Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Pernikahan
Dalam sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar, yang disiapkan khusus untuk tempat calon pengantin wanita dalam merias diri. Di depan cermin besar, sang pengantin duduk dengan anggun dalam larutan pakaian muslimah yang begitu cantik.
Busana panjangnya terlihat elegan dengan detail lembut yang memancarkan kesan anggun dengan sederhana. Hijab yang dikenakan Aisyah terpasang rapi, membingkai wajahnya dengan sempurna.
Aisyah menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin, senyum kecil perlahan muncul di bibirnya, tetapi sorot matanya terlihat jelas bahwa kebahagiaan itu bercampur dengan rasa gugup.
Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar di dada yang terasa semakin cepat.
Jemarinya kemudian bergerak merapikan bagian ujung hijab, meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu diperbaiki. Gerakan kecil itu justru menunjukkan betapa gugupnya Aisyah yang menyadari hari besar tersebut telah tiba.
Aisyah kembali menatap cermin, lalu tersenyum lebih lebar ketika menyadari bahwa dirinya kini benar-benar mengenakan pakaian seorang pengantin.
Tidak pernah terbayangkan oleh Aisyah, usianya yang 23 tahun harus menikah, Aisyah sangat teliti mencari calon suami, tetapi Kakak dari sahabatnya itu sudah dia kenal dengan baik.
Meski banyak keraguan tetapi Aisyah sudah melaksanakan shalat istikharah dan mungkin ini adalah jawaban sholat dengan kelancaran persiapan pernikahan sampai hari ini.
Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari wajah. Namun dibalik senyum itu tersilap rasa haru dan gugup, perasaan seseorang ketika menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan memasuki babak baru.
Apakah nasib pernikahannya akan sama seperti nasib bundanya. Hal yang menjadi ketakutan Aisyah karena hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
"Semua pasti akan baik-baik saja Aisyah," gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.
KREKKKK!
Suara pintu kamar terbuka,
"Masyallah sahabatku cantik sekali," Amira memakai dress berwarna biru, dress sopan dengan panjang semata kakinya dan lengan panjang, terlihat anggun yang tidak lupa rambutnya disanggul.
Kata pujian yang keluar dari mulutnya bukan hanya sekedar kata, tetapi kenyataan karena terlihat dari ekspresi tulus menghampiri sahabatnya itu dengan memegang kedua bahu Aisyah dan keduanya saling melihat dari bayangan cermin.
"Cantiknya!" ucapnya sekali lagi, mata Amira bahkan berkaca-kaca, ikut bahagia atas kebahagiaan Aisyah hari ini.
Amira kemudian berlutut di depan Aisyah, memegang kedua tangan Aisyah yang terasa begitu dingin, tatapan dari Amira begitu dalam dan sangat tulus.
"Aku tidak menyangka kamu yang pertama menikah? kamu masih ingat tidak, dulu kita pernah membicarakan pernikahan di saat kecil dan pada saat itu, kita ingin menikah secara bersamaan, tetapi jodoh kamu terlebih dahulu datang dibandingkan aku," ucap Amira.
"Insyallah, setelah ini kamu juga akan menyusul," ucap Aisyah.
"Amin...." Aisyah mengucapkan Amin begitu panjang.
"Aisyah kamu memulai kehidupan yang baru, aku akan tetap menjadi sahabat kamu, aku akan tetap berada di pihak kamu meski kamu telah menjadi istri dari Kakakku. Jadi apapun yang membuat hati kamu gundah, kesal dan lain sebagainya, kamu harus mengatakan yang sebenarnya kepadaku," ucap Amira.
"Iya," sahut Aisyah dengan menganggukkan kepala.
"Ya sudah, sahabatku sekarang kita langsung saja keluar, calon suamimu sudah menunggu dia pasti akan langsung jatuh cinta ketika melihat calon pengantinnya benar-benar cantik, atau mungkin cintanya akan begitu besar," ucap Amira lagi-lagi menggoda sahabatnya itu.
"Sok iya kamu," sahut Aisyah dengan kekesalan di wajahnya.
"Ayo cepat!" ajak Amira membantu Aisyah berdiri.
******
Tamu undangan sejak tadi sudah memenuhi kursi-kursi yang disusun secara rapi. Disusun berjejer dengan meja panjang, kursi-kursi itu saling berhadapan dengan dua sisi kiri dan kanan, sementara di tengah terlihat jarak dengan lantai kaca transparan, pinggir-pinggir lantai itu diberi bunga-bunga putih yang dipadukan dengan berwarna pink.
Jalan lantai kaca yang disiapkan menuju pelaminan, menuju tempat ijab kabul yang sudah disediakan di sana, di mana pengantin pria Kaivan yang sudah setia menunggu, sangat tampan menggunakan pakaian adat Melayu berwarna putih, terlihat sarung yang dililit pendek sepahanya menambah kesan ketampanan dan berwibawa, Kaivan yang saat ini meminang seorang wanita yang tak lain adalah sahabat adiknya.
Dekorasi pernikahan itu benar-benar terlihat sangat indah, paduan bunga-bunga berwarna pink dan putih disatukan, angin sepoi-sepoi membuat gorden bergoyang-goyang, lokasi pernikahan yang dipilih di dekat pantai.
Untuk keluarga sendiri, ternyata memakai seragam yang sudah disiapkan Rahma dan Lidya secara kompak, warna biru muda sesuai dengan warna yang telah dipakai Amira.
"Sebaiknya langsung saja kita mulai pernikahannya, mempelai pengantin wanita juga sudah siap!" pembawa acara memberi arahan kepada penghulu, para saksi dan juga pengantin pria untuk segera melakukan ijab Kabul.
"Kaivan kamu sudah siap?" tanya Toni.
"Iya Pa!" jawabnya dengan datar.
"Baiklah kalau begitu langsung kita mulai saja," sahut Toni.
Semua para saksi, wali nikah dan penghulu sudah menempati tempat duduk masing-masing. Sudah pasti Dharma yang akan menikahkan putrinya.
Setelah semua sudah siap, akhirnya Kaivan berjabat tangan dengan Dharma.
..."Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau Kaivan Alexander dengan putri kandung saya Putri Aisyah Fariska bint Dharma Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas 225 gram di bayar tunai,"...
..."Saya terima nikahnya Putri Aisyah Fariska bint Dharma Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"...
..."Bagaimana saksi!"...
..."Sah!"...
..."Sah!"...
..."Alhamdulillah...."...
Ijab kabul berjalan dengan lancar, saat ini mereka berdoa yang dipimpin oleh ustad, pernikahan benar-benar sah menjadi pasangan suami istri.
Setelah doa selesai, akhirnya pengantin wanita keluar juga yang didampingi oleh Amira.
Semua mata dan perhatian tertuju pada langkah pengantin yang cantik dan anggun itu berjalan di atas kaca transparan menghampiri suaminya yang baru saja selesai mengucapkan ijab kabul
Para tamu yang hadir dalam acara tersebut mengeluarkan senyum lebar mereka, dari sorot mata mereka sudah terlihat bahwa ada pujian yang diberikan kepada mereka atas panglingnya pengantin wanita.
Aisyah benar-benar cantik yang berhasil mencuri perhatian orang-orang, ditambah lagi senyum tipis yang dikeluarkan wanita itu, tetapi tidak menutupi kegugupannya saat langkah itu semakin dekat pada Kaivan.
Rahma, sebagai seorang ibu, terharu dan bahkan air matanya menetes saat melihat putrinya yang saat ini sedang menjadi istri dari Kaivan, Lidya yang berada di samping Rahma menggenggam tangan Rahma, menguatkan Rahmah yang pasti dia tahu bahwa besannya itu sangat sedih.
Lidya tersenyum dengan menganggukkan kepala kepada Rahma, dia juga sangat bahagia putranya akhirnya bisa menikah dengan gadis yang baik, lepas dari masa lalu putranya yang tidak bisa melupakan mantan kekasihnya, Lidya sangat merasa berhasil akhirnya putranya bisa lepas dari bayang-bayangan masa lalu kita.
Aisyah yang berjalan semakin dekat menghadapi suaminya tiba-tiba saja matanya harus tertuju pada salah satu tamu membuat senyum di wajah itu hilang. Kamila istri muda dari ayahnya ternyata turut hadir dalam acara pernikahan itu.
Kamila tersenyum lebar menatap Aisyah, Kamila terharu dengan mata berkaca-kaca melihat cantiknya Aisyah, tapi tidak dengan Aisyah, justru entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja tidak bahagia dan apalagi melihat Kamila memakai seragam yang sama dengan ibunya.
"Kamu akhirnya menikah. Mama sangat bahagia, kamu bisa mewujudkan impian kamu untuk menikah dengan Kaivan," batin Kamila terharu yang terus menatap mata Aisyah.
Bersambung.....
suaminya loh ....pengantin baru looh