Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tiiiii!
Suara melengking panjang dari monitor detak jantung menggema di ruang gawat darurat VVIP Rumah Sakit Pusat Medika ibukota.
Kepanikan luar biasa melanda ruangan serba putih tersebut pagi ini.
Di atas ranjang pasien, terbaring seorang pria paruh baya bernama Pak Darmawan.
Beliau adalah salah satu menteri paling berpengaruh di jajaran pemerintahan pusat.
Wajah menteri itu membiru mengerikan, mulutnya mengeluarkan busa putih bercampur darah hitam.
Urat-urat di lehernya menonjol seperti cacing yang meronta-ronta di bawah kulit.
Dokter Johan berdiri di samping ranjang dengan wajah yang dibuat-buat seolah sedang panik, padahal di dalam hatinya dia tersenyum sangat lebar.
"Cepat siapkan alat pacu jantung!" teriak Dokter Johan memberi perintah palsu kepada para perawat.
"Racun di dalam tubuh Pak Menteri menyebar terlalu cepat, organ hatinya mulai hancur."
Di luar ruangan kaca tersebut, puluhan wartawan dan anggota keluarga menteri sudah berkumpul dengan wajah tegang.
Siska juga berdiri di sana dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat.
Janda cantik itu terus meremas ponselnya dengan tangan yang berkeringat dingin.
Tadi pagi, asisten Pak Darmawan menelepon sambil marah-marah dan menuduh Klinik Nirwana telah menjual obat beracun.
Pak Menteri kolaps hanya lima menit setelah meminum sebutir Pil Vitalitas yang baru saja dibelinya dari jalur khusus.
"Nona Siska, Anda harus bertanggung jawab atas nyawa suami saya!" jerit istri Pak Darmawan sambil menangis histeris dan menarik-narik kemeja Siska.
"Kalau terjadi apa-apa padanya, saya akan menuntut Anda dan klinik Anda untuk dihukum mati!"
Siska menelan ludah dengan susah payah, dia tidak tahu harus menjawab apa karena bukti mengarah kuat pada pil mereka.
Cklek.
Pintu ruang gawat darurat terbuka, dan Dokter Johan melangkah keluar dengan raut wajah penuh duka yang sangat dramatis.
"Maafkan saya, Nyonya, racun di dalam pil herbal yang diminum Pak Menteri terlalu ganas," ucap Dokter Johan sambil menundukkan kepala.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi racun itu bukan penyakit medis biasa, melainkan ekstrak bisa mematikan yang sengaja dimasukkan ke dalam pil tersebut."
Mendengar hal itu, seluruh wartawan langsung menyorotkan kamera mereka ke arah Siska.
Keluarga menteri menangis semakin histeris.
Dokter Johan menatap Siska dengan senyum sinis yang sangat licik dan merendahkan.
"Polisi sudah dalam perjalanan kemari, Nona Siska."
"Klinik ilegal kalian tidak hanya menipu, tapi juga melakukan percobaan pembunuhan berencana pada pejabat negara."
Siska merasa kakinya lemas, dunia seolah berputar di sekelilingnya.
Dia nyaris jatuh pingsan jika saja sepasang lengan yang sangat kuat tidak tiba-tiba menangkap bahunya dari belakang.
Grep.
Siska menoleh ke belakang dan langsung menangis lega saat melihat wajah tampan Bayu yang menatapnya dengan sangat tenang.
"Tidak perlu menangis, Siska, langit tidak akan runtuh selama aku masih berdiri di sini," ucap Bayu dengan suara bariton yang sangat menenangkan.
Aroma maskulin Bayu langsung meredakan kepanikan di dada Siska, membuat wanita itu kembali merasa aman.
Di sebelah Bayu, Aurel Aditama berdiri dengan wajah sedingin es, dikawal oleh empat tentara bersenjata laras panjang.
"Minggir kalian semua!" bentak Aurel dengan suara lantang yang menggetarkan lorong rumah sakit.
Para tentara itu langsung bergerak membuka jalan, mendorong mundur wartawan dan keluarga menteri tanpa pandang bulu.
Melihat kedatangan Bayu dan pasukan militer, senyum licik di wajah Dokter Johan perlahan memudar.
"Apa-apaan ini?! Ini rumah sakit, bukan pangkalan militer!" protes Dokter Johan dengan suara keras.
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke area steril ini?"
Bayu melepaskan rangkulannya dari Siska, lalu berjalan santai menghampiri Dokter Johan.
Tatapan mata pemuda itu sedingin pedang es yang baru diasah.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang dokter yang gagal menyelamatkan nyawa pasiennya," sindir Bayu dengan nada mematikan.
"Tutup mulutmu, anak udik!" balas Dokter Johan membentak.
"Pasien ini sekarat karena pil racun dari klinik sampahmu itu, kau tidak berhak bicara soal menyelamatkan nyawa!"
Bayu hanya tertawa pelan, tawanya terdengar sangat meremehkan dan penuh dominasi.
"Pil milikku bisa membangkitkan orang mati, hanya orang bodoh atau orang licik yang menyebutnya racun."
Bayu melangkah maju melewati Dokter Johan, berniat masuk ke dalam ruang gawat darurat.
"Berhenti di sana! Penjaga, tahan anak ini!" teriak Dokter Johan panik.
Dua petugas keamanan rumah sakit berniat maju, namun Aurel langsung mencabut pistol dari pinggang salah satu tentaranya dan menodongkannya ke udara.
Klik.
Suara pelatuk peluru yang dikokang membuat seluruh lorong itu langsung sunyi senyap seperti kuburan.
"Siapa pun yang berani menyentuh Tabib Dewaku, akan aku tembak kepalanya detik ini juga," ancam Aurel dengan tatapan mata seorang psikopat gila yang sedang melindungi harta paling berharganya.
Gadis pewaris jenderal itu benar-benar tidak peduli pada hukum ibukota, karena keluarganya adalah hukum itu sendiri.
Dokter Johan menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memucat melihat moncong pistol tersebut.
Dia hanya bisa diam mematung saat Bayu mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam ruang gawat darurat.
Di dalam ruangan, Bayu berdiri di samping ranjang Pak Darmawan yang napasnya sudah hampir berhenti.
Bayu tidak menggunakan stetoskop atau alat medis modern apa pun.
Dia mengangkat telapak tangan kanannya, giok hijau di bawah kulitnya langsung memancarkan cahaya redup yang hangat.
Bayu menempelkan tangannya tepat di atas dada Pak Darmawan, membiarkan energi Yang murni mengalir masuk menembus kulit.
Wushhh.
Hawa panas langsung menyebar di dalam dada sang menteri, memicu reaksi penolakan yang sangat kuat dari racun di dalam darahnya.
Mata tabib dewa Bayu bisa melihat dengan jelas ada gumpalan hitam kecil yang bergerak-gerak di dekat pembuluh jantung pasien.
"Parasit pemakan darah, trik kuno yang sangat murahan," gumam Bayu datar.
"Kau pikir mainan seperti ini bisa menipu mataku?"
Bayu menekan tiga titik meridian di sekitar dada pasien dengan jarinya, lalu memberikan satu hentakan energi yang sangat kuat.
Bam!
Tubuh Pak Darmawan tersentak keras ke atas ranjang.
Pria paruh baya itu tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan memiringkan tubuhnya ke samping.
Uhuk! Uhuk! Huek!
Pak Darmawan muntah dengan sangat keras, mengeluarkan segumpal darah hitam kental yang berbau sangat busuk ke atas lantai.
Di dalam genangan darah hitam itu, terlihat seekor cacing parasit berwarna ungu yang menggeliat mati karena terbakar energi panas Bayu.
Suara monitor detak jantung yang tadinya berbunyi nyaring kini perlahan kembali ke ritme normal yang stabil.
Tit. Tit. Tit.
Napas Pak Darmawan berangsur-angsur menjadi sangat lega, warna biru di wajahnya menghilang digantikan oleh rona merah yang sehat.
Wartawan dan keluarga menteri yang mengintip dari balik kaca pintu langsung bersorak gembira melihat keajaiban tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, menteri yang sudah divonis mati itu kembali bernapas normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.