Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERCIPTA NYA PASUKAN ABADI
Meskipun Kerajaan Solaria telah berdiri utuh kembali tanpa cela, sisa-sisa rasa syok dari serangan dadakan Granvalia masih berbekas di benak Alan. Ia duduk di ruang kerja utama istana sambil menopang dagu, memperhatikan Yumi yang sedang merapikan beberapa berkas di dekatnya.
[Tuan Alan,] suara Melodina memecah keheningan ruangan. Layar transparan biru melayang tepat di depan Alan.
"Ada apa, Melodina?" tanya Alan lesu.
[Mengingat insiden serangan dari Kerajaan Granvalia sebelumnya, saya sangat menyarankan Anda untuk segera memanifestasikan Pasukan Militer Abadi untuk Kerajaan Solaria.]
Alan langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, ah. Nanti makin berlebihan. Kemarin cuma bayangin pelayan aja muncul seribu orang. Kalau buat pasukan militer, aku takut malah bikin kekacauan yang nggak diinginkan."
[Namun, Tuan Alan...] Melodina memajukan layarnya sedikit. [Meskipun Anda pribadi tidak dapat terluka di dalam Domain Absolut, struktur fisik kerajaan dan keselamatan Yumi serta seribu pelayan lainnya bisa berada dalam bahaya jika ada serangan kejutan berikutnya. Apakah Anda tega melihat Yumi dan yang lainnya ketakutan seperti kemarin?]
Alan terdiam. Ia menoleh menatap Yumi. Gadis berambut perak itu memang tersenyum manis saat menyajikan teh, tetapi Alan tahu betapa cemasnya Yumi saat benteng ini hancur kemarin.
"Kamu benar," desah Alan pasrah seraya bangkit dari duduknya. "Aku nggak mau Yumi dan pelayan lain terluka atau ketakutan lagi. Oke, ayo kita bikin pasukannya."
Yumi yang mendengar hal itu langsung membungkuk hormat. "Terima kasih atas kepedulian Anda yang begitu besar, Tuan Alan."
Alan, didampingi oleh Yumi dan Melodina, berjalan menuju Arena Pelatihan Utama—sebuah lapangan raksasa di dalam istana yang sanggup menampung puluhan ribu orang.
Alan berdiri di panggung utama arena, mengamati area lapang yang luas di hadapannya. Ia memejamkan mata dan mulai memfokuskan pikirannya. Ia membayangkan sosok prajurit-prajurit tangguh bertubuh tegap, mengenakan zirah besi hitam berlapis ukiran emas Solaria, memegang pedang besar dan perisai baja yang tak terhancurkan, serta memiliki kekuatan fisik murni yang dahsyat.
WUSHHH! DUAAAMMM!
Udara di dalam arena mendadak bergetar hebat. Partikel-partikel sihir emas membumbung tinggi dari tanah, lalu mengkristal dan memadat menjadi garis-garis barisan yang sangat presisi.
Ketika cahaya surut, sepuluh ribu ksatria abadi berdiri tegak dalam formasi tempur yang sempurna! Zirah mereka berkilau tertimpa cahaya arena, memancarkan aura ketangguhan yang sangat mengintimidasi.
Tepat di barisan paling depan, berdiri seorang pria berbadan tegap dengan zirah paling megah dan jubah hitam keemasan. Pria itu melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Alan, diikuti oleh sepuluh ribu ksatria di belakangnya secara serentak.
TAK!
Gema benturan zirah besi mereka membentang megah di seluruh arena.
"Hamba dan seluruh barisan ksatria siap menerima perintah Penguasa Agung!" seru pemimpin ksatria itu dengan suara berat dan penuh wibawa.
Alan menatap pemimpin ksatria di hadapannya. "Mulai sekarang, namamu adalah Zero. Kamu adalah Kepala Ksatria Kerajaan Solaria."
Mata di balik helm zirah Zero berbinar terang. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam. "Hamba, Zero, bersama sepuluh ribu prajurit ksatria abadi, bersumpah akan menjadi pedang dan perisai Tuan Alan sampai akhir hayat!"
Alan tersenyum puas, lalu kembali melangkah ke depan arena. "Bagus! Sekarang, kita butuh penyerang jarak jauh dan dukungan sihir."
Alan memejamkan matanya kembali. Kali ini ia membayangkan para ahli sihir yang menguasai berbagai elemen, mengenakan jubah keagungan berwarna hijau zamrud dengan tongkat sihir berintan emas di tangan mereka.
FLASH!
Pusaran energi sihir murni berwarna hijau meledak di sisi kiri arena. Hanya dalam sekejap, lima ribu penyihir abadi bergaun dan berjubah hijau zamrud terwujud secara sempurna!
Di barisan terdepan penyihir tersebut, seorang wanita anggun berambut hijau panjang dengan tongkat sihir berukir naga melangkah maju dan berlutut di samping Zero.
"Nama kamu adalah Akami," ucap Alan langsung. "Kamu adalah Kepala Penyihir Kerajaan Solaria."
Akami membungkuk penuh keagungan. "Terima kasih atas anugerah nama ini, Tuan Alan. Lima ribu penyihir di bawah perintah Akami siap membumihanguskan siapa pun yang mengganggu ketenangan Anda."
Dengan demikian, 15.000 Pasukan Abadi Solaria telah resmi terbentuk!
Karena penasaran dengan kemampuan pasukan yang baru saja ia buat, Alan memanggil layar Sistem. "Melodina, bisa tolong tampilkan status dan kekuatan mereka?"
[Menampilkan data analisis status pasukan...]
Layar biru transparan berukuran besar mendadak muncul di udara, menampilkan rincian angka kekuatan yang langsung membuat mata Alan, Yumi, dan para pelayan membelalak lebar.
* Prajurit Ksatria & Penyihir Biasa: Level 500
* Zero (Kepala Ksatria): Level 1.500
* Akami (Kepala Penyihir): Level 1.500
"L-Level lima ratus?! Pemimpinnya Level seribu lima ratus?!" jerit Alan kaget setengah mati, sampai refleks melangkah mundur. "Tunggu dulu! Di dunia ini rata-rata level manusia biasa kan cuma belasan atau puluhan! Kenapa pasukanku kuatnya nggak masuk akal begini?!"
Yumi yang berdiri di samping Alan ikut terpana menatap angka fantastis tersebut. "Luar biasa... Ini adalah kekuatan tempur yang sanggup meratakan seluruh benua dalam sekejap..."
[Harap tenang, Tuan Alan,] sahut Melodina dengan nada santai tanpa dosa. [Karena pasukan ini dimanifestasikan langsung dari kekuatan Domain Absolut Anda, batas minimum level mereka disesuaikan dengan standar batas atas sihir di wilayah ini. Angka ini adalah batasan yang paling efisien untuk menjaga pertahanan Solaria.]
Alan memegangi kepalanya yang mendadak pusing. "Efisien dari mananya?! Ini sih namanya pasukan pembantai dewa!"
[Melanjutkan protokol pertahanan mutlak...] potong Melodina, mengabaikan teriakan Alan. [Mengaktifkan Perisai Mutlak (Absolute Barrier) untuk Kerajaan Solaria.]
WUSHHH!
Dari puncak menara tertinggi istana, sebuah kubah cahaya transparan keemasan menyebar secara melingkar, menutupi seluruh wilayah Kerajaan Solaria hingga ke batas Hutan Larangan.
[Perisai Mutlak telah aktif secara permanen,] lapor Melodina. [Mulai saat ini, segala bentuk sihir, fisik, proyeksi serangan udara, maupun infiltrasi dari pihak luar akan dihancurkan secara otomatis oleh perisai sebelum sempat menyentuh atau memasuki wilayah Kerajaan Solaria.]
Melihat kubah emas yang memayungi langit istana, ditambah keberadaan 15.000 pasukan ber-level monster di bawah pimpinan Zero dan Akami, Alan akhirnya bisa bernapas lega.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi arena sambil mengusap dadanya. "Yah... walau angkanya bikin senut-senut, yang penting sekarang tempat ini beneran aman. Nggak bakal ada yang bisa merusak istanaku lagi."
Yumi tersenyum hangat melihat majikannya yang mulai tenang kembali. "Selamat, Tuan Alan. Kerajaan Solaria kini telah memiliki benteng dan pelindung terkuat yang tak tertebus oleh siapa pun."