Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Makan Siang Biyakta
Diyah mengambil rantang susun, lalu mengisinya masing-masing dengan lauk pauk serta nasi putih. Siang ini rencananya dia ingin mengantarkan makanan untuk Biyakta, supaya mereka bisa makan bersama di tepi sawah.
"Sedang apa kamu, Diyah?" tanya Laksmi sambil memperhatikan secara seksama.
"Ini, Bude, aku mau antar makanan buat Mas Biyakta," jawab Diyah apa adanya, tanpa menatap Laksmi.
Wanita itu mengambil gelas dan menuangkan air putih. Dengan nada meremehkan dia berkata. "Biyakta kan biasa makan siang di luar. Paling dia sudah kenyang."
"Itu kan biasanya, Bude, sekarang enggak lagi, kan udah ada aku—istrinya," balas Diyah, yang membuat Laksmi yang sedang minum hampir tersedak.
"Ya terserah saja, yang penting aku sudah memberitahumu. Lagi pula ya, Biyakta tidak suka jus jeruk!" tandas Laksmi tak ingin kalah. Dia yakin jus jeruk buatan Diyah tidak akan disentuh sama sekali.
Diyah terdiam sesaat, tidak ada yang memberitahunya kalau Biyakta tidak suka minuman tersebut. Namun, dia juga tak mau langsung percaya ucapan Laksmi, siapa tahu wanita itu bohong.
Melihat Diyah yang mematung Laksmi sedikit tersenyum simpul. Karena dia yakin Diyah belum tahu semua yang disukai dan tidak disukai suaminya.
"Ini jus buat aku, Bude, aku juga tahu kok Mas Biyakta nggak suka jus jeruk," balas Diyah dengan pura-pura santai. Hingga bibir Laksmi berubah mengatup.
'Sialan sekali wanita ini melawan ucapanku terus.'
Tanpa bicara lagi, Laksmi langsung keluar dari dapur. Sedangkan Diyah bernapas dengan lega, ternyata menghadapi orang-orang usil ini selalu menguras tenaga.
"Pokoknya ngadepin bude nggak perlu baper," gumam Diyah sambil tersenyum riang.
Akhirnya setelah semuanya siap, Diyah langsung mengambil sepeda yang ada di garasi, menaruh rantang dan yang lainnya di keranjang, lalu mengayuh sepeda tersebut menuju sawah yang Biyakta kunjungi hari ini.
Panas terik sudah terlalu biasa, Diyah sama sekali tak khawatir kulitnya akan gosong, karena dahulu ini adalah makanan sehari-harinya.
Sepuluh menit berlalu, Diyah telah sampai. Namun, dia tak melihat batang hidung suaminya, yang ada hanya para pekerja.
"Pak, Mas Biyaktanya ke mana?" tanya Diyah saat sampai di sebuah gubuk, tempat orang-orang berteduh dari panas dan hujan saat di tengah sawah.
"Oh Mas Biyakta ada di bagian selatan tuh, Mbak, mau dipanggilin?" jawab salah satu dari mereka.
"Nggak usah, biar saya aja yang ke sana. Saya titip makanannya aja di sini ya," balas Diyah yang lantas mendapat anggukan.
Diyah melewati pematang sawah yang ditumbuhi rumput liar, ada juga pohon-pohon yang berjajar, yang membuat suasana menjadi lebih sejuk. Wanita itu tersenyum saat melihat wajah suaminya ada di depan mata. Wajah tampan yang sangat kontras, apalagi di tengah terik matahari.
"Mas Biya," panggil Diyah dengan penuh antusias. Biyakta yang sedang ikut memberikan pupuk untuk padi-padinya langsung mengangkat kepala. Sudut bibirnya tertarik saat melihat lambaian tangan Diyah.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Biyakta yang sudah naik ke pematang.
"Kok kenapa? Aku antar makan siang buat kamu, Mas, kamu belum makan 'kan?"
"Mana mungkin aku sudah makan di tengah sawah begini, mau makan pupuk?" balas Biyakta, tujuannya memang bercanda, tapi entah kenapa nada bicaranya terdengar menyebalkan. Namun, Diyah tetap bersyukur karena ucapan Laksmi tidak benar.
"Ya udah ayo makan sama-sama," ujar Diyah, Biyakta mengangguk dan memimpin jalan.
Namun, tiba-tiba langkah Diyah memelan. "Mas!" panggilnya.
Biyakta sontak menoleh. Dia mengerutkan keningnya karena Diyah geleng-geleng kepala.
"Jangan lewat situ," ujarnya sambil menunjuk sebuah pohon kapas besar yang pucuknya tertiup angin, karena terlalu tinggi.
"Kenapa?"
Diyah mencondongkan tubuhnya. "Kata orang-orang pohon itu ada penunggunya. Nanti bisa-bisa pulang dari sawah kita demam. Ayo lewat sana saja." Papar wanita itu dengan mimik serius. Namun, hal tersebut malah membuat Biyakta ingin tertawa terbahak-bahak.
"Kamu takut?" tanya Biyakta. Diyah langsung manggut-manggut. "Sini peluk." lanjut Biyakta sambil membuka tangannya.
"Ih, Mas, apaan sih? Di tempat terbuka begini malah minta peluk," cerocos Diyah tak habis pikir. Sedangkan Biyakta malah semakin gencar ingin menggoda istrinya, dia maju dengan tatapan yang intens, hingga Diyah reflek mundur.
Hap!
Biyakta berhasil menangkap pinggang Diyah. Wanita itu langsung cemas, melihat ke kanan, kiri, depan, belakang. Takut ada yang melihat.
"Mas, jangan macem-macem!" ketus Diyah.
"Aku cuma satu macem, Diyah," balas Biyakta dengan senyum menggoda. Diyah makin panik, berujung memukul dada bidang Biyakta dan mencoba kabur. Kakinya tergelincir dan hampir saja jatuh ke sawah. Namun, dengan cepat Biyakta menahannya.
"Akibat membangkang ucapan suami," celetuk Biyakta, Diyah yang sudah pucat akhirnya langsung berusaha berdiri.
Kemudian Biyakta melanjutkan langkah. "Sudah jangan terlalu percaya hal-hal mistis begitu. Ini siang bolong, setannya juga istirahat karena panas." ujar pria itu.
Diyah tak menjawab, tapi langkah kakinya sudah cukup menjelaskan semuanya. Dia berjalan tepat di belakang Biyakta, sambil memegang kaos suaminya.
Sesampainya di gubuk, Diyah langsung menyajikan makanan yang dia bawa. Biyakta terlihat makan dengan lahap, hingga suapan terakhir. Makan di sawah memang memiliki kesan tersendiri, meski hanya dengan sayur asem, ikan teri dan sambal terasi.
Namun, Diyah hanya menikmati jus jeruk itu sendiri, hingga Biyakta tampak penasaran.
"Apa yang kamu minum?" tanyanya.
"Jus jeruk. Kata Bude Mas nggak suka, jadi aku minum sendiri aja," jawab Diyah seraya menatap luasnya hamparan tanah yang menghijau.
Tanpa diduga Biyakta merebut jus jeruk tersebut, lalu meminumnya. Ujung matanya sedikit mengernyit, tetapi air dengan rasa asam campur manis itu sukses melewati tenggorokannya.
Melihat itu Diyah pun makin senang, karena selalu merasa dihargai oleh suaminya.
"Gimana, Mas, enak nggak?" tanya Diyah dengan penuh semangat.
Biyakta diam sebentar, lalu berkata. "Biasa aja."
Diyah langsung melengos lengkap dengan bibirnya yang mencebik. Biyakta sampai tak bisa menahan senyum, melihat ekspresi lucu istrinya.
'Huh, sebentar-sebentar bikin senang, sebentar-sebentar bikin kesel.'
****
Cakra menjalani dengan terpaksa memaafkan Rani, dan menjalani biduk rumah tangga dengan perasaan yang selalu mengganjal. Kekecewaannya terlalu besar, tetapi rasa malu mengalahkannya. Mungkin karena itu semua, saat ini Cakra sulit untuk bersikap lembut seperti dulu kepada istrinya.
"Mas, tabungan kita sudah mau habis, tapi kamu belum juga dapat kerja. Nanti gimana ke depannya?" keluh Rani, yang setiap hari harus menyaksikan suaminya banyak menghabiskan waktu di kamar.
"Sabar kenapa sih? Aku juga berusaha!" balas Cakra langsung sewot. Rasanya selalu kesal jika disinggung soal pekerjaan.
"Berusaha itu kamu coba cari keluar, bukan di dalem terus kayak gini," ujar Rani supaya suaminya segera sadar. Namun, Cakra malah makin merongos.
"Ah capek aku debat mulu sama kamu. Zaman udah canggih, aku bisa cari lewat online!" tandasnya, lalu membalikan badan.
Rani terbungkam, tangannya pun mengerat menggenggam alat tes kehamilan yang menunjukkan positif. Tadinya dia ingin membagi kabar bahagia itu kepada suaminya.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh