"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak tanpa basa basi
Rabu siang, kantin kantor rame seperti biasa. Rain baru saja mengambil nampan makan siangnya ketika dia nggak sengaja mendengar percakapan dari meja sebelah.Dinda, staf baru Finance yang beberapa minggu lalu genit bawa bekal buat Pandu, kini terlihat mendekati Kenzo yang sedang makan sendirian.
"Kak Kenzo, boleh gabung?" tanya Dinda, sudah duduk duluan sebelum sempat dijawab.
Kenzo hanya melirik sekilas, tetap fokus pada makanannya. "Boleh."
"Aku denger proyek yang Kak Kenzo pegang sekarang gede banget, ya. Keren deh," Dinda memulai obrolan, matanya berbinar penuh usaha.
"Biasa aja," jawab Kenzo singkat, nggak berusaha memperpanjang topik.
"Kak Kenzo tuh tipe orang yang susah ditebak, ya. Kadang serem pas rapat, tapi kalau di luar rapat kayaknya baik," Dinda melanjutkan, mencoba pendekatan lain.
"Aku sama aja di dalam dan di luar rapat," Kenzo menjawab datar, tanpa basa-basi berlebihan.
"Eh, ngomong-ngomong, weekend ini Kak Kenzo ada acara nggak? Aku denger ada pameran otomotif seru, sepertinya cocok buat Kak Kenzo"
"Ada acara keluarga," Kenzo memotong cepat, sebelum Dinda sempat menyelesaikan ajakannya. Nadanya tetap sopan, tapi jelas-jelas tanpa ruang untuk basa-basi lebih jauh.
Dinda tampak sedikit kikuk mendengar penolakan halus itu, tapi tetap berusaha tersenyum. "Oh, oke deh. Lain kali aja kalau gitu."
"Mungkin," jawab Kenzo, tanpa embel-embel harapan sama sekali.
Rain, yang duduk beberapa meja dari situ, diam-diam memerhatikan seluruh percakapan itu sambil menahan senyum geli. Beda banget caranya Kenzo menolak dibanding cara Pandu yang selalu berputar-putar dengan alasan yang terlalu ramah sampai orang lain jadi salah paham.
Begitu Dinda pergi, Kenzo justru berjalan menghampiri meja Rain, duduk di kursi kosong seolah itu hal biasa.
"Kamu ngeliatin dari tadi," komentar Kenzo, mulai makan lagi.
"Nggak sengaja denger," Rain membela diri, meski senyumnya masih tersisa. "Kamu tega banget nolak orang."
"Aku nggak nolak apa-apa. Aku cuma jujur nggak tertarik," Kenzo menjawab, seperti itu adalah hal paling sederhana di dunia.
"Nggak semua orang bisa sejujur itu," gumam Rain, lebih ke dirinya sendiri, teringat pola Pandu yang selalu berusaha nggak menyakiti perasaan siapa pun, termasuk perasaannya sendiri yang sering terabaikan karena terlalu berhati-hati.
Kenzo memerhatikan ekspresi Rain yang berubah sedikit murung. "Kamu lagi mikirin dia."
Bukan pertanyaan, lebih seperti pernyataan.
"Nggak," jawab Rain refleks, meski nadanya jelas menunjukkan sebaliknya.
"Rain." Kenzo menatapnya lurus. "Kamu boleh nunggu orang yang kamu suka sampai dia siap. Tapi jangan sampai kamu lupa, nunggu itu juga pilihan bukan keharusan."
Rain terdiam, mencerna kalimat itu lebih dalam dari yang seharusnya untuk obrolan makan siang biasa.
"Kenapa kamu ngomong gitu?" tanya Rain pelan.
"Karena aku nggak suka lihat orang yang aku.... " Kenzo berhenti mendadak, seperti baru sadar dia hampir mengucapkan sesuatu yang belum siap dia ungkapkan.
"Orang yang kamu apa?" Rain mendesak, jantungnya berdebar tiba-tiba.
Kenzo menghela napas pelan, memilih kalimat yang lebih aman. "Orang yang aku anggap rekan kerja terbaik, kalau terus-terusan nunggu tanpa kepastian."
Jawaban itu terasa seperti tameng, dan keduanya tampak menyadari hal yang sama, tapi tak satu pun berani membuka topik itu lebih jauh.
Sore harinya, Rain kembali ke mejanya, pikirannya masih penuh dengan kalimat yang terpotong tadi siang. Di tengah lamunan itu, ponselnya bergetar pesan dari Pandu.
**Pandu:** Rain, nanti malam ada waktu? Aku pengen ngomong sesuatu.
Rain menatap pesan itu cukup lama, jantungnya berdebar dengan alasan yang berbeda kali ini—campuran antara harap dan waswas, karena entah kenapa dia merasa firasat bahwa percakapan malam ini akan jadi titik penting, entah ke arah mana.
**Rain:** Boleh. Ketemu di kafe biasa aja?
**Pandu:** Oke. Jam 7 ya.
Rain menatap layar ponselnya sekali lagi, menghela napas panjang. Setelah berbulan-bulan menunggu, sepertinya malam ini Pandu akhirnya akan bicara.
Tapi entah kenapa, di sudut hatinya yang paling jujur, Rain nggak lagi seyakin dulu apakah dia masih menunggu-nunggu momen ini seperti yang dulu dia harapkan.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...