Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Pagi itu, Adrian merasa ada sesuatu yang berbeda di rumahnya, suasana terasa begitu sunyi, tidak seperti kemarin, ketika kehadiran Karina membuat rumah yang selama ini terasa kaku menjadi sedikit lebih hidup. Entah mengapa, pagi ini kesunyian itu justru kembali lagi seperti dua tahun silam sang ibu meninggalkan dirinya dan sang ayah, Adrian duduk
di meja makan sambil menatap secangkir kopi di hadapannya, Namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada kopi tersebut, Di hadapannya, entah mengapa, terbayang sosok Karina yang sedang menyiapkan sarapan, Dengan tangan nya yang lincah dan senyum kecil yang sesekali muncul diwajah nya,
Adrian mengerutkan kening.
"Ah... kenapa aku malah memikirkannya?"
Sejak semalam, pikirannya memang terus dipenuhi perempuan itu, Ia kembali mengingat kejadian malam itu di ballroom hotel, Karina dengan gaun yang dikenakannya tampak sangat berbeda. Untuk beberapa saat, Adrian bahkan sulit mengenali perempuan yang setiap hari mengenakan pakaian sederhana itu, Senyum tipis muncul di bibir Adrian.
Namun senyum itu segera menghilang.
"Kenapa dia bisa menabrak pelayan yang jelas di hadapan nya?"
Adrian menghela napas.
sedikit dirinya merasa malu mengingat kejadian itu,
Namun ada satu pemandangan lain yang jauh lebih mengganggunya, saat Tomy memapah Karina keluar dari ballroom, Entah mengapa, pemandangan itu terus berputar-putar di kepalanya.
Tangan Tomy menopang tubuh Karina. Wajah Karina yang menahan sakit. Tatapan perempuan itu yang terlihat begitu sedih setelah dirinya memarahinya.
Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa aku harus memikirkan perempuan itu?"
Ia meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
Namun baru beberapa detik kemudian, cangkir itu kembali diletakkannya.
"Aku bahkan tidak peduli padanya."
Adrian mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Tetapi semakin ia berusaha melupakan Karina, semakin jelas wajah perempuan itu muncul dalam pikirannya, terutama ketika Karina menahan air mata.
Untuk pertama kalinya, Adrian merasa mungkin ucapannya semalam sudah terlalu keras.
Mungkin—
"Adrian."
Suara ayahnya tiba - tiba membuat lamunannya terputus.
Ayah nya datang dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Adrian menatap sang ayah.
"Ada apa, Yah?"
Pak Surya tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil cangkir teh di hadapannya.
"Ayah sudah memikirkan semuanya sejak semalam."
Adrian mengangkat alis.
"Memikirkan apa?"
"Karina."
Nama itu seketika membuat Adrian terdiam.
Jantungnya bahkan berdetak sedikit lebih cepat.
sang Ayah kemudian melanjutkan
"Karina tidak akan bekerja lagi di rumah ini lagi."
Adrian mengernyit.
"Bagus lah?" jawab Adrian namun seperti jawaban kosong, sang Ayah kembali diam, sambil memandangi piring sarapan nya yang masih kosong
sang Ayah menatap putranya dengan tenang, namun yang tidak diketahui Adrian ternyata dang Ayah telah merencanakan sesuatu bagi Karina, saat suasana sunyi tiba - tiba terdengar suara wanita
"Pagi Oom...., wahh lagi sarapan apa Om?" suara Katrin yang datang mengagetkan mereka
"Karina di Mana Om, ko gak keliatan?" tanya nya lagi hanya untuk memastikan keberadaan Karina
"Ada perlu apa kamu menanyakan Karina?" jawab pak Surya
"Gak pa pa Om, aku cuma ingin memastikan apa dia masih bekerja disini?"
kemudian katrin mendekati Adrian sambil merangkul pundak nya "Sarapan Apa sayang." sapa nya karna memang hubungan mereka terlalu dekat, selain Ayah katrin juga pemegang saham yang sama diperusahaan yang sama, dan mereka sudah dekat cukup lama, namun kali ini Adrian mulai risih dibuatnya, Adrian yang baru saja menyeruput kopi langsung tersedak dibuatnya
"Katrin jangan berlebihan." jawab nya sambil meletakkan kembali cangkir kopi nya.
"Kenapa si Adrian, apa Karna wanita itu?"
"Sudah lah, aku harus ke kantor." jawab adrian sambil berdiri dan meninggalkan katrin
"Oom, apa karina benar benar bekerja disini?" kembali dirinya menanyakan karina untuk memastikan, dirinya takut akan menjadi saingan dalam mendapatkan Adrian, pak Surya memahami maksud katrin, dan dirinya mengatakan pada katrin agar tidak mengganggu karina. Katrin yang merasa tersaingi dengan kehadiran Karina semakin menaruh dendam dengan katrin, apapun itu dirinya akan berusaha menjauhkan Karina dari Adrian, namun berbeda dengan pak surya, dibenaknya bukan memberhentikan karina tapi malah akan memberikan pekerjaan lain pada karina agar Adrian bisa lebih dekat dengan karina.
Sementara itu, dirumah Karina sang ibu berusaha mengobati kaki putrinya yang terkilir, sambil sesekali bercerita tentang kejadian malam tadi, namun tiba - tiba seorang pria berjas datang menghampiri rumah Karina, tak berapa lama terdengar suara ketukan dari pintu depan.
Tok...
Tok...
Keduanya saling berpandangan.
"Siapa?" tanya Karina dari dalam rumahnya
Bu Rini bangkit dan berjalan menuju pintu.
Karina ikut menoleh.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang pria pria yang dikenal nya berdiri dihadapan nya
"Pak Hasto?, maaf hari ini saya belum bisa datang kerumah." ucap Karina langsung seraya meminta maaf karna dirinya tidak masuk bekerja, mendengar itu pak Hasto langsung menggelengkan kepalanya, bahwa tujuannya kesini karna akan mengantar kan Karina ke rumah sakit untuk memeriksakan Kakinya, sekaligus menyampaikan pada Katina bahwa bila memang kaki nya sudah sembuh, karina diminta untuk bertemu dengan pak surya. Karina uang memang masih ingin bekerja disana langsung mengagakan pasti ia akan datang setelah keadanya nya kembali sehat. Setelah selesai pak Hasto meninggalkan rumah Karina, dan tanpa Karina sadari pak Surya masih mau mempekerjakan nya, awalnya karina malah mengira setelah kejadian di pesta itu keluarga Mahardika tidak akan pernah mau mempekerjakan nya kembali. Walau dirinya menyadari akan sulit bagi nya untuk bisa mendapatkan hati Adrian, Namun ternyata...
Ada sesuatu yang sedang direncanakan Pak Surya.
untuk Karina yang akan membuat dirinya semakin dekat dengan Adrian.