Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 32 — Riuh Sebelum Badai
Beberapa menit setelah aura mengerikan pria bertopeng itu benar-benar lenyap dari gedung, Peng Wu dan Li Weinan merosot jatuh ke lantai kayu. Napas mereka terengah-engah, dada mereka naik turun dengan keras layaknya ikan yang kehabisan air. Pakaian sutra mewah yang mereka kenakan kini basah kuyup oleh keringat dingin.
"S-Saudara Peng..." bisik Li Weinan dengan suara serak, tangannya yang keriput mengusap keringat di lehernya yang gemetar. "Aura tadi... saat dia marah ketika mendengar nama Keluarga Qu... itu adalah niat membunuh paling murni yang pernah kurasakan seumur hidupku. Bahkan... bahkan jauh lebih mengerikan daripada niat membunuh seorang Tetua dari Sekte Pedang Tiran yang pernah kutemui bertahun-tahun lalu."
Peng Wu mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke arah kotak emas berisi 'Nadi Spiritual tingkat 2 palsu' yang tergeletak di atas meja. Rasa ngeri masih merayap di tulang punggungnya.
"Keluarga Qu telah memprovokasi eksistensi yang sangat mengerikan," gumam Peng Wu, suaranya bergetar. "Sepertinya... langit Kota Sungai Hijau akan segera runtuh."
Tiba-tiba, mata Peng Wu terbelalak lebar seolah baru saja disambar petir. Wajahnya yang tadinya pucat pasi kini berubah menjadi seputih kertas.
"Ah... Saudara Li!" seru Peng Wu panik. "Plakat itu! Bukankah plakat VIP hitam kelas atas itu masih terpasang formasi pelacak di dalamnya?!"
Deg!
Jantung Li Weinan berdetak dua kali lebih kencang. Formasi pelacak itu adalah prosedur standar paviliun untuk memantau keselamatan tamu VVIP mereka, bukan untuk tujuan jahat. Tapi bagi seorang monster tua yang eksentrik, dipantau diam-diam adalah sebuah penghinaan besar!
Peng Wu mendengus keras, merutuki kebodohannya sendiri. "Sialan! Seharusnya aku membuat plakat yang baru sebelum memberikannya kepada beliau! Plakat itu dibuat agar suatu saat dikembalikan, namun aku dalam keadaan panik malah—"
Ctak!
Belum sempat Peng Wu menyelesaikan kalimatnya, bunyi retakan halus terdengar dari dalam kantong spasial di pinggangnya. Itu adalah suara dari batu giok inti yang menjadi pusat dari formasi pelacak untuk plakat hitam tersebut.
Batu giok itu baru saja hancur berkeping-keping.
Peng Wu dan Li Weinan saling tatap. Udara di sekitar mereka seakan membeku. Mereka meneguk ludah secara bersamaan, mata mereka menyiratkan teror yang sama: Apakah Senior itu menyadarinya? Apakah beliau akan kembali dan menghancurkan cabang paviliun ini hingga rata dengan tanah karena kelancangan kami?!
.....
Sementara itu, jauh di luar gedung Paviliun Dagang Anggrek Merah.
Alih-alih kembali ke Penginapan Teratai Merah, Huo Li melesat dengan kecepatan penuh ke arah yang berlawanan. Menggunakan Langkah Ilusi Hantu, tubuhnya bergerak menyatu dengan bayang-bayang malam Kota Sungai Hijau, sengaja mengambil rute memutar yang rumit untuk memutus jejak jika ada Pasukan Bayangan yang berani mengikutinya.
Di tengah sebuah gang buntu yang gelap, Huo Li berhenti. Di telapak tangannya, Plakat VIP Kelas Hitam itu memancarkan pendar energi yang samar.
Dengan panca indra dari Energi Surgawinya, menemukan untaian formasi pelacak murahan di dalam plakat ini semudah melihat noda tinta di atas kertas putih.
Huo Li menatap plakat itu. Di dalamnya, tersimpan akses mutlak menuju ruang kelas atas dan dana 500 Kristal Spiritual Tingkat 2. Sebuah jumlah yang bisa membuat kultivator mana pun menjadi gila.
"Menggiurkan," ujarnya pelan, sebuah senyum tipis terukir di balik topengnya.
Namun, ia tahu persis risikonya. Jika ia membawa plakat ini, koneksi dana tersebut akan melacak penggunanya kembali ke Paviliun Dagang Anggrek Merah. Walaupun ia bisa saja kembali menyamar menjadi 'Senior Misterius' di pelelangan nanti, hal itu terlalu mencolok. Keberadaannya di ruang kelas atas hanya akan menarik perhatian Utusan Sekte Pedang Mendalam dan Keluarga Qu. Untuk rencana balas dendam dan perampasannya ke depan, plakat ini tidak akan menguntungkannya. Ia harus bergerak dalam bayang-bayang sebagai penjaga Yun Bing.
KRAK!
Tanpa sedikit pun penyesalan, Huo Li meremas plakat hitam berharga itu hingga hancur menjadi serpihan debu logam, memutus formasi pelacak di dalamnya secara paksa.
Setelah memastikan tidak ada jejak energi yang tersisa, ia membuang topeng dan jubah hitamnya ke dalam sebuah tong sampah kayu yang kotor di ujung gang dan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru bernuansa topeng iblis dan jubah merah. "Baiklah, saatnya menemui orang yang seharusnya menjadi penguasa kota ini." gumamnya pelan.
Beberapa jam kemudian.
Huo Li kembali ke Penginapan Teratai Merah, tiba tepat setelah sisa-sisa cahaya matahari tertelan sepenuhnya oleh malam.
Di ruang makan umum penginapan yang ramai, Yun Bing tampak duduk menyilangkan kaki, meminum tehnya dengan ekspresi dingin yang menjaga agar tidak ada pria hidung belang yang berani mendekat.
Huo Li berjalan menghampirinya, menarik kursi, dan duduk dengan senyum tanpa dosa.
"Aku tidak lama kan, Majikan?" sapanya santai.
Yun Bing meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar, menatap pemuda itu dengan tatapan jengah. "Sialan kau."
Mendengar makian pelan itu, Huo Li hanya tertawa pelan, menjaga suaranya agar tidak mengganggu suasana orang lain di sekitar mereka. 'Jika kau tahu apa yang baru saja kulakukan di luar sana, kau mungkin tidak akan bisa minum teh setenang ini, Senior,' batinnya geli.
.....
Keesokan harinya, kegiatan di Kota Sungai Hijau berlalu dengan ketegangan yang terus memuncak. Semua orang sibuk membicarakan pelelangan terbesar yang akan diadakan malam ini.
Hingga malam hari pun tiba.
Gedung Paviliun Dagang Anggrek Merah kini diterangi oleh ribuan lampion yang mengubah malam menjadi siang. Huo Li berdiri tegap tepat di belakang Yun Bing, memerankan sosok seorang penjaga dengan sangat sempurna. Pakaiannya biasa, dan wajahnya datar tanpa emosi tertutup tudung hitam.
Mereka masuk bersama ratusan orang lainnya ke dalam aula utama pelelangan yang berbentuk seperti teater melingkar, lalu duduk di bangku umum yang berdesakan. Udara di dalam aula terasa panas oleh antusiasme. Semua orang menunggu kedatangan pelayan cantik yang biasanya membawa acara, mereka sudah tidak sabar melihat harta apa yang akan dipamerkan.
Di lantai yang lebih tinggi, mengelilingi aula utama, terdapat tiga ruangan balkon kelas atas yang dilapisi tirai kristal.
Tak lama kemudian, siluet-siluet orang kuat mulai bermunculan di balik balkon tersebut. Tebakan para kultivator di bangku umum tidak meleset.
Di ruangan kelas atas paling kiri, Hu Aiming, sang Wali Kota Sungai Hijau, menampakkan dirinya di tepi balkon. Ia sedikit gemuk namun raut wajahnya cukup tegas, melambaikan tangannya dengan senyum penuh arti, mengundang sorakan riuh.
Namun, perhatian semua orang segera tersedot ke ruangan kelas atas di bagian tengah.
Tirai kristal di sana tersibak. Seorang pemuda berpakaian sutra keemasan yang luar biasa mewah melangkah maju. Wajahnya tampan namun memancarkan keangkuhan yang merendahkan siapa pun yang ada di bawahnya.
Itu adalah Qu Jin, putra kebanggaan Patriark Keluarga Qu.
Di sebelahnya, berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah putih bersih dengan lambang pedang emas yang menyilang di dadanya. Kehadiran pria itu seketika membuat tekanan di dalam aula menjadi berat.
"I-Itu Utusan dari Sekte Pedang Mendalam!" bisik orang-orang dengan nada penuh hormat dan ketakutan.
"Jadi benar rumornya?! Qu Jin benar-benar akan dipromosikan menjadi murid dalam dan saat ini diajari langsung oleh tetua sekte mereka!"
Di bangku umum yang redup, mata Huo Li sedikit menyipit. Menatap wajah Qu Jin yang sedang tersenyum sombong di atas sana, ingatan tentang tendangan, ludah, dan air kencing yang mengguyur wajahnya di dasar tebing kembali berputar jelas. Darahnya mendidih, namun kendalinya atas Energi Surgawi menekan emosi itu hingga tak ada seutas aura pun yang bocor.
Sambil menyembunyikan wajahnya di balik bayangan tudung ringan, Huo Li langsung memutar teknik Napas Penenang Hati. Detak jantung, suhu tubuh, dan fluktuasi energinya seketika menghilang, membuatnya terasa seperti batu mati yang tak bernyawa.
Menyadari perubahan ritme napas Huo Li yang mendadak hilang, Yun Bing melirik ke belakang.
"Ada apa?" tanya Yun Bing pelan, alisnya sedikit bertaut.
Dari balik bayang-bayang, sudut bibir Huo Li melengkung membentuk seringai yang sangat dingin dan mematikan.
"Tidak ada apa-apa... Nona," balas Huo Li dengan suara rendah yang datar memainkan sandiwara Nona Muda dan seorang penjaga.
Tepat pada saat itu, alih-alih pelayan wanita cantik yang biasa membuka acara, seorang pria paruh baya berjubah biru mewah berjalan tergesa-gesa ke atas panggung utama lelang. Itu adalah Peng Wu, sang Kepala Cabang sendiri.
Alih-alih terlihat berwibawa, wajah Peng Wu justru tampak pucat, dan keringat dingin sesekali menetes dari pelipisnya. Sambil menyampaikan pidato pembukaan, matanya terus-menerus melirik dengan cemas ke arah balkon kelas atas paling kanan.
Ruangan kelas atas paling kanan itu... gelap dan kosong melompong. Padahal acara sudah dimulai.
'Sial... Sial! Ruangan itu tetap kosong!' batin Peng Wu menjerit di tengah pidatonya, kakinya sedikit gemetar. 'Apakah... Apakah Senior Misterius itu benar-benar marah karena formasi pelacak kemarin?! Ya Dewa, tolong jangan hancurkan paviliunku malam ini!'
Di bawah sana, menyatu dengan kerumunan orang, Huo Li hanya menatap kepanikan sang Kepala Cabang dengan kebingungan. 'Ada apa dengannya?'
sesuatu yg WAAAAH kah ??
hanya sebagai alat syarat sebuah kabupaten....!!
semua dkendalikan olh keluarga paling berpengaruh !!
layaknya negara konoha skrg ... wkwkwk
ngitulah kira³....🤣🤣
makn pake sumpit. minum pake pipit.. pipisnya dkloset...🤣🤣🤣