"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Meski perubahan sosok pengantin pria yang berdiri di samping Pearl Glow Hurt memicu kasak-kusuk samar di antara beberapa tamu undangan, pertanyaan-pertanyaan itu menguap secepat embun malam yang tersapu angin New York.
Bagi mayoritas kaum elit Manhattan yang hadir, siapa sebenarnya pria berjas hitam dengan aura mengintimidasi itu bukanlah masalah besar. Glow memang dikenal sangat protektif terhadap kehidupan pribadinya; selama Tiga bulan berpacaran dengan Leonardo, ia sama sekali tak pernah memublikasikan wajah kekasihnya ke media sosial maupun lingkaran pesta kelas atas.
Pria mana pun yang bersanding dengannya di atas panggung porselen malam ini otomatis dianggap sebagai pilihan terbaik keluarga Hurt.
Usai mengucapan ikrar suci dan prosesi ciuman pengantin yang memukau, alunan lagu-lagu ikonis dari orkestra membelah malam. Pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi dansa pertama—sebuah agenda yang secara khusus dirancang oleh Camilo dan Angelina untuk mengalihkan perhatian publik dari drama yang sempat terjadi di belakang panggung.
Di sudut tersembunyi mansion, jauh di balik pintu-pintu besi tebal di ruang bawah tanah, Leonardo DiCaprio sedang terikat kaku di atas kursi kayu. Dua pengawal bertubuh tegap milik Lucifer berdiri menjaga di sudut ruangan dengan wajah tanpa ekspresi, mengabaikan rintihan dan teriakan panik pria yang baru saja menyadari bahwa rencananya menguras aset keluarga Hurt telah hancur total.
Sementara di area taman utama yang disinari pendar lampu kristal, sebuah pemandangan emosional tersaji di balik bayang-bayang pilar marmer.
Lucifer Hurt berdiri memegang gelas gandumnya, menatap lurus ke arah panggung dansa. Di sampingnya, Dariush Chase Ashford—sang penguasa legendaris yang ditakuti seluruh Amerika—menatap pemandangan yang sama dengan senyuman hangat.
Kedua pria beda generasi itu sama sekali tidak menyangka bahwa takdir akan menyatukan keluarga mereka melalui cara yang begitu absurd. Selama ini, Glow dan seluruh media hanya tahu bahwa Lucifer Hurt adalah seorang konglomerat properti yang sukses dengan bisnis bersihnya.
Tidak ada yang pernah tahu rahasia besar di balik kejayaan itu: sejak puluhan tahun lalu, ketika Lucifer masih berada di Texas sebelum akhirnya memutuskan pindah ke New York, ia sudah menjadi kaki tangan paling dipercaya oleh Dariush Chase Ashford.
Ketika kepemimpinan garis bawah tanah diserahkan kepada Giovanni Ashford—ayah dari Lean—Lucifer tetap menjadi orang kepercayaan yang memegang kendali logistik dan jaringan aset penting. Lucifer sengaja menyembunyikan pekerjaan kelam ini dari Glow dan Camilo demi melindungi kedua anaknya dari bahaya dunia bawah tanah yang penuh darah.
"Aku masih merasa ini seperti mimpi, Tuan," bisik Lucifer dengan suara bergetar, matanya mengkilap oleh lelehan air mata haru. "Putri kecilku... kini menikah dengan cucu Anda."
Dariush menepuk-nepuk pundak Lucifer dengan telaten. "Tinggalkan panggilan formal itu, Lucifer. Kita sekarang keluarga. Cucuku mungkin terlihat dingin dan keras, tapi Orion tahu persis bagaimana cara menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Putrimu berada di tangan yang tepat."
Di tengah panggung dansa, Lean membimbing Glow berputar mengikuti alunan instrumen yang lembut. Senyuman tipis terukir di wajah Glow, walau matanya yang bening tampak berkaca-kaca menahan luapan emosi.
Usai putaran terakhir, Lean mengantarkan istrinya perlahan menuju ke arah Lucifer yang sudah menunggu di tepi panggung. Sang ayah meraih kedua tangan putri tunggalnya, mengambil alih posisi untuk dansa kehormatan antara ayah dan anak.
Lucifer menatap wajah Glow yang sangat memikat di bawah sinar lampu gantung. Usapan lembut jemari Lucifer di pipi Glow membuat pertahanan gadis itu perlahan goyah.
"Lihat, Alena..." bisik Lucifer lirih, menengadah sejenak ke arah langit malam New York dengan suara sarat kerinduan. "...putri kecilmu sudah memiliki suami."
Air mata yang sejak tadi ditahan Glow akhirnya menetas satu titik di pipinya. Sang ibu–Alena, telah meninggal dunia tepat di hari Glow dilahirkan ke dunia. Sepanjang hidupnya, Lucifer selalu berbisik bahwa wajah, keanggunan, hingga sifat keras kepala Glow adalah cerminan persis dari mendiang ibunya.
"Daddy..." bisik Glow serak, menyandarkan kepalanya sejenak di dada sang ayah yang hangat.
"Kau sangat cantik malam ini, Sayang. Ibumu pasti sangat bangga melihatmu," puji Lucifer lembut, mengusap rambut bergelombang putrinya sebelum perlahan memutar tubuh Glow dan menyerahkan kembali jemari ke tangan tegap pria yang sudah menunggu di samping mereka.
Orion Leander Ashford menyambut jemari Glow dengan cengkeraman yang stabil.
Glow menarik napas dalam-dalam, menyapu air mata di pipinya dengan cepat, berusaha mengembalikan raut wajah sombong dan anggunnya saat Lean membimbingnya kembali ke tengah panggung untuk dansa penutup.
Namun, begitu tubuh mereka menyatu dalam tempo musik yang lambat—lengan kekar Lean melingkar sempurna di pinggang ramping Glow, sementara tangan Glow bertengger di bahu tegap pria itu—kehangatan emosional tadi seketika menguap, berganti dengan tensi tajam yang menusuk.
Lean menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Glow. Bau parfum kayu cedar dan aura dingin yang intimidatif menyapu penciuman Glow.
"Kau punya hidangan pembuka setelah pesta pernikahan ini," bisik Lean dengan nada suara yang teramat datar dan dingin. "Jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk menangis. Aku khawatir kau tidak bisa mengimbangiku nanti."
Deg.
Jantung Glow mencelos seketika. Tubuhnya mendadak kaku dalam putaran dansa tersebut. Rasa haru yang baru saja ia rasakan hancur berkeping-keping oleh kalimat provokatif yang meluncur begitu mulus dari mulut suaminya.
Glow mendongak tajam, menatap iris mata Lean yang sejernih es dengan tatapan membunuh.
"Sialan kau," umpat Glow dengan bisikan tajam di antara ketukan musik. Wajahnya memerah padam menahan kekesalan. "Dalam mimpimu, Tukang Bengkel! Aku tidak akan pernah melayanimu!"
Lean mengangkat sebelah alisnya. Sebuah kedutan kecil yang sarat akan cemoohan muncul di sudut bibirnya.
"Melayani?" tanya Lean dengan nada sedikit menggoda, matanya berkilat dengan intensitas yang berbahaya. "Melayani siapa?"
Glow melotot, mengepalkan tangannya di bahu jas Lean. "Jangan berpura-pura bodoh! Kau pikir aku tidak tahu jalan pikiran mesum pria sepertimu?!"
Lean menyipitkan matanya, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga napas hangatnya berhembus menabrak kulit leher Glow yang terbuka.
"Kau salah paham, Istriku," bisik Lean rendah, suaranya mengandung nada intim yang membuat bulu kuduk Glow berdiri tegak. "Persiapkan dirimu, karena sebagai kanibal, aku lebih suka bagian lehermu. Di sana banyak lemak—bagian favoritku. Aku tidak terlalu suka bagian yang terlalu banyak daging."
•••
Usai berdansa dan melayani beberapa sapaan formal para tamu, Glow meminta izin ke kamar mandi demi mendinginkan kepalanya yang hampir mendidih akibat provokasi gila dari Lean. Namun, langkahnya langsung ditarik oleh Angelina menuju sudut lorong lantai satu yang sepi, jauh dari jangkauan kerumunan pesta.
Angelina memegang kedua bahu Glow dengan raut wajah yang campur aduk antara panik, kasihan, dan kelelahan mental. Sahabat terbaiknya itu menarik napas panjang, menatap Glow lurus-lurus sebelum melontarkan wejangan panjang lebar yang sudah tertahan di tenggorokannya sejak prosesi altar.
"Glow, dengarkan aku baik-baik," bisik Angelina dengan penekanan yang teramat intens. "Aku tahu kepala dan hatimu saat ini seperti dihantam badai tornado. Dalam kurun waktu kurang dari dua belas jam, kau dikhianati Leo, diselamatkan oleh skenario gila Om Lucifer, dan sekarang... kau resmi menjadi istri dari pria yang beberapa jam lalu kita temui di bengkel kusam Queens!"
Glow bersedekap, bersandar di dinding marmer sambil mendengus kasar. "Dia penipu, Lina. Dia cuma mekanik yang menggunakan nama besar keluarga Ashford untuk membual di depan pelanggan, lalu sekarang berlagak sok misterius dengan lelucon kanibal sampah itu."
"Justru karena itu kau harus bersabar ekstra keras!" pangkas Angelina cepat, matanya berbinar penuh keseriusan. "Kau tahu betul dia pria penipu yang memanfaatkan situasi ini, bukan? Pria seperti Lean itu berbahaya untuk diprovokasi secara mentah-mentah! Dia tidak punya beban reputasi seperti keluargamu. Kalau kau langsung menyerangnya dengan keangkuhanmu atau menyulut emosinya di malam pertama ini, kau sendiri yang akan kerepotan menanggung kegilaannya!"
Angelina mengelus lengan Glow, mencoba menurunkan tensi emosi sahabatnya. "Aku mohon, tahan dirimu. Mainkan peranmu dengan dingin dan cerdas. Bersabarlah menghadapi kepribadiannya yang abstrak dan provokatif itu. Anggap saja dia adalah proyek rehabilitasi atau batu loncatan sampai situasi skandal keluarga kalian benar-benar stabil. Jangan biarkan dirimu terpancing oleh gertakan mesum atau bualan kanibalnya. Pria penipu yang merasa dirinya di atas angin biasanya akan hancur sendiri kalau kau menghadapinya dengan kepala dingin dan strategi, bukan dengan ledakan emosi."
Glow menatap sahabatnya, matanya berkedip pelan mencerna setiap bait nasihat Angelina. Ucapan itu ada benarnya. Mengamuk atau bersikap histeris hanya akan membuat Lean merasa berhasil memancingnya.
"Jadi..." Glow menarik napas panjang, mengulas senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin, "...kau ingin aku berpura-pura menjadi istri penurut yang sabar, sementara aku mengumpulkan kartu as untuk membungkam mulut sombongnya?"
"Tepat sekali!" seru Angelina lega, menepuk dada. "Kendalikan emosimu, Pearl Glow Hurt. Biarkan pria penipu itu merasa dia menang malam ini, tapi pastikan kau yang memegang tali kendalinya besok pagi."
Glow mengangguk pelan, menyapu lipstik di bibirnya dan merapikan gaun satin gadingnya. Rasa panas di dadanya kini berganti menjadi dingin yang penuh perhitungan. Ia siap kembali ke area pesta, menghadapi Lean dengan topeng kesabaran paling sempurna yang bisa ia ciptakan.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍