Indonesia
NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Waktu bergulir dengan cepat. Tanpa terasa, satu bulan telah berlalu sejak ketegangan besar yang terjadi di paviliun pondok.

Selama kurun waktu tersebut, tidak ada lagi teror maupun gangguan dari Ningsih dan Ningrum. Bahkan, sebuah perubahan besar terjadi: Ningsih dan Ningrum memutuskan untuk mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan rumah yang berada di belakang kompleks pondok, memilih pergi entah ke mana demi menghindari rasa malu setelah kedok dan ancaman mereka terbongkar.

Kepergian keduanya seolah membawa angin segar, mengembalikan kedamaian yang selama ini dirindukan oleh Kyai Ali, Jeffry, dan Puja.

Hari keberangkatan Kyai Ali untuk memenuhi undangan Haul Akbar di Kediri pun tiba.

Pukul enam pagi, halaman ndalem pondok pesantren sudah tampak sibuk.

Sebelum jadwal kuliah dan mengajar mereka dimulai, Jeffry dan Puja sengaja datang lebih awal untuk membantu persiapan sang ayah.

Puja tampak sigap merapikan beberapa keperluan kecil di dalam tas jinjing Kyai Ali, sementara Jeffry dengan mantap mengangkat koper besar milik ayahnya dan memasukkannya ke bagasi mobil jemputan yang sudah terparkir rapi.

Kyai Ali keluar dari paviliun dengan mengenakan jubah putih dan sorot mata yang teduh.

Beliau tersenyum melihat kesigapan putra dan menantunya di pagi hari yang cerah ini.

"Sudah beres semua, Bah," ujar Jeffry setelah menutup rapat bagasi mobil.

"Tas dan keperluan Abah sudah lengkap di dalam."

Kyai Ali mendekat, lalu menepuk-nepuk pundak Jeffry penuh kasih.

"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nak."

Orang tua bijaksana itu kemudian beralih menatap Puja yang berdiri anggun di samping suaminya.

"Dan kamu, Puja. Terima kasih ya sudah ikut repot pagi-pagi begini."

Puja tersenyum santun sambil mencium tangan sang mertua dengan takzim.

"Sama-sama, Abah. Hati-hati di jalan ya, Bah. Semoga acara di Kediri lancar dan Abah selalu diberi kesehatan selama di sana."

"Aamiin ya Rabbal 'alamin," balas Kyai Ali penuh kehangatan.

Sebelum Kyai Ali masuk ke dalam mobil, sebuah keputusan penting sudah diambil oleh Jeffry untuk memastikan keamanan dan ketenangan selama sang ayah pergi bertugas.

Mengingat rumah mereka sendiri berada di luar kompleks pesantren, Jeffry tidak ingin meninggalkan Puja seorang diri, meski Ningsih dan Ningrum sudah pergi.

"Oh iya, Bah," ucap Jeffry menyela sejenak sebelum mobil melaju.

"Selama Abah di Kediri nanti, Jeffry memutuskan untuk memboyong Puja tinggal di pondok dulu. Biar kami bisa menemani dan menjaga rumah Abah sekaligus."

Kyai Ali sontak mengembangkan senyum lebar mendengar usulan tersebut.

Pancaran matanya menyiratkan kelegaan yang luar biasa.

"Alhamdulillah, keputusan yang sangat bagus, Jeffry," puji Kyai Ali tulus.

"Justru Abah akan jauh lebih tenang kalau kalian tinggal di sini selama Abah pergi. Rumah ini jadi ada yang meramaikan dan merawat."

Setelah perbincangan singkat dan doa pengantar perjalanan, mobil yang membawa Kyai Ali perlahan meninggalkan halaman ndalem, meluncur membelah jalanan pagi menuju Kediri.

Sepeninggal Kyai Ali, Jeffry dan Puja saling berpandangan.

Dengan senyuman hangat, Jeffry merangkul pundak istrinya, bersiap melangkah masuk ke dalam kamar utama ndalem tempat mereka akan menghabiskan beberapa hari ke depan, menikmati kebersamaan yang aman dan damai di bawah naungan pesantren tercinta.

Langkah Puja seketika terhenti tepat di ambang pintu kamar utama.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap bingung ke arah suaminya yang justru melangkah santai ke dalam kamar alih-alih mengambil kunci mobil untuk bersiap ke kampus.

"Lho, Mas, kok malah ke kamar? Ayo kita ke kampus!" protes Puja dengan nada heran, tangannya memegang erat tali tas kuliah yang tersampir di bahunya.

"Bukankah Mas ada jadwal mengajar pagi ini, dan aku juga harus kuliah?"

Mendengar kepolosan istrinya, Jeffry langsung meledakkan tawa.

Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar, merasa gemas melihat wajah Puja yang kebingungan karena mengira mereka akan langsung menetap di kamar pondok saat itu juga tanpa mengingat jadwal kuliah.

Jeffry menghentikan tawanya perlahan, lalu melangkah mendekati Puja dengan senyuman penuh keusilan di bibirnya.

"Astaga, istriku sayang." ucap Jeffry lembut sambil mencolek hidung Puja pelan.

"Tentu saja kita tetap kuliah dan mengajar. Maksud Mas, kita tidur dan tinggal di sini nanti setelah pulang kuliah dan aktivitas kita selesai, bukan sekarang."

Wajah Puja seketika merona merah menyadari kesalahannya.

Ia menepuk pelan jidatnya sendiri karena terlalu terburu-buru menyimpulkan.

"Ah, iya juga ya. Kenapa aku jadi pikun begini?" gerutunya malu-malu.

Jeffry tersenyum hangat, menikmati rona di wajah istrinya. Ia lantas merapikan lipatan jilbab pashmina Puja yang sedikit miring akibat terkena angin pagi tadi.

"Sudah, jangan melamun terus. Ayo kita berangkat sekarang, nanti kita bisa terlambat ke kampus," ajak Jeffry sambil menggenggam jemari istrinya.

Puja mengangguk cepat. Dengan gerakan cekatan, ia membetulkan letak hijabnya di depan cermin kecil dekat pintu, merapikan setiap sisinya agar tampak rapi sebelum akhirnya berjalan berdampingan dengan sang suami menuju mobil yang sudah menunggu di halaman.

Langkah kaki Puja terburu-buru menyusuri koridor kampus.

Menyadari waktu menunjukkan hampir pukul delapan lewat sepuluh, gadis itu langsung berlari kecil menuju ruang kelasnya agar tidak terlambat mengikuti mata kuliah pagi.

Dari ambang pintu gedung parkir, Jeffry berdiri sejenak sambil melipat tangan di dada.

Ia tersenyum geli menyaksikan tingkah istrinya yang tampak berlari kecil menenteng tas kuliah, merasa sangat gemas dengan kepanikan kecil Puja.

"Hati-hati jalannya, Dek!" gerutu Jeffry pelan penuh kasih, masih tersenyum lebar.

Pria itu kemudian berbalik, memutar langkahnya menuju area parkir khusus dosen untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal di dalam mobil sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.

Jeffry membuka kunci pintu mobil, lalu menarik handle pintu kemudi.

Namun, sebelum ia sempat membuka pintu belakang untuk mengambil tas kerjanya, sebuah suara decitan halus dari bagian belakang mobil menghentikan gerakannya.

"Mas Jeffry,"

Jeffry tertegun. Suara itu terdengar begitu dekat, dingin, dan sangat ia kenal.

Sebelum otak dan refleksnya sempat bereaksi, sebuah gerakan kilat terjadi di luar dugaannya.

Dari dalam bagasi belakang mobil yang ternyata tidak terkunci rapat—tempat yang sengaja digunakan untuk bersembunyi—Ningrum melompat keluar dengan tatapan mata yang beringas dan penuh obsesi gila.

Bruk!

Jeffry tidak sempat menghindar saat tubuh Ningrum menerjang dari arah belakang.

Dalam hitungan detik, sebuah jarum suntik berukuran besar berisikan cairan bius menancap kuat tepat di leher samping Jeffry.

"Argh!" Jeffry mengerang tertahan, matanya membelalak lebar seketika.

Ia mencengkeram tangan Ningrum yang menekan suntikan tersebut, namun cairan kimia itu langsung bereaksi cepat, menjalar melumpuhkan saraf-saraf tubuhnya.

Pandangan Jeffry seketika mengabur, napasnya terasa berat, dan tenaganya mendadak hilang tak bersisa.

"K-kamu," gumam Jeffry terbata-bata, tubuhnya terhuyung lemas sebelum akhirnya ambruk tak berdaya di samping pintu mobil.

Melihat Jeffry yang sudah kehilangan kesadaran, Ningrum tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan sisa tenaga dan seringai kepuasan di wajahnya, gadis itu menyeret tubuh Jeffry yang terkulai, mendorongnya kasar hingga masuk ke kursi belakang mobil.

Ningrum lantas berlari kecil memutari mobil, menduduki kursi kemudi, dan mengunci seluruh pintu dari dalam.

Tanpa memedulikan situasi sekitar kampus yang mulai ramai, Ningrum menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil meluncur kencang memecah jalanan, meninggalkan area kampus menuju ke luar kota ke tempat yang sunyi dan jauh.

Di balik kemudi, Ningrum tertawa kecil penuh kemenangan, melirik sekilas ke arah Jeffry yang terbaring lemah di jok belakang.

"Sekarang, kamu sepenuhnya milikku, Mas," bisik Ningrum penuh kegilaan saat mobil terus melaju kencang meninggalkan jejak kemarahan yang membabi buta.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!