"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Udara di pelataran minimarket terasa semakin mengepal. Serangan Bayu yang membabi buta mengarah lurus ke wajah Ibra. Namun, Ibra bukanlah pria yang mudah dilumpuhkan oleh kepanikan. Dengan refleks cepat dan gerakan yang sangat tenang, Ibra bergeser setengah langkah ke kanan sambil tetap merengkuh Naya erat dalam pelukannya. Tangan kirinya mengudara, menangkis pukulan kasar Bayu dengan cengkeraman kuat pada pergelangan tangan pria itu.
Brak!
Tenaga Bayu tertahan seketika di udara. Bayu terperanjat, matanya membelalak tak percaya saat menyadari cengkeraman Ibra pada tangannya begitu kokoh bagaikan jepitan besi.
"Lepaskan aku, Bajingan!" raung Bayu, mencoba menarik tangannya kembali, namun Ibra justru melintir pergelangan tangan itu ke bawah hingga Bayu meringis menahan sakit.
"Jaga sikapmu," ucap Ibra dengan suara rendah, berat, dan dipenuhi penekanan yang sangat merendahkan. Ia tidak kenal siapa pria berengsek di hadapannya ini, tetapi matanya menatap lurus ke celah iris mata Bayu tanpa ada keraguan sedikit pun. "Kamu berada di tempat umum. Dan lebih dari itu, kamu sedang berdiri di depan seorang anak kecil."
"Kamu tidak ada hak mengaturku! Maya itu istriku! Naya itu anakku!" Bayu berteriak meluapkan frustrasinya. Matanya melirik liar ke arah Maya yang berdiri gemetar di belakang Ibra, lalu kembali menatap Ibra dengan penuh kebencian.
"Kamu hanya orang luar yang sok jadi pahlawan! Lepaskan!"
Beberapa warga dan petugas keamanan minimarket mulai melangkah mendekat untuk melerai. "Mas, tolong jangan bikin keributan di sini. Kalau tidak bubar, kami panggil polisi!" ancam salah satu satpam dengan nada tegas.
Ibra menghentakkan tangan Bayu hingga pria itu terdorong mundur beberapa langkah. Bayu memegangi pergelangan tangannya yang memerah, napasnya tersengal-sengal oleh amarah dan rasa malu yang meluap. Di depan orang banyak, di depan Maya, dan di hadapan pria asing yang tampak jauh lebih unggul dan berwibawa darinya ini, harga diri Bayu hancur berkeping-keping.
"Mimo... Naya takut..." tangis Naya semakin pecah di ceruk leher Ibra. Tangan kecilnya mencengkeram kemeja Ibra begitu erat, seolah-olah Ibra adalah satu-satunya benteng pertahanan yang membuatnya merasa aman dari raungan ayahnya sendiri.
Maya melangkah mendekat dengan air mata yang menetes basah di pipinya. "Mas Bayu, tolong pergi. Cukup. Jangan buat Naya makin trauma melihat kamu seperti ini."
"Kamu yang membuat anak ini trauma, Maya!" tuduh Bayu dengan menunjuk muka Maya. "Kamu bawa dia kabur, kamu jauhkan dia dari bapaknya, lalu kamu tempelkan dia ke laki-laki lain! Kamu wanita tidak benar!"
"Cukup!" potong Ibra dengan nada bicaranya yang menggelegar, memotong makian Bayu seketika. Ibra menyerahkan Naya perlahan ke dalam pelukan Maya. Dengan sigap, Maya mendekap putrinya erat-erat dan bergeser ke belakang tubuh tinggi Ibra.
Ibra maju satu langkah, menutupi seluruh keberadaan Maya dan Naya dari pandangan pria asing itu. Sikap tubuhnya memancarkan otoritas penuh yang membuat beberapa warga di sekitar mengangguk setuju pada tindakan perlawanannya.
"Siapa pun kamu, proses hukum atau masalah yang ada di antara kalian bukan alasan untuk bertindak kasar," kata Ibra dingin, menatap Bayu dengan sorot mata menilai. "Jika kamu memang seorang pria yang memiliki martabat, selesaikan masalahmu secara dewasa. Bukan dengan cara mengintimidasi seorang wanita dan anak kecil di pinggir jalan seperti preman."
"Kamu... kamu tidak tahu apa-apa soal kami!" desis Bayu, giginya bergeletuk menahan geram.
"Aku tidak perlu tahu siapa kamu untuk melihat bahwa caramu ini salah," balas Ibra datar dan tajam. "Dan mulai detik ini, ingat kata-kataku baik-baik. Kalau kamu sekali lagi berani mendekati atau mengancam mereka dengan cara-cara kasar seperti ini, aku tidak akan segan-segan membawa hal ini ke jalur hukum. Aku pastikan kamu berurusan dengan hukum atas tuduhan pengancaman dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Kamu mengancamku?!" Bayu menyeringai sinis, berusaha menutupi ketakutan yang mulai merayapi benaknya saat mendengar kata 'hukum' dari mulut pria berkharisma itu.
"Aku tidak mengancam. Aku memberi peringatan," tegas Ibra tanpa kedip.
Ibra kemudian berbalik membelakangi Bayu, menatap Maya yang masih mengusap punggung Naya dengan tangan yang gemetar. Sorot mata Ibra yang tadi sedingin es seketika melunak saat menatap wanita itu.
"Kita masuk ke mobil sekarang, Maya. Biarkan dia menyelesaikan emosinya sendiri," bisik Ibra lembut namun pasti.
Maya mengangguk pelan. Ia tidak sanggup lagi menatap Bayu. Rasa takut, kecewa, dan trauma atas masa lalu seolah terangkat sedikit demi sedikit saat melihat bagaimana Ibra berdiri pasang badan untuk melindungi dirinya dan Naya dari pria yang dulu bertindak sebagai suaminya.
Ibra membukakan pintu mobil SUV hitamnya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia membiarkan Maya dan Naya masuk terlebih dahulu ke kursi tengah. Sebelum masuk ke kursi pengemudi, Ibra sempat melirik sekilas ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di pelataran minimarket, dikelilingi oleh pandangan sinis dari warga sekitar.
Bayu mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mobil mewah itu perlahan bergerak meninggalkan pelataran minimarket, membawa serta istri dan anaknya menjauh dari jangkauannya.
Di dalam mobil, suasana mendadak hening. Hanya terdengar isak tangis Naya yang perlahan mulai mereda karena usapan lembut di kepalanya. Maya memeluk putrinya erat-erat, membenamkan wajahnya di dada Naya sambil terpejam. Air matanya terus menetes, bukan hanya karena kaget atas bentakan Bayu, tetapi juga karena rasa lega yang luar biasa.
Dari kaca spion tengah, Ibra memperhatikan Maya. Ada rasa bersalah dan amarah yang tertahan di dada pria itu.
"Kamu tidak apa-apa, Maya?" tanya Ibra pelan, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang sejuk.
Maya mendongak sedikit, menatap bayangan Ibra dari kaca spion. Ia menyapu air matanya dengan ujung jilbabnya.
"Saya tidak apa-apa, Kak... Terima kasih," jawab Maya dengan suara parau. "Terima kasih banyak sudah melindungi kami tadi. Saya... saya tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau Kak Ibra tidak ada."
Ibra menghela napas panjang, menatap lurus ke jalan raya di depannya. "Aku sudah bilang, selama kamu bersamaku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian lagi. Siapa pun pria tadi."
Kalimat itu diucapkan Ibra dengan begitu tulus dan mantap, membuat dada Maya berdesir hebat. Pertanyaan Ibra tadi pagi tentang kesiapan Maya untuk menikah kembali mendadak berputar ulang di kepalanya. Di tengah ancaman dan bahaya yang dihadirkan oleh Bayu, keberadaan Ibra terasa seperti satu-satunya pelabuhan aman yang siap menampung seluruh badai hidupnya.
Sementara itu, jauh di belakang mereka, Bayu menendang ban mobil sedan hitamnya dengan luapan amarah yang tak tertampung.
"Sialan! Sialan kamu, Maya! Sialan laki-laki itu!" teriak Bayu dalam hati.
Egonya yang hancur kini bertransformasi menjadi dendam yang makin membara. Ia tahu ia tidak bisa lagi merebut Maya dengan cara kasar di jalanan, tetapi ia juga menolak untuk kalah begitu saja. Bayu menyambar ponselnya yang ada di dalam saku, menyalakan mesin mobilnya kasar, dan memutuskan untuk menyusun rencana baru.