Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : PEREMPUAN POLOS YANG DULU BERRY TINGGALKAN

...BAB 19...

...PEREMPUAN POLOS YANG DULU BERRY TINGGALKAN...

Sudah beberapa hari Berry sibuk mengurus urusan perusahaan milik ayahnya.

Masalah yang awalnya terlihat kecil ternyata berkembang cukup serius.

Beberapa pekerja di salah satu pabrik mengalami kecelakaan kerja akibat kerusakan pada salah satu bagian mesin.

Tidak ada korban jiwa, tetapi beberapa pekerja mengalami luka cukup parah dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Berry yang selama ini hanya mengawasi pekerjaan dari jauh akhirnya harus turun langsung.

Siang itu ia berdiri di lorong rumah sakit sambil berbicara melalui telepon.

"Pastikan semua biaya pengobatan ditanggung perusahaan."

Suara salah satu staf terdengar dari seberang.

["Baik, Mas Berry."]

"Jangan ada keluarga mereka yang dipusingkan soal biaya."

["Baik."]

"Dan besok saya mau laporan lengkap tentang kejadian di pabrik."

["Siap."]

Berry memutus sambungan telepon. Wajahnya terlihat lelah.

Ia berjalan menuju ruang administrasi untuk memastikan semua biaya pengobatan para pekerja sudah diproses.

Namun baru beberapa langkah, seorang perawat berlari melewatinya.

"Dok, pasien dari ruang pemeriksaan kandungan tadi pingsan lagi!"

Berry yang awalnya tidak peduli tiba-tiba menghentikan langkah.

Pemeriksaan kandungan? Ia menoleh sekilas.

Beberapa orang membawa seorang perempuan yang tampak pucat menggunakan kursi roda.

Wajah perempuan itu tertunduk. Rambutnya sedikit berantakan. Dan ketika kursi roda itu melewati tempat Berry berdiri, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Melda?" Berry membeku.

Perempuan itu ternyata adalah Melda. Orang yang selama beberapa minggu terakhir berusaha ia lupakan.

Perempuan yang pernah mengirimkan sebuah pesan terakhir kepadanya.

Berry. Aku sedang hamil.

Pesan yang terus menghantui pikirannya. Berry menatap tak percaya.

"Melda..."

Namun Melda tidak mendengar. Atau mungkin, sengaja tidak mendengar.

Dokter segera membawa Melda masuk ke ruang pemeriksaan. Berry pelan mengikuti dari belakang dan berdiri di depan pintu itu.

Ia ingin masuk. Tetapi langkahnya tertahan.

Untuk apa? Apa haknya? Bukankah selama ini dia sendiri yang memilih menjauh?

Berry mengusap wajah. "Kenapa dia ada di sini?"

Ia berusaha menenangkan pikirannya. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin Melda sedang sakit biasa.

Namun beberapa menit kemudian seorang dokter keluar. Dokter laki-laki itu masih muda.

"Pasiennya cukup lemah." katanya pada seorang bidan yang membantunya.

Berry menoleh. "Dok..."

Dokter menoleh memandang Berry.

"Iya. Apa anda keluarganya?" tanyanya.

Berry terdiam. Pertanyaan itu terasa menampar. Keluarga?

Ia bahkan tidak tahu apakah Melda masih mau menganggapnya sebagai seseorang yang penting.

"Saya..."

Belum sempat Berry menjawab, dokter melanjutkan.

"Kalau Anda mengenalnya, tolong pastikan dia benar-benar istirahat."

Berry mengangguk. "Memangnya dia kenapa?"

"Kondisinya cukup lemah. Kandungannya sudah memasuki sekitar lima bulan."

"Lima bulan?!" Berry sedikit tercengang.

Dokter itu mengangguk. "Ya. Dan dia mengalami kelelahan cukup berat. Tekanan darahnya juga sempat turun sehingga sering pingsan." ucap Dokter itu lagi.

Ia menghela napas. "Saya sudah pernah menyarankannya agar dia mengurangi aktivitas."

Dokter itu pun menggeleng. "Kehamilan lima bulan dengan kondisi tubuh seperti itu tidak boleh dipaksakan. Dia harus banyak istirahat, makan teratur, dan jangan terlalu sering berdiri atau mengangkat barang berat."

Berry terdiam. Tanpa sadar ia mengepalkan tangan. Tiba-tiba ia teringat ketika melihat Melda di rumah makan beberapa waktu lalu.

Perempuan itu menyapu. Mengangkat sampah. Berdiri berjam-jam di depan wastafel, mencuci piring. Kemudian makan roti seadanya. Saat itu Berry hanya melihatnya dari kejauhan.

"Kalau begitu permisi saya masuk dulu." ucap Dokter kandungan itu tiba-tiba.

Berry yang sedang melamun, tersentak, lalu mengangguk. "Ba-baik Dokter. Silakan."

Dokter itu kembali ke ruangannya.

Berry kembali membeku. "Lima bulan"

Dadanya kembali terasa sesak. Jadi benar. Melda memang hamil. Dan usia kandungan itu... Apa mungkin, Melda mengandung anakku..."

~Flashback on ~

Lima bulan lalu...

Berry pertama kali melihat Melda ketika dirinya menghadiri pertemuan dengan sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan bisnis milik ayahnya.

Saat itu beberapa mahasiswa sedang menjalani program magang.

Di antara banyaknya anak magang yang sibuk membawa dokumen, ada seorang gadis yang membuat pandangan Berry berhenti cukup lama.

Melda. Penampilannya sederhana. Kemeja putih, rok panjang, rambut yang diikat rapi.

Tidak menggunakan pakaian mencolok ataupun berusaha mencari perhatian.

Namun justru kesederhanaan itu yang membuat Berry memperhatikannya.

Melda sedang membawa setumpuk dokumen ketika salah satu berkas terlepas dari tangannya. "Ah!"

Kertas-kertas itu berhamburan. Melda langsung berjongkok. "Maaf..."

Berry yang kebetulan lewat ikut membantu mengambilkannya. "Ini."

Melda mendongak. "Terima kasih, Kak."

Berry tersenyum. "Kamu anak magang baru?"

"Iya."

"Namanya?"

"Melda."

"Berry."

Melda mengangguk sopan.

"Senang bertemu, Kak Berry."

Seharusnya pertemuan itu selesai sampai di sana. Namun ternyata tidak.

Hari-hari berikutnya Berry beberapa kali melihat Melda. Dan semakin sering melihatnya, semakin ia merasa gadis itu berbeda dari gadis yang dia kenal.

Melda memang polos. Kadang terlalu serius ketika bekerja. Kalau melakukan kesalahan sedikit saja, wajahnya langsung panik. Namun ia juga pekerja keras.

Bahkan ketika teman-temannya sudah pulang, Melda masih sering duduk di depan komputer untuk menyelesaikan laporan.

Suatu malam Berry kembali melihatnya sendirian. "Belum pulang?"

Melda menggeleng. "Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan."

"Ini sudah malam."

"Iya sebentar lagi."

Berry melihat jam tangannya Hampir pukul sebelas.

"Aku antar kamu pulang."

Melda langsung menolak. "Nggak perlu, Kak. Saya bisa pulang sendiri."

"Ini sudah malam. Melda."

"Tapi..."

"Aku antar." tegas Berry.

Akhirnya Melda menurut.

Sejak malam itu, Berry beberapa kali mengantarnya pulang. Mereka mulai banyak berbicara. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang impian.

Berry bahkan mulai mengetahui bahwa Melda tidak pernah benar-benar dekat dengan laki-laki manapun.

Suatu malam, ketika mobil berhenti di depan rumah Melda, Berry bertanya, "Kamu pernah pacaran?"

Melda terlihat kaget. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Jawab saja."

Melda menggeleng pelan. "Belum pernah."

"Belum pernah?"

"Iya."

Berry tertawa kecil. "Serius?"

Melda mengangguk. "Aku nggak terlalu memikirkan pacaran."

"Kenapa?"

"Takut salah pilih."

Jawaban itu membuat Berry terdiam.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia tidak ingin mempermainkan seorang perempuan. Ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

"Kalau aku yang jadi pilihanmu?"

Melda menatapnya. "Jadi apa?"

Berry tersenyum. "Pacarmu."

Mata Melda membesar. "Kak Berry..."

"Aku serius."

Melda terlihat gugup. "Kakak cuma bercanda, kan?"

"Aku nggak bercanda."

Berry menatapnya. "Aku suka sama kamu."

Melda menunduk. Wajahnya perlahan memerah. "Aku..."

"Kalau kamu belum siap, nggak apa-apa." Berry tidak memaksanya. "Aku bisa tunggu."

Melda terdiam cukup lama. Kemudian perlahan tersenyum. "Aku juga suka sama Kak Berry."

Senyum Berry langsung melebar. "Berarti?"

Melda mengangguk kecil. "Iya."

Malam itu menjadi awal hubungan mereka. Melda terlihat bahagia. Ia bahkan beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat ucapan Berry.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki seseorang yang benar-benar menyukainya.

Berry pun memperlakukannya dengan sangat baik pada awalnya. Ia menjemput Melda. Mengantarnya pulang. Membelikan makanan ketika Melda lembur. Dan selalu memastikan Melda tidak pulang sendirian.

Melda mulai percaya sepenuhnya. Sampai suatu malam Berry mengajaknya ke apartemen. "Aku ingin bicara lebih dekat denganmu..."

Melda mengangguk. Ia percaya kepada Berry.

Malam itu mereka berbicara cukup lama.

Berry menggenggam tangan Melda.

"Mel."

"Ya?"

"Aku serius sama kamu."

Melda tersenyum. "Aku juga."

Hubungan mereka kemudian menjadi semakin dekat. Dan malam itu, batas yang sebelumnya mereka jaga akhirnya terlewati.

Bagi Berry, itu juga merupakan pengalaman pertama ketika ia benar-benar menyerahkan dirinya kepada seorang perempuan yang ia yakini sebagai kekasihnya.

Bagi Melda, malam itu terasa berbeda. Ia tidak merasa sedang dipermainkan.

Ia percaya pada Berry. Ia percaya lelaki itu benar-benar mencintainya.

Bahkan setelahnya, Melda sempat tersenyum malu ketika Berry memeluknya. "Berarti sekarang aku benar-benar pacarmu?"

"Ya." Berry mengangguk lalu menatap Melda. "Kamu tahu Melda, kamu benar-benar istimewa buatku..." ucap Berry.

Melda tersenyum, pipinya merona. Lalu Melda berkata pada Berry dengan mata berkaca-kaca. "Berjanjilah padaku, jangan tinggalin aku, ya."

Berry mengusap kepalanya Melda. "Nggak akan."

Satu kalimat sederhana. Nggak akan.

Kalimat yang kemudian menjadi luka paling dalam bagi Melda.

Karena beberapa hari setelah itu. Berry mulai berubah. Pesannya semakin jarang. Teleponnya semakin sedikit. Pertemuannya semakin sulit. Dan tiba-tiba memblokir nomernya Melda. Berry menghilang tanpa kabar.

Melda tidak mengerti. Ia sempat berpikir mungkin Berry sedang sibuk. Sampai akhirnya ia mengetahui dirinya tengah hamil. Tangannya gemetar ketika mengirim pesan dengan nomer barunya.

"Berry, aku rasa sudah waktunya kamu tahu sesuatu."

"Aku sedang hamil."

~Flashback of~

Berry berdiri kaku di lorong rumah sakit. Dadanya terasa sesak. Sekarang ia mengingat semuanya.

Wajah Melda ketika pertama kali menerima cintanya. Senyum polos perempuan itu. Cara Melda bertanya,

"Berjanjilah padaku, jangan tinggalin aku, ya."

Dan jawaban Berry...

"Nggak akan."

Berry menutup wajah dengan kedua tangannya. "Brengsek..."

Kini ia tahu. Bukan Melda yang berubah. Bukan Melda yang menjauh. Dialah yang mengingkari janjinya sendiri.

Dan ketika ia melihat Melda keluar dari ruang pemeriksaan dengan kandungan lima bulan, satu kenyataan menghantamnya begitu keras.

Anak yang sedang dikandung perempuan itu, mungkin memang benar itu adalah anaknya.

Dan selama lima bulan itu, ia bahkan tidak pernah tahu bagaimana keadaan ibu dari anaknya itu.

Bersambung...

1
Kam1la
para penculik kembali. apa yang harus dilakukan Reyga dkk... tidak mungkin akan sembunyi terus
Kam1la
Bintang anak horang kaya rupanya.. .
Kam1la
Bintang anak horang kaya rupanya..
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!