[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Duduk di tempatmu. Tetap diam di situ dan jangan berani bergeser satu senti pun. Jangan pernah berharap kau bisa lolos dari jangkuanku dengan menggunakan akting murahanmu itu kali ini, Elisa."
Mendengar gertakan dingin itu, Elisa langsung bungkam seribu bahasa, seluruh nyali manusianya seketika menciut hingga seukuran butiran debu. Ia terpaksa kembali memosisikan tubuhnya duduk tegak di atas kursi beludru dengan kedua tangan terlipat rapi di atas pangkuan, persis menyerupai gestur seorang anak sekolah dasar yang sedang diinterogasi oleh kepala sekolah paling galak sedunia.
"Aku... aku benar-benar tidak mengenal siapa dirimu. Aku harus segera pergi dari tempat ini," cicit Elisa dengan nada suara yang bergetar menahan ngeri.
Meskipun hatinya menciut, ia mencoba membuang muka ke arah jendela, menundukkan kepalanya dalam-dalam agar tidak perlu berpapasan langsung dengan sepasang mata hitam pekat yang teramat mengintimidasi itu.
Jonas tidak memberikan jawaban verbal. Tubuh jangkung dan tegapnya perlahan bangkit berdiri dari kursi seberang, lalu mengambil posisi berjongkok tepat di hadapan lutut Elisa.
Jarak fisik di antara keduanya mendadak terkikis ekstrem, hingga Elisa bisa mencium dengan sangat pekat aroma laut dingin yang maskulin menguar dari permukaan kulit tubuh pemuda itu.
"Jangan pernah berani mendekat atau bertindak macam-macam padaku! Aku akan berteriak sekencang—"
"Coba saja kalau kau berani melakukannya," potong Jonas cepat dengan nada suara bariton rendah yang menusuk tulang.
"Berteriaklah sekencang mungkin yang kau bisa, jika kau memang memiliki keinginan besar untuk segera kuserahkan pada puluhan prajurit Elf Hutan yang saat ini sedang haus darah di luar sana."
Elisa menelan ludahnya dengan susah payah, seluruh pertahanan nyalinya yang setipis tisu kini hampir robek sepenuhnya.
"A-ku... aku sama sekali tidak takut padamu!"
"Kau... benar-benar sengaja sedang memancing batas kesabaranku, Gadis Bodoh!"
Jonas secara mendadak mengulurkan tangan kekarnya, meraih pergelangan kaki telanjang Elisa yang terluka akibat guratan duri hutan Alfheim tadi.
Ia mengangkat pergelangan kaki itu ke atas tanpa meminta izin, seketika membuat Elisa terpekik kaget akibat kejutan fisik tersebut.
Jemari pucat Jonas bergerak pelan, menyentuh tetesan cairan darah murni yang mulai mengering di atas permukaan kulit betis Elisa, lalu tanpa diduga oleh nalar manusia Elisa sedikit pun, Jonas menarik jemarinya dan menjilat ujung jarinya sendiri yang telah ternoda oleh bercak darah tersebut.
"Manis. Ternyata ucapan Jonah sama sekali tidak salah, rasa darah murnimu jauh lebih menggoda dan memabukkan daripada bauran aromamu," bisik Jonas dengan seulas seringai tipis yang memancarkan aura kegelapan yang mengerikan di bibir rupawannya.
Seluruh permukaan tubuh Elisa bergetar hebat dilingkupi rasa ngeri yang teramat sangat. Ia memejamkan sepasang matanya rapat-rapat, bersiap pasrah dalam ketakutan jika sepasang taring tajam milik pemuda di depannya ini akan segera menembus kulit vena lehernya.
Namun, alih-alih gigitan maut yang mematikan, Elisa justru merasakan sebuah benda bermaterial dingin dan steril menyentuh permukaan luka lecetnya.
Saat ia memberanikan diri membuka mata, ia mendapati Jonas sedang mengeluarkan beberapa lembar plester luka medis dari dalam saku celana jeans-nya.
"Kau sedang berpikir bahwa aku akan melakukan tindakan mesum padamu di dalam kereta ini, hm?"
Jonas menempelkan plester luka itu ke atas kulit betis Elisa dengan memberikan tekanan jari yang sengaja dikeraskan, seketika membuat Elisa meringis kesakitan menahan perih.
"Dengar baik-baik, Gadis Bodoh! Aku sama sekali tidak memiliki tabiat yang sama seperti Jonah ataupun Josiah. Aku sedikit pun tidak tertarik, apalagi sampai terpesona oleh eksistensi manusia lemah sepertimu. Camkan hal itu di dalam kepalamu."
Jonas bangkit berdiri tegap, menatap lurus ke arah wujud Elisa dari ketinggian postur tubuhnya dengan sepasang mata yang memancarkan binar meremehkan.
"Mulai detik ini, aku sendiri yang akan mengawasi setiap jengkal pergerakan hidupmu. Jika kau sampai berani membuka mulut fanamu untuk menyebarkan rahasia klan kami pada manusia lain di kota, aku sendiri yang akan memastikan pasokan napasmu berhenti hari itu juga."
Jonas kemudian menunduk, mencengkeram dagu Elisa dengan cengkeraman kuat, memaksa wajah manis gadis itu terangkat mendongak menatapnya. Bibir tipis Jonas mulai merapalkan untaian mantra kuno dalam bahasa Demon kuno yang terdengar menyerupai desisan ular beludru yang mematikan.
Wussshhh!
Jonas meniupkan sebaris kabut tipis berwarna keperakan tepat ke arah permukaan wajah Elisa—sebuah sihir penghilang memori tingkat tinggi milik bangsa Iblis, yang seharusnya secara absolut sanggup membuat memori manusia mana pun langsung menguap dan melupakan segala hal perihal ras Immortal.
Elisa mengerjap-ngerjapkan sepasang matanya sesaat karena merasa kelilipan kabut, lalu tiba-tiba saja, seluruh raut wajah manusianya berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak bebas.
"Tindakan gila apa yang baru saja kau lakukan pada wajahku, Pria Brengsek?!" semprot Elisa berang, sama sekali tidak menyisakan adanya nada suara linglung ataupun efek amnesia di dalam kesadarannya.
Jonas seketika tersentak hebat di tempatnya berdiri, sepasang mata hitam pekatnya membelalak sempurna dilingkupi rasa tidak percaya yang teramat sangat.
"Heh! Jangan pernah berani berbuat seenaknya sendiri padaku, ya!"
Elisa bangkit berdiri dari kursinya, menunjuk tepat ke arah hidung mancung Jonas dengan keberanian yang meluap, sama sekali tidak memedulikan lagi urusan sopan santun fana.
"Kau pikir aku akan diam saja menerima perlakuan kasarmu?! Jika kau berani menyentuh atau melukai orang-orang yang kukenal di panti, aku bersumpah akan melaporkan seluruh tindakan kriminalmu ini ke kantor polisi atau siapa pun itu petinggi berwenang di tempat terkutuk ini!"
Jonas terlonjak kaget hingga tubuh besarnya hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke belakang menabrak dinding kayu kereta gotik tersebut.
Tunggu, ada apa dengan kekuatan sihirku? Kenapa kesadaran manusianya tetap terjaga utuh tanpa cacat? batin Jonas dirundung kepanikan batin yang masif.
Ia menatap nanar ke arah telapak tangan Demon-nya sendiri, lalu beralih menatap tajam ke arah wajah Elisa dengan kerutan alis yang teramat dalam.
Sihir manipulasi memoriku... sama sekali tidak berfungsi pada jiwanya? Ini benar-benar mustahil! Jangankan seorang manusia fana biasa, bahkan ras Demon tingkat rendah sekali pun dipastikan akan langsung pingsan tak sadarkan diri jika terkena sapuan mantra purba tadi. Siapa... siapa sebenarnya jati diri gadis ini?
"Kenapa kau malah diam mematung seperti orang bodoh?!" bentak Elisa frustrasi, emosinya yang terkuras sejak pagi kini mencapai batas puncaknya.
"Bukannya tadi kau bilang memiliki keinginan besar untuk menghabisi nyawaku?! Ayo, lakukan hal itu sekarang juga di depan wajahku! Aku benar-benar sudah merasa teramat lelah dengan semua drama supranatural gila ini. Aku menyerah! Aku tidak tahu di mana jalan pulang menuju duniaku dan aku benar-benar muak melihat wajah angkuhmu serta kedua saudaramu yang menyebalkan itu! Cepat, tancapkan taringmu dan hisap darah manusiaku ini sampai kering tanpa sisa!"
Elisa yang saat ini sudah kehilangan akal sehatnya akibat tekanan stres psikologis yang ekstrem, bergerak nekat maju ke depan.
Jemari tangannya mencengkeram kuat kerah kemeja hitam Jonas, menarik paksa tubuh pemuda yang jauh lebih besar darinya itu untuk mendekat ke arah wajahnya. Namun, tepat di saat tensi konfrontasi intim di antara keduanya memuncak hebat, kereta kuda gotik yang mereka tumpangi mendadak mengerem secara ekstrem.
Ciiiiittt!
Elisa seketika kehilangan keseimbangan kaki manusianya akibat guncangan roda. Tubuh tegap Jonas yang jauh lebih tinggi dan berat darinya justru terdorong kuat ke arah depan akibat tarikan tangan Elisa sendiri pada kerah kemejanya.
Bruakkk!
Jonas limbung sepenuhnya, menjatuhkan tubuh besarnya tepat menimpa tubuh Elisa di atas kursi beludru kereta. Gadis itu mengaduh kesakitan yang teramat sangat, merasakan seolah-olah seluruh struktur tulang manusianya sedang ditimpa oleh sebongkah batu pualam raksasa.
"Kau... kau ini berat sekali! Apakah kau setiap hari mengonsumsi darah sapi hidup-hidup atau bagaimana, sih?! Cepat bangun dan enyah dari atas tubuhku!"