Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Dibuka
Senja perlahan tenggelam di balik pegunungan.
Silvia masih duduk diam di depan meja belajranya.
Di hadapannya tergeletak peti besi hitam yang tadi dibawa dari ruang bawah tanah.
Bip—
Untuk kelima kalinya, suara penolakan dari kunci kombinasi kembali terdengar nyaring.
Silvia memejamkan mata.
Ujung jarinya berhenti lemah di atas tombol angka.
Namun di dalam kepalanya…
Suara Chris Devallion terus bergema.
“Hei, Si Bodoh…”
“Masih ingat hari pertama kau berbicara denganku?”
Silvia tiba-tiba membuka mata.
Ia segera mengambil album foto yang tadi ditemukan di dalam kotak.
Suara lembar demi lembar halaman yang dibalik menggema di kamar yang sunyi.
210400.
Tatapannya terpaku pada deretan angka itu.
Perlahan ia memasukkan kode ke brankas.
2, 1, 0, 4, 0, 0.
Bip—
Kali ini…
Bukan suara penolakan.
Melainkan…kunci berhasil dibuka.
Klik.
Pengait besi perlahan terlepas.
Silvia terdiam cukup lama.
Barulah ia mengangkat tutup peti itu perlahan.
Di dalamnya…
Tidak ada kontrak, tidak ada dokumen, tidak ada uang tunai.
Hanya…dua benda.
Sebuah amplop cokelat yang telah menguning dimakan usia.
Dan…
Sebuah flashdisk USB berwarna hitam.
Di permukaannya tertulis dua kata dengan spidol putih.
“JANGAN DIBUKA.”
Napas Silvia langsung tertahan.
Tangannya mengambil amplop itu terlebih dahulu.
Di bagian depan hanya tertulis satu kalimat.
Untuk Silvia Pollis.
Dalam sekejap…
Silvia mengenali tulisan tangan itu.
Tulisan Chris.
Namun…
Ia tidak langsung membuka surat tersebut. Tatapannya justru beralih kepada USB di tangan satunya.
Adrian pernah berkata…
Apa pun yang tersimpan di dalam bend aitu…
Akan mengubah segalanya.
Silvia terdiam beberapa saat.
Lalu…
Ia meletakkan kembali USB itu ke atas meja.
Apa pun isi di dalamnya…
Ia ingin mengetahui isi hari Chris terlebih dahulu.
Walaupun…
Mungkin itu adalah kata-kata terakhir yang ditinggalkannya.
Perlahan Silvia membuka amplop itu.
Selembar kertas surat yang terlipat rapi jatuh ke atas meja.
Saat hendak membukanya…
Sebuah foto kecil seukuran telapak tangan ikut meluncur keluar.
Plak.
Foto itu jatuh di atas meja.
Di dalam foto…
Chris yang masih berusia sekitar sepuluh tahun sedang berjongkok sambil tersenyum cerah.
Di sampingnya…
Seorang gadis kecil memeluk kedua lututnya dan bersembunyi di sudut ruangan, enggan menatap kamera.
Di pojok kanan bawah foto tertulis sebuah kalimat kecil.
“Akhirnya kau menemukanmu.”
Air mata Silvia akhirnya jatuh membasahi foto itu.
Dengan tangan yang gemetar...
Ia mengembalikannya ke atas meja.
Lalu perlahan membuka surat tersebut.
Untuk Si Bodohku,
Semoga saat kamu membaca surat ini, semuanya masih baik-baik saja.
Maaf...
Aku tidak bisa menemanimu melanjutkan perjalanan ini.
Kalau kau sudah sampai sejauh ini...
Berarti kau pasti sudah mengetahui sebagian besar kebenarannya.
USB di samping surat ini...
Menyimpan semua rahasia yang telah lama disembunyikan keluarga Devallion.
Sebenarnya...
Aku tidak pernah ingin menyeretmu masuk ke dunia yang sekotor ini.
Sayangnya...
Mereka sudah mengetahui keberadaanmu.
Rencana awalku adalah membersihkan semuanya sekaligus.
Tapi...
Pada akhirnya aku terlalu meremehkan mereka.
Kekuatan mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada yang kuduga.
Bahkan keluarga Devallion masih belum cukup kuat untuk menghancurkan mereka sepenuhnya.
Tapi tenang saja.
Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.
Aku beri tahu satu rahasia kecil.
Sebagian besar dari mereka...
Sudah kuhabisi.
Orang-orang yang tersisa...
Sudah tidak cukup kuat untuk mengancammu lagi.
Walaupun aku tidak lagi berada di sisimu...
Mereka tidak akan mampu membuat kekacauan besar.
Hei, Si Bodoh...
Saat aku menulis surat ini...
Di tempatmu sekarang sudah pukul dua dini hari.
Sebenarnya aku ingin sekali meneleponmu.
Tapi aku takut membangunkanmu.
Tidurmu selalu ringan.
Kamu juga gampang terkejut.
Kalau nanti aku sudah tidak ada...
Jangan lupa menjaga dirimu baik-baik.
Kalau Nelia sedang sibuk...
Carilah Adrian.
Dia orang yang bisa kau percaya.
Kalau suatu hari nanti...
Kau benar-benar melupakanku...
Tak apa.
Asalkan kau tetap hidup dengan bahagia.
Selamat malam, Si Bodoh.
Orang yang akan selalu memilihmu...
Chris Devallion
Tok...
Tok...
Silvia tersadar dari lamunannya.
Dengan mata yang lelah, ia menoleh ke arah pintu.
“Nona Silvia.”
“Saya, Adrian.”
Suara berat Adrian terdengar dari luar kamar.
Silvia buru-buru merapikan isi meja.
Semua barang dimasukkan kembali ke dalam peti.
Barulah ia menjawab pelan.
“Masuk.”
Beberapa detik kemudian...
Pintu perlahan terbuka.
Tatapan Adrian langsung jatuh pada mata Silvia yang dipenuhi garis-garis merah.
Rasa bersalah tampak jelas di wajahnya.
“Anda…”
“Sudah membacanya?”
Silvia mengangguk pelan.
Tangannya masih bertumpu di atas peti besi itu.
“Apa yang akan Anda lakukan sekarang?”
Adrian menarik kursi kecil di samping tempat tidur.
Lalu duduk menghadap Silvia.
Silvia mengusap perlahan permukaan peti tersebut.
“Aku belum tahu.”
“Mungkin pergi ke luar negeri.”
“Atau...”
“Mencari tahu kebenarannya.”
Adrian mengangkat sebelah alis, nada suaranya terdengar dingin, "Menyelidikinya?"
“Nona Silvia...”
“Dengan kemampuan Anda sekarang, itu sama saja dengan mencari kematian.”
Wajah Silvia langsung memucat, ia mengepalkan tangannya, “Kalau begitu katakan padaku, sebenarnya apa yang Chris lakukan selama berada di luar negeri?”
Adrian terdiam cukup lama, “Aku sudah berjanji kepadanya, tidak boleh memberitahumu.”
“Kalau begitu, jangan hentikanku. Aku akan mencari jawabannya sendiri”
“Nona Silvia...” Adrian menatap bayangan Silvia melalui cermin di meja belajar.
Silvia membalas tatapannya, “Adrian, kamu adalah orang kepercayaan Chris. Aku mempercayaimu.”
“Karena itu, aku juga berharap kamu juga menghormatiku.”
“Aku akan mencari tahu kenapa Chris harus mati.”
“Dengan jelasnya, aku tahu jalan ini penuh bahaya. Tapi, aku tidak takut.”
“Jadi...tolong jangan menghalangi jalanku. Mungkin perjalanan ini akan sangat panjang. Tapi suatu hari nanti, semua kebenaran pasti akan terungkap.”
Mata tekad yang begitu kuat di mata Silvia membuat Adrian memilih diam.
Ia tidak lagi mencoba menghentikannya.
Perlahan dia berdiri, lalu meninggalkan kamar itu.
Saat melewati ruang tamu...
Ia melihat Fray sedang berputar-putar dengan riang sambil menjalankan mode hiburannya.
Adrian tersenyum kecil.
Lalu bergumam pelan,
"Chris..."
"Kali ini..."
"Kau benar-benar menang taruhan."