Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Megah Pratama Group
Malam baru saja berganti subuh. Di dalam kantor pribadi Surya Wijaya, keheningan yang menekan pecah tatkala pintu ruangan didobrak paksa dari luar.
Pimpinan regu Organisasi Serigala Hitam melangkah masuk dengan napas memburu dan baju yang masih basah kuyup oleh sisa air hujan. Wajah berbekas lukanya tampak pucat pasrah, diselimuti oleh ketakutan yang belum surut.
Surya Wijaya yang sedang duduk di balik meja kerjanya tersentak berdiri. "Bagaimana?! Apa Arka sudah mati?!"
Pria berbekas luka itu menggeleng cepat dengan bibir bergetar. "Tuan Surya... pria itu bukan manusia! Delapan orang pasukan kita dihabisi hanya dalam hitungan detik..."
"Apa?!" Surya menghantamkan kepalan tangannya ke meja mahoni. "Delapan pembunuh profesional tidak sanggup menghabisi satu orang montir?!"
"Dia bukan sekadar mantan pengawal, Tuan Surya!" jerit pria itu penuh ketakutan. "Dia menitipkan pesan untuk Anda... dia bilang, permainan anak kecil Anda sudah berakhir, dan dia sendiri yang akan datang menjemput nyawa Anda!"
Belum sempat Surya merespons ucapan tersebut, layar televisi besar di dinding ruang kerjanya yang menyiarkan berita finansial mendadak berganti siaran kilat Breaking News.
"BERITA UTAMA FINANSIAL: KONSORSIUM NUSANTARA GROUP SECARA RESMI MEMBATALKAN SELURUH KERJA SAMA DENGAN MEGAH PRATAMA GROUP DAN MEMBEKUKAN ASET VENDOR TERKAIT!"
Surya mendelik kaget. Remote di tangannya terlepas dan jatuh ke karpet.
Sebelum ia sempat mencerna berita tersebut, ponsel pribadinya dan telepon kabel di atas meja berdering secara bersamaan tanpa henti.
"Tuan Surya!" jerit sekretaris utamanya yang berlari masuk tanpa mengetuk pintu. "Kondisi darurat! Seluruh bank mitra utama baru saja menarik fasilitas kredit Megah Pratama secara sepihak! Saham perusahaan kita di bursa mendadak jebol merosot hingga batas kena penangguhan perdagangan!"
Brak!
Surya Wijaya tersungkur kembali ke kursi kerjanya. Matanya membelalak lebar dengan napas menegang. Hantaman ini terlalu cepat dan terlalu mematikan! Hanya dalam waktu satu malam, kerajaan bisnis yang didirikannya puluhan tahun berada di ambang kebangkrutan total.
Sementara itu, di kantor pusat Wibowo Group.
Maya duduk di kursi direksinya dengan perasaan terkejut luar biasa tatkala membaca laporan pergerakan bursa di tabletnya.
"Bagaimana bisa..." gumam Maya tak percaya. "Megah Pratama Group runtuh dalam satu malam?"
Arka yang berdiri di dekat jendela kantor seraya memegang cangkir kopi hangat hanya tersenyum tipis. Pria itu menoleh pelan ke arah istrinya.
"Pohon yang akarnya sudah busuk memang cuma butuh satu tiupan angin kencang untuk tumbang, Maya," sahut Arka tenang.
"Tapi tiupan angin ini terlalu pas, Arka," balas Maya seraya menatap suaminya dengan penuh selidik namun hangat. "Setiap kali ada pihak yang mencoba menghancurkan kita, mereka justru hancur sendiri dalam waktu singkat."
Tiba-tiba, pintu ruangan kantor Maya terbuka. Pak Gunawan dan Sisca melangkah masuk dengan raut wajah panik dan penuh kerendahan hati yang dipaksakan.
Tidak ada lagi keangkuhan dari wajah Sisca. Pakaian mewahnya kini tampak kusut, dan matanya sembap.
"Maya... keponakanku..." suara Pak Gunawan bergetar seraya mendekati meja kerja Maya. "Tolong bantu paman... Megah Pratama Group sudah hancur, dan seluruh investasi saham keluarga kita di sana ikut terancam disita bank!"
Sisca ikut melangkah maju, memegang tepi meja Maya dengan mata berkaca-kaca.
"Maya... tolong maafkan aku," cicit Sisca memohon, menanggalkan seluruh gengsi yang selama ini diagungkannya. "Aku tahu aku salah... Tolong suruh Nusantara Group untuk menyisakan sedikit aset keluarga kita... Kami bisa bangkrut total dan masuk penjara kalau kamu tidak membantu!"
Maya menatap paman dan sepupunya itu dengan tatapan dingin. Rasa kasihan di hatinya sudah lama habis tergerus oleh berbagai pengkhianatan dan celaan yang mereka lontarkan selama ini.
"Saat kalian bekerja sama dengan Surya Wijaya untuk menghancurkan Wibowo Group dan memfitnah pernikahanku," kata Maya dengan suara tegas dan lugas, "apakah kalian pernah berpikir untuk menyisakan jalan hidup untukku?"
Pak Gunawan dan Sisca mematung di tempat.
"Kalian yang memilih jalan ini sendiri," lanjut Maya seraya merapikan dokumen di mejanya. "Sekarang, tanggung jawabkan perbuatan kalian di hadapan hukum dan bursa."
Arka melangkah mendekati Pak Gunawan dan Sisca, membukakan pintu ruangan lebar-lebar.
"Silakan keluar," kata Arka pendek dengan nada suara yang tidak menerima bantahan. "Pimpinan Wibowo Group punya banyak hal penting yang harus diselesaikan."
Dengan langkah gontai dan wajah penuh penyesalan yang terlambat, Pak Gunawan dan Sisca melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan panggung kejayaan yang kini sepenuhnya milik Maya.
Maya menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menatap Arka dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan.
"Terima kasih telah berdiri di sampingku, Arka."
Arka membalas senyuman itu dengan kehangatan di matanya. "Selalu, Maya."
itu.