"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Penyitaan Perhiasan dan Barang Mewah
Mentari pagi di atas langit Jakarta Selatan bersinar terik, menembus kaca-kaca jendela ruang penyidikan Polres Jakarta Selatan. Di dalam sebuah ruangan berpendingin udara yang dingin, dua buah meja panjang telah disiapkan. Di atas meja tersebut, beberapa kotak beludru hitam dan kantong plastik khusus barang bukti kepolisian ditata secara rapi.
Di balik meja, dua orang penyidik kepolisian berseragam dinas duduk didampingi oleh Pak Danu, pengacara eksekutif dari Vantara Group.
Pintu ruang penyidikan terbuka pelan. Seorang petugas wanita memimpin masuk Eriska yang mengenakan rompi tahanan berwarna oranye mencolok di atas gaun biasanya yang kini tampak kusam. Di belakangnya, Rian melangkah terhuyung-huyung dengan pergelangan tangan terikat borgol besi. Wajah Rian tampak kian tirus, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya dan janggut tipis yang tak terurus.
Eriska mendongak, lalu matanya seketika membelalak lebar melihat deretan benda yang terhampar di atas meja barang bukti.
Di sana, tergeletak set gelang berlian white gold senilai empat puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah, tiga buah tas tangan branded keluaran Eropa, dua unit ponsel pintar keluaran terbaru, serta beberapa perhiasan emas lainnya yang selama ini ia pamerkan di kantor dan media sosial.
"N-nggak ... Ini apa-apaan?!" jerit Eriska histeris, mencoba maju menerobos penjagaan petugas. "Kenapa barang-barang pribadiku ada di sini?! Kenapa rumah kosku digeledah?!"
Pak Danu berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya dengan tenang seraya menatap Eriska tanpa emosi.
"Saudari Eriska," tegur Pak Danu dengan suaranya yang berat dan datar. "Seluruh barang mewah di atas meja ini disita secara resmi oleh penyidik berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai **barang bukti hasil tindak pidana penggelapan dan pencucian uang**."
"Nggak bisa gitu dong, Pak!" teriak Eriska, air matanya langsung menetes deras membasahi pipinya yang tanpa riasan. "Barang-barang ini hadiah dari Mas Rian! Ini pemberian pribadi! Mas Rian yang beliin buat aku! Kenapa harus disita?!"
Eriska membalikkan badan, menatap Rian dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan yang meledak-ledak. Ia mencengkeram lengan rompi tahanan Rian dengan tangannya yang gemetaran.
"Mas Rian! Bicara kamu sama pengacara itu!" bentak Eriska histeris. "Bilang sama mereka kalau barang-barang itu dibeli pakai uangmu sendiri! Bilang kalau itu milikku! Kamu jangan cuma diam kayak patung!"
Rian menarik tangannya secara kasar dari cengkeraman Eriska, menatap wanita simpanannya itu dengan pandangan kosong nan dingin.
"Uangku?" desis Rian dengan suara parau yang amat pecah. "Riska ... kamu masih belum sadar juga? Semua barang mewah yang ada di meja itu dibeli pakai uang kantor! Pakai dana taktis pemasaran Vantara Land yang aku manipulasi! Mau aku bilang apa lagi ke penyidik?!"
"Tapi aku gak tahu kalau uang itu hasil korupsi, Rian!" jerit Eriska tak mau kalah. "Kamu yang bilang kamu Manager kaya! Kamu yang pamer ke aku kalau kamu punya bonus ratusan juta! Aku ini cuma korban kebohonganmu!"
Pak Danu terkekeh pelan—sebuah kekehan dingin yang membuat perdebatan Rian dan Eriska terhenti seketika.
"Saudari Eriska," potong Pak Danu tegas. "Berdasarkan bukti obrolan pesan singkat di ponsel Saudara Rian dan pengakuan saksi dari tim pemasaran, Saudari secara aktif meminta, menuntut, dan memilih sendiri barang-barang mewah tersebut sambil mengetahui bahwa fasilitas keuangan Saudara Rian berasal dari kas divisi. Dalam hukum pidana, tindakan Saudari memenuhi unsur Pasal 480 KUHP tentang Penadahan dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang."
"S-saya gak mau masuk penjara gara-gara gelang ini, Pak!" tangis Eriska pecah seketika. Ia berlutut di lantai ruang penyidikan, menangkupkan kedua tangannya di depan Pak Danu. "Tolong, Pak ... saya kembalikan semua barangnya! Ambil aja semuanya! Tapi tolong cabut nama saya dari berkas pidana! Saya cuma staf biasa, Pak!"
Pak Danu menatap Eriska dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa kasihan.
"Pengembalian barang bukti tidak menghapuskan unsur pidana yang sudah terjadi, Saudari Eriska," sahut Pak Danu dingin. "Mbak Annisa Septiani secara khusus memberikan instruksi kepada tim hukum kami untuk memastikan bahwa seluruh pihak yang menikmati uang hasil kejahatan ini diproses hingga persidangan."
Mendengar nama Annisa Septiani, Rian langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah anggun Annisa saat melangkah pergi dari rumah mereka dua hari lalu kembali menghantuinya.
"Annisa ...," batin Rian menjerit dalam keputusasaan. "Kamu bener-bener gak menyisakan satu celah pun buat Mas bernapas."
Penyidik kepolisian melangkah maju membawa lembaran berita acara penyitaan aset. "Saudara Rian dan Saudari Eriska, silakan tandatangani berita acara penyitaan barang bukti ini."
Dengan tangan gemetaran dan air mata yang menetes membasahi kertas, Eriska membubuhkan tanda tangannya di atas lembar berita acara tersebut. Setiap goresan pulpennya terasa bagaikan vonis yang mengunci masa depannya di dalam sel penjara. Semua kemewahan palsu, pameran perhiasan di depan teman-teman kantornya, dan mimpi menjadi istri dari seorang Manager kaya raya ... hancur lebur menjadi tumpukan barang bukti di atas meja polisi.
***
Sementara itu, di lantai teratas Vantara Tower, suasana ruang kerja Komisaris Utama terasa sangat tenang dan sejuk.
Annisa Septiani duduk di balik meja kerja kayu mahoni yang luas, membelakangi pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta. Ia mengenakan blazer sutra berwarna putih gading dengan tatanan rambut yang sangat anggun. Di hadapannya, sebuah komputer tablet menampilkan laporan rinci hasil penyitaan barang bukti di Polres Jakarta Selatan yang baru saja dikirimkan oleh Pak Danu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk pelan. Sekretaris pribadi Annisa melangkah masuk.
"Mbak Annisa, Bapak Fandi Prasetyo sudah tiba untuk rapat koordinasi investasi," lapor sang sekretaris dengan sopan.
"Silakan masuk," jawab Annisa tenang, meletakkan tabletnya di atas meja.
Pintu terbuka lebar, dan Fandi Prasetyo melangkah masuk ke dalam ruangan. Pimpinan Prasetyo Group itu tampil begitu rapi dan gagah dalam setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap. Langkah kakinya yang mantap memancarkan aura ketenangan dan rasa percaya diri yang tinggi.
"Selamat pagi, Annisa," sapa Fandi dengan suara beratnya yang bernada sangat hangat.
"Selamat pagi, Mas Fandi. Silakan duduk," balas Annisa seraya mengisyaratkan area sofa tamu di sudut ruangan.
Keduanya duduk berhadapan. Seorang staf menyajikan dua cangkir kopi cappuccino hangat di atas meja kaca.
"Saya baru saja membaca laporan dari Pak Danu," ucap Fandi seraya menyesap kopinya sedikit. "Seluruh aset barang mewah yang dibeli Rian untuk wanita itu sudah disita kepolisian pagi ini."
Annisa tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat berkelas. "Itu memang barang-barang yang dibeli menggunakan uang perusahaan keluarga saya, Mas Fandi. Sudah sepatutnya dikembalikan sebagai barang bukti."
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu