Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 - di jebak

Mawar mendengus kesal, kakinya menghentak pelan di lantai rumah sakit. Wajahnya terlihat cemberut, penuh kekesalan yang tertahan.

"Kenapa sih wanita itu selalu mengganggu Kak Daffa?!" gerutunya pelan, matanya menatap tajam ke arah lorong tempat Indah tadi lewat. "Kak Daffa malah terus saja bersikap acuh padaku. Padahal Papa sudah bilang aku ini calonnya nanti. Dia tidak boleh bersikap begitu padaku!"

Gigi Mawar gemeretak menahan amarah. Sebuah pikiran licik mulai menyusup di kepalanya. "Kalau begitu... aku harus lapor Om Gunawan dan Tante Ratih. Biar mereka yang menegur Daffa. Biar dia sadar siapa yang sebenarnya harus jadi pendamping hidupnya."

Namun tiba-tiba ia berhenti melangkah, bibirnya melengkung membentuk senyum licik yang penuh kebencian.

"Tunggu dulu... ada cara yang lebih baik. Kalau aku berbuat sesuatu, lalu melemparkan kesalahannya ke Indah... pasti Kak Daffa akan semakin menjauh darinya. Dia pasti akan membenci wanita itu."

Tanpa membuang waktu, Mawar segera menyelinap ke ruang administrasi yang sedang kosong. Tangannya gemetar — bukan karena takut, melainkan karena semangat jahat yang meluap. Ia dengan cepat menukar sampel tes dan lembar laporan hasil pemeriksaan pasien milik Indah dengan yang lain. Setelah yakin semuanya sudah tertukar, ia buru-buru keluar dari ruangan itu seolah tidak terjadi apa-apa.

Mawar tersenyum puas, menatap pintu ruangan itu dengan tatapan penuh kemenangan.

"Rasain lu, Indah! Lu bakal kena masalah besar. Lihat aja nanti, coba-coba berurusan sama gue. Kak Daffa pasti akan membenci lu selamanya!" batinnya tertawa jahat, lalu berjalan pergi dengan langkah tegap seolah tak ada yang terjadi.

Indah kembali ke ruang administrasi untuk mengambil hasil pemeriksaan pasien yang tadi ia tangani. Ia mengambil berkas itu dan membukanya sebentar untuk memastikan semuanya benar.

"Ini dia sampelnya... aku cek dulu deh," gumamnya pelan sambil meneliti isi laporan itu sekilas. "Ternyata hasilnya menunjukkan penyakit tidak berbahaya. Syukurlah, pasiennya akan baik-baik saja."

Tanpa ia sadari, berkas yang dipegangnya itu sudah bukan aslinya — Mawar sudah menukarnya diam-diam. Indah pun langsung menyimpannya dan berjalan keluar ruangan itu dengan tenang, kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang lega, tak tahu sama sekali bahwa masalah besar sedang menantinya di depan mata.

Indah sedang teliti memeriksa pasien di ruangan nomor 2, mencatat kondisi pasien dengan saksama, ketika tiba-tiba Mba Dewi, perawat yang bertugas di sana, bergegas menghampirinya dengan wajah cemas.

"Dokter Indah... sepertinya Dokter dipanggil sama Kepala Rumah Sakit sekarang. Katanya urusannya penting dan serius," ucap Mba Dewi pelan, namun terdengar jelas nada kekhawatirannya.

Indah mengerutkan kening, tangannya berhenti menulis. "Aku dipanggil? Ada apa ya?" tanyanya bingung.

"Belum tahu pastinya, Dok. Tapi suasananya terlihat serius sekali. Sepertinya ada masalah besar," jawab Mba Dewi pelan.

"Baiklah... aku ke sana segera."

Indah meletakkan pulpennya perlahan, hati mulai berdebar tak menentu. Ia berusaha tetap tenang, namun langkah kakinya terasa sedikit berat saat berjalan menuju ruangan Kepala Rumah Sakit. Sama sekali tidak menyangka bahwa masalah yang menantinya adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan — sebuah jebakan yang sudah disiapkan khusus untuknya.

Indah melangkah masuk ke ruangan rapat kerja dengan perasaan gelisah. Ruangan itu sudah penuh oleh para dokter senior, suasananya hening dan tegang. Di salah satu sisi, ia melihat Daffa dan Mawar juga hadir di sana.

Dokter Gunawan — ayah Daffa sekaligus Kepala Dokter rumah sakit ini — berdiri di depan dengan wajah serius dan tegas.

"Harap semuanya perhatikan. Saya baru saja menerima laporan hasil laboratorium. Ternyata ada kesalahan diagnosis pada pasien nomor 2. Ini sudah melanggar standar dan aturan profesi di sini," ucap Dokter Gunawan dengan suara berat dan menggelegar. Ia menatap sekeliling ruangan. "Siapa yang bertanggung jawab memeriksa pasien nomor 2?"

Indah maju satu langkah, meski hatinya berdebar kencang. "Saya, Dok. Ada apa ya?"

Dokter Gunawan melempar berkas laporan itu ke meja di hadapannya, membuat Indah terperanjat. "Kamu gimana sih?! Kok hasil laporannya bisa salah begitu?! Ini soal nyawa pasien, Dokter Indah! Kamu ngerti gak pentingnya menjaga martabat profesi kita? Bisa-bisa kamu ceroboh seperti ini!"

Indah tertegun, matanya membelalak melihat isi laporan yang sama sekali tidak ia kenal. "Saya... saya tidak tahu ini terjadi, Dok..."

Tiba-tiba Daffa berdiri, membelanya dengan tegas. "Pah, sepertinya ada kesalahpahaman. Indah tidak mungkin seceroboh itu. Ini harus diselidiki dulu lebih lanjut. Indah itu dokter yang berkompeten dan bertanggung jawab, Pak. Tidak mungkin dia melakukan kesalahan seberat ini tanpa sebab."

Indah menatap Daffa dengan mata berkaca-kaca, terharu ada yang mempercayainya di saat semua orang menuduh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara tegas namun sopan kepada Dokter Gunawan.

"Maaf sebelumnya, Dokter Gunawan. Saya jujur, saya hanya mengambil sampel tes lab tadi. Saya memeriksa sekilas dan hasilnya menunjukkan penyakit tidak berbahaya. Saya tidak tahu sama sekali kalau hasilnya sudah tertukar. Saya tidak bersalah, Dok. Saya berjanji akan mencari tahu siapa yang melakukan ini."

Di sudut ruangan, Mawar tersenyum tipis, puas melihat rencananya berjalan persis seperti yang ia inginkan. Indah sudah terjebak, dan Daffa justru membela — tapi siapa yang akan percaya nanti?

"Kamu sadar nggak kesalahan ini bisa membahayakan nyawa pasien?! Izin praktikmu saja bisa dicabut, Indah. Padahal saya kira kamu dokter terbaik di sini, tapi ternyata kamu melakukan kesalahan seberat ini," ucap Dokter Gunawan dengan nada kecewa yang mendalam.

Indah menunduk dalam, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap tegar. "Maaf, Dok... Saya mengerti ini kelalaian besar. Saya berjanji ke depannya tidak akan seceroboh ini lagi."

"Baiklah kalau begitu. Untuk kedepannya, kamu harus jauh lebih teliti dan hati-hati lagi," tegas Dokter Gunawan, lalu menatap seluruh ruangan. "Dan untuk kalian semua, jadikan ini pelajaran. Saya tidak mau ada kesalahan serupa terulang lagi di rumah sakit ini. Mengerti?"

"Siap, Dokter!" jawab serempak para dokter yang hadir.

Pertemuan pun berakhir. Semua orang mulai beranjak keluar ruangan. Indah berjalan tertinggal di belakang, dadanya sesak menahan sedih dan kecewa — bukan karena dimarahi, tapi karena ia tahu dirinya tidak bersalah, namun tidak bisa membuktikannya.

Sementara itu, di sudut ruangan yang hampir tak terlihat, Mawar tersenyum licik melihat pemandangan itu. Hatinya melonjak kegirangan. Rasain lu, Indah! Kena masalah kan? Dihina, dimarahi, dicurigai semua orang. Nikmati saja rasa malunya. Ini baru permulaan, tunggu saja selanjutnya... batinnya tertawa puas, lalu berjalan keluar dengan wajah polos seolah tidak terjadi apa-apa.

Daffa berjalan keluar ruangan rapat dengan dahi berkerut kuat. Sesuatu terasa sangat tidak beres di sini.

"Indah tidak mungkin ceroboh sampai begini. Dia dokter yang teliti dan bertanggung jawab. Sepertinya... ada yang sengaja menyabotase hasil lab itu," batinnya penuh keyakinan. Tanpa membuang waktu, ia langsung menghubungi bagian keamanan.

"Kirimkan rekaman CCTV ruang administrasi laboratorium pada jam-jam tadi, segera," perintahnya tegas.

Tak lama kemudian, rekaman itu masuk ke ponselnya. Daffa menatap layar dengan saksama, lalu matanya membelalak kaget. Ada sosok orang yang tidak dikenalnya masuk ke ruangan itu, mengambil berkas laporan, menukarnya dengan yang lain, lalu pergi secepat kilat.

Daffa mengerutkan kening semakin dalam, bingung sekaligus curiga. "Kok dia bisa masuk ke ruangan itu? Padahal ruangan itu pakai kartu akses khusus — hanya karyawan rumah sakit yang bisa masuk ke sana. Orang asing mana mungkin bisa masuk tanpa izin..."

Ia memutar ulang rekaman itu berulang kali, mencoba melihat wajah sosok itu lebih jelas. Pakaiannya... gerak-geriknya... sepertinya orang itu bukan sembarang orang. Seseorang yang punya akses, dan punya alasan kuat untuk merugikan Indah. Nama Mawar tiba-tiba terlintas di benaknya.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!