Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu momen yang tepat
Beberapa hari berlalu sejak percakapan yang terpotong tersebut, dan baik Baska maupun Zia sama-sama merasakan ketegangan manis yang menggantung di antara mereka, sebuah kesadaran bahwa keduanya telah saling mengakui perasaan masing-masing, namun belum ada pernyataan resmi yang benar-benar mengikat status hubungan tersebut. Baska, yang biasanya datang setiap Rabu untuk kelas privatnya, kali ini memutuskan untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih spesial guna menyelesaikan apa yang telah dimulai beberapa hari sebelumnya tersebut.
"Dik, gue mau nembak Zia. Tapi bingung caranya gimana yang bagus," ujar Baska kepada Dika suatu siang di kantor, meminta saran dari sahabatnya yang selama ini selalu jadi tempat curhat mengenai perkembangan hubungannya tersebut.
"Wah, akhirnya lo mau serius juga! Coba deh, jangan yang terlalu formal, bikin aja momen yang natural tapi tetap berkesan," saran Dika dengan penuh antusiasme, senang melihat perkembangan besar dalam hubungan sahabatnya tersebut.
Setelah berdiskusi cukup lama, Baska memutuskan untuk memanfaatkan momen sederhana di lapangan padel tempat mereka pertama kali bertemu, menganggap lokasi tersebut memiliki makna simbolis yang begitu penting bagi perjalanan hubungan mereka berdua. Dia merencanakan untuk datang lebih awal sebelum kelas privatnya dimulai, berharap bisa mendapatkan waktu berdua dengan Zia sebelum lapangan mulai ramai pengunjung lain.
Rabu sore yang telah dinantikan tersebut akhirnya tiba, dengan Baska yang datang lebih pagi dari biasanya, jantungnya berdebar kencang mempersiapkan diri untuk momen penting yang telah lama dia rencanakan tersebut. Namun sesampainya di Sport Padel, dia mendapati suasana yang jauh lebih ramai dari perkiraannya, dengan beberapa rombongan turnamen kecil yang kebetulan sedang berlangsung hari itu.
"Mas Baska, maaf ya, hari ini rame banget. Saya lagi sibuk banget ngurusin turnamen dadakan ini," ujar Zia dengan wajah sedikit lelah namun tetap ramah seperti biasa, sibuk mondar-mandir mengatur berbagai keperluan administratif turnamen tersebut.
Baska yang melihat kesibukan Zia tersebut, mengurungkan niatnya untuk langsung menyatakan perasaan di hari itu, menyadari bahwa momen tersebut jelas bukan waktu yang tepat mengingat betapa sibuknya gadis tersebut. "Nggak apa-apa, Mbak. Saya ngerti kok, fokus aja dulu ke turnamennya."
Kekecewaan kecil tersebut, meski tidak dia tunjukkan secara terbuka, membuat Baska semakin menyadari betapa sulitnya menemukan momen yang benar-benar tepat untuk mengungkapkan perasaannya, terutama mengingat kesibukan Zia yang cukup padat sebagai admin lapangan padel tersebut. Dia memutuskan untuk bersabar, menunggu kesempatan lain yang lebih kondusif untuk menyampaikan pengakuan yang telah lama dia persiapkan tersebut.
Sepulang dari Sport Padel hari itu, Baska menceritakan kegagalan rencananya kepada Dika melalui pesan singkat, mengungkapkan kekecewaan yang meski tidak terlalu besar, tetap terasa mengganggu rencana yang telah dia susun dengan begitu matang tersebut. "Dik, gagal deh rencana gue. Zia sibuk banget hari ini gara-gara ada turnamen dadakan."
"Sabar aja, Bas. Momen yang tepat pasti bakal dateng kok, asal lo nggak nyerah duluan," balas Dika memberikan semangat, meyakinkan sahabatnya tersebut untuk tetap optimis meski rencana awal tidak berjalan sesuai harapan.
Malam itu, sebelum tidur, Baska menerima pesan dari Zia yang meminta maaf atas kesibukan yang terjadi hari itu, sekaligus mengungkapkan harapan agar mereka bisa menemukan waktu yang lebih tenang untuk melanjutkan percakapan yang sempat tertunda tersebut. "Mas Baska, maaf banget ya hari ini rame banget. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, yang lebih santai."
"Iya, Mbak, nggak masalah kok. Saya juga nunggu momen yang pas buat cerita sesuatu yang penting," balas Baska, menyisipkan sedikit petunjuk mengenai rencana pengakuan yang masih dia simpan tersebut.
Balasan tersebut membuat Zia semakin penasaran sekaligus berdebar menantikan apa yang akan disampaikan Baska tersebut, menyadari bahwa mereka berdua kini berada di ambang batas antara pertemanan dekat dan hubungan yang jauh lebih serius, sebuah babak baru yang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar terwujud, menandai berakhirnya masa penantian panjang yang telah mereka jalani bersama sejak pertemuan pertama mereka di lapangan padel beberapa bulan yang lalu.
Zia menutup ponselnya malam itu dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan, membaringkan diri di kasurnya sambil membayangkan berbagai kemungkinan mengenai apa yang ingin disampaikan Baska tersebut. Dia mengambil buku catatan kecil yang sering dia gunakan untuk menuliskan perasaannya belakangan ini, menuliskan sebuah catatan singkat sebelum akhirnya tertidur.
"Rasanya kayak nunggu ujian kelulusan, deg-degan tapi juga penasaran banget sama hasilnya," tulisnya sambil tersenyum sendiri, menutup buku catatan tersebut dengan perasaan hangat yang menandai betapa besar harapan yang dia miliki terhadap perkembangan hubungannya dengan Baska ke depannya.
Sementara itu, di sisi lain kota, Baska juga menghabiskan malam tersebut dengan pikiran yang dipenuhi rencana-rencana baru mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan perasaannya, bertekad bahwa kali berikutnya, tidak akan ada lagi gangguan yang bisa menghalangi momen penting yang telah lama dia nantikan tersebut, sebuah tekad yang akan segera membawanya pada babak baru dalam perjalanan cinta mereka berdua.