Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Penasaran
"Tumben, Mbak, di kasir?" tanya seorang pelanggan yang baru saja datang.
Naresta yang sedang duduk di belakang meja kasir langsung tersenyum.
"Lagi bosan, Mbak. Di dalam rumah terus."
"Oh, gitu."
Wanita itu meletakkan beberapa barang belanjaannya di atas meja kasir. Namun, bukannya langsung membayar, ia malah menatap Naresta dengan rasa penasaran.
"Eh, Mbak."
"Hm?"
"Kenapa kemarin nggak ngadain acara tujuh bulanan?"
Naresta terdiam sebentar.
"Nggak ada acara, Mbak."
"Iya, saya tahu. Makanya saya tanya, kenapa?"
Naresta menghela napas pelan.
"Memangnya harus ada?"
"Ya biasanya kan ada."
Naresta tersenyum tipis.
"Memang banyak yang mengadakan, tapi bukan berarti semua ibu hamil harus mengadakan acara tujuh bulanan."
Wanita itu mengangguk-angguk.
"Oh, begitu."
Namun, beberapa detik kemudian ia kembali bertanya.
"Terus nggak takut kenapa-kenapa?"
"Nggak."
"Yakin?"
Naresta mengangguk.
"Yakin."
Wanita itu masih terlihat penasaran.
"Mas Elvan juga nggak minta?"
"Nggak."
"Bu Ratih?"
"Nggak."
"Aya?"
Naresta sampai tertawa kecil.
"Nggak ada yang minta."
Ia kemudian mulai menghitung barang belanjaan pelanggan tersebut.
"Jadi memang kami sepakat nggak mengadakan."
Wanita itu mengangguk, tetapi masih belum puas.
"Padahal kalau mengadakan acara kan bisa sekalian mengundang tetangga."
Naresta menatapnya.
"Iya, tapi kami lebih memilih menyiapkan kebutuhan bayi."
"Jadi uangnya buat perlengkapan bayi?"
"Iya."
Naresta tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Daripada mengadakan acara besar, kami lebih memilih menyimpan uangnya untuk kebutuhan setelah bayi lahir."
Wanita itu akhirnya mengangguk.
"Oh, begitu."
"Iya."
Naresta menyerahkan struk belanja.
"Totalnya segini, Mbak."
Wanita itu membayar, tetapi sebelum pergi ia masih sempat bertanya.
"Berarti nanti kalau bayinya lahir juga nggak bikin acara besar?"
Naresta langsung menghela napas.
"Mbak..."
"Hehe, saya cuma penasaran."
Naresta menggeleng sambil tersenyum.
"Sudah, jangan terlalu penasaran."
Wanita itu tertawa kecil.
"Iya, Mbak. Saya pergi dulu."
"Iya. Hati-hati."
Setelah pelanggan itu pergi, Naresta kembali duduk di kursinya.
Ia mengusap perutnya perlahan.
"Kenapa sih orang-orang lebih penasaran sama acara daripada keadaan ibu dan bayinya?"
Naresta hanya bisa menggelengkan kepala.
Namun, belum sempat ia beristirahat, terdengar suara pintu toko kembali terbuka.
Tring!
Naresta langsung menoleh.
"Semoga bukan orang yang mau bertanya soal tujuh bulanan lagi."
Pelanggan itu masuk ke dalam toko. Begitu melihat Naresta yang sedang menjaga kasir, ia langsung berbelok menghampirinya.
"Eh, Mbak Naresta."
"Iya, Mbak. Mau beli apa?" tanya Naresta ramah.
"Itu, Mbak, mau tanya kenapa kemarin nggak ad—"
"Nggak ada apa, ha?" tegur Aya yang tiba-tiba muncul dari arah belakang toko.
Pelanggan itu langsung terdiam.
Aya berjalan mendekat sambil membawa beberapa barang yang baru saja disusun.
"Ini pasti mau tanya, kenapa nggak ada acara tujuh bulanan."
Wanita itu tersenyum canggung.
"Hehe, iya."
Aya meletakkan barang tersebut di meja.
"Memangnya kenapa sih?"
Wanita itu hanya diam.
"Terserah Mbak Naresta dong mau bikin acara atau nggak."
Naresta langsung menoleh kepada Aya.
"Mbak Aya."
"Apa?"
"Nggak usah galak."
"Saya bukan galak, Mbak. Saya cuma heran."
Aya menatap pelanggan tersebut.
"Kenapa orang-orang lebih sibuk memikirkan acara tujuh bulanan Mbak Naresta daripada memikirkan apakah Mbak Naresta sehat atau nggak?"
Pelanggan itu terlihat salah tingkah.
"Saya cuma penasaran, Mbak."
"Ya sudah, penasaran saja dalam hati."
"Aya," tegur Naresta pelan.
Aya menghela napas.
"Iya, maaf."
Kemudian Aya kembali menatap pelanggan itu.
"Mbak Naresta dan Mas Elvan sudah sepakat nggak mengadakan acara. Mereka lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli perlengkapan bayi dan persiapan lahiran."
"Oh..."
"Iya."
Pelanggan itu mengangguk pelan.
"Kalau begitu saya mengerti."
Naresta tersenyum.
"Nah, sudah jelas, kan?"
"Iya, Mbak."
Pelanggan itu kemudian mengambil beberapa barang dari rak.
"Saya mau beli ini saja."
Aya langsung kembali ke belakang kasir.
"Taruh sini, Mbak."
Pelanggan tersebut meletakkan barang belanjaannya di meja kasir.
Sementara Naresta hanya menggeleng kecil melihat tingkah Aya.
"Mbak Aya, kamu ini."
"Apa?"
"Sedikit-sedikit marah."
"Bukan marah."
Aya menunjuk perut Naresta.
"Saya cuma nggak mau Mbak yang lagi hamil malah dibuat kepikiran terus."
Naresta tersenyum.
"Iya, terima kasih."
Aya mengangguk puas.
"Nah, sekarang duduk saja. Biar saya yang layani pelanggan."
"Tapi aku bosan."
"Daripada bosan, nanti malah ada yang bertanya soal tujuh bulanan lagi."
Naresta langsung tertawa kecil.
"Iya juga."
"Nah, makanya diam dan duduk. Nanti Mas Elvan marah lagi," ujar Aya sambil menunjuk kursi di dekat kasir.
Naresta menghela napas, tetapi akhirnya menurut dan duduk.
"Iya, iya."
Naresta kemudian melihat ke sekeliling toko.
"Eh, benar juga."
"Apa?" tanya Aya.
"Di mana Mas Elvan? Kok nggak ada di toko dari tadi, ya?"
Aya langsung tersenyum.
"Mas Elvan di rumah, Mbak."
"Di rumah?"
"Iya. Tadi sebelum Mbak keluar, Mas Elvan bilang mau istirahat."
Naresta mengangguk pelan.
"Oh, iya. Aku lupa."
Pelanggan yang masih berada di depan kasir ikut tersenyum.
"Mas Elvan memang sering menemani Mbak Naresta, ya?"
Naresta tersenyum kecil.
"Iya. Apalagi sejak aku hamil, dia jadi semakin khawatir."
Aya langsung terkekeh.
"Bukan semakin khawatir lagi, Mbak. Bisa dibilang semakin posesif."
Naresta menatap Aya.
"Mbak Aya!"
"Lho, memang benar."
Naresta hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Sudahlah."
Aya kemudian menunjuk kursi.
"Makanya duduk saja. Jangan sampai nanti Mas Elvan datang ke toko dan tahu Mbak malah berdiri terus."
Naresta langsung menurut.
"Iya, iya. Aku duduk."
Pelanggan itu akhirnya pergi. Tak lama kemudian, terdengar kembali suara pintu toko terbuka.
Tring!
"Hallo, Mbak Naresta."
"Eh, Rani. Lama banget kita nggak ketemu, ya."
"Iya, Mbak. Soalnya saya lagi mabuk berat kemarin. Ini baru enakan, Mbak."
"Mabuk berat?" Naresta langsung menatap Rani dengan penasaran.
"Jangan bilang kamu?"
Rani langsung tersenyum canggung.
"Hehe..."
Naresta membulatkan matanya.
"Rani!"
"Iya, Mbak."
"Kamu hamil?"
Rani mengangguk pelan.
"Iya, Mbak. Baru tahu beberapa hari lalu."
Naresta langsung tersenyum lebar.
"Ya Allah, selamat!"
"Terima kasih, Mbak."
Naresta tampak ikut bahagia.
"Sudah berapa bulan?"
"Baru sekitar dua bulan, Mbak."
"Masyaallah. Pantas saja mabuknya berat."
Rani tertawa kecil.
"Iya. Saya sampai nggak bisa mencium bau makanan."
Naresta mengangguk penuh pengertian.
"Aku juga sempat begitu. Tapi sekarang sudah mulai membaik."
Rani kemudian melihat perut Naresta yang sudah mulai membesar.
"Kalau Mbak sendiri sudah berapa bulan?"
"Sudah tujuh bulan."
"Ya ampun, cepat sekali."
"Iya."
Naresta mengusap perutnya sambil tersenyum.
"Sebentar lagi anakku lahir."
Rani ikut tersenyum.
"Berarti kita sama-sama jadi ibu."
"Iya. Semoga kehamilan kita sama-sama lancar."
"Aamiin."
Aya yang sedang menyusun barang di dekat rak ikut menoleh.
"Wah, selamat ya, Rani."
"Terima kasih, Mbak Aya."
Aya tersenyum.
"Kalau soal ngidam, jangan malu cerita. Mbak Naresta dulu juga pernah bikin kami semua kelabakan."
Naresta langsung menatap Aya.
"Mbak!"
Rani tertawa.
"Memangnya ngidam apa, Mbak?"
Naresta langsung menggeleng.
"Nggak usah dibahas."
Aya malah tertawa kecil.
"Nah, kalau sudah begitu berarti memang ada cerita."
Naresta hanya bisa menghela napas sambil tersenyum.