Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Kembali ke Jalan

Perjalanan turun dari pegunungan barat memakan waktu lebih singkat dari pendakian mereka sebelumnya, seolah tubuh mereka sendiri lega bisa meninggalkan beban informasi berat yang menyelimuti lembah tersembunyi itu. Begitu mereka kembali menyentuh dataran rendah, udara terasa lebih hangat, lebih hidup, dan suasana hati mereka bertiga perlahan mulai kembali ringan.

"Kota apa yang paling dekat dari sini?" Saviera bertanya, membuka peta yang sudah mulai lusuh karena sering dibuka-tutup sepanjang perjalanan mereka.

"Millbrook," Sasuke menjawab, mengingat nama itu dari peta yang sama. "Kita pernah lewat sana sebelumnya, waktu mengawal rombongan Tuan Harwick."

"Oh! Elaina inget tempat itu!" seru Elaina riang, meski sebenarnya ia baru bergabung dengan mereka setelah kejadian di dungeon Saviera, sehingga ia sebenarnya belum pernah benar-benar mengunjungi Millbrook—namun antusiasmenya tidak berkurang sedikit pun karena detail kecil itu. "Ada kue di sana, kan? Mama pernah cerita!"

"Kita akan cari tahu," Saviera menjawab, tertawa kecil melihat semangat anaknya yang tidak pernah surut meski baru saja melewati hari-hari yang cukup berat.

---

Tiga hari perjalanan membawa mereka kembali ke jalan raya utama, dan suasana di sepanjang jalan terasa jauh lebih hidup dibanding suasana suram Aldric atau keheningan mencekam pegunungan Pastor Elric. Petani-petani bekerja di ladang mereka, anak-anak berlarian mengejar layang-layang di padang rumput terbuka, dan sesekali rombongan pedagang lewat dengan gerobak penuh barang dagangan, saling menyapa ramah setiap kali berpapasan dengan petualang lain di jalan.

Di sebuah persimpangan kecil, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon besar yang rindang, menikmati bekal sederhana yang mereka bawa.

"Aku sudah lama tidak merasa sesantai ini," Saviera berkata, menyandarkan punggungnya ke batang pohon, matanya terpejam menikmati semilir angin. "Rasanya aneh, mengingat semua yang baru saja kita pelajari."

"Mungkin itu justru yang kita butuhkan," Sasuke menjawab, duduk di sampingnya sambil mengawasi Elaina yang sedang mengejar kupu-kupu kecil beberapa meter dari mereka, tertawa riang setiap kali hampir berhasil menangkapnya. "Momen-momen sederhana seperti ini. Pengingat bahwa dunia ini tidak hanya berisi konspirasi dan ancaman besar."

Saviera membuka matanya, menoleh menatapnya dengan senyum lembut. "Kau berubah banyak, kau tahu. Dari yang kudengar tentang dirimu di awal—pemuda yang menjalankan misi seperti robot, tidak benar-benar merasakan apa pun—menjadi seseorang yang bisa menghargai momen sesederhana ini."

"Kalian yang mengubahnya," Sasuke menjawab jujur, tanpa ragu sedikit pun.

---

Elaina, yang akhirnya berhasil—atau lebih tepatnya, kupu-kupu itu akhirnya hinggap sukarela di jarinya—berlari kembali menghampiri mereka dengan wajah berbinar penuh kebanggaan.

"Lihat, Papa! Mama! Kupu-kupunya suka Elaina!"

"Cantik sekali," Saviera memuji, mengagumi kupu-kupu berwarna biru cerah dengan corak keperakan di sayapnya yang hinggap tenang di jari telunjuk Elaina.

"Boleh Elaina bawa pulang?" Elaina bertanya penuh harap, meski kupu-kupu itu sudah mulai mengepakkan sayapnya, bersiap terbang lagi.

"Kupu-kupu perlu terbang bebas, Sayang," Sasuke menjelaskan lembut. "Sama seperti kita yang suka berjalan-jalan ke tempat baru, kupu-kupu juga ingin menjelajahi tempat-tempat baru."

Elaina mengangguk mengerti, meski sedikit kecewa, dan mengangkat jarinya lebih tinggi, membiarkan kupu-kupu itu akhirnya terbang menjauh, melayang naik turun mengikuti angin sebelum menghilang di antara rerumputan tinggi.

"Dadah, Kupu-kupu! Semoga ketemu teman baru!" serunya riang, melambaikan tangan kecilnya pada makhluk yang sudah tidak terlihat lagi itu, sebuah kepolosan yang membuat Sasuke dan Saviera bertukar pandang penuh kehangatan.

---

Menjelang senja, mereka tiba di Millbrook, kota kecil yang masih tampak sama seperti yang Sasuke ingat—hangat, ramah, dan penuh aroma roti segar yang mengambang di udara dari kedai-kedai kecil di sepanjang jalan utamanya.

Mereka menyewa kamar di penginapan yang sama seperti kunjungan mereka sebelumnya, disambut hangat oleh pemilik penginapan yang masih mengingat mereka dari kunjungan singkat waktu itu.

"Kalian kembali!" pemilik penginapan itu berseru senang. "Dan sekarang bertiga, rupanya keluarga kecil yang lengkap!"

Malam itu, setelah makan malam yang lezat dan Elaina yang akhirnya berhasil mencicipi kue yang selama ini ia dengar dari cerita Saviera—dan langsung jatuh cinta pada rasa manisnya, memakan tiga potong sebelum akhirnya dihentikan dengan lembut oleh Saviera—mereka duduk bersama di ruang makan penginapan yang mulai sepi, suasana yang jauh lebih ringan dari malam-malam berat sebelumnya.

"Besok," Sasuke berkata, memecah keheningan nyaman itu, "mari kita ambil beberapa misi Guild lagi. Kembali ke rutinitas normal untuk sementara waktu."

"Aku suka rencana itu," Saviera menjawab, tersenyum. "Kita butuh waktu untuk mencerna semua yang baru saja kita pelajari, sebelum memutuskan langkah besar berikutnya."

Elaina, yang sudah setengah mengantuk dengan mulut masih sedikit belepotan remah kue, menguap lebar sebelum menyandarkan kepalanya ke lengan Sasuke. "Elaina suka jalan-jalan sama Papa dan Mama," gumamnya mengantuk, "ke mana pun perginya."

Sasuke mengusap kepalanya lembut, menatap ke arah Saviera yang balas menatapnya dengan senyum hangat yang sama.

Di luar jendela penginapan, bintang-bintang Astral mulai bermunculan satu demi satu, menyaksikan malam tenang lain dalam perjalanan panjang yang masih akan terus berlanjut—penuh misteri yang menanti untuk diungkap, namun untuk sekarang, dipenuhi kehangatan sederhana yang mereka bangun bersama, langkah demi langkah, hari demi hari.

---

*Bersambung ke Bab 27: Kabar dari Utara*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!