Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucien's Suspicious Gaze
Angin malam berembus dingin menyapu area taman Istana Dalam, membawa aroma abu sisa ledakan racun yang baru saja terisolasi secara ajaib. Di atas rumput yang sedikit terkikis, sang pembunuh Kuil Merah telah meluruh menjadi tumpukan debu hitam akibat reaksi sihir pemusnah dirinya sendiri. Namun, bahaya di tempat itu belum sepenuhnya mereda.
Di ambang jendela lantai dua, Ophelia mematungkan diri. Di bawah sana, Komandan Lucien Raphael von Astralis masih berdiri tegap dengan pedang baja yang setengah tersimpan di sarungnya. Mata merah gelap milik sang komandan menatap lurus ke atas, mengunci pandangan tepat pada sosok biarawati bercadar putih tersebut.
Tatapan itu tidak lagi sekadar menyimpan kewaspadaan seorang pengawal istana. Ada rasa curiga yang teramat dalam, tajam, dan dingin—seolah-olah Lucien sedang berusaha menembus kain cadar tipis itu untuk menelanjangi seluruh rahasia Ophelia.
BZZZZT! TING! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Danger Status: MAXIMUM SUSPICION DETECTED
Lucien's Intent: Investigate the Veil
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: Astaga! Tatapan mata si hitam itu beneran seram! Dia memandang Ophelia seperti ingin memotong cadarnya menjadi dua bagian!]
[GODDESS OF BEAUTY: Jangan biarkan dia mendekati Ophelia! Jika dia menyentuh cadar indah itu dengan sarung tangan besinya yang kasar, aku akan menurunkan hujan petir ke atas kepalanya!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Secara taktis, Ophelia melakukan kesalahan fatal. Frekuensi sihir Divine Barrier yang baru saja dilepaskan memiliki tanda khas tingkat tinggi. Lucien adalah seorang Divine Swordmaster, dia pasti mengenali getaran sihir tersebut.]
[GODDESS OF LOVE: Tapi tunggu! Bukankah ini justru semakin menegangkan?! Tatapan penuh curiga di bawah sinar rembulan... Ini adalah awal dari benih-benih obsesi yang membara!]
[GOD OF FORTUNE: Elara, diamlah! Jika Lucien melaporkan hal ini kepada Paus Raphael, kuil akan menggelar penyelidikan khusus! Biaya akomodasi tim pemeriksa bisa membengkak!]
[UNKNOWN GOD: ...He's too close.]
Ophelia memijat pelipisnya di balik kain putih. Keadaan di atas langit sama bisingnya dengan suasana di dalam hatinya yang mulai panik.
‘Kalian para dewa bisakah diam sebentar?! Pria di bawah sana sedang bersiap memanjat dinding istana!’ batin Ophelia dalam jeritan frustrasi yang tak bersuara.
Sesuai dugaan Ophelia, Lucien tidak membuang waktu. Dengan satu hentakan kaki yang memancarkan sihir penguat fisik, sang komandan melompat ringan menembus udara malam. Jubah putihnya berkibar cepat sebelum tubuh jangkungnya mendarat tanpa suara di ambang jendela koridor lantai dua—tepat di hadapan Ophelia.
Jarak di antara mereka kini tak sampai dua jengkal.
Ophelia refleks mundur satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Komandan Lucien... Syukurlah Anda tidak terluka dalam ledakan tadi."
Lucien tidak langsung menjawab. Kehadirannya yang mendominasi membuat udara di koridor sunyi itu terasa sangat berat. Ia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak yang baru saja dibuat oleh Ophelia.
"Siapa kau sebenarnya, Biarawati?" tanya Lucien dengan suara yang luar biasa dingin. Tidak ada keraguan dalam intonasinya.
"Hamba hanyalah Ophelia, seorang biarawati biasa dari divisi perawatan altar—"
"Jangan berbohong padaku," potong Lucien cepat. Suaranya bergema pelan namun menusuk. "Kubah sihir yang mengurung ledakan racun tadi... itu bukan sihir pertahanan tingkat menengah. Itu adalah Divine Barrier murni. Bahkan para Pendeta Agung di Kuil Utama butuh waktu sepuluh detik dan tiga bait doa untuk merapalkannya."
Mata merah Lucien memicing, berkedip pelan saat mengamati reaksi tubuh Ophelia. "Tetapi kubah tadi muncul secara instan, tanpa mantra, dan terpancar tepat dari arah jendela ini. Tepat dari posisi berdiri Anda."
Ophelia menahan napasnya. Jemari di balik lengan bajunya saling meremas erat. Otaknya berputar cepat mencari alasan paling masuk akal yang bisa diterima oleh ksatria kaku di depannya ini.
BZZZZT!
[GODDESS OF WISDOM: Ophelia, katakan bahwa itu adalah artefak perlindungan peninggalan orang tuamu!]
[GOD OF WAR: Katakan saja kau murid tersembunyi dari dewa perang! Aku akan memvalidasi kebohongan itu sekarang juga!]
[GODDESS OF BEAUTY: Jangan dengarkan mereka! Pura-pura pingsan saja! Pria kaku seperti dia biasanya akan panik jika seorang wanita cantik pingsan di pelukannya!]
Ophelia hampir saja memutar matanya mendengar saran konyol dari Goddess of Beauty. Pura-pura pingsan di depan pria yang mencurigaimu sebagai mata-mata atau penyihir terlarang adalah tindakan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia.
"Komandan Lucien," kata Ophelia akhirnya, menyusun suaranya agar terdengar sehalus dan selugu mungkin. "Hamba mengerti kebingungan Anda. Namun, hamba sama sekali tidak memiliki sihir sehebat itu. Apa yang Anda lihat tadi... mungkin adalah perlindungan dari berkah para dewa yang menaungi tempat ini."
"Berkah dewa?" Lucien mengangkat satu alisnya, nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan yang nyata.
"Ya," Ophelia mengangguk perlahan. "Bukankah Lady Seraphina baru saja dianugerahi status sebagai Saintess resmi pagi ini? Aura ilahi beliau yang melimpah mungkin merespons ancaman bahaya secara otomatis dan menciptakan perisai untuk melindungi istana ini. Hamba hanya kebetulan berdiri di dekat jendela saat fenomena itu terjadi."
Lucien menatap Ophelia tanpa berkedip selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Kebohongan Ophelia memang terdengar masuk akal bagi awam, mengingat keajaiban ilahi sering kali terjadi secara acak di sekitar seorang Saintess. Namun, Lucien adalah seorang konseptor taktik bertarung. Ia tahu betul perbedaannya.
Perisai tadi tidak berpusat dari kamar Seraphina. Perisai itu berpusat tepat dari titik di mana Biarawati bercadar ini merentangkan tangannya.
"Penjelasan yang sangat rapi," kata Lucien dingin. Ia mengulurkan tangan kanannya secara perlahan ke udara. Jemari bersarung kulit hitam milik sang komandan bergerak mendekati tepi kain cadar putih Ophelia. "Kalau begitu, apakah Biarawati Ophelia tidak keberatan membuktikan kesuciannya dengan melepaskan cadar ini?"
BZZZZT! TING! TING! TING! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
CRITICAL ALERT: PHYSICAL CONTACT IMMINENT!
Divine Wrath Index: 99.9%
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: HENTIKAN TANGANMU, ANJING KERAJAAN! JANGAN SENTUH CADAR ITU!]
[GODDESS OF BEAUTY: CELAKA! JIKA DIA BUKA CADARNYA SEKARANG, SELURUH OLYMPUS AKAN MELEDAK KARENA CEMBURU!]
[GODDESS OF LOVE: K-KAPALKU AKAN KARAM SEBELUM BERLAYAR?! TIDAK BOLEH! OPHELIA, GIGIT TANGANNYA!]
[UNKNOWN GOD: ...Touch it and lose your hand.]
Mata Ophelia membelalak saat melihat ujung jari Lucien yang tinggal berjarak beberapa sentimeter dari kain cadarnya. Hatinya berdegup kencang bukan karena terpesona, melainkan karena bayangan kekacauan luar biasa yang akan terjadi jika pria ini benar-benar melihat wajahnya—dan memicu kemarahan para dewa yang berisik di atas sana.
Namun, sebelum jemari Lucien sempat menyentuh tepi kain, sebuah suara langkah kaki yang lain terdengar tergesa-gesa dari ujung koridor.
"Komandan Lucien! Apa yang terjadi di taman bawah?!"
Suara bariton yang tenang namun berwibawa itu memecah ketegangan yang membeku. Lucien menghentikan tangannya di udara, lalu menariknya kembali secara perlahan saat sosok Pendeta Agung pembantu Paus berlari mendekat bersama beberapa pengawal istana.
Lucien memalingkan wajahnya sebentar ke arah para pengawal, lalu kembali menatap Ophelia dengan pandangan yang semakin kelam.
"Urusan kita belum selesai, Biarawati Ophelia," bisik Lucien dengan nada janji yang mengikat. "Aku akan mengawasimu. Setiap gerak-gerikmu."
Tanpa menunggu balasan, Lucien berbalik dan melangkah pergi menyambut para pengawal, meninggalkan Ophelia yang akhirnya bisa mengembuskan napas lega di balik cadar putihnya.
BZZZZT!
[GODDESS OF LOVE: HAMPIR SAJA! Jantung ilahiku nyaris berhenti berdetak!]
Ophelia menyandarkan punggungnya pada dinding marmer yang dingin, menatap layar transparan yang perlahan meredup.
‘Kehidupan tenang yang kuimpikan... sepertinya sudah resmi musnah malam ini.’
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗