Indonesia
NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:151.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai mengulik : 16

Beberapa menit setelahnya, Rosna keluar dan memberikan satu buah baterai jam dinding.

“Ini berapa rupiah, Rosna?” Mima mengambil dompet di dalam tas kecil berisi sapu tangan, empeng, air putih dalam botol susu, dan kunci rumah.

“Pakai saja dulu, nanti gantinya dengan baterai juga,” ucap wanita berkulit coklat kehitaman efek terpapar sinar matahari.

“Bu, bu ….” Pujiara merengek minta diturunkan, kakinya menekan paha ibunya.

“Kita mau pulang, Dek,” kata Hamima sambil mengencangkan kain gendongan.

“Memangnya kamu sedang sibuk dirumah?” Rosna berdiri di samping kursi, posisinya sedikit maju.

“Enggak. Pekerjaan rumah sudah selesai, memasak pun masih nanti, soalnya anak dan suamiku suka makanan hangat,” dia tidak sepenuhnya berdusta.

“Kalau gitu turunkan saja … siapa namanya si cantik ini?” Rosna mengelus pipi bulat Pujiara.

“Pujiara, Bude. Biasa dipanggil Ara,” Mima menjawab seraya melambaikan tangan mungil putrinya.

Ara kesenangan boleh turun, dan dia langsung merangkak mendekati pohon bunga pacar air yang ditanam di samping teras rendah.

“Jangan dipetik bunganya, Ara! Gak boleh,” larang Mima, mengangkat lagi putrinya.

Pujiara mulai menangis, keinginan dilarang maka air mata dijadikan senjata untuk menarik simpati pemilik rumah.

“Biarkan saja, lagian itu pohon tua, dan bunganya sudah pada layu, mau ku ganti tanaman Mawar.” Rosna duduk di ujung bangku karena Mima bergeser jauh dekat tepi teras.

“Beneran gapapa?” Mima ragu, niatnya kesini ingin mencari informasi penting, tentu harus menjaga sikap, jangan sampai Rosna kesal.

“Iya.” Angguknya mantap. “Dipastikan dulu daun atau pohonnya bebas dari Ulat. Biasanya ada satu atau dua ekor. Meski nggak buat gatal, tapi aku sering geli kalau ketemu hewan itu.”

Hamima menurunkan Ara, dan dia benar-benar memperhatikan barisan pohon bunga yang daunnya bisa dijadikan pewarna kuku.

Setelah yakin aman, baru memperbolehkan Pujiara main di sana, lalu Mima duduk dengan sorot mata mengawasi Pujiara.

“Gimana, betah tidak tinggal disini?” tanya Rosna, suaranya terdengar santai terkesan basa-basi.

“Sejauh ini betah, tapi masih tahap adaptasi juga. Kendala terbesar ada di jarak ke warung jauh, terus jauh juga dari tetangga,” ungkapnya seperti harapan sewaktu dulu di kota.

Hamima berharap dan sudah membayangkan kehidupan di desa ini, setelah pindah, ternyata jauh dari angan.

“Seperti inilah kehidupan di desa. Kalau untuk kenyamanan, juara. Tapi tidak dengan kemudahan akses ke kota, jauh jaraknya,” timpal Rosna.

“Maaf sebelumnya, kamu sudah punya anak belum, Rosna?” ia bertanya hati-hati.

“Sudah. Seorang putra , tapi sekarang dia telah kembali ke sang pencipta. Aku kehilangannya sembilan tahun lalu, dia gak selamat setelah tenggelam di sungai yang bagian dalam belakang rumah. Kalau saja dia masih hidup, umurnya sebelas tahun,” ucapnya sarat kesedihan.

Hamima terkejut, ia tatap lekat wajah sendu Rosna yang dihiasi flek hitam pada pipi dekat hidung. “Aku turut berdukacita.”

'Putranya Rosna sepantaran Guntur, seandainya saja masih hidup, mungkin mereka bisa jadi teman,' ucapnya dalam hati.

Rosna berusaha tegar, senyumnya jelas dipaksakan.

“Yang kamu maksud sungai, apa yang ada air terjunnya, dibelakang rumah kita?” Mima baru ingat cerita dari Guntur.

“Iya. Pas di bawah air terjun, pada bagian tengahnya — banyak warga yang bilang, ada pusaran air kencang. Kalau dari atas gak nampak. Putraku dulu suka berenang disana,” jawabnya lesu.

“Terima kasih informasinya, Rosna. Baru saja kemarin Guntur bilang mau mandi di sana, sekarang gak bakalan aku izinkan.” Mima turun dari bangku, mengelap wajah berkeringat Pujiara menggunakan ujung jari yang disampirkan di pundak.

Hamima mengganti topik, tidak ingin membuka luka lama yang pasti masih begitu menyakitkan. Kehilangan anak sama saja seperti kehilangan separuh jiwa, bahkan lebih.

Mereka pun lanjut mengobrol ringan. Mima menceritakan kehidupan di kota yang padat penduduk, bangunan rumah berdekatan, serta kegiatan sehari-harinya di sana.

Sementara Rosna bercerita kalau dia seorang ibu rumah tangga, suaminya sudah sembilan tahun bekerja menjadi sopir keluarga Sarkam.

Obrolan itu terjeda dikarenakan Pujiara menangis, baru saja terjungkal sewaktu mencabut pohon bunga, badannya ikut tertarik ke belakang.

“Cup cup … gapapa, Sayang. Sini Ibu lihat mana yang sakit?” Ara dipangku, dan baju terusan motif daun lebar dilepaskan.

“Perut Pujiara kenapa lebam, Mima?” Rosna menegang, meringis melihat warna biru keunguan terang.

Hamima baru sadar, ternyata kaos singlet putrinya ikut tertarik.

“Aku kurang tau, mungkin kepentok benda keras. Soalnya dia lagi lasak, tahunya tadi pas mau dimandiin.” Kaos singlet Ara dipakaikan lagi.

Rosna terdiam, raut wajahnya terlihat seperti orang tengah berpikir dalam.

“Bisa jadi karena kecapean. Coba kamu pijatkan Ara ke dukun bayi, mungkin badannya pegal-pegal,” usul Rosna.

“Dimana disini ada dukun bayi?” Mima sedang memangku Pujiara yang minum air putih menggunakan botol susu.

“Jauh sih. Atau besok pagi aku jemput mbah Nar, terus kubawa ke rumahmu, gimana?” ia menawarkan bantuan.

“Kamu kesananya jalan kaki, atau —”

“Ada motor lawas, ku pakai untuk antar jemput suami bekerja di rumah juragan Sarkam,” Rosna memotong kalimat Mima.

“Kalau gak merepotkan, boleh. Malah aku terima kasih banget,” ia pun setuju. Mima merasa terharu, disaat kesulitan, bingung mau minta tolong sementara suaminya sendiri mulai abai, ternyata masih ada orang baik menawarkan bantuan.

Saat dirasa sudah terlalu lama main ke rumah tetangga, Hamima pun berpamitan, lagipula besok mereka akan bertemu lagi.

Misi pertamanya belum membuahkan hasil maksimal, setidaknya dia tahu jika sungai dibelakang rumah itu berbahaya.

“Mima ….” panggil Rosna, diapun turun dari teras, tidak memakai sandal, berjalan menyusul Hamima yang sudah sampai jalan besar.

“Ya, ada apa, Rosna?” Mima sedikit penasaran.

Ketika berdiri berhadapan, gesture Rosna gelisah, netranya melirik kanan-kiri, lalu memalingkan muka ke belakang, memastikan benar-benar tidak ada orang lain.

Rosna berbisik. Pandangannya tidak melihat lawan bicaranya, namun menatap bangunan berdiri di ketinggian tanah. Rumah besar itu terlihat kokoh sekaligus angkuh.

“Nanti malam kan malam Jumat, jangan lupa sajennya disediakan, terus lampu minyak dihidupkan —”

“Untuk apa?!”

.

.

Bersambung.

1
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
memberikan contoh yang baik 🙄 contoh yang baik macam mana? kamu saja selengki dan kamu selalu membentak mima di depan anak2nya. kamu melontarkan kata2 yang nyakitin hati mima. kamu tuduh mima selengki, padahal kamu sendiri yang selengki. terus...contoh baik macam mana yang sudah kamu ajarkan?
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hahhh siapa ini yang ngomong? kamu yang ngomong gini Galih...coba dehh, Coba tengok lagi kalau perlu berkaca dulu siapa tahu kamu lupaa dengan apa yang sudah kamu lakukan di belakang mima. mana ada seorang Guru selengki? mana ada seorang Guru memperlakukan istrinya seperti seorang pembantu, masih enak jadi pembantu masih dapat gaji. sedang mima, kamu gahulii mima, kamu suruh masakin kamu, kamu suruh hamill, melahirkann dan menjaga anak2 kamu, tapi uang nafkah saja tak pernah kau kasih. kalaupun kamu kasih cukup buat makan. Dan gitu kamu masih nuntut mima tampil cantik, sedang buat Gaya saja tak ada Dana nya. gitu kamu mau memberikan contoh yang baik buat murid2 kamu, sedang jadi kepala keluarga, jadi ayah saja kamu tak bisa memberikan contoh yang baik.
Nining Nurjanah
jadi ikut sedih gara gara Galih gelo
Shee_👚
hayo jawab, dia sendiri yang ngelarang dia juga yang minta bantuan😏
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
Kaka Shanum
lawan mima terus lawan omongannya galih,balikin kata2 galih yang udah keterlaluan sama kamu...suami kok spek kayak gitu mau minta dihormati,janji aja bisa diingkari.
Shee_👚
heh galih kamu seharusnya menjadi kepala keluarga yang tegas, jangan hanya mengandalkan bantuan istrimu. kalau kamu salah yang aku ngapain minta di bela, toh semua yang di katanya Bu Yasmin kenyataan yang ada. harusnya kamu malu dah salah minta di bela😏
Shee_👚
semangat mima, selesai dan brantas para hama itu biar mereka mati semua
Shee_👚
sabar guntur, kamu anak dan abang yang kuat. nanti kumpul kembali bareng bapak baru🤭
Shee_👚
bener, pakaian mag gampang beli lagi. yang penting surat² penting dah di bawa
Shee_👚
bentar lagi bakalan di coret dari kaka🤣
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
Shee_👚
orang diem juga kalau dah muak mah pasti merepet kaya petasan galih, kamu dah membangunkan singa lagi tidur jadi siap2 dia terkam🤭
ismi
lawan saja mima suami luknutmu itu
Shee_👚
terus buka janji² palsu galih. hanya omdo doang kagak da bukti buat apa.
Muhammad Arifin
ckckck...suami plin plan....
patut diganti 😆😆😆😆
Shee_👚
ogah mima juga belain laki kaya lu galih. makan ja tu ocehan mertua😂
Shee_👚
telak banget omongan ibu mertua🤣
Nann
sore ini ada updatran lg gk kak??
Y.S Meliana
alah bisa apa kamu, orang ga jelas asal usul'y tp punya sikap yg njelei bgt 🤨
Betri Betmawati
muak dengan si galih ini udh miskin bnyk tingkah lagi
FiaNasa
pokoknya guntur n Ara harus berhasil dibawa pulang..n tolong beri Mima bodyguard secara diam² untuk menjaga keselamatannya..takut klau galih nekad melakukan sesuatu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!