Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Ledakan Amarah dan Rasa Malu yang Mengubur
Suasana kantin mendadak senyap bak kuburan.
Bahkan suara dentingan sendok logam yang beradu dengan mangkuk kaca seketika lenyap ditelan udara.
Puluhan pasang mata murid SMA Dirgantara kini tertuju pada satu titik pusat: meja tengah.
Alfian yang tadinya duduk santai dengan sebelah tangan memegang kaleng soda, perlahan menurunkan tangannya.
Wajahnya yang tadinya terkejut dan sedikit pucat, dalam hitungan detik berubah menjadi merah padam.
Urat-urat halus di sekitar leher dan pelipisnya perlahan menonjol, menandakan emosi yang sedang mendidih hebat hingga ke ubun-ubun.
"Lo... ngomong apa barusan?" suara Alfian terdengar sangat rendah, nyaris seperti geraman tertahan.
"Biji mangga," ulang Amira.
Suara Amira sedikit bergetar, jujur saja nyalinya mulai ciut, tapi ia memaksakan diri menatap mata elang cowok itu lekat-lekat.
"Di belakang rumah nenek kamu yang halamannya luas, kita pernah nanam itu bareng-bareng. Kamu nggak ingat?" pancing Amira lagi, seolah belum puas mengaduk-aduk emosi sang kapten.
Brak!
Alfian berdiri secara mendadak dengan kasar.
Gebrakan kedua tangannya di atas meja kantin membuat beberapa piring kecil berisi gorengan bergeser dan menimbulkan bunyi berderit yang ngilu.
"Cukup!" bentak Alfian kencang.
Suara baritonnya menggema ke seluruh penjuru kantin, memantul di dinding-dinding tembok hingga membuat beberapa siswi di meja ujung berjengit kaget.
Alfian menatap Amira dengan kilatan amarah murni, bukan karena ia mengingat masa lalu, melainkan karena ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh lelucon konyol.
"Gue nggak tahu omongan sampah apa yang lagi lo bawa-bawa dari tadi!" sergah Alfian sengit.
Amira tersentak hebat hingga otomatis mundur satu langkah.
Jantungnya berdegup kencang, memompa darah dengan ritme yang menyakitkan melihat reaksi Alfian yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari dugaannya.
"Tapi... tapi kalung ini..." cicit Amira dengan suara nyaris hilang.
Tangan Amira gemetar saat mengangkat bandul bintang dari balik seragamnya, berusaha menjadikannya tameng pembelaan terakhir.
"Gue bilang cukup!" potong Alfian tajam, matanya menatap Amira dengan penuh permusuhan seolah cewek itu adalah hama yang menjijikkan.
"Gue nggak punya masa kecil konyol kayak cerita halu lo itu!" lanjut Alfian, suaranya menggelegar penuh penekanan di tiap kata.
"Dan yang paling penting: gue nggak kenal sama lo! Jadi berhenti ganggu hidup gue, cewek gila!"
Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja, tajam, dingin, dan menusuk tepat di ulu hati Amira.
Tanpa menunggu balasan apa pun, Alfian langsung membalikkan badannya.
Cowok itu menendang kursi plastiknya hingga terguling ke lantai, lalu melangkah pergi meninggalkan kantin dengan langkah panjang dan cepat.
Geng basketnya, termasuk Rio yang duduk di sebelahnya, hanya bisa saling pandang dalam diam.
Mereka terlalu bingung dan shock melihat kapten mereka yang biasanya dingin dan irit bicara bisa mengamuk separah itu di depan umum.
Amira berdiri mematung di tempatnya.
Pikirannya mendadak kosong melompong, seolah otaknya baru saja di-reset paksa.
Wajahnya terasa panas oleh tatapan iba, meremehkan, hingga cibiran dari puluhan murid lain yang masih menontonnya.
"Mir, lo gila ya?!" bisik Rara histeris sambil menarik lengan seragam Amira dengan kuat.
Maya di sisi lain juga ikut menyeret tubuh kaku Amira menjauh dari pusat kantin, membawa teman baru mereka itu setengah berlari menuju lorong sepi dekat toilet perempuan.
Sesampainya di lorong yang sepi, Amira menyandarkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin.
Tubuhnya perlahan merosot ke bawah hingga ia berjongkok sambil memeluk kedua lututnya sendiri.
"Lo mikir apa sih, Mir, sampai berani ngomong aneh-aneh di depan Alfian dan genknya?" omel Maya, napasnya ikut ngos-ngosan karena panik.
"Sumpah, gue tadi udah takut banget lo bakal dilempar mangkuk bakso sama dia," timpal Rara sambil memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
Amira tidak menjawab satu patah kata pun.
Matanya memanas, pandangannya mulai mengabur oleh tumpukan air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak jatuh.
Rasa malu, marah, dan kecewa bercampur aduk menjadi gumpalan menyesakkan di kerongkongannya.
Jika cowok itu bukan Sky... lalu kenapa wajahnya sama?
Kenapa suara tertawanya persis seperti memori yang selama ini Amira simpan rapat-rapat?
Tapi, kalau dia memang Sky... kenapa dia sejahat ini?
Sky yang Amira kenal adalah cowok manis yang sabar, bukan monster arogan yang hobi mempermalukan orang lain di depan umum.
"Udah, Mir. Mulai sekarang lo jauhin aja si kapten kulkas itu. Bahaya urusannya kalau dia udah tandai lo," bujuk Rara, nadanya mulai melembut melihat bahu Amira yang bergetar pelan.
Amira hanya bisa mengangguk lemah, mengusap kasar ujung matanya yang sedikit basah.
Iya, ini salahku. Aku yang terlalu bodoh karena berharap, rutuk Amira dalam hati.
Jam pulang sekolah hari itu terasa seperti penebusan dosa bagi Amira.
Langit sore tampak mendung kelabu, seolah ikut mengejek suasana hati Amira yang sedang hancur lebur.
Amira sengaja pulang paling akhir, menunggu koridor dan gerbang sekolah benar-benar sepi agar tidak perlu berpapasan dengan murid-murid yang menertawakannya tadi siang.
Gadis itu menendang kerikil kecil di trotoar dengan langkah lesu, menggendong tas punggungnya yang terasa sepuluh kali lipat lebih berat.
Vrooom...
Suara deru mesin motor sport ber-cc besar memecah keheningan jalanan, berhenti tepat di samping trotoar tempat Amira berjalan.
Amira menghentikan langkahnya, menoleh dengan malas ke arah motor berwarna hitam metalik tersebut.
Sang pengendara membuka kaca helm full face-nya perlahan, memperlihatkan sosok Rio dengan rambut yang sedikit lepek karena keringat.
"Amira, kan?" panggil cowok itu memastikan, nadanya tidak terdengar memusuhi sama sekali.
Amira menyipitkan matanya, menatap curiga pada tangan kanan Alfian itu.
"Mau apa? Mau lanjutin acara maki-makinya temen kamu?" tembak Amira langsung, suaranya ketus dan penuh pertahanan diri.
Rio menghela napas pendek, mematikan mesin motornya lalu melepas helmnya sepenuhnya agar bisa berbicara lebih santai.
"Santai, Mir. Jangan ngegas dulu. Gue ke sini bukan buat nyari ribut," kata Rio dengan senyum tipis yang mendamaikan.
"Terus ngapain ngikutin aku?" Amira bersedekap dada, mundur satu langkah menjaga jarak aman.
"Gue cuma mau ngasih tahu lo sesuatu, biar lo nggak makin salah langkah dan bikin posisi lo di sekolah ini makin susah," jelas Rio sungguh-sungguh.
Amira mendengus sinis. "Ngasih tahu kalau aku cewek gila yang suka halusinasi? Tenang aja, kapten kamu udah nyampein pesannya dengan sangat jelas tadi siang."
"Bukan gitu," sanggah Rio cepat.
Cowok itu menumpukan kedua tangannya di atas tangki bensin motor, menatap Amira dengan raut wajah serius.
"Alfian itu emang orangnya tertutup banget, Mir. Dia benci diganggu, dan dia paling anti sama cewek yang sok akrab apalagi bawa-bawa cerita masa lalu yang nggak pernah ada," jelas Rio hati-hati.
Amira menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak yang kembali mengancam dadanya.
"Maksud kamu... ceritaku itu beneran nggak pernah ada di hidup dia?" cicit Amira, suaranya terdengar jauh lebih rapuh dari sebelumnya.
Rio mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun.
"Alfian itu nggak pernah cerita punya teman masa kecil cewek. Hidupnya dari dulu cuma basket, keluarga, dan lingkar pertemanan cowok yang itu-itu aja," terang Rio jujur.
Tentu saja Rio tidak berbohong.
Sebagai sahabat dekatnya di SMA, Rio benar-benar tidak tahu menahu soal rahasia keluarga Alfian, apalagi soal eksistensi seorang saudara kembar yang disembunyikan rapat-rapat.
Bagi Rio dan semua orang di sekolah ini, Alfian hanyalah anak tunggal yang sempurna tapi dingin.
"Jadi saran gue, demi ketenangan hidup lo sendiri..." Rio menatap mata bulat Amira lekat-lekat. "...stop ungkit-ungkit soal 'Sky' atau pohon mangga itu di depan dia."
"Dia beneran bisa bikin masa SMA lo kayak neraka kalau lo terus-terusan mancing emosinya," tambah Rio sebagai peringatan terakhir.
Amira terdiam kaku.
Angin sore yang dingin berhembus menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang keluar dari kerudung.
Jadi, Rio yang notabene teman terdekatnya pun menganggap Amira hanya mengarang cerita.
Fakta itu seperti palu godam yang menghantam sisa-sisa keyakinan di kepala Amira.
"Makasih sarannya," jawab Amira akhirnya, suaranya sangat dingin dan hampa.
Tanpa menunggu balasan Rio, Amira kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Kali ini, langkahnya terasa sedikit lebih cepat, seolah ingin segera kabur dari kenyataan yang baru saja menamparnya.
Sementara itu, Rio hanya bisa menatap punggung gadis itu perlahan menjauh hingga menghilang di belokan jalan.
Ia kembali memakai helmnya sambil mendesah pelan.
Ada-ada aja anak baru zaman sekarang, batin Rio sambil menyalakan kembali mesin motornya dan melaju pergi.
Malam harinya, Amira mengurung diri di dalam kamar.
Buku PR matematika terbuka lebar di atas meja belajarnya, tapi tak ada satu pun angka yang berhasil masuk ke dalam otaknya.
Amira duduk bersila di atas kasur, menggenggam kalung berbandul bintang itu erat-erat hingga ujung-ujung bandulnya menusuk telapak tangannya.
"Kalau dia bukan Sky... kenapa mereka bisa setajam ini miripnya?" bisik Amira pada udara kosong di kamarnya.
Pikirannya berkecamuk hebat.
Apakah mungkin di dunia ini ada dua orang tak sedarah yang memiliki wajah bagai pinang dibelah dua?
Atau jangan-jangan... Alfian sebenarnya memiliki saudara kembar?
Tapi pikiran itu buru-buru ditepisnya sendiri.
Mana mungkin. Rio aja bilang dia nggak punya kenangan masa kecil aneh-aneh. Pasti ini cuma kebetulan yang konyol, rutuk Amira dalam hati.
Ia melempar kalung itu ke atas bantal dengan frustrasi.
Mulai detik ini, Amira berjanji pada dirinya sendiri.
Demi harga dirinya yang sudah hancur lebur di kantin siang tadi, ia tidak akan pernah lagi menatap, menyapa, apalagi mempedulikan eksistensi Alfian Pratama.
Biar saja cowok arogan itu hidup dengan dunianya sendiri.
Amira sudah cukup lelah menjadi orang bodoh yang mengejar bayangan masa lalu yang entah di mana rimbanya sekarang.