sebuah kisah yang sangat menyentuh namun juga menyakitkan tapi tetap dijalani dengan cara yang kadang sulit untuk di terima. Akankah antara Aira dan Ridwan sanggup menjalani? dan bagaimana dengan Zaki. Apakah yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Zarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 pertunangan Ridwan dan Zahra
Enam bulan berlalu . Ridwan telah memutuskan untuk menikah dengan Zahra Anak kiai Abdullah. Hari ini keluarga besar Ridwan berkumpul di kediaman kiai Abdullah.
Karena hari ini keluarga besar Ridwan ingin meminang putri kiai Abdullah. Ridwan sudah memantapkan hatinya untuk bersama Zahra untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Walaupun di hatinya masih ada bayang - bayang Aira yang selalu muncul di ingatannya.
Ridwan berusaha untuk mengubur masa lalu yang tak bisa di ulang kembali.
Hari ini ia dan keluarganya telah bersiap untuk pergi ke pondok pesantren Kiai Abdullah.
Rombongan keluarga besar Ridwan kini telah sampai di pondok pesantren Kiai Abdullah.
Keluarga besar kiai Abdullah pun menyambut calon besan mereka dengan hangat. Sementara itu Zahra merasa sangat gugup karena baginya ini pertama kali ia menampakkan wajah tanpa cadar pada calon suaminya.
Ibunya merasa sangat bahagia akhirnya anak gadis satu -satunya itu menikah juga. Saat ini keluarga besar Ridwan telah menunggu .
Sambil menunggu menunggu Zahra keluar dari kamarnya Ridwan merasa sangat sedikit gugup karena hari ini ia akan melihat wajah Zahra .
kiai Abdullah pun berbincang -bincang dengan pak Hanafi .
"Han, akhirnya kita jadi besan juga. Semoga saja kedepannya kita bisa saling menjaga hubungan baik dengan baik" .
"Mudah-mudahan saja Abdul, aku kira Ridwan akan merasa kecewa berkelanjutan setelah wanita yang ia cintai menikah dengan sahabatnya" .
"Tapi ternyata tidak, akhirnya ia bisa menerima Zahra sebagai pendamping hidupnya" .
"Han, Zahra itu putriku satu - satunya. Aku harap Ridwan bisa mencintainya dengan baik. Dari dia kecil sampai sekarang Zahra selalu aku cintai sepenuh jiwa ragaku" .
"Kamu tenang saja Abdul, rumah kami akan menjadi rumah kedua bagi Zahra. Aisyah istriku juga sangat menyukai Zahra".
" Aku harap begitu Han".
" Ingat itu Ridwan, kamu harus mencintai Zahra sebagaimana kiai Abdullah mencintainya", ucap pak Hanafi. Pak Hanafi mengingatkan anaknya .
" Insyaallah Abi aku akan menyayangi mencintainya layaknya kiai Abdullah mencintainya Ridwan sudah berjanji pada diri Ridwan sendiri. Baguslah kalau begitu".
Setelah merasa puas berbincang -bincang dengan kiai Abdullah akhirnya Zahra keluar dari kamarnya. Zahra mengenakan pakaian syar'i berwarna putih gading senafa dengan cadarnya.
Ridwan melihat penampilan Zahra yang begitu anggun membuat matanya tak berkedip sedikitpun.
Zahra yang melihat sepintas lalu hanya tersenyum di balik cadarnya. Madara yang super heboh itu pun menyikut Ridwan.
Ish, Madara ini selalu saja mengangguku, rutuk Ridwan.
Ingat bang belum seratus persen halal. Jaga sikapmu.
pak Hanafi dan keluarga hanya tersenyum melihat Ridwan dan Madara.
Zahra pun duduk disamping sang ayah.
Pertunangan antara Ridwan dan Zahra pun dimulai.
"Pak Hanafi pun mulai membuka suara. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini saya dan keluarga besar saya ingin meminang nak Zahra. Kami ingin nak Zahra menjadi menantu kami, apakah nak Zahra dan keluarga bersedia ?"
Kiai Abdullah pun menjawab pertanyaan tersebut.
Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Han, sama seperti yang saya katakan tadi. Dan saat ini biarlah putriku yang menjawab pertanyaan tersebut.
Zahra Abi ulangi, apakah kamu bersedia menjadi istri dari nak Ridwan.
Zahra pun menjawab.
Dengan bismillahirrahmanirrahim, saya bersedia menjadi istri mas Ridwan.
" Alhamdulillah", ucap keluarga besar Ridwan dengan serentak.
Keluarga besar Ridwan pun mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Setelah menerima pinangan dari keluarga besar Ridwan kini Zahra pun bersiap-siap untuk membuka cadarnya.
Kalau begitu Zahra, sudah saatnya kamu membuka cadarmu di depan calon suamimu.
Zahra pun menganggukkan kepalanya.
Namun bukan Madara namanya . Saat ini ia ingin mengerjai Ridwan. Ia pun mengusulkan agar Zahra tidak membuka cadarnya.
Tunggu dulu, ucap Madara dengan suara yang sedikit keras.
Kenapa ?, tanya keluarga besar Ridwan.
Kak, jangan di buka dulu cadarnya biar jadi kejutan di malam pertama kalian, ucap Madara.
Melihat tingkah konyolnya Madara Ridwan merasa sedikit kesal.
Melihat Ridwan yang sedikit kesal Madara merasa puas. Karena kali ini ia berhasil mengerjai kakak sepupunya itu. Semua orang hanya tertawa kecil.
Selanjutnya hari pernikahan pun telah di tentukan. Hanya dua Minggu setelah pertunangan mereka.
salam DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS 🙏🏻🤭