Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana galeri menjadi sangat hening dan tegang menunggu reaksi dari juri bermulut pedas tersebut.
Chef Bram mengunyah makanan itu cukup lama sambil menutup matanya perlahan.
Dia meletakkan kembali sendoknya dan menatap Aldo dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
"Kau memasak ayam kampung liar ini hanya dalam waktu enam puluh menit?" tanya Chef Bram memastikan.
"Benar, Chef. Saya memarkan serat dagingnya sedikit sebelum memasukkannya ke dalam wajan panas."
Chef Bram menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tingkat kematangannya sempurna, ini sangat empuk dan bumbunya meresap sampai ke dalam tulang."
"Saya harus mengakui, ini adalah salah satu olahan bumbu woku terbaik yang pernah saya makan tahun ini."
Peserta lain di belakang langsung berbisik-bisik kaget mendengar pujian langka dari Chef Bram.
Kevin yang berdiri di barisannya langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa kesal.
Kini giliran Chef Renata yang mencicipi hidangan Aldo dengan wajah penasaran.
Dia menyendok sedikit kuah bumbunya saja lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Senyum cerah seketika mengembang di wajah cantik Chef Renata.
"Keseimbangan rasanya luar biasa," puji Chef Renata sambil mengangguk-angguk puas.
"Pedasnya pas, gurih kemirinya sangat terasa, dan aroma daun kemanginya sangat menyegarkan."
"Bumbu ini benar-benar menari-nari di atas lidah saya."
Aldo menundukkan kepalanya sedikit. "Terima kasih banyak atas pujiannya, Chef Renata."
"Ini semua berkat resep dari almarhum ibu saya."
Kini tibalah saat yang paling menentukan dan paling menegangkan bagi nasib Aldo.
Chef Arya melangkah maju dengan wajah dinginnya yang selalu sukses membuat nyali peserta ciut.
Dia mengambil piring Aldo dan mencium aroma masakannya dari jarak yang cukup dekat.
Sruput.
Chef Arya mengambil potongan daging ayam paling besar dan memakannya tanpa memotongnya terlebih dahulu.
Dia mengunyahnya dengan gerakan rahang yang tegas sementara matanya terus menatap tajam ke arah Aldo.
Sepuluh detik berlalu terasa seperti sepuluh tahun bagi Aldo yang menunggu dalam diam.
Dua puluh detik berlalu, Chef Arya masih belum membuka mulutnya untuk memberikan komentar.
Glek.
Chef Arya menelan makanannya dan langsung mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Kau berbohong kepadaku, anak muda," ucap Chef Arya dengan suara datar yang sangat dingin.
Deg.
Jantung Aldo seolah berhenti berdetak mendengar tuduhan mengejutkan tersebut.
"M-maksud Anda apa, Chef?" tanya Aldo dengan suara yang mulai bergetar.
"Kau bilang ini hanya resep sederhana dari ibumu, tapi rasanya menceritakan hal yang berbeda."
Chef Arya menunjuk ke arah piring Aldo yang kini hanya tersisa setengah porsi.
"Ada teknik ekstraksi minyak tingkat tinggi yang kau gunakan di sini," lanjut Chef Arya.
"Kau sengaja menumbuk bumbunya menggunakan batu agar minyak atsiri dari bawang dan cabai keluar sepenuhnya."
"Lalu kau menumisnya dengan suhu api yang sangat spesifik agar tidak merusak aroma kemanginya."
"Ini bukan sekadar masakan ibu rumah tangga biasa, ini adalah masakan dari seseorang yang sangat paham ilmu kimia kuliner."
Aldo terpaku diam tidak bisa membalas ucapan panjang lebar dari juri utama tersebut.
Memang benar, ibunya dulu pernah bekerja sebagai asisten koki di sebuah restoran besar sebelum akhirnya sakit.
Semua teknik dan ilmu itu diajarkan kepadanya secara ketat sejak dia masih duduk di bangku SMP.
"Hidanganmu terlihat seperti sampah di piring ini," ucap Chef Arya kembali menggunakan nada tajamnya.
"Tapi rasanya pantas disajikan di restoran bintang lima mana pun di negara ini."
Chef Arya menatap kedua juri lainnya sejenak lalu kembali menatap Aldo.
"Chef Bram, bagaimana keputusanmu?"
"Masakan seenak ini tidak mungkin saya tolak, saya bilang ya," jawab Chef Bram cepat.
"Saya juga sangat menyukainya, ini ya dari saya," tambah Chef Renata dengan senyum manis.
Chef Arya melipat tangannya di depan dada dan menatap Aldo lekat-lekat.
"Dua ya sudah cukup untuk membuatmu lolos, tapi aku juga akan memberikan ya dariku."
"Ambil celemek putihmu, dan jangan berani-berani menyajikan makanan dengan tampilan jelek lagi di depanku."
Bruk.
Lutut Aldo seketika lemas dan dia langsung jatuh berlutut di atas karpet merah ruang galeri.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi kedua pipinya yang sedikit kotor karena asap dapur.
Perjuangan beratnya seharian ini, rasa laparnya, dan hinaan yang diterimanya seolah terbayar lunas.
"Terima kasih banyak, Chef. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kalian di babak selanjutnya," ucap Aldo terisak.
"Berdirilah, jangan cengeng di dapurku," tegur Chef Arya, meski nada suaranya sedikit melembut.
Aldo buru-buru mengusap air matanya dengan lengan bajunya dan berdiri kembali.
Dia berjalan mendekati meja panitia di pinggir podium dan mengambil sebuah celemek putih yang terlipat rapi.
Kain putih itu terasa sangat kasar namun bagi Aldo itu adalah sutra paling berharga di dunia.
Dia memakai celemek itu dan mengikatkan talinya di pinggang dengan senyum bahagia yang sangat lebar.
Saat dia berjalan kembali ke barisannya, beberapa peserta bertepuk tangan memberikan selamat.
Namun tatapan sinis penuh kebencian justru datang dari arah Kevin yang berdiri tidak jauh darinya.
"Jangan sombong dulu, gembel," desis Kevin saat Aldo berdiri di sebelahnya.
"Ini baru babak audisi. Di galeri utama nanti, aku sendiri yang akan menghancurkan mentalmu sampai kau pulang menangis."
Aldo menoleh ke arah Kevin dan menatapnya dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Aku sudah kehilangan semuanya di dunia ini, jadi aku tidak punya rasa takut kehilangan apapun lagi."
"Silakan coba hancurkan aku, Tuan Muda Kevin. Karena aku akan melawan balik dengan caraku sendiri."
Api persaingan di antara kedua pemuda itu kini benar-benar telah menyala dan tidak akan bisa dipadamkan.
"Baiklah, audisi kloter kelima telah selesai!" teriak Chef Bram membubarkan ketegangan mereka.
"Bagi kalian yang mendapatkan celemek putih, selamat bergabung di keluarga besar Master Chef Nusantara."
"Kalian akan mulai masuk asrama karantina malam ini juga, dan tantangan sesungguhnya akan dimulai besok pagi."
"Bersihkan meja kalian dan tinggalkan galeri ini sekarang!" perintah Chef Arya menutup acara.
Aldo segera berjalan menuju mejanya untuk merapikan wajan tua dan ulekan batunya ke dalam tas ransel.
Dia menatap pantulan wajahnya yang mengenakan celemek putih di permukaan oven yang mengkilap.
"Ibu, aku berhasil melewati langkah pertama," batin Aldo sambil tersenyum hangat.
"Aku akan terus memasak sampai seluruh dunia mengakui kehebatan resep warisanmu ini."
Aldo menggendong tas ranselnya dan berjalan keluar dari galeri dengan dada membusung bangga.
Langkah pertamanya menuju mimpi besar itu baru saja dimulai, dan dia siap menghadapi badai apapun di depan sana.
makasi crazy up nya