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam.
Fedro.
Pria itu berdiri beberapa langkah dari meja mereka.
Clara terdiam.
Fedro berjalan mendekat.
“Boleh aku duduk?”
Clara menghela napas.
“Sepertinya kamu tidak punya pilihan.”
Fedro duduk di depannya.
Inara dan Icha saling pandang.
Kemudian keduanya berdiri.
“Kami pergi dulu.”
Clara langsung menatap mereka.
“Eh, tunggu!”
Namun Inara sudah menarik Icha.
“Semangat, calon pengantin!”
“INARA!”
Kedua sahabatnya pergi sambil tertawa.
Clara memandang Fedro dengan kesal.
“Teman-temanku memang menyebalkan.”
Fedro tersenyum tipis.
“Aku rasa mereka hanya senang melihatmu gugup.”
“Aku tidak gugup.”
“Kalau begitu kenapa wajahmu merah?”
Clara langsung menyentuh pipinya.
“Aku tidak merah!”
Fedro tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, Clara melihat pria itu tersenyum.
Entah mengapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Namun Clara segera membuang muka.
Ia tidak boleh terpengaruh.
Mereka baru saja bertemu.
Dan tiga bulan ke depan mungkin akan menjadi tiga bulan paling kacau dalam hidupnya.
Tanpa Clara sadari, pertemuan keluarga tersebut bukanlah akhir dari masalah.
Justru itulah awal dari sebuah hubungan yang penuh rahasia.
Sebab di balik perjodohan Clara dan Fedro, ada sesuatu yang belum diketahui Clara.
Sebuah rahasia tentang keluarganya.
Dan ketika rahasia itu terbongkar, Clara akan menyadari bahwa balapan malam itu hanyalah permulaan.
Bersambung