Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Ujung Fajar
Udara dingin sisa malam masih menyelimuti halaman belakang Kediaman Grand Sterling ketika deru mesin beberapa mobil hitam berbadan lapis baja mulai menderu pelan di area pelataran parkir khusus tamu kehormatan. Langit di ufuk timur perlahan-lahan mulai memudar dari warna hitam pekat menjadi kelabu kemerahan, menandakan fajar akan segera menyingsing membawa ketegangan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia bawah. Di balik dinding kaca besar ruang utama, sisa-sisa kemegahan pesta perjamuan elit telah lenyap sepenuhnya, menyisakan keheningan mutlak yang sarat akan aroma bahaya, bubuk mesiu, serta ancaman tersembunyi yang siap meledak kapan saja menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.
Ceira berdiri terpaku di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman labirin luar ruangan yang diselimuti embun pagi. Jubah sutra gelap berselimut bordir perak membalut tubuhnya yang tegap, sementara rambut panjangnya tergerai bebas membingkai wajah datarnya yang menyorotkan ketenangan palsu di tengah badai yang sedang mengintai. Di dalam ruang kesadaran, Scarlett tampak bersandar santai, menikmati sisa-sisa kepuasan setelah pemandangan eksekusi brutal di ruang bawah tanah beberapa jam lalu.
“Pagi yang cukup damai untuk sebuah tempat yang baru saja disirami darah pengkhianat,” batin Scarlett menyeringai tipis, manik matanya memantulkan bias cahaya matahari pagi yang mulai menembus kabut tipis di luar sana. “Namun, ketenangan semu ini tidak akan bertahan lama, Ceira. Kelompok Zayn tidak mungkin tinggal diam setelah melihat bagaimana kita mempermalukan pion-pion berharga mereka di hadapan para petinggi sindikat dunia hitam. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih licik di balik bayang-bayang.”
Ceira mengangguk pelan dalam keheningan batinnya, merespons setiap gejolak adrenalin yang dikirimkan oleh alter ego tersebut. Insting tajamnya sebagai seorang transmigrator yang kini memegang kendali penuh atas takdir tubuh ini memperingatkan bahwa konflik yang terjadi di pesta tadi hanyalah pembukaan dari babak yang jauh lebih besar dan mematikan. Pintu dunia hitam tidak pernah benar-benar tertutup rapat bagi mereka yang berniat meruntuhkan dinasti Sterling yang telah dibangun di atas tumpukan tulang belulang musuh. Setiap musuh yang tersingkir hanya akan melahirkan benih dendam baru di kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk mencakar punggung mereka.
Di dalam keheningan pagi yang mencekam itu, benak Ceira berputar kembali mengingat bagaimana tatapan penuh perhitungan Zayn Al-Fayed terarah padanya saat insiden gelas beracun terjadi. Pria itu bukan sekadar pemimpin sindikat biasa yang mengandalkan otot; Zayn adalah tipe predator sabar yang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bersembunyi di balik bayang-bayang. Kehadiran Zayn di wilayah mereka membawa ancaman laten yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar pengkhianat murahan seperti Clara.
Langkah kaki berat yang berirama khas terdengar mendekati ruang santai pribadi tempat Ceira berdiri merenung. Kaiser muncul dari balik lorong dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh serta guratan luka masa lalu yang menambah kesan berbahaya dari seorang petinggi mafia. Pria itu membawa dua cangkir porselen berisi kopi pahit panas, lalu mengulurkan salah satunya kepada wanita di dekat jendela dengan gerakan lembut yang kontras dengan aura pembunuhnya.
"Kau tidak tidur semalaman, Ma Cherie?" suara bariton Kaiser mengalun rendah, memecah kesunyian pagi dengan nada penuh perhatian posesif yang hanya ia tunjukkan khusus kepada istri mereka.
Ceira menerima cangkir tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari lanskap luar, menikmati uap panas yang mengepul tipis ke udara bebas. "Bagaimana aku bisa tidur ketika ada begitu banyak tikus got yang masih berkeliaran di luar sana, Kaiser?" jawab Ceira dingin, menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Zayn Al-Fayed tidak datang hanya untuk menikmati hidangan pencuci mulut. Dia sedang menguji batas kesabaran kita secara perlahan."
Kaiser terkekeh pelan, suara tawa rendah yang bergetar di dalam dadanya menciptakan getaran maskulin. Pria itu berdiri tepat di samping Ceira, merangkul pinggang ramping wanita itu mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa jarak sedikit pun. "Biarkan dia bermain-main dengan ilusinya sebentar lagi," bisik Kaiser di dekat telinga Ceira, napas hangatnya menyapa kulit leher wanita itu dengan lembut. "Begitu dia melangkah melewati batas wilayah kita sekali lagi, kita tidak hanya akan memenggal kepalanya, tetapi juga meratakan seluruh sindikatnya hingga menjadi debu tak berwujud."
Sebelum Ceira sempat membalas ucapan penuh keyakinan itu, suara ketukan pintu ganda ruang pribadi menginterupsi kebersamaan mereka. King dan Zero melangkah masuk secara bersamaan, membawa map tebal berisi laporan intelijen terbaru yang baru saja dikirimkan oleh jaringan mata-mata rahasia mereka di pelabuhan internasional.
Zero melemparkan map kulit hitam itu ke atas meja marmer dengan gerakan acuh tak acuh. Manik mata merah pekatnya memancarkan ketegangan yang tertahan, menandakan ada informasi penting yang tidak biasa di dalam dokumen rahasia tersebut.
"Ada pergerakan mencurigakan di dermaga utara kota," buka Zero langsung pada intinya, suaranya terdengar tajam bagaikan bilah belati yang baru diasah. "Anak buah Zayn terlihat memindahkan sejumlah kontainer berisikan senjata biologis ilegal dan bahan peledak taktis bernilai tinggi. Mereka tidak hanya merencanakan serangan biasa; mereka berniat melakukan pengeboman terkoordinasi di pusat keuangan utama kota ini."
King menyandarkan tubuhnya ke sofa panjang, melipat tangan di dada dengan raut wajah tanpa ekspresi yang memancarkan aura kematian. "Mereka mencoba mengalihkan perhatian kita dari perebutan jalur distribusi utama dunia bawah," ujar King dingin. "Zayn menggunakan metode pengecut karena tahu ia tidak bisa mengalahkan kita dalam pertempuran terbuka yang jujur."
Scarlett mendengus keras di dalam batin Ceira, memancarkan amarah yang siap meledak kapan saja menghanguskan segalanya. “Pria sialan itu benar-benar mencari mati dengan cara yang paling kreatif! Mari kita datangi markas mereka sekarang juga dan ledakkan kepala mereka di hadapan seluruh anak buahnya!”
Ceira mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua pria di ruangan itu memerhatikan ekspresinya. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan bunyi benturan porselen yang pelan namun tegas mencuri perhatian.
"Jangan menyerang markas utama mereka secara membabi buta," perintah Ceira dengan otoritas mutlak seorang ratu yang membuat ketiga penguasa Sterling menatapnya penuh pemujaan. "Zayn ingin kita terpancing keluar dari wilayah pertahanan utama kita. Kita akan memutarbalikkan strategi mereka sepenuhnya. Biarkan mereka merasa bahwa rencana busuk mereka berjalan lancar tanpa hambatan... hingga detik di mana kita menutup semua jalan pelarian mereka dan menjebak mereka dalam kobaran api."
Kaiser, King, dan Zero terdiam sejenak meresapi rencana tersebut, lalu serentak menyunggingkan senyuman miring yang mengerikan. Wanita di hadapan mereka bukan lagi sekadar istri yang harus dilindungi di dalam sangkar emas; Ceira adalah otak strategis paling mematikan yang pernah bergabung dalam sejarah keluarga Sterling. Fajar baru saja menyingsing di luar sana, namun bagi para penguasa dunia hitam ini, hari baru berarti babak baru pembantaian darah yang siap dimulai tanpa ampun.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏