Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Petugas polisi mendekat ke arah Gea dan memberitahukan kalau Mili tidak mau bertemu dengannya.
Mili yang mendengarnya langsung menangis dan tertawa kecil.
"Semua ini memang salahku," gumam Gea yang menyesal.
Di dalam kepalanya yang berkecamuk, kesadaran dan bayangan masa lalu tiba-tiba berputar balik, menyeretnya kembali ke akar dari segala kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
Flashback dua puluh tahun yang lalu, di sebuah sore yang basah dan kelam.
Hujan turun begitu deras, mengguyur halaman rumah keluarga mereka tanpa ampun. Di bawah terpaan air hujan yang dingin, Mili kecil yang berdiri basah kuyup sambil memegang erat payung kecil.
Ia menatap adiknya, Gea dengan mata penuh kecemasan.
"Gea, ayo kita pulang. Hujan deras sekali, nanti kamu sakit," bujuk Mili kecil dengan suara bergetar, mencoba menarik tangan adiknya.
Namun Gea kecil justru menghempaskan tangan kakaknya dengan kasar. Wajahnya cemberut, keras kepala, dan manja.
"Tidak mau! Aku mau main air hujan! Kakak jangan mengaturku!" teriak Gea membentak, sengaja melompat-lompat di genangan air.
Karena asyik bermain dan berlari di atas lantai semen yang licin, kaki Gea terpeleset hebat.
Tubuhnya jatuh membentur undakan tangga batu dengan suara keras, disusul tangisan histeris yang memecah udara sore itu.
Mendengar tangisan putri kesayangan mereka, Papa dan Mama berlari keluar rumah dengan panik payung di tangan.
Tanpa mencari tahu kebenaran atau mendengarkan penjelasan Mili kecil yang ketakutan di sudut halaman, Mama langsung menerobos hujan dan membentak Mili.
"Mili! Apa yang kamu lakukan pada adikmu?!" teriak Mama histeris, langsung membopong Gea yang menangis kencang masuk ke dalam rumah.
Malam itu, kamar Gea berubah menjadi istana kecil penuh kehangatan.
Papa dan Mama bergantian memeluk, menenangkan, dan memanjakan Gea, memberikan sup hangat serta mainan baru untuk meredakan tangisnya.
Sebaliknya, Mili kecil dikurung di dalam gudang yang gelap dan dingin sebagai hukuman atas tuduhan palsu bahwa ia sengaja mencelakai adiknya.
Di atas tempat tidur empuknya, di pelukan sang mama yang mengelus kepalanya penuh sayang, Gea kecil berbisik dengan nada penuh racun kekanak-kanakan yang justru ditanamkan oleh rasa manja berlebih:
"Mama, Kak Mili itu jahat. Tadi Mili sengaja dorong aku sampai jatuh."
Sejak hari itu, kebohongan kecil tersebut tumbuh menjadi monster.
Setiap kali Gea ingin mendapatkan perhatian lebih, setiap kali ia membuat kesalahan, ia selalu menuding Mili sebagai pelakunya.
Dan, Papa serta Mama, yang selalu membutakan mata demi memanjakan Gea, melampiaskan kemarahan mereka dengan menyiksa, memukul, dan mengabaikan Mili selama bertahun-tahun.
Kembali ke masa sekarang, di dalam sel tahanan yang sempit, Gea memeluk lututnya sendiri sambil menangis sesenggukan.
Bayangan masa lalu itu kini berbalik menjadi hantaman palu yang meremukkan dadanya.
Ia dimanja di atas penderitaan kakaknya. Ia diberi segalanya di atas air mata Mili yang dirampas haknya.
Dan, kini ia jatuh ke dasar jurang penderitaan, tidak ada lagi papa atau mama yang datang melindunginya.
Yang tersisa hanya kehampaan, jeruji besi, dan kutukan atas kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Di dalam kesunyian sel tahanan yang dingin dan berbau apak, penyesalan yang teramat dalam menghancurkan sisa-sisa kewarasan Gea.
Bayangan masa lalu saat ia terus-menerus menyiksa Mili, merampas kebahagiaannya, hingga kesombongannya yang berujung pada kebangkrutan total berputar tanpa henti di kepalanya.
Tidak ada lagi jalan keluar. Orang tuanya telah membuangnya, harta keluarganya lenyap, dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya—kakak yang selama ini ia injak-injak—telah menutup pintu rapat-rapat untuknya.
"Maafkan aku, Kak." bisik Gea parau di tengah isak tangisnya yang tersengal.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Gea merobek sisa kain dari pakaian tahanannya yang sudah usang.
Rasa putus asa yang sudah mencapai puncaknya membuat ia kehilangan seluruh harapan untuk hidup.
Di sudut sel yang luput dari pengawasan kamera pengawas, keputusan nekat itu ia ambil dalam kegelapan malam.
Di dalam kesunyian malam yang pekat di sel tahanan Bali, detik-detik menegangkan itu pecah seketika.
Saat Gea hampir merenggut nyawanya sendiri, derap langkah tergesa-gesa dari petugas kepolisian yang sedang melakukan patroli rutin mendadak terdengar dari arah koridor.
Mata sang petugas membelalak ngeri saat melihat bayangan di balik jeruji besi.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" teriak petugas itu histeris.
Tanpa membuang detik, sang petugas langsung menerobos membuka pintu sel dengan kunci cadangan, menerjang masuk, dan berhasil menghentikan tindakan nekat Gea di detik-detik terakhir sebelum semuanya terlambat.
Gea ditarik mundur, terbatuk-batuk hebat dengan napas terengah-engah, sementara petugas segera memanggil tim medis darurat untuk memberikan pertolongan pertama pada wanita yang sudah kehilangan seluruh kewarasannya itu.
Di sisi lain, di dalam kamar utama mansion megah keluarga Hermawan di Jakarta, suasana malam yang tenang seketika terusik oleh sebuah firasat buruk yang tak kasat mata.
Mili sedang duduk bersandar di atas ranjang empuk sambil menikmati segelas air hangat yang disiapkan Bibi, sementara David berada di sisi ranjang, setia mengusap lembut perut istrinya yang mulai membesar.
Tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, dada Mili berdegup kencang secara tidak normal.
Rasa sesak yang aneh mendadak menghantam ulu hatinya, membuat napasnya tertahan.
Prang!
Gelas kaca yang sedang dipegang Mili terlepas dari jemarinya dan jatuh menghantam lantai marmer kamar, pecah berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Air hangat tumpah membasahi karpet tebal.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa?" ucap David dengan wajah panik.
Ia langsung melompat berdiri, memeriksa tangan Mili dengan cemas seolah takut istrinya terluka oleh pecahan kaca.
"Ada yang sakit? Kenapa tanganmu gemetar?"
Mili menggeleng pelan, manik matanya menatap kosong ke depan dengan perasaan tidak enak yang teramat pekat.
Ada rasa nyeri yang menusuk dadanya, seolah sebuah ikatan darah masa lalu baru saja nyaris terputus selamanya.
"Aku, tidak tahu, David," bisik Mili lirih, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja tanpa ia kehendaki.
"Rasanya, sesak sekali."
Sebelum David sempat memeluk dan menenangkan istrinya, ponsel di atas nakas berdering nyaring memecah keheningan malam.
David mendengus kesal karena waktunya terganggu, namun ia tetap meraih ponsel tersebut dengan satu tangan sementara tangan yang lain mendekap bahu Mili protektif.
Ia melihat nama Jonas tertera di layar.
Dengan raut wajah dingin, David mengangkat panggilan itu dan menempelkannya ke telinga.
"Ada apa malam-malam menelepon?" tanya David tajam.
Di ujung sambungan, suara Jonas terdengar sedikit tergesa-gesa dan penuh kehati-hatian.
"Maaf mengganggu malam Anda, Tuan. Saya baru saja mendapat laporan darurat dari pihak kepolisian di Bali," lapor Jonas cepat.
"Tahanan atas nama Gea, baru saja mencoba melakukan percobaan bunuh diri di dalam selnya."
Mendengar kata 'bunuh diri', tubuh Mili yang berada dalam dekapan David langsung menegang kaku.
Napasnya tercekat, dan ia menatap suaminya dengan mata terbelalak ngeri.
David sendiri mengeraskan rahangnya, sorot matanya berubah semakin tajam.
"Lalu?" tanya David.
"Petugas jaga bergerak cepat dan berhasil menyelamatkannya tepat waktu, Tuan," lanjut Jonas.
Saat ini Gea sudah dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan medis dan pengawasan ketat agar kejadian serupa tidak terulang."
David menghembuskan napas kasar. Ia sama sekali tidak merasa kasihan; bagi pria itu, apa pun yang terjadi pada Gea sudah bukan lagi urusannya atau urusan istrinya.
Namun, saat ia menunduk dan melihat air mata Mili kembali tumpah membasahi pipi, rahang David kembali mengatup rapat.
"Pastikan dia tetap hidup, Jonas," perintah David dingin pada sambungan telepon.
"Biarkan dia hidup menanggung seluruh dosa dan penderitaannya di balik jeruji besi sampai akhir hayatnya. Jangan biarkan dia mati dengan mudah."
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Jonas.
Sambungan diputus. David langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu membawa Mili sepenuhnya ke dalam dekapannya, mendekap erat tubuh istrinya yang masih sedikit bergetar akibat syok.
"Ssst, sudah, jangan dipikirkan, Sayang," bisik David lembut, mengecup puncak kepala Mili berulang kali.
"Dia sudah mendapatkan apa yang layak ia terima. Fokus saja padaku dan buah hati kita di sini."
Mili memejamkan matanya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, membiarkan kehangatan dan detak jantung David menghapus sisa-sisa rasa nyeri yang sempat merayap di dadanya.