Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak
Bulan-bulan berlalu di Paris, membawa perubahan iklim sekaligus suasana baru dalam kehidupan Mira.
Di kampus Sorbonne, Mira kembali menemukan ritme hidupnya yang sempat hilang. Ia menjalani rutinitas perkuliahan dengan tenang dan normal. Bersama Chloe dan James, Mira sering terlihat menghabiskan waktu di perpustakaan kampus, berdiskusi untuk tugas kelompok, atau sekadar menikmati kopi di kafe kecil dekat fakultas.
Tanpa bayang-bayang intimidasi dan drama yang menguras emosi, binar bahagia perlahan kembali ke wajah Mira. Hubungannya dengan James tetap terjalin erat sebagai sahabat karib, pria itu selalu menghormati batasan dan menjadi sosok pelindung yang dewasa, sementara Chloe selalu sukses menghidupkan suasana dengan keceriaannya. Bagi Mira, kehidupan yang stabil dan mandiri ini adalah hal paling berharga yang berhasil ia perjuangkan.
Namun, di balik kehidupan normal Mira yang tampak tenang, ada mata yang tak pernah benar-benar berpaling darinya.
Sebuah sedan sports hitam kerap terparkir diam di sudut jalan yang agak jauh dari gerbang kampus. Di balik kaca mobil yang gelap, Jungkook duduk membisu, menatap sosok Mira dari kejauhan.
Sejak hari di mana Mira mengaku telah berpacaran dengan James dan meminta agar ia menghilang, Jungkook memilih untuk menghormati batasan tersebut secara fisik. Ia tidak pernah lagi berani melangkah mendekat, tidak pernah mencoba menyapa, apalagi muncul di hadapan gadis itu. Pengakuan palsu Mira, yang dikira Jungkook sebagai kebenaran mutlak, telah meruntuhkan seluruh rasa percaya dirinya.
Kendati demikian, Jungkook tidak pernah benar-benar sanggup pergi.
Dari dalam mobilnya, Jungkook memperhatikan bagaimana Mira tertawa lepas bersama Chloe, atau bagaimana James berjalan di samping gadis itu seraya membawakan buku-bukunya. Setiap kali melihat senyuman Mira yang terukir bebas, senyuman yang tak pernah lagi terbit saat bersama dirinya, dada Jungkook terasa dihantam rasa sakit yang tak bertepi.
Penyesalan itu kini menjadi teman setianya setiap hari. Pria yang biasanya mengendalikan segala hal dengan kekuasaan dan keangkuhannya itu kini hanya bisa menjadi pengamat rahasia. Ia menjaga Mira dari jauh, memastikan gadis itu aman dan bahagia dari jarak yang tak terjangkau, sambil menanggung hukuman atas kesalahannya sendiri: menyaksikan wanita yang paling dicintainya bahagia bersama orang lain.
Hujan gerimis mengguyur kawasan Saint-Germain-des-Prés sore itu, membasahi trotoar batu dan memaksa Mira melipir ke sebuah kafe kecil beraroma kayu manis dan kopi segar.
Chloe sedang ada kelas tambahan, sementara James harus menyelesaikan urusan di laboratorium, membuat Mira menikmati sorenya sendirian. Gadis itu memesan secangkir hot chocolat dan duduk di dekat jendela, menyesap kehangatan seraya memperhatikan rintik air yang menempel di kaca.
Pintu kafe berdenting pelan, menyuarakan lonceng angin tembaga di atasnya.
Awalnya Mira tidak terlalu mengacuhkannya, sampai aura dingin dan langkah kaki yang sangat familiar berhenti mendadak beberapa tapak di dekat mejanya. Mira mendongak secara refleks.
Di sana, berdiri Jungkook.
Pria itu mengenakan trench coat hitam yang sedikit basah oleh gerimis. Penampilannya rapi seperti biasa, namun raut wajahnya tampak jauh lebih tirus, dan tatapan matanya menyiratkan kelelahan yang teramat dalam. Jungkook memegang cangkir kopi takeaway di tangannya, mematung total saat iris matanya bertubrukan langsung dengan mata Mira.
Untuk beberapa detik, waktu di dalam kafe terasa berhenti berputar.
Tidak ada ruang untuk bersembunyi atau berpaling. Ini adalah kali pertama mereka berhadapan langsung sejarak ini sejak hari konfrontasi di taman kampus beberapa bulan lalu.
Dada Jungkook berdenyut nyeri. Rasa rindu yang terpendam berbulan-bulan meluap seketika, namun ingatan akan batasan tegas dan status 'kekasih' Mira bersama James menahan kakinya untuk tidak melangkah lebih jauh. Bibirnya gemetar pelan, hendak mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Sementara itu, Mira tetap duduk dengan tenang. Tidak ada riak cemas atau kepanikan di wajahnya. Ia tidak menunduk, tidak juga melarikan diri.
Mira menghembuskan napas pelan, lalu memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat formal, sebuah gestur sopan namun berjarak, persis seperti cara seseorang menyapa kenalan jauh yang tak sengaja berpapasan jalan.
"Jungkook-ssi," sapa Mira halus, suaranya datar tanpa emosi.
Panggilan 'Jungkook-ssi' yang dingin dan formal itu—menggantikan panggilan 'Oppa' yang dulu biasa terucap hangat—menjadi penjelas mutlak bagi Jungkook. Tidak ada kebencian di sana, hanya jarak tak kasat mata yang menandakan bahwa tempatnya di hati Mira telah benar-benar habis.
Jungkook menelan ludah secara terasa pahit. Ia menguasai diri, membalas anggukan itu dengan sangat rendah dan penuh rasa hormat yang terlambat.
"Permisi..." bisik Jungkook parau.
Pria itu berbalik dan melangkah keluar dari kafe tanpa membeli apa-apa lagi, membiarkan pintu berdenting kembali. Dari balik kaca jendela, Mira memperhatikan punggung Jungkook yang perlahan menyatu dengan gerimis sore Paris.
Tidak ada lagi tangis di mata Mira. Hatinya telah sepenuhnya damai, sementara Jungkook terus berjalan membawa penyesalannya sendiri di bawah langit kota yang dingin.
Musim gugur tiba di Paris, menyapu dedaunan kering di sepanjang jalanan Champs-Élysées dan melapisi kota itu dengan warna keemasan yang hangat.
Di salah satu sudut taman kampus, Mira duduk santai di bangku kayu seraya menyesap secangkir kopi hangat. Di sampingnya, Chloe sedang sibuk mengoceh tentang rencana liburan akhir semester, sementara James tertawa pelan mendengar tingkah konyol gadis itu.
Mira tersenyum lepas—sebuah senyuman tulus yang memancarkan ketenangan jiwa. Tidak ada lagi beban intimidasi, tidak ada rasa rendah diri, dan tidak ada lagi ketakutan akan penilaian orang lain. Di kota ini, melalui perjalanan yang penuh luka dan keberanian untuk mengambil jarak, Mira berhasil menemukan kembali harga diri serta kemandirian yang utuh. Ia telah berdamai dengan masa lalunya, membiarkan segala kenangan pahit itu menjadi pelajaran tanpa harus menyimpan dendam pada siapa pun.
Sementara itu, beberapa puluh meter di seberang jalan, sebuah sedan hitam perlahan melaju pelan lalu berhenti di tepi trotoar.
Dari balik jendela mobil, Jungkook menatap sosok Mira yang sedang tertawa bersama kedua sahabatnya. Matanya yang dulu dipenuhi kecemburuan dan dominasi posesif, kini berganti menjadi tatapan yang tenang, teduh, namun sarat akan keikhlasan.
Jungkook tahu bahwa pengakuan tentang hubungan Mira dan James mungkin hanya benteng yang sengaja dibangun Mira untuk melindunginya. Namun, melihat betapa bahagianya Mira saat ini—betapa bebas dan bersinarnya gadis itu tanpa kehadiran dirinya—membuat Jungkook akhirnya menerima satu kenyataan pahit: takdir mereka memang harus berhenti sampai di sini.
Pria itu menghembuskan napas panjang, merelakan penyesalannya menjadi bagian dari pendewasaan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki; kadang, bentuk cinta tertinggi yang bisa ia berikan pada Mira adalah dengan benar-benar membiarkannya bahagia, meski bahagia itu berarti tanpa dirinya.
Jungkook menyunggingkan senyum tipis yang lirih, lalu memutar kemudi mobilnya dan perlahan melaju menjauh, meninggalkan area kampus Paris tersebut untuk terakhir kalinya.
Langit sore Paris meredup dengan indah. Mira melangkah menuju perkuliahannya yang baru dengan penuh percaya diri, sementara Jungkook melangkah maju menyusuri jalannya sendiri—dua alur hidup yang kini telah menemukan kedamaian di jalurnya masing-masing.