Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
#7
Akhirnya suara desahan panjang tersebut, menjadi akhir dari peleburan mereka. Keduanya masih terengah sambil mengatur nafas yang belum sepenuhnya stabil setelah pelepasan dahaga, jika diingat lagi, rupanya mereka sudah lebih dari dua minggu tak melakukannya. Karena minggu lalu adalah jadwal datang bulan Lizie, dan minggu ini Zion dikungkung pekerjaan.
Dan tadi, tak ada alasan bagi mereka untuk tidak melakukannya, jadi Zion benar-benar mengerahkan kemampuan terbaiknya agar bisa meluluhkan hati istrinya. Dan berhasil, meski Lizie masih cemberut hingga mereka sampai di tengah permainan.
Zion kembali memiringkan tubuhnya, menarik selimut agar tubuh polos mereka tidak terekspos hawa dingin dari AC. “Terima kasih, Sayang,” bisik Zion yang mulai melingkarkan lengan guna menghangatkan tubuh mereka kembali.
Abaikan keringat yang mulai mengering, biasanya Lizie selalu cerewet menyuruhnya bersih-bersih lagi setelah mereka bercinta. Tapi malam ini tak Lizie lakukan entah karena apa.
“Hmmm.”
Lizie hanya menggumam tak jelas, mungkin dia dia terlalu lelah, karena hari ini terjun langsung bersama ART menyiapkan makan malam keluarga.
Zion kembali mengecup kening Lizie seolah tak pernah bosan, menyingkirkan helai-helai rambut yang masih menutupi pelipis, pipi, dan telinganya.
Zion yang masih menyangga kepalanya dengan tangan, kini menatap wajah sang istri dalam-dalam, sungguh raga yang elok, hidung mancung dengan proporsi yang pas, kulit wajah dan tubuh yang bersih natural, bahkan tak pernah Zion menemukan bekas luka di tubuh Lizie, sekecil apapun itu.
Bibirnya selalu terlihat seksi hingga membuat Zion ingin lagi dan lagi, masih sama rasanya seperti saat awal-awal pernikahan mereka dahulu. Maka tak heran, jika tak lama berselang hadirlah Zea diantara mereka.
Saudara dan para sepupunya bilang, Zion terlalu ngebet, takut istrinya di gaet orang. Tapi bagi Zion, bodo amat, jika memang demikian, terus kenapa?
“Selamat istirahat, Sayang,” bisik Zion lembut, lalu ia pun terlelap sambil mendekap erat belahan jiwanya.
•••
Pagi harinya, Zion membuka mata dan melihat tempat di sampingnya sudah dingin, berarti Lizie sudah lama meninggalkannya seorang diri di kamar mereka.
Sayup-sayup, Zion mendengar suara celotehan cadel putrinya, ah, pantas saja Lizie sudah menghilang, pasti karena Zea sudah bangun. Sebenarnya kasihan juga bila Lizie mengurus Zea sendirian, tapi wanita itu bersikukuh tak keberatan melakukannya, toh mereka masih tinggal bersebelahan dengan rumah Daddy Danesh dan Mommy Dhera, jadi sangat mudah bila memerlukan bantuan.
Zion cepat-cepat bangkit lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah semalam mengairi sawah ladang sang istri. Semoga program mereka untuk memiliki anak kedua segera membuahkan hasil, Zion tak sabar menantikannya.
Pasti keluarga mereka akan bertambah ramai dan seru bila ada seorang anak lagi, tak masalah laki-laki atau perempuan. Mereka tetap malaikat kecil yang berharga.
Setelah berganti pakaian Zion melihat tempat tidur mereka yang masih berantakan, maka dengan cekatan pria itu melepas sprei dan selimut sisa percintaan semalam, lalu menggantinya dengan sprei dan selimut baru yang lembut dan wangi. Semoga bisa membantu meningkatkan mood sang istri.
“Pagi, Sayang.” Zion segera menghampiri Lizie yang sedang berada di depan kompor, tanpa ragu apalagi canggung pria itu memeluk mesra pinggang istrinya, kemudian mengecup pipi kemerahan alami yang tentunya hanya Zion yang boleh memiliki dan menikmatinya sesuka hati.
Lizie sedang memanaskan butter untuk memanggang daging, tak merasa risih dengan ulah sang suami, sebaliknya wanita itu justru balas mencium pipi suaminya.
“Menu pagi ini beef?”
“Hmm, semalam tak jadi dipanggang, karena aku dan Mommy membeli banyak ikan dan seafood.”
Selain beef, di meja bar dapur sudah tersedia salad sayuran segar yang nampak lezat, penuh dengan warna-warni alami yang menyegarkan mata.
Zion tiba-tiba teringat Aaron kakak sepupunya yang menyukai menu ini, sebab dia tak bisa makan nasi. Sayangnya Zion tak diizinkan Othor untuk menelepon pria tersebut, sebab masih di karantina kisah hidupnya setelah melanjutkan kuliah di London.
“Pagi, duduklah dulu, aku akan memanggang daging ini untukmu,” jawab Lizie dengan senyum lembutnya, sepertinya wanita itu sudah tak marah lagi.
“Mana Zea?”
“Dia sudah menghabiskan sarapannya, dan sekarang sedang ke paviliun Mommy dan Daddy. Sebentar lagi juga kembali,” jawab Lizie sementara kedua tangannya tetap sibuk memanggang daging serta menyiapkan piring makan untuk sang suami.
Di sisi yang lain, wanita itu juga nampak cekatan membumbui sayur sop untuk menu makan siang nanti. Diam-diam Zion memperhatikan gerak-gerik lincah istrinya, terlalu lincah dan terukur, butuh konsentrasi tingkat tinggi, mungkin disitulah kelebihan seorang ibu yang bisa mengerjakan beragam pekerjaan di waktu bersamaan.
Ditengah kerempongan itu, tanpa sengaja siku Lizie menyenggol mangkuk bekas sereal Zea yang kebetulan ada di tepi tempat cuci piring. Zion terbelalak, hampir saja ia berteriak kaget, tapi Lizie langsung meletakkan spatula di atas pan, dan dengan gesit tangan tersebut menangkap mangkuk yang hampir jatuh membentur lantai.
“Huft.”
Zion mendengar hembusan nafas lega tersebut, bahkan wajah Lizi tak nampak tegang, apalagi kaget. Sebaliknya wanita itu tersenyum santai seolah tak terjadi apa-apa. Dan saat Lizie menoleh ke arah Zion, pria itu berpura-pura fokus menatap ponselnya, seolah tak melihat apa yang baru saja terjadi.
•••
Setelah sarapan.
Seperti biasa, tugas mengantar sekolah, Lizie serahkan pada suaminya, agar Zea tak terlalu kehilangan figur ayah yang selalu sibuk, dan kerap pulang larut malam.
“Bye, Mama, I love you.” Zea melambai dari tempat ia duduk, wajahnya full senyum seperti biasa, sepertinya mulai lupa dengan peristiwa menegangkan kemarin siang.
“Love you too, Cantiknya Mama.” Lizie pun melambaikan kedua telapak tangannya, membalas lambaian Zea dan sang suami.
Setelah tugas wajib pagi itu berakhir, Lizie istirahat sejenak, wanita itu duduk santai di kursi taman, menikmati matahari pagi sambil memeriksa ponselnya.
Senyum yang terukir sejak ia membuka mata pagi ini, tiba-tiba memudar dengan cepat hingga wajahnya yang semula merona, kini berubah terkejut setelah ia melihat apa yang baru saja masuk ke ponselnya.
•••
Mobil Zion berhenti di markas AG, maksud kedatangannya sangat jelas, untuk menanyakan kelanjutan kasus yang hampir mencelakai putrinya.
Zion bertemu dengan Rexa, tim IT yang bertugas melacak pria yang mengendarai motor secara ugal-ugalan kemarin siang.
“Apa yang kamu temukan?”
Di hadapannya kini, tengah terpampang gambar pria yang kemarin nyaris mencelakai Zea. Pakaian, motor, dan helm nya serba gelap, tak ada yang istimewa, serta hanya ada gambar kepala singa di helm pengemudi itu.
“Setelah kudapatkan plat nomor motornya, nomor tersebut tidak terdaftar di kepolisian. Sepertinya pria itu memakai motor curian, lalu mengganti plat nomornya.”
“Sial!” geram Zion, jika demikian maka perlu waktu lagi untuk melakukan penyelidikan.
“Cari terus sampai dapat, aku tunggu kabar selanjutnya.”
“Oke.” Rexa mengangguk, lalu Zion pamit menuju tempat kerjanya.
•••
“Hai,” sapa seseorang saat Zion baru saja tiba di markas besar tempatnya bertugas.
“Eh, kamu, mau apa disini?”