Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Jawaban yang Sangat Dibutuhkan
Setelah hari itu, waktu seolah berjalan begitu cepat. Dua minggu kemudian, Mellisa dan Riza resmi bertunangan.
Acara pertunangan digelar dengan sederhana namun tetap penuh kehangatan di rumah keluarga Mellisa. Kedua keluarga berkumpul, menyaksikan ketika cincin disematkan di jari manis Mellisa.
Senyum terlihat di wajah semua orang. Terutama Riza. Lelaki itu tampak begitu bahagia. Setelah sekian lama menyimpan perasaan kepada Mellisa, akhirnya perempuan yang dicintainya bersedia menjadi bagian dari hidupnya.
Mellisa pun berusaha tersenyum. Dia menerima ucapan selamat dari keluarga dan kerabat, membalas candaan, bahkan sesekali tertawa ketika Riza menggoda dirinya.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah hatinya benar-benar telah baik-baik saja. Padahal, di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada luka yang belum sepenuhnya mengering.
Sebulan setelah pertunangan itu, hari yang telah dinanti akhirnya tiba. Mellisa dan Riza melangsungkan pernikahan mewah di sebuah ballroom hotel bintang lima di Kota Bandung.
Kota yang bukan sekadar tempat berlangsungnya pesta pernikahan mereka.
Bandung adalah kota tempat Mellisa dilahirkan, tumbuh, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya. Di kota inilah dia mengenal arti persahabatan, keluarga, cinta, juga patah hati.
Dan hari ini, di kota yang menyimpan begitu banyak kenangan itu, Mellisa memulai babak baru dalam hidupnya.
Ballroom hotel telah disulap begitu indah. Rangkaian bunga menghiasi hampir setiap sudut ruangan. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, sementara dekorasi elegan bernuansa putih dan krem membuat suasana pernikahan terasa megah sekaligus romantis.
Para tamu berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka. Keluarga besar Mellisa tampak sibuk menyambut para tamu. Sementara keluarga Riza pun tidak kalah bahagia.
Hari itu, semua orang melihat Mellisa sebagai seorang pengantin perempuan yang beruntung.
Cantik. Anggun. Dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
Mellisa berdiri di balik pintu ruang persiapan, mengenakan kebaya pengantin yang membuatnya terlihat begitu anggun. Riasan lembut mempertegas kecantikannya, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya.
Bu Tina berdiri di belakang putrinya. Tangannya perlahan menyentuh bahu Mellisa. “Cantik sekali anak Ibu.”
Mellisa tersenyum melalui pantulan cermin.
"Terima kasih, Bu.”
Bu Tina menatap putrinya beberapa saat. Ada kebahagiaan di matanya, tetapi juga kekhawatiran yang tidak mampu disembunyikannya. Dia masih ingat bagaimana Mellisa menangis empat hari sebelum akhirnya menerima Riza.
Dia masih ingat kamar putrinya yang berantakan.
Dan dia masih ingat satu nama yang saat itu begitu dibenci Mellisa untuk disebut.
Namun hari ini, semua itu harus diletakkan di belakang. "Sudah siap?” tanya Bu Tina.
Mellisa menarik napas panjang. Kemudian mengangguk. "Insya Allah.”
Di luar sana, musik mulai terdengar. Para tamu telah memenuhi ballroom. Riza sudah menunggu di pelaminan. Dan ketika pintu ballroom perlahan dibuka, seluruh perhatian tertuju kepada Mellisa.
Dia melangkah masuk. Satu demi satu. Dengan senyum yang terus dipertahankannya.
Hari itu, Mellisa bukan lagi perempuan yang menunggu Handoko kembali. Hari itu, dia adalah seorang pengantin. Seorang perempuan yang telah memilih untuk melangkah ke masa depan bersama lelaki lain.
Meski jauh di dalam hatinya, ada bagian dari masa lalu yang ternyata belum benar-benar berhasil dia tinggalkan. Betul, Kak. Jangan dibuka dulu soal kehidupan rumah tangga Mellisa dan Riza. Cukup mengikuti narasi yang Kakak berikan, supaya **kegagalan pernikahan mereka nanti menjadi plot twist** dan pembaca tidak mendapat petunjuk terlalu dini.
***
Mellisa menyeka air matanya. Rasanya seperti baru kemarin dia berdiri di pelaminan bersama Riza. Masih begitu jelas dalam ingatannya bagaimana hari itu dia mengenakan busana pengantin, melangkah menuju kehidupan baru yang sama sekali berbeda.
Ternyata, waktu telah berjalan begitu cepat.
Sudah dua puluh lima tahun berlalu sejak hari itu.
Dan sekarang, justru dirinya yang akan menikahkan putri semata wayang mereka, Kania.
Namun ada sesuatu yang membuat hati Mellisa kembali terasa sesak. Kania akan menikah dengan putra dari mantan kekasihnya dulu. Putra Handoko.
Mellisa kembali mengusap sudut matanya.
Tak pernah terbayangkan olehnya, setelah dua puluh lima tahun berlalu, nama Handoko akan kembali hadir dalam hidupnya. Bukan sebagai lelaki yang pernah dicintainya. Melainkan sebagai calon besan.
***
Di saat yang sama, di tempat yang berbeda, Handoko Priambodo masih menggenggam ponselnya erat. Tatapannya tak lepas dari layar yang sejak tadi menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.
Sudah berkali-kali dia mencoba menghubungi nomor yang diberikan Mellisa kepadanya. Namun, tidak satu pun panggilannya diangkat.
Handoko mengembuskan napas panjang, lalu kembali menatap layar ponselnya seolah berharap kali ini Mellisa akan menjawab.
"Mungkin di rumahnya masih banyak tamu,” gumamnya pelan.
Dia berusaha berpikir positif. Hari ini memang bukan hari biasa. Keluarganya baru saja datang ke rumah Mellisa untuk melamar Kania. Wajar jika suasana di sana masih ramai.
Namun, entah mengapa, sejak bertemu dengan Mellisa tadi, ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Rasa penasaran yang selama ini terkubur begitu saja, mendadak muncul kembali.
Handoko duduk bersandar di kursi ruang kerjanya. Jemarinya masih memainkan ponsel, tetapi pikirannya telah jauh melayang ke masa lalu.
Mengapa? Mengapa dulu Mellisa pergi begitu saja? Mengapa wanita yang begitu dicintainya itu tiba-tiba menghilang tanpa pernah mengatakan bahwa hubungan mereka telah berakhir?
Tak pernah ada pertengkaran besar. Tak pernah ada ucapan perpisahan. Tak pernah ada satu kalimat pun dari Mellisa yang mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan hubungan mereka.
Lalu, mengapa semuanya berakhir begitu saja?
Pertanyaan itu sudah dua puluh lima tahun lebih tersimpan di dalam benaknya. Dan sampai hari ini, Handoko tidak pernah mendapatkan jawabannya.
Kenangan itu kembali menyeruak. Dia masih bisa mengingat dengan jelas hari ketika dirinya membuka mata setelah sebulan berada dalam keadaan koma.
Saat itu, tubuhnya terasa begitu lemah. Bahkan untuk sekadar menggerakkan tangan pun dia membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Satu-satunya hal yang dia tahu adalah dirinya mengalami kecelakaan setelah mengantar kakaknya melamar kekasihnya. Mobil yang dikendarai sopir keluarga mereka mengalami kecelakaan hebat.
Ayah dan kakaknya meninggal dunia di tempat.
Sementara dirinya dan sang ibu mengalami luka berat. Handoko sendiri harus menjalani masa kritis hingga akhirnya tak sadarkan diri selama sebulan.
Satu bulan yang membuatnya kehilangan begitu banyak hal tanpa sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Setelah sadar, dia masih harus menjalani pemulihan selama kurang lebih dua minggu. Kondisinya belum benar-benar pulih, tetapi ada satu hal yang terus memenuhi pikirannya.
Mellisa. Wanita yang sejak awal ingin dia cari.
Wanita yang menjadi alasan dia ingin segera pergi ke Bandung setelah kondisinya memungkinkan.
Namun, saat itu ponselnya tidak ditemukan.
Semua kontak yang tersimpan di dalamnya ikut hilang. Dia bahkan tidak memiliki nomor Mellisa.
Setelah merasa cukup sehat untuk bepergian, Handoko akhirnya menyusul Mellisa ke Bandung. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Ada begitu banyak hal yang ingin dia ceritakan setelah semua yang terjadi padanya.
Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah kabar menghantamnya begitu saja. Mellisa sudah menikah. Bukan baru akan menikah. Bukan sedang mempersiapkan pernikahan. Mellisa sudah menikah sehari sebelumnya. Dan saat itu, perempuan yang begitu dicintainya tersebut sedang berbulan madu bersama suaminya di Paris, Prancis.
Handoko masih mengingat bagaimana tubuhnya seketika terasa lemas ketika mendengar kabar itu.
Dia tidak percaya. Rasanya seperti seseorang baru saja merenggut seluruh harapannya dalam satu detik.
Setelah semua yang dia lalui, setelah sebulan terbaring dalam koma, setelah berjuang memulihkan diri hanya demi kembali mencari Mellisa, ternyata perempuan itu sudah menjadi milik orang lain.
Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Tanpa sepatah kata pun tentang berakhirnya hubungan mereka.
Saat itu, Handoko merasa ditinggalkan begitu saja oleh wanita pujaan hatinya. Dan luka itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Kini, dua puluh lima tahun kemudian, Mellisa kembali hadir di hadapannya. Bukan sebagai kekasihnya. Bukan sebagai seseorang dari masa lalu yang bisa dengan mudah dia lupakan. Melainkan sebagai ibu dari calon menantunya.
Handoko kembali menatap layar ponselnya. Nomor Mellisa masih tertera di sana. Dia ragu sejenak sebelum kembali menekan tombol panggil.
Sekali lagi. Nada sambung terdengar.
Handoko menunggu. Namun, tetap tidak ada jawaban. Entah mengapa, semakin lama telepon itu berdering, semakin kuat pula keinginannya untuk mengetahui satu hal yang selama ini tidak pernah terjawab.
Apa yang sebenarnya terjadi dua puluh lima tahun lalu?