Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sret!
Ban taksi bergesekan keras dengan aspal saat berhenti mendadak di depan gedung kepolisian pusat.
Reyhan segera membayar ongkos taksi dan berlari masuk ke dalam gedung.
Napasnya terengah-engah saat ia menerobos pintu lobi utama.
"Aku harus bertemu Detektif Alena sekarang juga!" seru Reyhan kepada petugas di meja resepsionis.
Petugas itu mengerutkan kening karena mengenali wajah Reyhan dari berita.
"Detektif Alena sedang sibuk, Anda tidak bisa sembarangan masuk."
Reyhan menggebrak meja resepsionis dengan cukup keras.
Brak!
"Ini soal nyawa seseorang, dan ini sangat mendesak!"
Suara Reyhan terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.
Efek dari kemampuan Karisma tingkat dasar yang ia dapatkan dari sistem mulai bekerja tanpa ia sadari.
Petugas resepsionis itu tiba-tiba merasa terintimidasi dan langsung menelepon ruangan Alena.
Beberapa saat kemudian, Alena turun ke lobi dengan wajah kesal.
"Apa lagi yang kau inginkan, Reyhan?"
Alena bersedekap dada sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Bukankah aku sudah bilang untuk diam di rumah dan jangan membuat masalah?"
Reyhan tidak menjawab, ia langsung menyodorkan layar ponselnya ke wajah Alena.
"Lihat ini, Detektif."
Mata Alena menyipit saat membaca pesan ancaman dan melihat foto pisau karet di layar ponsel Reyhan.
Wajah detektif wanita itu seketika berubah menjadi pucat.
"Dari mana kau mendapatkan pesan ini?"
"Baru saja, saat aku mau pulang dari rumah temanku," jawab Reyhan cepat.
"Pembunuh itu yang mengirimkannya."
Alena segera menarik lengan Reyhan dan membawanya masuk ke ruangannya yang tertutup rapat.
"Ini tidak masuk akal," gumam Alena sambil mondar-mandir di dalam ruangan.
"Pisau karet itu seharusnya ada di ruang barang bukti sekarang."
Reyhan duduk di kursi dan menatap Alena dengan serius.
"Itu artinya pembunuh itu berhasil mengambilnya, atau dia punya akses ke sana."
Alena langsung mengambil telepon di mejanya dan menekan tombol ekstensi dengan cepat.
"Anton, segera ke ruanganku!"
Tidak butuh waktu lama bagi Bripka Anton untuk masuk dengan napas terengah-engah.
"Ada apa, Bu?"
"Cek ruang penyimpanan bukti nomor empat sekarang juga," perintah Alena tegas.
"Cari kotak properti dari lokasi syuting film indie semalam dan pastikan pisau karetnya masih ada."
Anton mengangguk cepat dan berlari keluar ruangan.
Suasana di ruangan itu menjadi sangat hening dan tegang.
Reyhan bisa mendengar suara detak jarum jam dinding yang terasa sangat lambat.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Bripka Anton kembali dengan wajah penuh keringat dingin.
"Gawat, Bu Detektif."
"Kotak propertinya sudah dibongkar, dan pisau karetnya hilang."
Alena memukul mejanya dengan keras hingga cangkir kopinya sedikit tumpah.
"Sialan!"
"Bagaimana bisa barang bukti hilang dari markas kepolisian pusat?!"
Anton menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"CCTV di lorong ruang bukti dimatikan selama lima belas menit sekitar satu jam yang lalu, Bu."
"Penjaga yang bertugas bilang dia sedang ke toilet saat itu terjadi."
Reyhan mengusap wajahnya yang terasa kasar.
"Sudah kuduga."
"Pembunuh ini bukan orang sembarangan."
Alena menatap Reyhan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada orang dalam yang membantunya," ucap Alena pelan, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan.
"Ada polisi kotor di departemen ini yang bekerja untuk sang pembunuh."
Reyhan mengangguk setuju.
"Dan polisi kotor itu yang mengambil pisau karet tersebut untuk menghilangkan jejak."
"Karena di pisau itulah terdapat sidik jari sang pembunuh yang menyusup sebagai kru pencahayaan."
Alena menghela napas panjang dan memijat pelipisnya.
Kasus ini ternyata jauh lebih busuk dari kelihatannya.
"Anton, jangan beritahu siapa pun tentang hilangnya barang bukti ini," perintah Alena pada bawahannya.
"Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya di gedung ini sekarang."
"Siap, laksanakan, Bu," jawab Anton sebelum undur diri dari ruangan.
Alena kembali menatap Reyhan, kali ini tatapannya sedikit melunak.
"Kau benar, Reyhan."
"Seseorang memang sedang mempermainkan kita berdua."
Reyhan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat cukup berwibawa.
"Jadi, kau mulai percaya padaku sekarang, Detektif?"
Alena mendengus pelan.
"Jangan besar kepala."
"Aku hanya percaya pada fakta bahwa ada pihak ketiga yang sangat berbahaya di sini."
"Dan sepertinya, dia menargetkanmu secara khusus."
Alena menyerahkan ponsel Reyhan kembali kepadanya.
"Pulanglah, dan kunci pintumu rapat-rapat."
"Aku akan menugaskan dua anggota kepercayaanku untuk mengawasi kosanmu dari jauh."
Reyhan menerima ponselnya dan berdiri dari kursi.
"Terima kasih, Detektif."
"Aku permisi dulu."
Reyhan berjalan keluar dari kantor polisi saat hari sudah mulai gelap.
Lampu-lampu jalan ibu kota mulai menyala, menggantikan cahaya matahari yang telah tenggelam.
Reyhan memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bus terdekat.
Namun, baru beberapa meter ia berjalan, perasaan aneh itu muncul.
Bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
Instingnya sebagai seseorang yang telah dibekali kemampuan psikopat dasar membuatnya lebih peka terhadap niat jahat.
Ada yang sedang mengawasinya.
Tap. Tap. Tap.
Reyhan mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari arah belakang.
Ia sengaja mempercepat langkahnya.
Suara langkah di belakangnya ikut mempercepat temponya.
"Siapa yang mengikutiku?" batin Reyhan.
"Apakah itu polisi yang ditugaskan Alena?"
Reyhan menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak, niat yang ia rasakan dari belakang sana terlalu gelap untuk seorang polisi biasa.
Itu adalah niat membunuh.
Reyhan tiba-tiba berbelok tajam memasuki sebuah gang sempit yang gelap dan sepi.
Gang itu berada di antara dua gedung perkantoran tua yang sudah tidak berpenghuni.
Ia segera bersembunyi di balik sebuah tempat sampah besi berukuran besar.
Reyhan menahan napasnya, membiarkan keheningan mengambil alih.