Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Hari yang Kacau
Pagi itu, Naira berdiri di depan pintu gedung Arsen Group dengan wajah yang sedikit lesu namun tersenyum. Demamnya sudah turun kemarin malam, dan hari ini ia kembali bekerja dengan semangat yang baru.
Yang paling ia rindukan sebenarnya bukan pekerjaannya, tetapi seseorang yang pasti sudah menunggunya di dalam sana.
"Selamat pagi."
Suara rendah itu terdengar tepat di belakangnya. Naira menoleh dan melihat Mikael berdiri di sana dengan senyum yang begitu hangat, seolah-olah matahari baru saja terbit di hadapannya.
"Selamat pagi," jawab Naira dengan senyum yang melebar. "Kamu sudah menungguku ya sejak pagi."
"Siapa yang menunggumu?" Mikael mengangkat alis, berusaha terlihat biasa saja, namun matanya berbinar jelas. "Aku cuma kebetulan lewat di sini. Itu saja."
Naira tertawa kecil. "Pembohong yang buruk, Mikael."
Mikael tertawa renyah. "Baiklah, aku mengaku. Aku memang menunggumu. Karena hari ini kita punya tugas besar. Kita harus pergi ke gudang bahan di pinggir kota untuk memeriksa persediaan kain baru. Dan perjalanannya lumayan jauh."
Naira melotot. "Pinggir kota? Itu kan tempatnya jauh sekali!"
"Justru itu akan menyenangkan." Mikael tersenyum lebar. "Ayo, Sayang. Hari ini milik kita."
********
Perjalanan dimulai dengan harapan yang indah. Namun rencana Tuhan sering kali lebih lucu daripada rencana manusia.
Sepuluh menit setelah meninggalkan kantor, hujan turun deras sekali. Bukan hujan biasa, tapi hujan badai yang membuat jalanan seketika berubah menjadi danau kecil.
"Kita masuk ke jalan alternatif!" kata Mikael sambil memutar setir dengan lincah. "Kita ambil jalan lewat perkebunan. Lebih cepat."
Naira menatapnya ragu. "Kamu yakin? Itu kan jalan tanah."
"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Mikael Arsen!" serunya percaya diri.
Dan begitulah, lima menit kemudian, mobil mereka berhenti total di tengah jalan berlumpur yang licin. Roda mobil berputar-putar tapi tidak bisa maju sedikit pun.
Mikael menekan klakson dengan frustrasi. "Aneh. Biasanya tidak separah ini."
Naira menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa.
Mikael menoleh dengan wajah yang masam. "Kamu mentertawakanku?"
"Maaf..." Naira tertawa lepas. "Kamu terlihat lucu sekali saat kalah oleh lumpur."
Mikael mendengus, tapi kemudian ia juga ikut tertawa. "Baiklah, baiklah. Aku salah. Sekarang kita turun dan dorong mobilnya. Ayo!"
Mereka berlari keluar mobil. Hujan langsung membasahi pakaian mereka. Mikael di sisi kiri, Naira di sisi kanan.
"Satu, dua, tiga! Dorong!" teriak Mikael.
Mobil berguncang sedikit, lalu terperosok lebih dalam. Naira terpeleset dan hampir jatuh ke dalam lumpur jika Mikael tidak segera menangkap lengannya.
"Hati-hati!" Mikael menahannya, tapi karena tanahnya licin, mereka berdua akhirnya jatuh berdampingan di tepi jalan, tertutup percikan lumpur.
Keheningan sejenak. Lalu Naira meledak tertawa. Mikael menatapnya, lalu ikut tertawa terbahak-bahak. Tawa yang lepas, tulus, dan tanpa beban.
Mereka berdua terlihat konyol, pakaian bagus penuh lumpur, rambut berantakan, wajah bercak tanah, tapi di detik itu, tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain tertawa bersama.
"Ini benar-benar kacau!" kata Naira di antara tawanya.
"Tapi menyenangkan, bukan?" tanya Mikael sambil tersenyum padanya.
Naira menatapnya. Hujan masih turun, tapi ia tidak merasa dingin. Karena di dekat Mikael, semuanya terasa hangat.
"Ya," jawabnya pelan. "Sangat menyenangkan."
Setelah dibantu oleh seorang petani yang lewat dengan traktor, mobil mereka akhirnya keluar dari kubangan lumpur.
Namun perjalanan belum selesai. Kini mereka lapar, dan kebetulan ada warung kecil di pinggir jalan yang menjual mi instan dan teh hangat.
Mereka duduk di bangku kayu panjang yang reyot, tertutup payung besar yang bocor di beberapa tempat. Mi panas di mangkuk berasap, dan mereka berdua memakannya dengan lahap seolah itu adalah makanan paling lezat di dunia.
"Siapa sangka," kata Naira sambil meniup mi panas, "mi instan di warung pinggir jalan bisa terasa lebih enak daripada hidangan di restoran mewah."
"Itu karena kamu memakannya bersamaku," goda Mikael sambil tersenyum nakal.
Naira menyembunyikan senyumnya di balik mangkuk. "Percaya diri sekali kamu."
"Tentu saja." Mikael menyesap teh hangatnya. "Lagipula, lihatlah sekeliling kita. Hujan turun, mobil kotor, kita berdua basah kuyup, tapi aku belum pernah merasa sebahagia ini."
Naira menatapnya dari balik ujung mangkuk. Di mata Mikael, ia melihat ketulusan yang begitu dalam. Bukan sandiwara. Bukan akting. Hanya perasaan yang murni.
"Aku juga," akunya pelan. "Aku juga belum pernah sebahagia ini."
Sesampainya di gudang, nasib baik sepertinya belum berpihak sepenuhnya. Gudang itu ternyata sudah pindah lokasi, dan yang tersisa hanyalah bangunan kosong yang berdebu. Mereka berdiri di depan pintu besi yang tertutup rapat, menatap satu sama lain dengan wajah tak berdaya.
"Jadi kita datang jauh-jauh hanya untuk melihat bangunan kosong?" tanya Naira sambil tertawa.
"Sepertinya begitu," akui Mikael sambil mengangkat kedua bahunya. "Tapi tunggu dulu... bukankah tujuan kita sebenarnya bukan kainnya, tapi kebersamaan kita hari ini?"
Naira tersenyum tipis. "Kau selalu bisa membuat alasan yang bagus ya."
"Itu bukan alasan. Itu kebenaran." Mikael melangkah mendekat, menatapnya lekat-lekat. "Hari ini kacau, Naira. Semuanya salah. Hujan, lumpur, mobil terjebak, gudang pindah. Tapi aku tidak akan menukar hari ini dengan apa pun di dunia ini.
Karena hari ini aku melihatmu, bukan sebagai desainer yang cerdas, bukan sebagai pacar
yang harus aku jaga penampilannya. Tapi kamu yang sebenarnya. Yang tertawa saat jatuh, yang tidak malu makan di warung sederhana, yang cantik bahkan saat berantakan seperti ini."
Naira merasakan dadanya penuh. Matanya berkaca-kaca, namun ia tersenyum. "Kamu mengada-ada, Mikael. Padahal aku terlihat paling konyol hari ini."
"Justru karena itulah kamu terlihat paling istimewa." Mikael mengusap sedikit noda lumpur di pipi Naira dengan ibu jarinya. "Kamu tidak perlu sempurna untuk dicintai, Naira. Kamu cukup dengan menjadi dirimu sendiri."
Kalimat itu sederhana, namun menembus jauh ke dalam hatinya. Selama bertahun-tahun, ia selalu merasa harus berusaha keras untuk dilihat, untuk dihargai, untuk dicintai.
Tapi di sini, di depan bangunan kosong yang berdebu, di tengah hari yang kacau balau, Mikael memberikannya sesuatu yang tidak pernah ia minta, penerimaan sepenuhnya.
"Terima kasih," bisiknya, suaranya bergetar.
Mikael tersenyum lembut. "Sekarang, ayo kita pulang. Dan kali ini aku janji tidak akan mengambil jalan pintas lagi."
Naira dan Mikael pun tertawa bersama, karena jalan pintas itu yang membuat mereka jadi kacau tapi juga bahagia.
Perjalanan pulang jauh lebih tenang. Hujan sudah reda, digantikan oleh langit senja yang berwarna-warni indah, jingga, ungu, dan merah muda yang menyatu lembut.
Mereka berdua sudah membersihkan diri seadanya, meskipun pakaian mereka masih berbekas kenangan hari itu.
Mereka tidak banyak berbicara, tapi keheningan itu tidak canggung. Justru terasa nyaman. Tangan mereka yang tergeletak di kursi tengah mobil hampir bersentuhan, dan setiap kali roda mobil melewati jalan bergelombang, jari-jari mereka saling menyentuh sekilas, tapi cukup untuk membuat jantung berdebar.
Sesampainya di depan rumah Naira, Mikael mematikan mesin. Mereka duduk sejenak, menikmati momen sebelum berpisah.
"Hari ini benar-benar kacau," kata Naira sambil tersenyum menatapnya.
"Dan sangat sempurna," tambah Mikael.
Naira membuka pintu mobil, tapi berhenti dan menoleh kembali. "Hati-hatu di jalan, Mikael. Dan terima kasih untuk hari ini. "
Mikael tersenyum lembut. "Sama-sama, Naira. Beristirahatlah yang cukup. Besok kita bertemu lagi."
Naira masuk ke dalam rumah dengan hati yang ringan dan senyum yang tak kunjung hilang. Di dalam mobil, Mikael menatap pintu yang tertutup itu, lalu menyentuh dadanya sendiri di mana jantungnya berdetak hangat dan penuh.
Hari yang kacau ternyata bisa menjadi hari terindah. Karena keindahan bukanlah tentang semuanya berjalan sempurna. Keindahan adalah tentang seseorang yang mau tertawa bersamamu saat semuanya berantakan.
mudah2an cocok 💪