Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Sandiwara
Wajah Harry Zayn datar. "Alexa suka yang mana, kasi saja ke dia. Jangan sampai kita di tertawakan orang luar. Kalau nggak, saham grup Zayn kita bisa anjlok." ucapnya tanpa berpikir panjang. Tidak lagi memihak Anya.
Ruangan mendadak hening.
Zionathan memalingkan matanya kesal. Harry Zayn menarik lembut tangan putri angkatnya. Ia menatap lembut gadis itu.
"Anya, ayah pasti akan memberimu kompensasi." Harry Zayn berusaha meyakinkan Anya.
Tanpa berpikir panjang gadis itu langsung memberikan kamarnya untuk Alexa.
Anya menatap Alexa, ia tersenyum manis kepada gadis di depannya itu. "Baiklah, kamar ini untuk kakak saja."
Anya menoleh kembali kepada pria di depannya itu. "Aku nggak mau bikin ayah dan kakak susah." Anya menatap lembut Zionathan, lalu tersenyum manis.
"Lihat! Anya pengertian kan?" Zionathan semakin melotot ke arah Alexa. Ia benar-benar tidak menyukai kehadiran Alexa di rumah ini.
Tanpa berpikir panjang. Alexa langsung memanggil pelayan untuk membereskan semua barang-barang milik Anya dari kamar itu.
"Pelayan, kemarilah!" teriak Alexa dengan nada tegas. Wajahnya datar. Tidak ada senyuman yang terukir di wajah gadis itu.
Seorang pelayan perempuan dengan menggunakan gaun berwarna putih hitam pun masuk ke dalam kamar Anya.
"Bantu aku keluarin semua barang-barang dari kamar ini. Buang semuanya. Ganti dengan yang baru." Alexa menunjuk semua barang-barang yang ada di dalam ruang kamar itu.
"Aku itu paling benci dengan warna pink." Alexa melotot ke arah Anya dengan nada suara sengaja ia tegaskan.
Anya yang mendengar itu pun menatap tajam ke arah Alexa. Matanya membulat.
Pelayan yang di panggil Alexa tadi pun menurut. Ia menunduk hormat di depan Alexa. Wajah pelayan itu terlihat ketakutan.
"Baik Nyonya. Akan saya kerjakan." ucapnya dengan nada terbata-bata.
Zionathan semakin kesal. "KAMU!!" bentaknya sambil menunjuk gadis bergaun hitam yang masih berdiri di depannya.
"Anya, sudahlah! Ayo kita pergi dari sini!" Zionathan menggandeng tangan adik angkatnya itu keluar dari kamar. Harry Zayn pun ikut keluar.
Alexa duduk di sofa. Ia sedang memperhatikan dan mengarahkan pelayan yang sedang merapikan kamarnya itu.
Setelah semuanya selesai, pelayan itu keluar.
Alexa berdiri dan melangkah ke arah tempat tidur yang empuk itu. Seprai tempat tidurnya sudah di ganti dengan warna hitam. Alexa merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.
Alexa menghela nafas. "Untung sudah pergi. Pertarungan di dunia persilatan. Akhirnya telingaku tenang juga. Ahh,,,, begini baru terasa nyaman." ucap Alexa. Ia begitu lega bisa keluar dari keluarga angkatnya yang suka dengan kekejaman.
Tek Tek Tek.
Suara langkah kaki pun terdengar. Anya masuk ke kamar Alexa dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Kakak,,!"
Alexa terbangun mendengar suara itu. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan tajam. Kakinya kanannya ia silangkan di atas kaki kirinya.
"Ngapain lagi kamu kesini?" tanya Alexa dengan wajah muak melihat gadis itu terus-menerus muncul di depannya seperti hantu.
"Kakak, aku ini kan hanya memberimu sebuah kamar. Tapi Ayah memberiku sebuah Villa." Anya menunjukkan sertifikat rumah.
"Kakak juga memberiku uang sebagai konvensasi." Anya memperlihatkan sebuah kartu kredit di tangannya kepada Alexa. Anya kembali tersenyum sinis kepada gadis itu.
Alexa menunduk dengan wajah tersenyum miring lalu ia mengangkat lagi pandangannya. "Mumpung aku lagi baik, jadi cepatlah pergi dari sini!" ucapnya dengan nada pelan tak lagi penuh tekanan.
Anya berdecak kesal, ia mengepalkan tangannya. "Memang dasar perempuan liar. Kasar sekali. Pantas saja ayah dan kakak tidak suka padamu."
Alexa memiringkan kepalanya. "Terus kenapa kalau mereka tidak suka padaku? Aku mau kamarmu, mereka pasti kasih. Semua yang aku mau pasti mereka kasih. Cinta ayah dan kakak yang kamu banggakan itu, semuanya bisa ku rampas dengan mudah." jelas Alexa tersenyum sinis.
"Nggak, mereka cuman sayang sama aku!" Anya semakin kesal.
Alexa masih duduk di tepi ranjang. Alexa menatap pemantik yang ia mainkan di tangan kirinya. "Jangan bohongi dirimu sendiri deh. Sebentar lagi, setelah Konferensi Pers, gelar Nona Zayn,,, itu akan jadi milikku. Dan kau, anak angkat. Kau hanya akan di cemooh semua orang. Pada akhirnya, kamu tidak akan punya apa-apa lagi." Alexa tertawa. Perkataannya itu benar-benar membuat Anya semakin panas.
"Kau,,,, beraninya kau,,,,!" Anya menunjuk Alexa dengan wajah kesal.
"Nggak, aku harus singkirkan dia. Usir dia dari rumah ini. Kalau tidak, ayah dan Kakak akan di rebut olehnya." batin Anya menatap Alexa dengan tatapan kebencian. Ia semakin mengepalkan kedua tangannya kesal.
Anya memikirkan sesuatu. tiba-tiba saja.
Plak plak plakk.
Anya menampar pipinya sendiri hingga memerah. Ia kembali menatap Alexa dan tersenyum sini kepada gadis itu.
Alexa langsung berdiri. Ia membulatkan matanya heran melihat apa yang di lakukan saudari angkatnya yang licik itu. "Nampar diri sendiri, maksudnya apa?" tanya Alexa dengan wajah datar.
Anya tersenyum licik. "Hari ini, akan kubuat ayah dan kakak melihat kelakuan jahatmu dan mereka akan mengusirmu." ucapnya penuh percaya diri. Pipinya udah merah, tapi matanya berbinar kemenangan.
Alexa tertawa pendek. Seketika raut wajahnya berubah datar, tatapannya tajam. Matanya memerah. Ia melangkah mendekat ke arah Anya. "Mau fitnah aku!?" tegasnya sambil menunjuk wanita bergaun putih yang berdiri diam di depannya.
Anya menelan ludahnya. Wajahnya ketakutan. Ia mundur perlahan sampai tubuhnya menabrak pintu kamar.
Dug.
Ia berpegangan di pintu kamar itu.
Alexa semakin mendekat. "Caramu ini benar-benar rendaha." ucap Alexa. Suaranya pelan namun menusuk.
Senyuman licik kembali terukir di wajah gadis itu. "Kalau caraku rendahan, memangnya kenapa? Asal ayah dan kakak kasihan." jelasnya dengan wajah menantang. "Lagipula... siapa yang bakal percaya sama anak yang baru pulang?"
Plakk plakk plakk.
Anya kembali menampar wajahnya berkali-kali sampai-sampai bekas tamparan tangannya sendiri itu meninggalkan membekas merah di wajahnya. Suaranya nyaring di lorong kamar. Air matanya langsung keluar, namun masih tersenyum licik ke arah Alexa.
"Aaaaa,,,,!" Teriak Anya meringis kesakitan akibat ulahnya sendiri.
Di ruang tamu, Harry Zayn dan Zionathan sedang berbincang serius mengenai keuangan perusahaan. Seketika pembahasan mereka terhenti karena mendengar suara teriakan dari arah kamar Alexa.
Harry Zayn dan Zionathan mencoba memfokuskan pendengarannya. "Itu,, itu sepertinya suara Anya." ucap Harry Zayn.
Zionathan membulatkan matanya."Ayah! Anya sedang di kamar Alexa." tanpa berpikir panjang, kedua pria itu langsung berlari menaiki anak tangga dan menunjuk ke arah kamar Alexa.
Anya masih menampar wajahnya sendiri. Ia menjerit kesakitan.
Ia memegang wajahnya sendiri. "Kakak, coba tebak. Nanti ayah dan kakak, jika mereka melihat ini. Nanti mereka akan bilang apa?" Anya kembali tersenyum licik.
Alexa menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku rasa kamu gila." ucap Alexa memutar bola matanya melihat sandiwara licik gadis ular di depannya itu.
"Kamu yang akan tamat!" Anya kembali menampar pipinya sendiri.
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...