Indonesia
NovelToon NovelToon
Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Bapak rumah tangga / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Anton Kozlov, sang Don Bratva yang dijuluki "Serigala St. Petersburg", telah lama mengubur hatinya di balik es. Sejak kehilangan satu-satunya perempuan yang pernah ia cintai, ia memerintah kerajaan minyak dan darahnya tanpa belas kasihan—dan tanpa senyum. Yang tersisa hanyalah putra kecilnya, seorang pewaris yang tumbuh dalam kebisuan dan luka yang tak seorang pun tahu.

Di seberang samudra, Emily tak pernah punya kemewahan untuk menyerah. Perempuan Brasil berdarah panas ini bertahan dari masa lalu yang kelam demi satu-satunya alasan ia terus melangkah: putrinya. Ia tak butuh diselamatkan siapa pun—sampai takdir membenturkan hidupnya dengan lelaki paling berbahaya di dunia bawah.

Ketika si dingin dari utara bertemu si hangat dari selatan, tak ada yang tersisa sama. Anton menawarkan sebuah kesepakatan: perlindungan, kehormatan, dan keamanan—segalanya, kecuali cinta yang ia bersumpah takkan pernah ia berikan lagi. Tapi Emily membawa sesuatu yang tak bisa dibeli seluruh kekayaan Bratva: kehangatan yang perlahan meretakkan tembok es, dan penyembuhan bagi sebuah keluarga yang nyaris hancur.

Namun di dunia tempat kesetiaan ditulis dengan darah, musuh-musuh lama mengintai dari bayang-bayang, dan mencintai sang Don berarti menjadi sasaran berikutnya. Untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang kini menjadi dunianya, Anton siap membakar neraka itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TOPENG KRISTAL

Aula utama hotel mewah keluarga Wisbech di Manhattan berkilau di bawah cahaya lampu-lampu gantung kristal raksasa. Ratusan tamu kalangan atas New York, para pengusaha, politikus, hakim, dan selebritas, berbaur dengan wajah-wajah paling berbahaya dari dunia bawah. Itulah kedok yang sempurna. Di balik gaun-gaun bermerek dan setelan jas berukuran presisi, kuasa yang sesungguhnya tersegel di meja-meja yang dikhususkan bagi para pemimpin kriminal. Cosa Nostra Amerika, 'Ndrangheta, dan Camorra berbagi ruang dalam gencatan senjata yang sunyi dan strategis.

Lelang amal dimulai, dipandu seorang juru lelang bersuara berapi-api. Perhiasan yang dipamerkan berfungsi ganda: untuk filantropi di depan publik sekaligus memamerkan seberapa besar kuasa mereka yang mengajukan tawaran.

Di meja-meja depan, para Don mulai bergerak.

Eros mengajukan tawaran pertama yang mengesankan malam itu, memenangkan sebuah gelang berlian yang berkilauan dengan harga selangit. Ia tersenyum, menyelipkan perhiasan itu di pergelangan tangan Sophia, yang membalasnya dengan kecupan penuh sayang. Di samping mereka, Orfeu Bianchi, sang Don Cosa Nostra Italia yang ditakuti, tak mau kalah: ia membeli kalung batu giok tak ternilai harganya, dan memasangkannya dengan khidmat di leher Stella.

Lebih ke sudut, Tomasso Vitale, Don 'Ndrangheta yang berwibawa dan kini menikmati kedamaian yang baru ia temukan setelah tahu bahwa ia adalah saudara sedarah Eros, mengajukan tawaran menang atas sebuah kalung dengan liontin medali emas klasik. Matanya terpaku pada perhiasan itu dengan tekad; ia berniat mengukir nama Matteo kecil di liontin tersebut untuk dihadiahkan kepada Julia, yang masih di rumah menjaga si bocah dan berusaha pulih dari serangan paniknya.

Namun, tawaran yang paling menarik perhatian di aula itu datang dari meja Rusia. Anton Kozlov, digerakkan oleh dorongan yang ia sendiri tak sepenuhnya pahami, mengangkat tangan dan menutup semua penawaran untuk sebuah cincin berlian solitaire, dengan potongan sempurna dan kilau yang memukau.

Ketika lelang berakhir, pembawa acara mengumumkan saat pidato penutup. Sophia menaiki tangga panggung diiringi tepuk tangan sopan dari kalangan elite. Ia mengenakan busana memukau yang menonjolkan siluetnya, memperjelas perutnya yang usia kandungannya hampir empat bulan.

Sophia menggenggam mikrofon. Matanya menyapu seisi aula. Ia tahu bahwa di area pers dan di antara para tamu, keluarga kandungnya, Rogério, Lúcia, dan adiknya Sol, yang kini menikah dengan Owen, menyaksikan semuanya dengan sikap merendahkan, setelah menyebarkan ke koran-koran bahwa Sophia "tak tahu terima kasih" dan "kerap mengejar-ngejar mantan tunangannya".

"Hadirin sekalian," suara Sophia bergema tegas lewat pengeras suara, memecah gemuruh bisik-bisik. "Sebelum kita menutup malam ini, aku ingin sekali kalian mengetahui kebenarannya. Seluruhnya."

Pada saat yang sama, layar LED raksasa yang terletak di belakang panggung menyala. Beberapa detik pertamanya membekukan napas semua yang hadir di aula.

Video-video beresolusi tinggi mulai diputar. Di layar, Owen, mantan tunangan Sophia sekaligus prajurit Eros, tampak melayangkan pukulan-pukulan brutal ke tubuhnya. Sophia terlihat dihajar di lantai, menangis, sementara keluarga Campos, orang tuanya sendiri, menonton dan menghasutnya. "Pukul saja, dia tunangan yang buruk, tidak tahu menghormatimu!" suara Rogério bergema dalam rekaman itu. Di potongan lain yang mengerikan, Rogério dan Lúcia menahan lengan Sophia sementara Owen memukuli wajahnya.

Adegan berikutnya menampilkan gambar-gambar yang diburamkan, menjaga martabat Sophia, tapi memperjelas kengerian sebuah kekerasan seksual eksplisit yang dilakukan Owen.

Aula tenggelam dalam keheningan mencekam. Wajah para tamu sipil berkerut dalam kengerian. Di meja para mafia, rahang Eros, Tomasso, dan Anton terkatup dengan amarah yang siap membunuh.

"Kalian sungguh mengira, setelah semua yang kualami, aku punya sedikit pun minat untuk mengejar monster itu?" tanya Sophia sambil menatap langsung ke kamera seorang wartawan di barisan depan. "Orang tuaku, Rogério dan Lúcia, dan adikku Sol, yang menikahi orang yang menganiayaku, menghabiskan berbulan-bulan menjual kebohongan ke pers. Mereka bilang aku terobsesi padanya. Padahal kenyataannya, merekalah yang mengubah hidupku menjadi kurungan penuh derita."

Layar berganti, menampilkan rekaman-rekaman di rumah keluarga Campos yang mengolok-olok Sophia, menyebutnya "manja" dan "tak tahu terima kasih" karena ia sakit saat makan produk olahan susu, atau karena ia menolak menghadiri pemotretan Sol, yang merupakan aktris dan model sukses, di taman-taman terbuka. Tak lama kemudian, Sophia menayangkan di layar hasil pemeriksaan medis resmi: alergi makanan berat terhadap laktosa, alergi parah terhadap serbuk sari, bronkitis kronis, dan asma. Ia tidak manja; ia sakit dan diabaikan.

Di bagian belakang aula, keluarga Campos panik total, berusaha berjalan tergesa-gesa menuju pintu darurat, tetapi prajurit-prajurit bersenjata keluarga Wisbech memblokir pintu-pintu itu tanpa suara.

"Owen sudah ditangkap," Sophia menyatakan, dengan senyum dingin seseorang yang telah menaklukkan keadilannya sendiri.

Seorang wartawan, gemetar di antara hadirin, melanggar protokol dan bertanya lantang.

"Dan... dan apa ada yang lebih buruk lagi, Nyonya Wisbech?"

"Ya, ada," jawab Sophia dengan tegas. "Tolong, Stella Bianchi, naiklah ke panggung ini. Saudari kembarku, kami berdua dipisahkan karena dia dijual."

Stella berdiri dari meja Orfeu dan berjalan anggun menuju panggung. Kemiripan mereka mutlak: mereka kembar identik. Aula bergemuruh dalam kondisi syok total.

"Kami dipisahkan sejak lahir," Sophia menjelaskan sambil menggenggam tangan saudarinya. "Kami dipisahkan karena keluargaku sendiri menjual Stella ketika ia masih bayi. Dan aku ingin sekali menegaskan: jangan salahkan keluarga saudariku karena telah membelinya. Keluarga Vitale menampungnya karena takut sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya di tangan monster-monster itu, dan mereka bahkan tidak tahu tentang keberadaanku. Saudariku beruntung dicintai oleh orang tua yang sesungguhnya dan tumbuh di sebuah rumah yang sejati."

Sophia menarik napas dalam dan mengangkat kedua pergelangan tangannya, menyingkap lengan gaunnya untuk memperlihatkan bekas-bekas luka tipis yang menandai kulitnya.

"Eros menyelamatkanku. Aku pernah mencoba mengakhiri hidupku sendiri di hotel yang sama ini ketika aku tak lebih dari seorang tukang bersih-bersih yang ketakutan. Lebih dari sekali, aku mencoba bunuh diri karena tak sanggup lagi menahan derita penganiayaan itu. Pada kali terakhir, Eros menemukanku. Ia menampungku, membiayai terapiku, dan lewat kebersamaan setiap hari, kami saling jatuh cinta. Aku selamanya berterima kasih padanya dan pada semua yang telah ia lakukan untukku. Terima kasih, keluarga Wisbech. Terima kasih, Eros... aku mencintaimu."

Eros Wisbech bangkit dari kursinya di bawah tatapan penuh perhatian seluruh New York. Ia menaiki anak tangga panggung dengan langkah mantap, menarik Sophia ke dalam pelukan yang melindungi, dan berbicara langsung ke mikrofon.

"Aku jauh lebih mencintaimu. Dan siapa pun yang berani menghalangi jalan keluargaku lagi akan mengetahui betapa mahalnya harga bermain-main dengan Don New York."

Aula pecah dalam tepuk tangan yang memekakkan telinga, sementara pers mengabadikan momen bersejarah yang menggambar ulang struktur kuasa di kota itu.

Dini hari sudah larut ketika rombongan kembali ke rumah mewah berbenteng di Long Island. Sementara Eros mengurus Sophia dan Tomasso Vitale bergegas ke kamar Julia untuk berusaha menenangkannya setelah serangan panik yang membuatnya tak bisa menghadiri jamuan, Anton berjalan dalam diam menyusuri koridor menuju kamar tamu tempat Emily menginap.

Ia membuka pintu perlahan. Kamar itu tenggelam dalam keremangan yang lembut.

Emily tertidur di ranjang besar untuk dua orang, kelelahan oleh tekanan emosional beberapa jam terakhir. Meringkuk di sampingnya, dengan satu lengan terlempar melintasi tubuhnya dalam gestur perlindungan murni, ada Abran. Obatnya sudah bekerja dan sang bocah tidur nyenyak, bebas dari demam.

Di sudut kamar, di dalam boks bayi portabel yang disediakan kepala rumah tangga rumah mewah itu, Anna kecil mulai menggeliat, mengeluarkan rengekan-rengekan kecil bernada tangis yang menandakan perutnya kosong.

Anton mendekati boks itu dengan langkah yang tak menimbulkan suara. Ia menatap bayi berusia tiga bulan itu. Jari-jarinya yang besar dan berkapal bergerak dengan kegesitan mengejutkan: ia memeriksa popok si bayi, menyadari perlu diganti, dan melakukan prosedur itu dengan kehati-hatian sepresisi saat ia membersihkan komponen sebuah senapan.

Selanjutnya, ia berjalan menuju lemari tempat pemanas air listrik diletakkan. Ia menyalakan alat itu, menunggu air panas hingga suhu ideal, dan menyiapkan botol susu dengan formula yang ada di tas Emily. Dengan botol susu siap, Anton duduk di kursi menyusui di samping boks, menaruh tubuh mungil Anna di lengan kirinya, dan menyodorkan dot ke mulut si bayi, yang mulai mengisap dengan lahap.

Bunyi lembut isapan itu membuat Emily terjaga. Ia mengerjapkan mata, memfokuskan pandangan dalam keremangan, dan kejutan melumpuhkannya di ranjang. Sang Don Bratva Rusia yang ditakuti, pria yang mengendalikan kilang-kilang minyak dan pasukan, kini duduk di kursi menyusui putrinya dengan kesabaran yang tak terbayangkan.

"Don Kozlov..." bisik Emily, cepat-cepat duduk di ranjang dan berusaha bangkit. "Maaf, biar aku yang menyelesaikannya."

"Tetap di tempatmu, kamu perlu istirahat," perintah Anton, suaranya pelan dan tegas agar tak membangunkan Abran. "Popoknya sudah kuganti. Sekarang dia sedang minum dan hampir tidur lagi."

Ia menatap kaki mungil Anna yang menyembul dari terusan yang lusuh.

"Dia agak gemuk, baju ini jelas terlalu kecil untuknya."

Emily menunduk, merapikan jaket Anton yang masih ia kenakan.

"Aku tahu... besok aku akan mencari toko loakan di dekat sini untuk membeli beberapa baju yang lebih besar yang cocok dengan anggaranku."

"Kamu tidak akan membeli apa pun di toko loakan," Anton langsung membantah, dengan nada berwibawa seseorang yang memerintah sebuah imperium. "Besok pagi, prajuritku akan mengantarmu ke Carter's dan toko-toko anak lain di Manhattan. Dia pantas mendapat baju baru, dari katun murni, agar kulitnya tak iritasi."

"Anda sudah terlalu banyak berbuat untukku, Don Kozlov... aku tidak bisa menerimanya," gumam Emily, tersipu.

Anton melirik sekilas ke ranjang, tempat Abran masih tidur seperti malaikat, dengan raut tenang yang tak ia tunjukkan bertahun-tahun.

"Kamu jauh lebih banyak berbuat untukku, Emily. Terutama untuk putraku," Anton menjelaskan, mata birunya terpaku pada matanya dengan keseriusan yang menghantam. "Abran selalu menjadi anak yang tertutup, terkurung dalam dunia es dan ketakutan. Dia tidak pernah bersikap begitu untuk siapa pun. Ibunya meninggal saat melahirkannya... dia tidak pernah punya sosok perempuan yang sesungguhnya dalam hidupnya selain seorang nenek yang sakit dan para pembantu yang hanya menjalankan perintah. Dia menatapmu dan melihat ibu yang tak pernah ia miliki. Dia memilih Anna sebagai adiknya, dan memilihmu sebagai ibunya."

Emily menahan napas, mencerna berat dari pernyataan-pernyataan itu.

"Kamu pernah menjadi perempuan seorang bandar narkoba di Brasil, Emily. Kamu tahu persis bagaimana dunia kami bekerja. Mafia tak berbeda dari itu. Aku tidak akan memaksamu menjadi ibu yang begitu diimpikan putraku... tapi aku sanggup melakukan apa pun di dunia ini untuk melihat pewarisku sehat dan tenteram. Aku tidak akan menyakitimu, tidak akan memaksamu berbuat apa-apa. Kalau kamu bilang tidak mau, aku akan mengerti."

Emily menatap bayi di pangkuan Anton, lalu ke arah bocah di ranjang.

"Itu... itu tanggung jawab yang besar."

"Kalau kamu menerima, kamu tidak akan pernah lagi harus menghitung recehan untuk membeli susu putrimu," Anton melanjutkan, suara beratnya memenuhi ruang. "Putrimu akan punya hidup yang baik, punya seorang kakak yang akan mencintai dan melindunginya, dan seorang ayah yang akan berbuat sama. Dan kamu... kamu tidak akan pernah lagi dipukuli. Aku tak tahan mengetahui seorang pria mampu memukul perempuan, dan kamu tidak akan pernah lagi disamakan dengan pelacur hanya karena berusaha menaruh makanan di meja. Di bawah perlindunganku, kamu akan mendapat rasa hormat yang mutlak."

Keheningan menguasai kamar itu selama beberapa detik, hanya dipecahkan oleh napas dua makhluk kecil. Emily merasakan berat dari semua penghinaan yang Breno paksakan padanya di Capão Redondo dan di New Jersey. Ia menatap masa depan Anna dan bocah yang nyaris mati demam karena ingin melindungi mereka.

"Aku menerimanya," kata Emily, suaranya tegas untuk pertama kalinya malam itu.

Anton Kozlov mengangguk, puas. Ia menaruh botol susu yang sudah kosong ke samping dan menempatkan Anna kecil kembali ke boks dengan kelembutan luar biasa. Selanjutnya, ia berjalan ke tepi ranjang. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru yang ia beli di lelang, dan mengambil cincin berlian yang memukau itu dari dalamnya.

Ia meraih tangan kanan Emily dan menyematkan perhiasan itu di jari manisnya. Pas sempurna.

"Kita akan bahagia dengan cara kita sendiri, Emily," Anton menyatakan, menatap dalam-dalam ke matanya. "Aku tidak bisa menjanjikanmu cinta... hatiku sudah mati bersama Alison. Tapi aku akan menjadi suami yang hebat. Beristirahatlah, besok hidup baru kita dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!