"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badai baru
Namun masa masa bahagia itu berubah setelah malam selasa. Kedamaian yang sempat dirasakan Karsa dan Ningsih di tepi sungai seolah lenyap tak berbekas, digantikan oleh awan mendung yang mendadak runtuh di atas atap rumah Pak Karsono.
Malam itu, sebuah mobil SUV putih yang mengilat terparkir gagah di pekarangan rumah. Ada juragan bowo berkunjung ke kediaman Pak Karsono. Kedatangan orang terpandang di desa itu bukan sekadar kunjungan biasa antara dua orang tua.
Dia bermaksud mau meminang ningsih buat anaknya yg bernama joni. Joni adalah pria kurus yg sering modar mandir memakai suv warna putih di jalanan desa, sosok yang selama ini dikenal angkuh karena kekayaan orang tuanya.
Di ruang tamu, obrolan berlangsung hangat diiringi kepulan asap rokok mahal dan tawa lepas. Tanpa perlu menimbang-nimbang lebih lama, Pak karsono pun setuju tanpa meminta pendapat oleh ningsih terlebih dahulu. Di mata Pak Karsono,
inilah "pondasi yang kuat" yang selama ini dia dambakan untuk masa depan putrinya. Seorang menantu dari keluarga terpandang yang bisa menjamin hidup mapan.
Kedua orang tua itu langsung larut dalam kesepakatan besar.
Mereka pun sepakat..
1 bulan kemudian untuk melangsungkan acara pernikahan...
Sebuah keputusan mutlak yang diketok begitu saja di atas meja ruang tamu.
Sementara itu, dibalik dinding ruang tengah yang gelap, dunia seolah runtuh seketika. Ningsih yg mendengar hal itu hanya bisa menangis sedih, meredam suaranya dengan telapak tangan agar isak tangisnya tidak terdengar sampai ke depan.
Air matanya mengalir deras, memasahi pipi yang seminggu lalu sempat bersandar manja di bahu Karsa.
Toh masa depan dia sudah diputuskan oleh ayahnya... tanpa dia bisa memilih jalannya sendiri. Dada Ningsih terasa sesak, dihantam oleh kenyataan bahwa waktunya bersama Karsa kini hanya tersisa tiga puluh hari.
Mau protes pun percuma. Ningsih ingin sekali berteriak dan menolak perjodohan ini, karna dia tau... karsa belum punya modal yg kuat buat bersaing dengan anaknya pak bowo. Jangankan SUV putih atau uang pinangan yang melimpah.
Dalam pertarungan realita ini, Karsa yang sebatang kara telah kalah telak bahkan sebelum sempat melangkah maju ke rumah ayahnya.
Pagi nya ... hawa dingin desa masih menyelimuti jalanan setapak saat karsa seperti biasa membeli lauk untuk sarapan di warung. Namun kali ini dia tak menemukan ningsih di balik etalase kaca. Kursi kayu tempat biasanya gadis itu duduk menyambutnya dengan senyuman kini kosong. Hanya ada ibu Ningsih yang sibuk merapikan dagangan dengan raut wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya.
Ada rasa kecewa dan cemas yang mendadak hinggap di dada Karsa. Ingin rasanya dia membuka mulut dan bertanya, namun Karsa juga tak berani menanyakan dimana ningsih pada ibunya. Statusnya yang hanya "teman biasa" di mata keluarga Ningsih, ditambah deheman peringatan Pak Karsono tempo hari, membuat lidahnya kelu. Dia hanya berbelanja seperti biasa, membayar lauknya, dan segera pulang tanpa banyak bicara.
Sepanjang jalan menuju rumah, langkah kaki Karsa terasa lebih berat dari biasanya. Tatapannya lurus menatap jalanan berdebu, namun hati karsa masih bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dimana ningsih...?
Ke mana gadis itu pergi di jam sibuk seperti ini?
Tak seperti biasa..
Biasanya sekecil apa pun urusannya, Ningsih pasti akan memberikan tanda atau sekadar lewat di depan rumahnya jika hendak pergi jauh.
Kali ini ada sesuatu yg mengganjal...
Rasa tidak enak yang teramat sangat mulai merayap, seolah ada sebuah badai besar yang sedang bergerak mendekat tanpa dia ketahui.
Sesampainya dirumah.. Karsa meletakkan bungkusan lauk itu di atas meja dapur yang sepi. Suasana rumah peninggalan ibunya ini terasa semakin sunyi. Karsa pun Makan seperti biasa... mengunyah makanannya dengan perlahan, walau rasa lauk pagi ini terasa hambar karena pikirannya terus tertuju pada hilangnya Ningsih dari warung.
Setelah makan dia pun merapikan bekas nya, mencuci piring dan sendok di wastafel kayu, lalu beralih menyalakan kompor untuk membuat kopi manis.. Asap tipis beraroma kopi dan gula tebu mulai memenuhi ruangan dapur yang remang.
Dia membawa cangkir kopi itu ke ruang tamu, duduk di kursi kayu yang usang. Korek api berbunyi klik, dan dia kembali membakar rokoknya..
Menghirup asap kreteknya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan ke udara, menikmati kesendirian di tengah riuhnya tanya yang tak kunjung menemukan jawaban di dalam kepalanya. Karsa tidak tahu, bahwa di belahan desa yang lain, waktu satu bulannya bersama Ningsih sedang dihitung mundur.